Merindukan yang Lama, Memimpikan yang Baru


Manusia adalah makhluk yang hidup dengan masa lalu. Kaum ilmuwan menamakannya dengan sejarah, sementara kita cukup dengan satu kalimat sederhana: kenangan. Kita membolak-balik kenangan itu dalam memori, sembari –bila beruntung– dapat memikirkan sesuatu untuk merancang masa depan.

Kaum psikolog membagi proses memori manusia itu dalam tiga tahap; encoding atau registration, storage dan retriveal. Tahap pertama, dia akan menerima, memeroses dan kemudian mengombinasikan informasi-informasi yang diterima. Selanjutnya, dia akan menyimpang informasi itu dalam sebuah ruang khusus rekaman informasi. Di episode terakhir, ada pilihan untuk me-recall dan recollection, memanggil kembali informasi-informasi itu ketika dia memberi respon terhadap suatu hal tertentu.

Dengan kemampuan itu, siapa bilang manusia tidak bisa kembali ke masa lalu? Bahkan manusia dapat dengan mudah kembali ke masa kecilnya sesuka hatinya hanya dengan mengandalkan kemampuan memorinya. Kita dapat dengan mudah mengingat kala kita berenang dan menangkap ikan di sebuah sungai di tepi hutan nun di belakang rumah orang tua kita di kampung. Dari masa kecil, kita pun dapat dengan mudah melompat ke masa remaja, di kala masih lagi bersekolah dengan celana pendek berwarna biru atau panjang abu-abu. Kita pun senyum-senyum sendiri melihat sebuah pemandangan saat kita masih lagi terjerat cinta monyet atau mungkin berkelahi dengan teman sebaya.

Indah, buruk, jelek, cantik dan seperangkat penilaian kita akan sebuah masa, berhimpit-himpit tergeletak di memori setiap manusia. Elemen manusia sesungguhnya cukup lengkap untuk memotret hidupnya dalam konteks kontemporer dan mulai melukis seperti apa wajahnya nanti di masa depan; sebuah ruang ghaib.

Walau berasal dari asal penciptaan dan bahan yang sama, tidak semua manusia mampu mengoptimalisasi kemampuan memorinya. Lagi-lagi, kaum psikolog, menjembatani ini dengan dua tipe memori; long-term dan short-term memori. Tidak semua manusia mampu memanggil kembali informasi-informasi satu jangka waktu yang cukup panjang. Semakin jauh ukuran waktunya dan semakin lama durasinya, kekuatan daya panggil itu itu juga dituntut semakin kuat. Bila informasi yang ingin dipanggil lebih detail, maka daya fokus dan konsentrasi juga akan semakin dibutuhkan.

Mari hubungkan ini dengan sebuah teori yang berbunyi cukup menarik; ingatan manusia akan sangat kuat pada informasi yang didengarnya terakhir kali, the last standing information theory. Dari teori ini, kita menjadi teringat apa yang sempat dinasehati para orang-orang tua dulu; kalau ingin menghafal suatu pelajaran belajarlah sebelum tidur niscaya lebih lengket ketika diputar untuk esok pagi.

Ingatan manusia memang cenderung pendek.

Memori Politik

Politik gemar sekali merekayasa memori-memori masyarakat. Untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya komunisme, Orde Baru-nya Soeharto setiap tanggal 30 September terus memutar Film Pemberontakan G-30S/PKI yang disutradarai Arifin C Noer. Memori yang secara terus-menerus ditanamkan kepada masyarakat ini tidak hanya membuat masyarakat terus ingat pada peristiwa itu dalam kerangka yang mencekam, tragis dan mengerikan, namun juga mengundang persepsi lain yaitu bahaya laten dan manifes dari komunisme. Tidak cukup hanya itu, orde baru juga mendesain seperangkat aturan perundang-undangan mulai dari Ketetapan MPR (Tap MPR) dan perangkat hukum di bawahnya sebagai sebuah ruang untuk mendukung propaganda politik tersebut.

Akibatnya memang sangat luar biasa; komunisme adalah hal yang haram. Sekali sebuah propaganda masuk dalam ranah “halal-haram”, maka dia telah beranjak masuk ke dalam ruang yang lebih pribadi; keyakinan religius. Religiousity sebagai sebuah hasrat kemanusiaan yang cukup penting, dalam, sekaligus “sunyi”, tidak hanya menjadi dasar berpikir kebanyakan manusia, melainkan juga argumentasi shahih dari perbuatan. Ada ruang bernama fanatisme yang tumbuh subur dari rasa kecintaan, termasuk juga kebencian. Dia akan cinta terhadap sesuatu, sekaligus juga menjadi benci terhadap yang kontra terhadap sesuatu itu. Perasaan yang mendalam, keyakinan yang cukup kuat ini, dalam salah satu dimensinya akan berhadap-hadapan dengan rasionalitas dan logika, yang mensyaratkan adanya argumentasi untuk menilai sesuatu.

