Machiavellisme dan Fir’aunisme ala Indonesia


Jadwal di awal Mei begitu padat. Pada 1 Mei, para buruh di seluruh dunia memperingati May Day. Pada 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Keesokan harinya, 3 Mei, insan pers memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia atau World Press Freedom Day. Walau ketiga peristiwa pada tanggal ini tidak punya kaitan historis secara langsung maupun tidak langsung, namun paling tidak pada 1-3 Mei itu ada aura positif yang sedang menyelimuti dunia maupun Indonesia.

Namun jangan lupa, seorang consiligneri (penasehat) politik paling terkenal dari keluarga Medici di Florence, Italia, juga dilahirkan pada tanggal yang sama 3 Mei 1469. Dia lebih dikenal sebagai filsuf, penulis, diplomat sekaligus politikus handal di Italia. Karyanya, Il Principe (Sang Pangeran) menjadi mognum opus-nya yang terkenal di seluruh dunia, pada waktu itu dan hingga kini. Pahamnya kemudian dikenal sebagai Machiavellisme.

Machiavellisme

Disebutkan kalau Machiavellisme merupakan semacam “buku ajar” bagaimana mendapat dan mempertahankan kekuasaan secara “realistis”. Perspektif dari filsuf Leo Strauss (1957) yang melihat ajaran Machiavelli menghindar dari nilai keadilan, kasih sayang, kearifan, serta cinta, dan lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, ketakutan, dan penindasan. Machiavelli dinilai sebagai pengajar kejahatan atau paling tidak mengajarkan immoralism dan amoralism.

Machiavellisme lebih dianggap sebagai paham politik untuk mendapatkan kekuasaan dan mempertahankannya dengan segala cara. Moralitas adalah lain hal. Malah, etika kekuasaan adalah kekuasaan itu sendiri.

Machiavellisme menekankan paksaan untuk patuh pada aturan dan meletakkan ketakutan rakyat sebagai fondasinya. Seseorang akan patuh hanya karena takut terhadap suatu konsekuensi, baik kehilangan kehidupan atau kepemilikan. Politik secara keseluruhan adalah supremasi kekuasaan memaksa.

Karena itu, kekuasaan tidak memberi tempat pada orang yang lemah. Moralitas hanyalah titik lemah dalam kekuasaan. Hanya orang yang kuat dan kejam-lah yang mampu duduk dalam singgasana tertinggi kekuasaan. Karena pandangannya yang begitu lugas dan “realistis” itu, karya Machiavelli, Il Principe, dinyatakan terlarang oleh Paus Clement VIII.

Fir’aunisme

Kursi atau tahta dan mahkota merupakan semacam representasi dari keinginan paling terpendam dari setiap manusia. Dia mungkin bersembunyi di sebalik nafsu atau mungkin menjadi energi dari nafsu atau bahkan dia adalah nafsu itu sendiri. Emha Ainun Nadjib pernah berujar begini, “Sesungguhnya nafsu terbesar manusia adalah menjadi tuhan.”

Theokrasi, dalam pengertiannya sebagai kekuasaan yang dasarnya adalah kedaulatan Tuhan, memberi kita pemahaman bahwa Tuhan adalah pucuk kekuasaan tertinggi. Bahkan, dalam kata “tuhan” itu identik dengan kekuasaan itu sendiri. “Menjadi tuhan” bermakna memiliki kuasa dan kekuasaan seperti tuhan; memerintah siapa dan apa saja tanpa ada kondisi yang menyertainya.

Dalam literatur Islam, diceritakan dua sosok kekuasaan, pertama tipologi Raja Sulaiman dan kedua, karakter Fir’aun. Keduanya membincangkan tuhan dalam versinya masing-masing. Sulaiman mengakui Tuhan sebagai kekuasaan tertinggi. Namun Sulaiman juga mengharapkan agar dia menjadi penguasa yang tertinggi. Dalam Alquran surat Shaad, Sulaiman berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.

Bila Sulaiman masih mengakui adanya kekuasaan yang jauh lebih kuasa darinya, maka Fir’aun adalah sisi sebaliknya, dia tidak mengakui dan bilapun ada maka dia akan “membunuhnya”. Sulaiman menyatakan tunduk dan kepatuhannya, sementara Fir’aun menegasikannya dengan memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan. Dia tidak menganggap dirinya sebagai “wakil tuhan”, seperti yang sering dipahami dalam konsep theokrasi.

