Belajar dari Persaingan Barca vs Madrid


Barcelona dan Real Madrid adalah musuh abadi. Tapi sepakbola Spanyol justru juara Dunia 2010 dan Eropa 2008. Indonesia, anehnya, terus ingin berkonflik.

* * *

Kurang lebih 600 juta orang di seluruh dunia menyaksikan pertarungan El Clasico, Barcelona vs Real Madrid, baru-baru ini. El Clasico terakhir di musim 2011/2012 itu dimenangkan Madrid di kandang rakyat Catalan, Camp Nou. Fans Madrid berpesta pora. Itu merupakan kemenangan terakhir mereka dan semakin memuluskan jalan untuk merebut gelar juara La Liga Spanyol. Apa yang bisa kita petik dari sini?

Banyak sekali. Sudah lazim dikisahkan kalau perseteruan keduanya tak hanya soal sepakbola an sich. Keterlibatan haluan politik antara kerajaan Spanyol dan rakyat Catalan, bukan sekedar aroma yang membungkus pertandingan itu tapi sudah menjadi fakta politik sepakbola yang tak terpisahkan. Setiap pertandingan El Clasico digelar, terutama di Camp Nou, publik Catalan terus membawa bendera “republik” Catalan. Mereka terus menegaskan, mereka bukan orang Spanyol.

Terlepas dari paket promosi media yang luar biasa untuk meningkatkan animo penonton, tidak hanya di Eropa melainkan di seluruh dunia, apapun ceritanya, tentulah tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Perseteruan politik diam-diam itu seakan semakin menahbiskan sebuah rumusan dalam bagaimana mengemas sebuah event atau peristiwa, yaitu semakin sakral sesuatu, semakin mahal pula ia. Semakin panas perseteruan, akal sehat semakin minim peranannya. Bila fanatisme makin dalam, maka rasionalitas pun akan dikesampingkan. Setiap orang pun terbawa pada sebuah kemestian untuk menentukan pilihan; di sisi Real Madrid ataukah Barca.

Bagi orang non-Madrid dan non-Catalan, tentulah hal politik itu bukan nomor satu. Katakanlah bagi kita di Indonesia ini, apakah artinya perseteruan politik itu? Tentu tidak ada. Namun ternyata, kita terseret pada sebuah arus dalam pertempuran itu. Ada apa dan mengapa?

Banyak cerita peperangan politik, ternyata menyisakan ketidaktahuan kepada mereka-mereka yang bahkan terlibat langsung pada peperangan itu. Banyak para prajurit Nazi yang sebenarnya tidak paham soal chauvanisme Hitler. Banyak tentara Italia yang sesungguhnya tak mengerti apa yang sedang dijalankan oleh Mussolini dalam ideologi fasisme. Mereka hanya ikut-ikutan saja, dimobilisasi dalam rentetan wajib militer yang tak mengenal kata “tidak” dalam kamusnya. Mereka mengorbankan nyawanya demi sebuah doktrin yang tidak bisa diperdebatkan.

Apakah kita terikut dalam gendang pertarungan politik antara Catalan dan Spanyol? Tidak, bukan itunya, melainkan gairahnya. Ibarat api unggun, kita bukanlah kayu bakar yang menjadi substansi penyebab dari api tersebut. Namun kita turut merasakan panasnya karena hawa yang ditimbulkannya dan terutama karena gumpalan asapnya yang membuat kita sulit bernafas, menyesakkan dada.

Dalam kumpulan massa, maka embel-embel, bendera, slogan, jersey menjadi pemersatu, terlepas apakah kita paham, terlibat atau tidak soal itu, langsung maupun tidak langsung. Maka dalam kobaran fanatisme yang menggelora itu, karena terikut merasakan dampak “api unggun” itu, meleburlah kita semuanya dalam berbagai motif yang sesungguhnya memang tak perlu sama. Orang Madrid dan orang Catalan mungkin punya alasan politis, namun kita yang jauh di sini mungkin punya argumentasi karena keindahan sepakbola Barcelona ataupun gegap gempitanya bintang pasukan Los Galacticos-nya Madrid.

Tidak perlu alasan yang sama untuk mencintai sesuatu. Tak kita pungkiri kalau nantinya, gara-gara sebab yang tidak sama itu pula, kita menjadi menghargai alasan orang Catalan, kita menjadi menghormati argumentasi warga Madrid.

