Tauhid Sosial, Diskriminasi dan “Golok” Keadilan


Umat Islam mendemo penghancuran mesjid-mesjid di Kota Medan, seperti mesjid Al-Ikhlas, Raudhatul Islam dan banyak lagi. Umat Islam merasa diperlakukan tidak adil. Di tempat lain, Afriyani Susanti, supir Xenia maut di Jakarta kemarin, dikenakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Pengacara korban menilai wajar diterapkan untuk memenuhi rasa keadilan. Di Bekasi, para buruh memblokir jalan tol karena mereka merasa diperlakukan tidak adil. Di Tangerang, ketidakadilan juga membuat para buruh berencana mengadopsi gerakan rekannya di Bekasi, memblokir jalan tol.

Keadilan adalah tema penting bagi seluruh manusia. Tidak hanya untuk kasus yang bersifat individu melainkan juga kebijakan dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Islam menaruh fokus utama pada soal keadilan ini.

 

Tauhid Sosial

Ini bukan sekedar mengulangi apa yang disebutkan oleh Amien Rais hampir tiga dasawarsa lampau. Dalam buku Cakrawala Islam; Antara Cita dan Fakta (1987), disebutkannya, pandangan hidup tauhid itu bukan saja mengesakan Allah seperti diyakini oleh kaum monoteis, melainkan juga kesatuan penciptaan (unityof creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntutan hidup (unity of quidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of purposes of life), yang semuanya ini merupakan derivasi dari kesatuan Ketuhanan (unity of Godhead).

Pandangan hidup tauhid tidak mempertentangkan antara dunia dan akhir, antara yang alami dan yang adialami, antara yang imanen dan yang transendental, antara jiwa dan raga dan lain sebagainya, karena seluruh alam semesta dilihat sebagai satu kesatuan (unity of the whole universe). Tugas Nabi Muhammad SAW sendiri, dikatakan Amien Rais, adalah membangun umat melalui proses tauhid dalam rangka membangun dunia. Bila sejumlah individu memiliki komitmen “tauhid” tersebut dan menerima dengan ikhlas misi untuk selalu mengubah dan membangun dunia, maka sejumlah individu itu kemudian membentuk suatu ummah.

Ummah berasal dari kata umm yang berarti ibu. Dengan demikian, bagi setiap manusia muslim atau manusia-tauhid, umat itu menjadi semacam “ibu pertiwi” yang diwadahi dalam iman dan akidah yang sama (faith and creed). Jadi bukan ibu pertiwi atau tanah air atau bangsa yang diwadahi oleh batas-batas geografis-teritorial. Setiap muslim mempunyai dua kesetiaan. Pertama pada tanah air, bangsa dan negaranya (dalam lingkup wathaniah) dan kesetiaan terpenting yaitu kepada ummah yang bersifat universal. Seorang muslim Tionghoa kemudian bertemu muslim dari Tapanuli Selatan disaksikan oleh muslim dari Skandinavia maka ketiganya akan saling bersapa “assalamualaikum”; semoga keselamatan dan kesejahteraan atas kamu sekalian. Mereka menyebut kesaksian (shahadat) yang sama, menghadap dan mengelilingi Ka’bah yang sama dan bershalawat kepada nabi yang sama.

Tauhid berhadapan vis a vis dengan dogma sekulerisme yang dimulai sejak masa renaissance akibat kegeraman dari kaum intelektual pada otoriterianisme agamawan Eropa di abad pertengahan, yang telah menjadi penyangga kehidupan Eropa dan Amerika yang sering disimbolisasikan sebagai “barat”. Justru, pertanyaan besar yang hingga kini gagap dijawab oleh kaum sekuler adalah substansi tauhid itu sendiri. Ketika setiap manusia mendasarkan seluruh kehidupannya di atas muka bumi dalam kerangka kecintaannya kepada Tuhannya, maka –meminjam dialektika Hegelian–  sekulerisme hanyalah menjadi “antitesis” yang tak pernah beranjak menjadi suatu “sintesis” baru yang benar-benar baru. Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat –sebuah negara dengan landasan sekular-, George Walker Bush Jr, saja, mendasarkan peperangannya dengan Osama ibn Laden dalam bingkai “Crusade War”, sebuah perang “suci” antara doktrin suatu agama dengan keyakinan agama yang dipeluk oleh Osama. Bila Perancis konsisten pada sekulerismenya, maka seharusnya tidak pernah ada pelarangan pemakaian cadar. Jika Belanda benar-benar paham soal sekulerisme, maka tidak akan pernah ada rencana pelarangan pemakaian burqo bagi para wanita. Seandainya Perancis dan Belanda menerapkan sekulerisme, maka bukan hanya cadar dan burqo yang dilarang, bukankah seharusnya juga bikini juga bernasib sama?

Jelaslah bila dikatakan kalau sekulerisme telah menjatuhkan agama pada tarafnya yang paling rendah, hanya sebatas soal ritual individualistik, hanya sebatas dosa dan neraka. Kalau kehidupan berbangsa dan bernegara, dan politik dalam arti sempitnya, tidak termaktub dalam doktrin agama. Maka bila agama lain tidak bisa berkata apa-apa terhadap sekulerisme, maka hal sebaliknya terjadi pada Islam.

