Pilgubsu dan Sekulerisme


Kemanakah kepentingan Islam akan di bawa oleh Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 yang makin dekat ini? Tidak jauh-jauh bahkan belum kemana-mana. Tema ini bahkan dianggap kurang menggigit dibanding perbincangan soal primordialisme dan pragmatisme politik. Islam seolah-olah sudah habis didiskusikan ketika ada konvensi bahwa seorang Gubernur Sumatera Utara mestilah Islam. Noktah itu seakan menjadi kunci mati.

Saya bukan membayangkan ada keragu-raguan untuk membincangkan itu. Namun tentu saja ini bukan nihil penjelasan. Untuk yang pertama, saya memilih soal sekulerisme yang menjalar dengan sangat-sangat kuatnya melanda elit politik dan terutama kaum akademisi.

Sekulerisme

Kiranya tak usah diperpanjang soal batasan sekulerisme dalam artikel yang singkat ini. Paling tidak kita sama-sama sepakat bila pemisahan antara Islam dan politik tidak hanya dalam kerangka struktur politik melainkan juga backmind masyarakat. Bahwa pemikiran kalau agama dan kaum ulama tidak punya porsi dalam perbincangan politik, itu saja sudah membuktikan virus sekulerisme tidak hanya menjangkiti politisi sekuler, melainkan juga kaum ulama. Adanya pandangan kalau mimbar-mimbar keagamaan mesti steril dari kepentingan politik semakin menguatkan pandangan itu.

Bila dibandingkan dengan kecenderungan dunia saat ini, maka Islam di Sumatera Utara (mungkin juga Indonesia) ini memang aneh luar biasa. Republik Islam Iran sudah lama mengenal kepemimpinan ulama. Kemenangan faksi Islam dalam pemilu di Republik Turki bahkan mengungkapkan betapa negara yang menjadi indikator terakhir runtuhnya model khilafah ini cenderung sedang mengoreksi kebijakan sekulerismenya. Pasca revolusi Mesir, Ikhwanul Muslimin yang semula enggan memakai instrumen demokrasi seperti pemilu, bahkan kemudian memutuskan ikut pemilu dan berhasil mendapatkan perolehan jumlah kursi yang signifikan. Revolusi Libya bahkan sudah menegaskan akan memakai hukum Islam sebagai basis negaranya. Adalah sebuah benang merah kalau keterlibatan kaum ulama berpadu dengan kaum intelektual kampus berpadu kuat dalam pergerakan revolusi Islam di akhir abad 20 dan di awal abad 21 itu.

Karena revolusi tidak pernah terjadi dalam satu malam, maka tidak pula perlu buru-buru artikel ini akan mengarahkan kepada suatu perbincangan mengenai “negara Islam”. Dalam lingkup ke-Indonesiaan, dan semakin spesifik ke-Sumatera Utara-an, maka jelaslah bila keperluan adanya penerapan tafsir-tafsir kontekstual mengenai kepentingan Islam seperti mana yang harus diperjuangkan dalam bingkai Republik Indonesia yang sekuler ini, mengemuka.

Memang, adanya Sila Ketuhanan yang Maha Esa, tidak membuktikan Indonesia sebagai negara agama atau theokrasi. Diakomodirnya sila itu sebagai sila pertama Pancasila, sebaiknya tidak membuat umat Islam Indonesia kegeeran kalau yang dimaksud dalam sila itu adalah “Tuhannya” umat Islam. Di lain pihak, tentulah umat agama lain akan tidak senang akan hal itu. Bukti paling shahih memang seperti yang ditunjukkan oleh diskursus (dan gerakan) penolakan “Piagam Jakarta”. Sila pertama itu hanya merupakan pengakuan negara terhadap tuhan-tuhan ada yang ada di Indonesia, bukan?

Namun baiklah, adanya batasan dari hukum positif itu membawa kita pada sebuah urgensi; bagaimana menyodorkan Islam dalam pentas Pilgubsu 2013 ini?

Pilgubsu 2013

Di antara yang menjadi penting didiskusikan adalah kepentingan Islam yang tidak bisa hanya direduksi dalam simbolisasi individual. Ini merupakan perangkap lembut dari sekulerisme. Nama-nama yang beredar di media massa tidak hanya mesti diperiksa soal agama apa yang dianutnya di kartu tanda penduduk (KTP), melainkan juga komitmennya terhadap keislaman.