Keyakinan memang tidak selalu menang. Demikian juga sebaliknya dengan rasionalitas dan logika masyarakat. Karena itu, mempropagandakan sebuah memori politik yang monologis –dalam arti hanya punya satu perspektif yaitu perspektif penguasa- adalah juga dengan memanipulasi, tepatnya mengelabui, kecenderungan berpikir masyarakat. Bila seorang pejabat terduga korupsi, maka si pejabat tadi juga harus memberi informasi lain kepada masyarakat untuk menutupi kasus yang dapat membuat masyarakat berpersepsi negatif kepadanya. Inilah yang kemudian disebut dengan pencitraan (imaging).

Survey persepsi publik juga keluar dari kerangka itu. Ada perbedaan yang cukup jauh antara persepsi dan daya electibility terhadap suatu kandidat. Persepsi masyarakat yang positif cukup tinggi terhadap suatu kandidat, tidak linear dengan hasil pilihan masyarakat terhadap si kandidat tadi. Karena itu, pencitraan seorang sosok hanya ingin memanipulir memori masyarakat dengan memberinya asupan informasi terhadap seorang sosok sebanyak mungkin. Masyarakat secara perlahan-lahan akan digiring untuk menjadikan informasi-informasi ini menjadi sebuah keyakinan, sebuah tahap untuk menentukan tindakan elektif dari masyarakat.

Jadi, walaupun seolah-olah kita hendak diberi alasan yang cukup logis untuk memilih seorang calon, pada hakikatnya itu adalah determinasi cara berpikir masyarakat. Masyarakat yang juga mengalami persoalan cukup banyak, terkadang luput untuk mengukur seorang calon berdasarkan alasan-alasan rasionalnya. Dia lebih sering menggunakan indikator-indikator yang telah diinformasikan secara massif dan terus-menerus oleh si kandidat dan para tim suksesnya, daripada menggunakan kemampuan daya pikirnya sendiri.

Pilgubsu

Pakar politik mengatakan perang dalam definisi politik hakikatnya adalah sebuah perang informasi. Dan karena itu, peran media massa menjadi cukup penting dalam hal ini. Dalam strategi multiflyer effect of communication, maka media massa menjadi salah satu komponen penting penyebarluasan pesan yang kemudian dibaca, diartikan dan dinilai oleh komponen komunikasi lainnya seperti tokoh masyarakat, tim sukses di lapangan dan lainnya, untuk dikomunikasikan kembali dengan masyarakat sasaran.

Perang informasi sesungguhnya tidak mudah. Masyarakat akan dihadapkan pada tiga komponen pokok dari ruang dan waktu: lalu-kini-depan. Di titik itu, masyarakat akan selalu membanding-bandingkan. Daya pikat Syamsul Arifin kemarin di antaranya adalah proximity, kedekatannya secara personal (fisik) dan psikologis dengan masyarakat. Empati yang dilakukannya membuat masyarakat merasa Syamsul adalah bagian dari dirinya, ingroup, dan bukannya orang lain, out-group. Walaupun Syamsul seorang Melayu, tapi seorang Mandailing atau Batak Toba di Kota Medan dan suku-suku lainnya, tak ragu untuk terbahak, berbincang dan kemudian memilih dia di bilik TPS. Demikian juga Abdillah yang seorang keturunan Arab, tapi memiliki memori yang cukup hangat di Kota Medan, walau kasus korupsi sudah menerpanya.

Memori dalam Pilgubsu 2008 kemarin, akan muncul kembali. Memori sosok-sosok Gubernur yang pernah memimpin Sumatera Utara sebelum-sebelumnya juga akan terngiang di memori masyarakat. Raja Inal Siregar, HT Rizal Nurdin (almarhum), Kaharuddin Nasution, EWP Tambunan, dan seterusnya akan dinikmati masyarakat dengan berbagai-bagai tafsiran; senang, benci, rindu, marah, senyum, baik-buruk, hingga bahkan tanpa ekspresi.

Dengan merindukan yang lama ini, mungkin kita akan memimpikan yang baru. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s