Bila memakai pola pandang Machiavellisme, maka kekuasaan Fir’aun merupakan contoh paling shahih dari kekuasaan yang sebenarnya. Fir’aun menegakkan supremasinya berdasarkan rasa takut. Dia tidak sekedar menebar ancaman tapi malah langsung mengeksekusi siapa-siapa yang dapat merongrong kekuasaannya. Otoriterianisme dan totaliterisme adalah anak kandung dari kekuasaan tipe “Fir’aunisme”.

Sesungguhnya, sejarah kekuasaan di dunia, baik dalam masa klasik dan modern, telah menceritakan bagaimana kekuasaan dibangun dengan rasa takut dari rakyatnya. Tipologi Sulaiman, walau diakui sebagai raja diraja, seakan tenggelam.

Moralitas

Dalam artikel yang singkat ini, apa yang diurai di atas memang masih dalam bingkai yang umum. Rentangan “teori” mengenai kekuasaan di atas, juga tidak mendalam dan detail. Tapi kiranya, prinsip-prinsip umum dari kekuasaan itu telah cukup membawa kita bagaimana model kekuasaan yang ingin dibentuk pasca pemilihan Presiden, Pemilu 2004 ataupun gubernur Sumatera Utara pada 2013 mendatang.

Memang, kita tidak akan lagi berkata soal “theokrasi” dalam makna yang lebih struktural. Namun, apabila hal ini bisa menjadi kacamata kita, maka kita dapat membedakan bagaimana seseorang kandidat meraih dan mempertahankan kekuasaannya.

Moralitas dalam politik adalah pembeda utama untuk melihat apakah seorang kandidat memakai segala cara untuk memenangkan dirinya ataukah dia menempuh jalan yang lebih adil, transparan dan demokratis.

Moralitas politik tentulah tidak membenarkan model strategi politik uang, black campaign, dan character assasination.

Penipuan terhadap rakyat adalah haram. Carilah kejujuran harta dari seorang yang bergaji Rp 3,5 juta dan tidak memiliki usaha dan warisan apapun, namun mampu memiliki rumah dan mobil mewah, tanah luas dan rekening puluhan miliar. Bila dia pengusaha, cari tahulah bagaimana dia menjalankan bisnisnya. Jujurkah ataukah dipenuhi skandal?

Moralitas juga bisa ditandai bila sarana dan prasarana milik publik tidak dipakai untuk kampanye dirinya sendiri. Dia tidak memanipulasi anggaran milik rakyat ataupun simpanan duit rakyat untuk memoles dirinya sebagai seorang yang memiliki perhatian kepada rakyat.

Namun, moralitas politik tidak hanya bersangkut pada kandidat semata. Tapi dia juga merujuk pada panitia pemilihan, pengawas pemilihan dan segenap tim sukses yang mendukung si kandidat tadi. Walau kita sama-sama mafhum, moralitas si kandidat-lah yang menjadi ujung tombak dari politik yang bermoral yang kita inginkan bersama.

Adanya kelompok yang sering disebut sebagai “panglima talam” merupakan indikator sahih bagaimana moralitas politik benar-benar sudah di titik nadir atau bahkan sudah tidak ada lagi. Seseorang yang bermoral namun hidup dalam lingkungan para panglima talam dan sistem yang merusak, maka kemungkinan besar dia juga akan terhanyut dalam politik jahat, politik yang menjual rakyat hanya untuk kemegahan dirinya sendiri.

Menjadi tugas bersamalah untuk memberikan pendidikan politik bagi seluruh kita dalam menuju Pilgubsu 2013, Pemilu dan Pilpres 2014. Pendidikan politik bukanlah sekedar bagaimana mengajarkan rakyat bagaimana teknis prosedur pemilihan, namun lebih dari itu bagaimana menanamkan moralitas dalam politik kekuasaan. Kita langka melihat itu ketika pada peringatan 2 Mei kemarin.

Buruh bergerak di 1 Mei tentulah karena kekuasaan hanya menganggap mereka sebagai “budak” yang tak memiliki daya tawar terhadap kekuasaan yang tak bermoral. Demikian pula, adanya diktum “kebebasan pers” tentulah karena perlawanan terhadap masih kuatnya ancaman dari tangan-tangan politik kekuasaan yang bergandeng dengan kapitalisasi media, untuk menghalangi pers dalam memberikan pendidikan dan kontrol sosial.

Hari lahir Machiaveli pada 3 Mei kemarin, memang tidak untuk diperingati. Namun kita tidak ingin pada tanggal-tanggal yang memiliki energi positif itu –pada 1-3 Mei– , diam-diam Machiavelli telah menyusup dalam perpolitikan kita. Apalah lagi Fir’aunisme. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s