Gatot


Para wakil kepala daerah tiba-tiba meradang dan kemudian mundur. Dicky Chandra di Garut dan Mayjen (Purn.) Prijanto di ibukota negara, DKI Jakarta. Aneh? Belum tentu. Luar biasa juga tidak. Sedang perjanjian yang dipersaksikan di depan dan diatasnamakan Tuhan seperti pernikahan, pun bisa cerai.

Diktum agama memang tak mengharamkan perceraian, namun juga tidak disukai. Dalam satu perbuatan, telah hadir dua kehendak yang saling bernegosiasi, yaitu iradah Tuhan dan free will atau kehendak bebas manusia. Tuhan punya kekuasaan mutlak untuk menentukan suatu hukum. Namun di sisi lain, manusia juga bebas untuk mematuhi, menjalankan atau malah tak acuh sama sekali.

Bertentangankah keduanya? Muhammad Iqbal, penyair dan filosof besar dari Pakistan, menyitir syair begini: “Engkau menciptakan tanah liat, aku menciptakan tembikar”. Iqbal dengan sadar memisahkan dua wilayah kekuasaan yang saling berbeda. Penciptaan tanah liat adalah wilayah Tuhan, sedang tembikar wilayah manusia. Ini sama seperti Tuhan menciptakan pasir dan manusia menciptakan cermin. Keduanya dihubungkan oleh proses kreasi, daya cipta sesuai wewenang masing-masing yang begitu indah. Kiranya makna “khalifatullah” lebih kena ke arah “pengganti” daripada sebuah proses penguasaan.

Demikianlah. Tidak ada debat yang perlu dilontarkan kalau Tuhan menguasai manusia seutuh-utuhnya dan manusia pun menghamba, memerlukan Tuhan sehamba-hambanya. Dikotomi antara keduanya hanya membawa kita pada makna sempit dari sekularisme yang paling kolot dari sejarah; bahwa Tuhan dan manusia harus dipisahkan, diceraikan, dan tak mungkin “hidup” bersama.

Tak suka belum tentu dilarang, begitulah perceraian. Tidak hanya antara manusia dengan Tuhan melainkan juga antara sesama manusia. Diktum penciptaan manusia berdasarkan suku-suku, kaum dan berbangsa-bangsa, digarisbawahi dengan fundamen untuk saling mengetahui, mengenal dan bekerjasama dan bukannya sebagai dasar perpisahan. Makna “syirik” dalam dogma tauhid berpadanan dengan perselingkuhan. Bahwa antara hubungan dua hal yang berbeda, maka anasir lain yang mengkhianati hubungan itu menjadi haram hukumnya. Tuhan tak memberi ampun, sedang pengkhianatan dalam hubungan manusia menghasilkan talak.

Bila begitu dibenci, lalu mengapa tak sekaligus diharamkan? Ada nada-nada kehendak dan kesadaran bebas di dataran ini. Keinginan mencinta orang dan sesuatu yang lain, karena rasa itu memang diinginkan. Di dataran itu kita berhadapan dengan probabilitas, suatu ruang di mana “halal-haram” tak berdiam.

Tuhan tak mencampuri ini. Lihatlah, kekasihnya Ibrahim menemukan Tuhannya setelah bertanya pada bulan, matahari dan bintang-bintang. Status “rasul” juga tak membuat Musa harus kehilangan hasratnya bersua langsung dengan Tuhan di bukit Thursina. Tuhan meminta pencarian dan cinta atas kesadaran keinginan bukan dengan paksaan.

Satu mitologi Yunani bercerita dengan sebuah angle lain. Konon, dulu dewa Zeus menciptakan makhluk manusia dengan bentuk yang unik; badannya satu kepalanya dua. Namun, suatu saat entah mengapa Zeus marah pada manusia dan kemudian menghukum manusia dengan halilintarnya. Alhasil, terbelahlah manusia menjadi dua bahagian hingga jadilah seperti bentuknya yang sekarang; badannya satu kepalanya satu. Namun, karena berasal dari badan yang sama, maka hati mereka ternyata juga telah terbelah dua. Alhasil, sepanjang hidupnya manusia terus berusaha mencari pasangan hatinya yang telah terpisah itu. Bila berjumpa senanglah dia, dan bila tak bersua gundah gulana-lah dia. Riwayat ini diceritakan Hercules, anak Zeus dari salah satu istrinya yang manusia biasa, ke telinga istrinya yang sedang sekarat. “Aku telah bahagia menemukan pasangan hatiku,” bisik Hercules. Sejenak setelah itu, wafatlah istrinya dengan menyungging senyum.

Begitulah. Penghubungan horizontal maupun transendental bukanlah diakhiri dengan perpisahan, melainkan persatuan kembali; tauhid. Inilah mungkin alasan ketika setiap anak manusia wafat selalu disebutkan, “Sesungguhnya semua berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah semua akan kembali.”

* * *

Semula, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Gatot Pudjo Nugroho ST, bukan ingin bercerai dengan Gubsu (non aktif), Syamsul Arifin SE. Syamsul korupsi dan itu membuatnya kehilangan kursi orang nomor satu di Sumut.