“Kegemparan” yang terjadi provinsi tetangga, Sumatera Barat, belum lama ini, ketika diketahui salah seorang pegawai negeri sipil (PNS)-nya mengaku sebagai atheis, bisa kita telaah sedikit. Struktur masyarakat Islam di kawasan itu mengalami ketersinggungan ketika diketahui aparaturnya mengaku tidak punya tuhan. Ketersinggungan ini tentulah dalam kerangka adanya kekhawatiran terhadap sebuah kata yaitu moral non-agama. Ketika Tuhan tidak hadir dalam diri seseorang manusia, maka adakah moral akan hadir dalam perilakunya? Bagaimanakah manusia mampu memproduksi etika moral kecuali dari agama? Bukankah dalam setiap kebudayaan manusia paling primitif sekalipun, moral selalu dilahirkan dari keyakinan terhadap sesuatu kekuatan yang di luar kemampuan manusia?

Dalam masyarakat Sumatera Barat yang agamis, absennya Tuhan dalam aparatur pemerintahan merupakan suatu hal yang mengerikan. Tentu ini tidak bisa dijelaskan dalam kerangka “hak-hak asasi” bahwa setiap individu bebas memilih surga atau neraka. Gugatan dari masyarakat itu seolah-olah ingin menjawab pertanyaan sederhana ini: “Kalau Anda hendak memilih neraka, jangan ajak-ajak kami.” Karena itu, posisi si atheis sebagai aparatur pemerintahan yang tentu tugasnya mengurusi masyarakat, menjadikannya sorotan. Akan lain kejadiannya, seandainya si atheis tadi bukan seorang PNS ataupun bekerja di pemerintahan.

Dalam frame sosial, keberagamaan memang tak pernah individualistis. Sebenarnya, si atheis tadi tak perlu mengungkapkan kepada publik kalau dia tak mengakui adanya tuhan, agar posisinya aman. Namun, karena keberagamaan selalu punya karakter proklamisasi dan ajakan, maka pengakuan adalah sebuah keniscayaan. Ini sebenarnya karakter dasar dari manusia yang nantinya akan berhubungan dengan karakter zoon politicon, bahwa suatu saat si atheis tadi akan mengumpul dan mengorganisir pengikut yang sepaham dengan dia.

Kita bisa membandingkan ini dengan ghirah (rasa) keislaman. Tidak hanya cukup memproklamasikan bahwa seseorang menganut Islam tapi juga perlu menunjukkan karakter keislamannya ke depan publik. Tentu yang kita maksudkan bukannya “riya” atau pameran kesalehan. Namun, ghirah akan kebersamaan sebagai seorang muslim, yang bertuhan satu, bernabi satu dan menghadap kiblat yang sama.

Di titik itulah keberpihakan politik menemukan signifikansinya. Seseorang Islam yang ingin maju dalam pilgubsu tentulah harus memperlihatkan keberpihakan itu, di bagian mana dia akan berpijak. Pun, pertunjukan itu memang bukan dengan memanggil para wartawan ketika menyumbang mesjid, korban bencana dan seterusnya. Bukan pula dengan secara mencolok memperlihatkan gambarnya ketika menjadi imam shalat jenazah atau menyembelih qurban. Islam justru mengharamkan perbuatan riya.

Adanya kemegahan diri (‘ujub) sebagai produk dari riya, adalah benih-benih terbentuknya hipokritas dan arogansi. Bahwa yang sebenar-benarnya ketaatan itu bukan untuk si manusia itu sendiri tapi thariqah (jalan) untuk Tuhan. Kecintaan kepada setiap manusia juga bukan untuk manusia itu sendiri, melainkan Tuhan. Patut dicatat kalau humanisme dalam Islam ditegaskan dalam frame transendensi bukan anthropis. Humanisme sekuler akan membawa si individu tadi pada kemegahan dirinya sendiri dan bukannya untuk kehidupan sosial. Bahkan humanisme sekuler akan membawa keruntuhan bagi masyarakat karena berkonsekuensi pada eksploitasi sesama manusia. Bukankah agar dia disanjung orang ketika menyumbang pada dhuafa, sesungguhnya dia telah mengorbankan dan mengeksploitasi si dhuafa itu sendiri?

Lengkaplah sudah kalau sekulerisme akan menjadi pabrik manusia-manusia hipokrit dan arogan, manusia berwajah ganda yang dengan demikian juga punya standar ganda. Kita akan dengan mudah menemukan itu dalam sosialisasi dan kampanye seorang kandidat yang lebih senang memuji-muji dirinya sendiri daripada berempati pada rakyatnya. Ketika sudah menjabat, maka terhampar luas juga kebijakan yang tak punya keberpihakan kepada sesama muslim, kaum miskin dan kaum musthada’afin (tertindas).

Kita sudah terlalu terperangkap dalam sekulerisme. Maunya jangan lagi. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s