Jurnal Ilmiah di Negara Galau


Syahdan, sebuah negeri diliputi kegelisahan. Mungkin lebih asyik menyebutnya dengan istilah galau. Negeri itu sebenarnya kaya raya. Di permukaan tanahnya, terpampang keindahan nan elok dan manja. Di bawah tanahnya, terpendam emas, intan hingga batubara dan minyak bumi. Singkatnya, negeri itu laiknya metafora yang sering digambarkan pada surga; “mengalir sungai-sungai di bawahnya”.

Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang terpincut dan kemudian berlayar mengarungi samudera untuk mengambil harta nan berharga itu. Negeri itu dijajah dengan penderitaan yang tak terperi. Hartanya dirampas, perempuannya diperkosa, pemudanya dibunuh dan diperkerjakan secara paksa. Anak-anak bangsa itu kemudian merangkak-rangkak di bawah mendung hitam kekuasaan nan kejam.

Mereka hidup di alam yang buas. Namun, alhamdulillah, di dada mereka tertanam kuat keinginan untuk melawan alam nan buas itu. Mereka tahu, tak selamanya awan mendung menaungi kepala dan tengkuk mereka. Mereka tahu, nun di ujung sana, ada sebuah gerbang yang indah. Di pintu gerbang itu tertulis sebuah kata yang memerindingkan bulu roma mereka; merdeka.

Lantas, mereka berteriak, “Kami adalah Indonesia!” Kemudian hening. Mereka tak menyangka, setelah itu mereka galau.

* * *

Sejarah paling tidak dituturkan dalam dua bentuk, oral dan literasi. Tradisi oral menjadi yang paling kuat saat ini. Cerita-cerita, hikayat, pantun, nasihat, peribahasa dan seterusnya dituturkan melalui percakapan, dialog antar generasi. Antara orang yang dulunya muda, kemudian menjadi tua dan lantas bercakap-cakap lagi dengan yang muda. Begitu seterusnya. Begitu kuat dia hingga dalam pola pendidikan Indonesia masa lampau, pola “hapalan” begitu kukuh tertanam kepada peserta didik.

Hapalan membutuhkan ingatan yang kuat. Dia diikat dengan kemampuan motorik dan disertai fokus-konsentrasi yang dilatih secara terus-menerus. Pola ini lama-lama berkembang menjadi tradisi lisan. Dalam satu dimensi, dia berkembang menjadi semacam mantra ataupun doa yang membawa daya magis dalam kata dan kalimat yang dituturkan. Penutur yang menguasai makna bahasa tersebut, begitu dihormati.

Namun lama-kelamaan ruang untuk berdialog sedikit demi sedikit tertutup. Penghormatan terhadap penutur begitu tinggi dan dalam sehingga ruang makna menjadi terbatas. Apalagi, terkadang penghormatan itu disertai dengan pelembagaan terhadap sebuah otoritas. Pemilik otoritas –misalnya orang tua, guru, tokoh, dukun maupun ulama—tak bisa digugat. Kebenaran menjadi begitu sempit karena dialog lisan itu lama-lama bermetamorfosa menjadi monolog; tak ada imbal balik yang seimbang, adil dan objektif.

Proses kreatif-inovatif dikalahkan oleh ketakutan yang mengidapi orang-orang yang berposisi inferior, subordinatif. Meminjam istilah yang sering dipakai kaum agamawan, jumud menjadi sebuah konsekuensi. Dalam dataran sosial yang lebih besar, maka masyarakat terjangkit penyakit “taqlid”, mengikut seseorang atau suatu paham tanpa reserve. Masyarakat yang begini ini, dalam sebuah lingkungan masyarakat dunia internasional akan mudah untuk dijajah, dikuasai secara fisik maupun budaya.

Begitupun, budaya lisan tak seluruhnya negatif. Patut dicatat, dalam setting sosial yang lebih konvensional konservatif, budaya lisan ini telah menjadi pengikat yang teguh bagi sebuah stabilitas dan eksistensi sebuah bangsa.

Namun, kita ingin bergerak maju dan karena itu budaya literasi atau penulisan, adalah kemestian. Sejarah telah menceritakan bahwa bangsa yang maju dan berperadaban tinggi, nyata-nyata disokong oleh tradisi tulisan yang sangat kuat. Yunani dan Romawi membuktikan itu. Islam di masa-masa awal juga sama. Penulisan Alquran dan Hadis di antara yang utama.  Era Islam sebelum abad pertengahan, yang melahirkan imam-imam Kitab Hadis seperti Al-Bukhari, Muslim, imam Fiqh seperti imam Ja’far, Malik, Syafii, Hanafi dan Hambali, hingga pada intelektual-cendekiawan-filosof seperti Ibn Rusyd, Ibnu Sina, Ibn Khaldun, Al-Khawarizmi dan seterusnya, menjadi contoh yang paling sering dikemukakan untuk mengungkapkan era keemasan Islam. Dan itu mempengaruhi dunia setelahnya.

