Wellcome Home, Nando


Bola itu melintir ke sudut gawang. Dan dia, Fernando Torres, pria gagah berambut pirang, tersenyum lebar. Dia pungut bola itu dari gawang Leicester, mengapit erat dengan dua tangannya, dan kemudian melemparkannya ke lapangan kembali. Seakan-akan, dia sedang mengambil sebongkah jiwa yang sedang hilang selama ini, mendekapnya, merasupkannya ke seluruh tubuhnya, dan membiarkannya terbang ke tempat yang seharusnya; lapangan, bola, dan gawang.

Beberapa detik kemudian, rekan setimnya menghampiri. Mereka semua tersenyum lebar, tertawa, bersama dengan puluhan ribu penonton yang memadati Stamford Brigde. “Wellcome back, Nando,” teriak seseorang, dan seseorang lagi, dan lantas seorang lagi dan seterusnya, di tengah gemuruh kata-kata “Torres”. Selalu ada banyak kisah di balik sebuah gol dan masing-masing akan punya keunikan. Melihat Torres, ada kelegaan dan kemudian kebahagiaan. “So he will have slept well after an impressive performance against Leicester,” ujar Ian Wright, mantan striker Arsenal.

Kutukan media-media di Inggris memang mengerikan. Label “The £50million striker …”, seperti ditulis The Sun, dan yang sering diulang-ulang media, telah menjadi beban mahaberat yang harus dipikulnya. Kutukan yang sama yang juga sempat menimpa pendahulunya di Chelsea, Andriy Shevchenko.  Tapi itu cerita di episode yang lain.

Ah, gol Torres memang bukan miliknya pribadi. “Goals were for the fans,” ujar Torres. Dia benar. Egoisme dalam sepakbola adalah hal menggelikan. Kini, fansnya punya argumen untuk mendebat kemandulan Torres. Untuk melawan cercaan bahwa mereka tak pantas mengidolakan Torres. Untuk membalikkan kata dan kalimat kepada lawan mereka, bahwa Torres harusnya dijual. Untuk jawaban bahwa Torres merupakan suatu kegagalan.

Lihatlah, seakan-akan bukan kaki Torres yang sedang menendang bola itu ke pojok gawang, melainkan kaki-kaki seluruh fansnya. Di kakinya itu, ada jiwa-jiwa fansnya yang berisi harap, yang mengalirkan energi bagi lutut, betis, engkel dan jari-jari kakinya. Ketika pinggangnya sedikit berputar menerima umpan dari Meireles, seakan-akan dia sedang menerima bisikan teman dansanya, “Terima bola itu dan benamkan.” Dan, gol.

Memang selalu akan ada banyak cerita di balik sebuah gol. Juga akan selalu tak sama. Tetap akan ada sinisme. Tapi siapa pula yang berharap seluruh dunia, seluruh orang, akan pernah bulat setuju terhadap satu ide?

Dia adalah anak yang sedang hilang itu. Dia telah lama tak berdiri di tengah gempita nama-nama lain seperti Messi, Drogba, Ronaldo atau Soldado, kompetitornya di tim nasional Spanyol. Si anak hilang itu tidak sedang bercerita soal aksinya nanti di kemudian hari. Juga bukan soal gol pertama atau kedua, juga tidak yang ketiga atau mungkin yang entah berapa lagi, atau pula bila nanti tidak ada gol lagi dari dirinya. Juga bukan soal 151 hari, 25 jam, 41 menit.

Peluklah. Dia kini telah pulang bersama sesungging senyum. Beban dan kutukan sesungguhnya tak pernah ada. “Saya hanya senang bermain sepakbola,” ucap Messi.

We all do miss you. Wellcome home, Nando.

foto: thesun.co.uk (all copyright reserved)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s