Agama-agama yang setuju pada sekulerisme jelas tidak akan pernah dikhawatirkan oleh kekuasaan. Dus, bila agama sudah jatuh martabatnya, maka Tuhan pun tak mendapat tempat di muka bumi. Tuhan kembali menjadi dalam sosok dewa-dewi, duduk manis dalam singgasananya di atas kahyangan. Atheisme yang geregetan dengan gerakan sekulerisme yang serba tanggung itu, malah mengambil jalan paling tragis, membunuh Tuhan. Tak ayal, manusia malah dinobatkan menjadi tuhan itu sendiri, bukan menjadi manusia sejati.

Maka jelaslah bagi muslim bila humanisme yang tidak disandarkan sebagai bentuk kecintaan kepada yang suci, kepada Tuhan, adalah sebuah humanisme palsu. Manusia “humanis” yang seperti ini, ingin memberangus cita-cita suci dari manusia itu sendiri yaitu bergabung kembali dengan zat yang suci. Manusia demikian hanya akan berkubang, berputar-putar di atas dunia tanpa tahu harus kemana lagi setelah itu. Jadilah eksploitasi besar-besaran terhadap harkat kemanusiaan. Sebuah humanisme kerdil yang membuat manusia tak ubahnya seperti doktrin Hobbes, homo homini lupus, manusia memangsa manusia lainnya. Manusia menjadi kehilangan makna substansialnya.

Karena itu, Islam dengan doktrin ”tauhid sosial”-nya, justru adalah hal yang paling diwanti-wanti oleh kekuasaan, apalagi yang otoriter dan totaliter. Totalitas kehidupan di atas muka bumi atas landasan ketuhanan, membawa umat Islam pada satu titik penting yaitu Tuhan bukan hanya diperlukan ketika sedang berdosa, ketika seorang manusia menangis di balik dinding kamarnya karena telah melawan ibunya atau dikhianati kekasihnya seperti yang selama ini dikampanyekan kaum sekuler.

Tuhan tidak pernah tidur, begitu kata ayat kursi.

 

Diskriminasi dan Keadilan

Dalam satu kesatuan “ummah” itu, maka Islam memandang masyarakatnya dalam landasan keadilan. Bahwa setiap orang berhak dan wajib berusaha untuk kaya namun juga wajib untuk mendistribusikan kekayaannya kepada manusia yang tidak beruntung. Kaya-menengah-miskin adalah sebuah realitas objektif yang tidak bisa diganggu-gugat. Islam menyadari bahwa Tuhan menciptakan perbedaan kekuatan-kemampuan dan kelemahan-ketidakberdayaan. Ada yang upnormal, normal dan subnormal. Ada kekurangan ada kelemahan.

Tapi Islam bukan Ying dan Yang, seperti yang sering diperlihatkan kartun Avatar. Batasan perbedaan dalam masyarakat bukan untuk dihancurkan bukan pula semata untuk diseimbangkan. Keseimbangan hanya satu titik tertentu, bukan untuk tujuan. Perjuangan Islam belum berhenti ketika si kaya telah mendistribusikan sebagian hartanya kepada si miskin.

Dalam Islam ada doktrin “pergiliran”. Bahwa Islam ingin menjamin adanya suatu sistem yang dapat diterapkan kepada setiap orang. Bila dalam doktrin lain dikenal sistem strata, maka realitas kelas masyarakat yang diakui dalam Islam, bukanlah dalam kerangka strata. Satu strata “mustahil naik pangkat” ke kelas atas. Walau kasta sudhra (apalagi pariya) bermeditasi, mengabdi ribuan tahun, dia selamanya tak punya status ksatria, apalagi brahmana.

Bukan pula seperti realitas kelas a la Marxis yang hanya “mengatur” soal borjuis-proletar, di mana si proletar diwajibkan untuk membumihanguskan para borjuis dan komprador. Realitas kelas dalam Islam bukan untuk dihapuskan namun bagi Islam justru sistem yang menindas bagi para seluruh kelas-lah yang wajib diperangi. Karena itu, mereka-mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung atau kaum penindas, juga tak luput dari perlawanan. Islam menggarisbawahi, orang-orang boleh kaya dan memiliki modal pribadi, asalkan tidak mengeksploitasi manusia, tidak menipu (tidak jujur) dan seterusnya. Si fakir dan miskin bukan hanya wajib disantuni bahkan harus dilindungi dan terutama diangkat harkat dan martabatnya.

Karena itu, kewajiban terutama Islam adalah membawa “golok keadilan” kepada sistem yang mendiskriminasi, yang memperlakukan siapapun dengan tidak adil. Sistem dan kaum yang menindas hanya akan memproduksi kelas tertindas, yang dalam Islam disebut kaum musthada’afin. Siapapun yang berlaku tidak adil, maka dia akan menjadi sasaran target keadilan Islam. Siapapun yang diperlakukan tidak adil, maka dia akan dilindungi oleh keadilan Islam. Siapapun itu. (*)

4 thoughts on “Tauhid Sosial, Diskriminasi dan “Golok” Keadilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s