Anjing versus Babi


Hujan telah turun. Lebat. Sebelumnya, halilintar dan guntur nan dahsyat telah mendahuluinya. Langit kami begitu hitam, begitu tebal awannya. Saya terlalu jauh bila menghubungkan itu dengan perkelahian antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang bukan hanya seperti kucing dan tikus. Tidak, itu terlalu baik bagi mereka berdua. Ada analogi yang lebih sarkastis yang diberikan oleh teman saya: anjing versus babi.

Media, cukup disayangkan, bergerak terlalu jauh dengan memberi judul perkelahian itu dengan “SaveKPK”. Sosial media seperti twitter terus mengantung untung. Dengan hashtag #saveKPK, KPK telah menjadi trending topic pada 6 Oktober dinihari tadi. Tentu, kebanyakan mendukung KPK dan memaki-maki polisi. Dalam perspektif crowded –saya suka istilah ini untuk menggambarkan para pemilik akun sosial media yang mengomentari satu hal tertentu–, akal sehat memang tak punya tempat. Persepsi massa terhadap berita media di televisi maupun di internet, tak sulit diduga, cenderung memojokkan polisi.

Tapi teman saya tidak begitu. Dia kata, mengapa menyalahkan polisi? Bukankah institusi ini hanya menjalankan tugasnya. “Bila si penyidik KPK yang berinisial N itu keukeuh tak bersalah, ya silahkan saja berargumentasi di pengadilan,” tandas teman itu.

“Saya tidak naif,” lanjut dia, “kalaupun ada motif di balik penangkapan itu, apapun itu, silahkan berargumen di pengadilan. Saya sendiri tak heran dengan aktivis dan kelompok ICW (Indonesian Corruption Watch) yang mengerahkan massanya yang seupil itu ke KPK. Mereka tak penting. Mereka, toh, interest group bukan penegak hukum. Tapi KPK bukan mereka, KPK itu penegak hukum. Ya, bicaranya sesuai prosedur saja.”

“Saya tak membela polisi,” sambung dia. Rupanya teman saya ini bersemangat betul. “Polisi jelas sudah brengsek. Tapi saya hanya ingin lebih adil saja. KPK mengobrak-abrik markas besar polisi dalam kasus Djoko Susilo. Itu rumah mereka. Saya bayangkan perasaan mereka waktu itu. Hancur! Dan mereka, walau mulanya melawan pada KPK, namun tak sampai seperti yang terjadi di rumahnya KPK sekarang. Djoko Susilo mungkin di-back-up penuh korpsnya. Tapi tak andalkan massa dan pencitraan. Mereka juga tahu media sekarang tak bisa mereka kuasai dalam hal penanganan korupsi. Lain bila dalam kasus terorisme, media itu di bawah ketiak kepolisian. Tapi, saya kira mereka akan bertarung di pengadilan.”

KPK punya citra bagus daripada kepolisian. “Citra!” seru teman saya.

Soal anjing versus babi? “Tak usah bicara penanganan korupsi bila kasus Century bisa di-lapan anam-kan. Hipokrit! Kalau polisi, ya sudahlah, mereka bermasalah dari hulu ke hilir.”

Saya tertawa kerasa ketika dia bilang “lapan anam”. Itu istilah kasus yang diselesaikan secara “damai”, negosiasi dan kemudian didiamkan.

Tapi sudahlah, saya tak ingin menyentuh mereka. Bukankah haram menyentuh anjing dan babi?Aih, saya jadi tak tega pada dua makhluk ini. Kadang-kadang mereka bisa lucu juga.

Kini, saya hanya ingin menunggu hujan reda dan benar-benar berhenti. Setelah itu baru memutar otak untuk memilih jalan yang tak banjir di kota ini. Ah, mungkin saja hujannya turun untuk menyamak sentuhan anjing dan babi itu. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s