Kepentingan Kaum Sekuler dan Hipokrit


Sebagai mayoritas, Islam jelas amat berkepentingan di Sumatera Utara dan Kota Medan, dan terutama di Indonesia. Dalam dataran itu, sekularisme –dalam arti pemisahan agama dengan politik– memang sudah tidak lagi relevan dan hanya merupakan sebuah “sekte” dari sebuah pandangan Islam pada dunia.

Bila konsep rahmah bagi alam semesta sudah menjadi garis besar dari Alquran, maka adalah keanehan luar biasa ketika Islam dijatuhkan ke titik nadir dan direduksi ketika ia hanya dimaksudkan untuk berkutat dalam sebuah “kedamaian” individual belaka. Tidak ada yang salah dengan individualisasi Islam namun tentu itu tidak dengan mengorbankan hal yang justru lebih besar yaitu kumpulan besar dari individu di atas alam semesta. Imanen dan profan bukan untuk dipolarisasi tapi justru mempunyai fungsi komplemen dan di tingkat selanjutnya dibingkai dalam kerangka simbiosis mutualistis.

Bila melihat ukiran “nabi Muhammad” di gedung utama Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS), maka terpampanglah ketidakadilan kaum sekularis terhadap perdebatan ini. Dalam penjelasan mengenai ukiran nabi itu, MA Amerika menyebutkan kalau Muhammad dianggap sebagai salah satu titik bagaimana manusia menjadikan hukum sebagai landasan hubungan di dunia. Office of the Curator of the Supreme Court of the United States, menuliskan Muhammad dalam kalimat, “these figures were selected as a representation of secular law.”

Jelaslah bila Amerika telah mendudukkan Nabi Muhammad dalam posisi sekuler. Ukiran itu sendiri sempat diprotes oleh umat Islam di AS pasca hebohnya kartun penghina nabi yang dibuat oleh media Denmark beberapa waktu lalu. Penjelasan mengenai ukiran nabi itu kemudian direvisi dan lantas disebutkan hanya sebagai “The figure above is a well intentioned attempt by the sculptor, Adolph Weinman, to honor Muhammad and it bears no resemblance to Muhammad.”

Kaum sekuler berangan-angan seperti Amerika dan Eropa, sebuah negara yang dijadikan sebagai simbol kemajuan, pendidikan yang tinggi, kemakmuran, penegakan hukum dan seterusnya. Dua kawasan itu selalu dijadikan sebagai contoh keberhasilan ideologi sekuler dalam mengurus urusan manusia di muka bumi tanpa campur tangan Tuhan. Saya sendiri tidak mengerti mengapa invasi Amerika dan NATO ke sejumlah negara Timur Tengah, Asia dan Afrika tidak masuk dalam klausul “contoh keberhasilan” itu. Belum lagi soal campur tangan terhadap persoalan internal suatu negara, hegemoni dalam percaturan sosial politik dan ekonomi dunia, dan lain-lainnya, yang dianggap tidak merupakan bagian dan terpisah dari kebijakan dari negara-negara adikuasa tersebut. Bahkan “standar ganda” Amerika dan Eropa itu seakan-akan memang diizinkan oleh kaum sekuler.

Dengan demikian, tema sekuler jelas menjadi penting karena memang dia telah dijadikan batu sandaran dalam negara Indonesia. Percayalah, ini akan menghadapkannya vis a vis ke diskursus tafsir terhadap Islam di masa modern dan secara praktis di era industrialisasi dan gegap-gempitanya Information Communication Technology.

Gugatan

Walau Indonesia sudah melalui perdebatan itu secara struktural pada pra kemerdekaan dan di dasawarsa 1950-an, namun di masa kini, sekularisme yang diadopsi Indonesia, kini justru mengalami gugatan serius. Pasca reformasi, sistem etika nilai dan moral sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama yang terjadi pada supra dan infrastruktur politik, menghadapi gugatan besar.

Baru-baru ini, mantan Wakil Presiden Indonesia, HM Jusuf Kalla, menyatakan korupsi Indonesia sudah terstruktur. Statemen penting dari mantan simbol negara ini tentu punya landasan argumentasi yang cukup matang. Dia mencontohkan perilaku (dugaan) korupsi yang melibatkan Nazaruddin, yang dinilai telah melibatkan banyak pihak dalam struktur politik. Keterlibatan partai politik, DPR RI, eksekutif serta pejabat penyelenggara negara lainnya, memang sudah cukup memberikan contoh betapa gurita korupsi tidak lagi hanya terkait dengan niat jahat secara individual melainkan dijalankan secara sistematis dan berjamaah.