Persaingan Juara
Tapi lihatlah. Dalam kobaran api perseteruan itu, Spanyol telah menjadi kampiun Eropa 2008 dan Juara Dunia 2010. Pelatih La Furia Roja, julukan timnas Spanyol, Vicente Del Bosque mungkin punya andil untuk memersatukan egoisme Catalan dan Spanyol dalam tim nasionalnya di 2008 dan 2010. Kita tidak ingin membahas ramuannya. Sudah terlalu banyak amatan yang mengatakan, absennya Spanyol menjadi juara di turnamen Piala Eropa dan Piala Dunia, karena ketidakmampuan dalam meramu “hak politik” pemain Catalan dan Spanyol dalam sebuah tim. Ketika Spanyol di Piala Dunia 2010 mengalami kekalahan di babak penyisihan, pelatih tim Matador yang membawa Spanyol juara Eropa 2008, Luis Aragones, serta merta “memerintahkan” Bosque merubah kembali gaya permainan menjadi ala tiki-taka. Kita mafhum, tiki-taka dilahirkan dan sangat fasih dimainkan oleh punggawa Barcelona sementara Bosque sebelumnya adalah pelatih Real Madrid. Akhirnya, semacam “negosiasi internal” membuahkan hasil. Juara Dunia 2010 pun digenggam.

Yang ingin kita soroti adalah lebih dari sebuah permainan. Lihatlah, betapa konflik puluhan tahun antara Catalan dan Spanyol, justru tak membuat perpecahan manajemen sepakbola nasional mereka. Memang ada rencana sebagian klub yang masuk dalam wilayah Catalan untuk memiliki liga sendiri di luar Liga Spanyol. Tapi, toh, hingga kini itu tidak pernah terjadi.

Kita juga mafhum mengapa Santiago Barnebau, tak diingini Real Madrid untuk menjadi stadion perhelatan Copa Del Rey musim ini. Kita mafhum, Madrid tak mau kalau nantinya Barcelona dan rakyat Catalan tak ingin berpesta di kandangnya, salah satu simbol kemegahan kerajaan Spanyol. Kita paham, politik kadang-kadang berada di atas level sportivitas. Tapi, toh, Copa Del Rey tetap diselenggarakan di ibukota, walau hanya di kandang tim “kelas dua”, Atletico Madrid.

Yang kita tidak paham adalah mengapa di negeri ini, Indonesia, perpecahan justru makin menjadi-jadi. Di tingkat nasional, terjadi double kepengurusan. Liga pun terbagi dua; Indonesian Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL). Dua-duanya merasa paling benar, paling representatif.

Sesungguhnya bukan masalah siapa yang paling benar. Publik Madrid dan rakyat Catalan, tidak pernah ingin berargumentasi siapa yang paling benar di antara mereka. Karena perdebatan siapa yang paling benar, hanya akan membentur tembok. Sudah diputuskan, ambil, pegang dan laksanakanlah kebenaran masing-masing. Namun, di mana kebenaran itu akan diuji? Spanyol mengujinya dalam pertandingan sepakbola.

Maka masuklah hasrat politik, kemampuan finansial, gairah bersaing dari rakyat Catalan dalam klub sepakbola seperti Barcelona ataupun Espanyol. Maka Real Madrid pun kemudian menjadi salah satu simbol penting kerajaan Spanyol. Mereka bertanding, setiap tahun dan tidak hanya sekali.

Indonesia tidak. Tidak ada rasa ksatria untuk menguji masing-masing “kebenaran sepakbola” itu dalam esensi sesungguhnya; pertandingan sepakbola. Institusi kepengurusan sepakbola tidak kompak dan terpecah dua. Akhirnya liga pun jadi dua. Tim nasional keok. Ironisnya, muncul pula kemudian wacana dan gerakan timnas “sempalan”. Makin hancurlah sepakbola nasional.

Kita menginginkan, bila ingin unjuk kekuatan dalam sepakbola, maka perlihatkanlah dalam lapangan pertandingan. Kepada mereka-mereka yang berseteru, Nirwan Bakrie ataupun Arifin Panigoro, parpol ini ataupun parpol itu, pengusaha ini ataupun pengusaha itu, bikinlah klub raksasa seperti Barcelona dan Real Madrid. Tumpahkan gairah, hasrat politik dan uang kepada klub yang Anda bikin dan beking itu. Tumpahkan semua komoditas dan sumber daya Anda.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) adalah institusi olahraga. Kita memang akan naif kalau mengatakan lembaga ini akan steril dari politik. Tidak. Di luar negeri pun begitu. Pemilihan pengurusan, manajemen pertandingan, tidak bersih dari intrik politik dan bisnis. Namun agaknya semua sepakat, nilai-nilai kompetisi, transparansi dan keadilan, serta yang terutama rasa ksatria, kehormatan dan harga diri, harus dijunjung tinggi.

Jangan korbankan gairah sepakbola nasional hanya gara-gara pragmatisme dan nafsu politik yang rendah. Marilah belajar dari kompetisi antara Barcelona dan Real Madrid. Sekarang boleh kalah, maka berusahalah agar besok menang. Sesederhana itu sebenarnya. (*)

Foto:
During the international friendly match between Catalunya and Argentina at the Camp Nou stadium on December 22, 2009 in Barcelona, Spain. Catalunya won the match 4-2. (Photo by Manuel Blondeau/AOP.Press) — All right reserved.
sumber: http://www.aop-press.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s