Dus, gugatan talak bukan berasal dari Gatot. Sebagai seorang Jawa, Gatot paham betul, kekuatan politiknya taklah sebesar Syamsul. Gatot ini pun bukan anak Medan. Dia lahir dan besar di Magelang, Jawa Tengah. Dia bersanding dengan Gatot karena dijodohkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Syamsul. “Kebetulan”, dia dulu adalah Ketua DPW PKS Sumut. Sosok Gatot sebagai seorang calon dan kemudian menjadi wakil gubernur, memang bukan sosok individu tunggal, melainkan sosok seorang kader PKS.

Perceraian Gatot tak hanya sekedar faktor korupsi melingkupi Syamsul. Syamsul memang “Sahabat Semua Suku”, tapi tentu saja bukan tanpa musuh. Hampir setiap hari, media massa di Sumatera Utara, mengulas soal pertarungan ini, langsung maupun tak langsung. Walau Syamsul kemudian hendak berteduh di balik beringin dengan menjadi Ketua DPD Golkar Sumut, tapi sejarah telah berkata lain; Syamsul harus kalah dan meringkuk di bui.  Syamsul pasti membalas. Dan dia tak sendirian dalam posisi itu. Sebelumnya, peristiwa yang hampir mirip juga menerpa Abdillah, mantan Walikota Medan yang kini telah lepas dari penjara. Abdillah pun pasti membalas. Kepada siapa mereka akan membalas, sejarah pasti akan dengan setia mencatatnya.

Gatot ketiban rahmat. Dia mendapatkan blessing in disguise dari pertarungan antara Syamsul dengan lawan-lawan politiknya. Dia naik menjadi Gubsu walau dengan embel-embel “Plt”. Tapi embel-embel itu tak terlalu penting. Kekuasaan, toh, sudah di tangan Gatot. Tapi yang meresahkan adalah hubungan antara pasangan Syampurno: Syamsul Arifin-Gatot Pudjo Nugroho.

Bikin resah karena posisinya bertolak belakang; Syamsul di penjara, Gatot merdeka. Syamsul dicaci-maki, Gatot dipuja-puji. Ini tentu tidak mengenakkan bagi keduanya.

Tak hanya itu. Ibarat sepasang suami istri, maka yang menjadi sumber keresahan selanjutnya adalah pembagian harta gono-gini dan hak atas anak. Harta gono-gini jelas penting. Karena APBD Sumut juga bermakna “kumpulan proyek-proyek”, maka harus ada skema yang jelas soal berapa bagian milik Syamsul dan berapa banyak milik Gatot. Tapi posisi Syamsul kurang kuat karena kini yang berlaku adalah tanda-tangannya Gatot.

Tapi Syamsul tak kurang akal. Karena itu sosok Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) menjadi tidak hanya sangat penting bagi Syamsul tapi bahkan mahapenting. Gatot paham, dia tak mungkin menang di situ. Apalagi dia juga mesti memahami kepentingan para backing politiknya. Bukan PKS, tapi beking yang jauh lebih besar yang selama ini bertarung habis-habisan dengan Syamsul.

Kalau Gatot tidak ngotot di harta gono-gini, maka dia berjuang untuk merebut “hak asuh anak”. Hak ini merujuk pada pembentukan kabinet pemprovsu; jajaran SKPD. Tak gampang karena sebelumnya infrastruktur PKS di jajaran pemprovsu sangat-sangat terbatas. Apalagi Gatot sendiri tak populer di birokrasi. Karena itu, komitmen dan negosiasi menjadi sah adanya.

* * *

Sampai di situ, cukuplah kiranya bagaimana lukisan wajah Gatot pasca perceraiannya dengan Syamsul Arifin. Pertama, logis benar bila Gatot ingin maju dalam Pilgubsu 2013. Sebagai “single parent” dia tentu ingin punya semacam keinginan untuk membesarkan “anak-anaknya”, rakyat Sumatera Utara, dengan caranya sendiri, dengan kemampuannya sendiri. Karena keinginannya itu pula, dia kini telah menjadi lebih mandiri, baik dari partainya maupun dari beking politiknya sendiri. Dan ini punya konsekuensi miring baik dari partai maupun pendukung politiknya selama ini. Akan ada kemungkinan kalau PKS tidak mencalonkannya kembali.

Kedua, waktu Gatot sungguh tak banyak. Dihitung dari peralihan tahun kemarin, hanya tinggal kurang lebih setahun saja lagi. Bila Gatot dapat mengambil keuntungan dari kacamata the last information theory –secara psikologi komunikatif, ingatan manusia lebih kuat pada informasi yang diterimanya paling akhir, maka wajar kalau dia memakai mekanisme “resonansi”-perngiangan ide dalam memori-memori singkat masyarakat. Konflik politik terutama dengan legislatif, interest group dan bahkan bawahannya di eksekutif, tentulah merugikan.

Gatot memang bukan Superman seperti yang selama ini hendak dinisbahkan padanya via lakon Gatot Koco. Paling tidak, ini hanyalah soal free will, kehendak bebas setiap manusia untuk memilih, mau bersatu atau bercerai.

Tentulah bila bersatu akan teguh. Namun bila sudah bercerai, mengapa tidak kawin lagi? (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s