Jusuf Kalla mungkin memang tak sedang menggugat sekulerisme secara langsung. Namun, dari pernyataannya itu, nyatalah bagi kita kalau sisi ideologis yang memuat etika moral dan nilai-nilai kebangsaan juga menghadapi gugatan super serius. Digagasnya sosialisasi empat pilar kebangsaan oleh MPR RI di seluruh Indonesia, dapat dilihat dari sudut pandang sebuah negara yang sedang “gelisah” mengenai dirinya sendiri. Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seolah-olah sudah tak mendapat tempat lagi dalam sanubari rakyatnya sendiri. Kalangan pengkritik sosialisasi ini sendiri sudah mengatakan, sosialisasi ini cukup mirip dengan Program P-4 zamannya Orde Baru Soeharto. Karena itu, para pengkritik menilai semacam ada kerinduan untuk kembali ke rezim tiran itu. Seolah-olah ada “tuduhan” kalau prahara yang sedang melanda negara ini akibat dari kekurangpahaman terhadap empat pilar kebangsaan ini.

Namun tak sedikit pula yang berpandangan kalau justru empat pilar kebangsaan inilah yang telah kehilangan dimensi konteksualnya. Seakan-akan empat pilar kebangsaan ini telah mengalami alienasi (keterasingan) dari rakyatnya sendiri.

Perubahan dan Keadilan

Sebagai umat terbesar, maka tak ada alasan bila umat Islam Indonesia tidak mengambil peran yang semakin signifikan di Indonesia. Kalau kita memakai kerangka demokrasi dalam melihat itu, maka pengetepian dan penihilan Islam dalam pembicaraan itu sungguh tak demokratis.

Dengan demikian, soal-soal seperti tirani mayoritas dan minoritas adalah suatu bid’ah negatif yang keluar dari ketakutan akan Islam yang tersadarkan, terbebaskan. Dalam alam demokrasi, justru akomodasi dan representasi politik dalam kebijakan, struktur dan seterusnya, justru menjadi keharusan yang tak terbantahkan. Selama kita sepakat akan demokrasi, maka jelaslah bila umat Islam semestinya mendapat porsi terbesar, sekaligus menjadi perhatian dan pengaruh terbesar. Dengan tidak mengeliminir kepentingan politik dari kelompok yang lebih kecil, maka kepentingan Islam pastilah harus dikedepankan.

Pertanyaannya, sanggupkah sistem politik mengelaborasi ini? Rumusannya, ketidakmampuan sistem dikhawatirkan akan membawa ketegangan, pergesekan dan konflik bukan sekedar lagi menjadi ramalan-ramalan kaum intelektual.

Bila pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana kapabilitas sistem mengakomodir kepentingan Islam, maka tameng sekulerisme –alasan-alasan seperti bahwa Indonesia bukan negara Islam dan seterusnya– akan semakin menampakkan kekerdilan dan kelemahannya. Kaum muslimin Indonesia telah akan senantiasa menganggap tak ada pemisahan antara yang suci dan yang sekuler dalam Islam, yang berarti bahwa agama juga berhubungan dengan soal-soal duniawi.

Diskursus ideologi tidak akan pernah habis hanya karena empat pilar kebangsaan diniatkan menjadi kunci mati bagi dinamisasi kehidupan berbangsa. Bila umat Islam saja punya keyakinan akan tafsir politik Islam yang konstekstual, maka anggapan kalau empat pilar kebangsaan itu adalah abadi justru semakin aneh dan menggelikan. Inilah argumen yang menjadi alas kalau rakyat justru telah lebih cepat berlari daripada negaranya sendiri.

Bila kita sepakat, maka konstelasi hubungan antara umat Islam dengan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dan Pemerintahan Medan (Pemko) yang memanas akhir-akhir ini, dapat kita telaah dengan mantap. Adalah pertanyaan menarik ketika demonstrasi umat Islam di Kota Medan justru tidak mengadu pada Pancasila melainkan kepada Islam. Ironi? Bukan. Ini memang keluar dari degup jantung paling kencang dari setiap mereka yang mengaku muslim.

Pragmatisme yang selalu saja menjadi modus kekuasaan untuk menghempang kepentingan Islam, justru tak nyambung bila melihat dian Islam. Keadilan dan perubahan, itulah di antara yang selalu diminta dan diperjuangkan. Kaum sekuler pasti tak ingin mengerti soal itu karena mereka suka sekali dengan “standar ganda”. Apalagi, kaum dan penguasa hipokrit. (*)

One thought on “Kepentingan Kaum Sekuler dan Hipokrit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s