Era Renaissance Eropa telah berhutang terlampau banyak dari kepustakaan Islam dan melanjutkan dominasinya hingga kemudian mencapai era Revolusi Industri, hingga di era globalisasi saat ini.

Budaya literasi itu adalah penyangga bagi karya-karya intelektual setiap kaum, setiap kelompok masyarakat. Dia tidak monopoli hanya milik kaum akademisi, melainkan seluruh masyarakat yang ingin eksis dan berubah menjadi lebih baik di masa depannya. Adanya tradisi pencatatan itu membuat setiap orang mampu berdialog dengan siapapun, di manapun dan kapanpun.

* * *

Seperti apa karya ilmiah yang bisa dimuat di Jurnal Ilmiah? Prof Albiner Siagian, Guru Besar USU dan penyunting salah satu Jurnal Ilmiah, mengungkapkan paling tidak ada beberapa bentuk artikel ilmiah, yaitu artikel asli (original paper), artikel tinjauan (review articles), laporan kasus (case report), catatan penelitian (research note), dan surat pembaca (letter to the editor).

Dalam kaitan itu, kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Surat Edaran Dirjen Dikti No 152/E/T/2012 tentang ketentuan publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan program S1/S2/S3, sebenarnya tak luar biasa. Karya Ilmiah memang harus dipublikasikan agar dia bisa diteliti, dikritisi dan menjadi nafas baru masyarakat.

Begitupun, tak elok pula bila kebijakan ini dilihat dalam kacamata kuda. Indonesian Scientific Journal Database, mencatat, hingga Oktober 2009 terdata sekitar 2.100 jurnal yang berkategori ilmiah yang masih aktif. Dari jumlah itu hanya sekitar 406 jurnal yang telah terakreditasi. Bandingkan kondisi itu dengan fakta bahwa dari sekitar 3.000 Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri di seluruh Indonesia saat ini, setiap tahunnya paling tidak ada sekitar 750.000 calon sarjana. Untuk menampung makalah mereka, maka harus ada puluhan ribu jurnal ilmiah di negeri ini. Alasan ini sempat dikemukakan oleh Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTSI) Edy Suandi Hamid yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia itu. Hitungan Edy, seandainya di Indonesia saat ini ada 2.000 jurnal, dan setiap jurnal terbit setahun dua kali, yang setiap terbit mempublikasikan lima artikel, maka setiap tahun hanya bisa memuat 20.000 tulisan para calon sarjana. Jangan lupa, selain mahasiswa, dosen dan peneliti juga memuat tulisannya di jurnal-jurnal tersebut. Persoalan lain seperti kapabilitas dan kualitas dari jurnal yang bersangkutan dan tim redaksi di dalamnya, juga menjadi pertanyaan besar.

Adanya kritik itu tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Paling tidak, kritik itu juga menggambarkan situasi dan kondisi akademis di Indonesia yang memang belum tercipta dengan sungguh-sungguh. Apa yang diputuskan oleh pemerintah itu, memanglah sebuah terobosan yang cukup radikal. Paling tidak kadar keterkejutan dan reaksi terhadap kebijakan itu menunjukkan hal tersebut. Dalam kaitan rendahnya minat akademisi untuk menulis yang memang memprihatinkan, seandainya kebijakan itu diniatkan sebagai sebuah shock therapy, maka kebijakan ini sesungguhnya sudah berhasil.

* * *

Menulislah untuk Indonesiamu, bukan hanya karena ingin mengisi lembar-lembar jurnal ilmiah, apalah lagi hanya untuk sekedar lulus kuliah.

Menulislah untuk Indonesiamu. Indonesiamu yang kaya raya namun rakyatnya miskin-miskin ini, membutuhkan tidak hanya satu catatan, melainkan jutaan catatan untuk dapat dibaca oleh pewaris-pewaris negeri ini nantinya. Kelak, ketika anak dan cucu kita membaca catatan itu, mereka akan terbelalak; pada suatu masa, negara yang dulu pernah dijajah ini, setelah kemerdekaan justru pernah terjebak dalam kegalauan yang tak terperi.

Dan itu hanya karena sebuah jurnal ilmiah … (*)

2 thoughts on “Jurnal Ilmiah di Negara Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s