Ahmad dan Muhammad Jilid 2


Sebutlah namanya yang tak panjang itu: Muhammad.

Kala kecil, disematkanlah kepadanya, “Ahmad”, bermakna orang yang terpuji. Kakeknya, Abdul Muthallib yang menabalkannya. Dari Abdullah, Abdul Muthallib, dan seterusnya, nasabnya sampai ke Ismail dan Ibrahim; sebuah nama yang digelar sebagai “the father of monotheism”, dua buah nama yang mendirikan Ka’bah, rumah ibadah pertama di muka bumi. Tak ada keraguan untuk keyakinan ayah dan kakeknya; merekalah penyembah Tuhan yang Satu, Allah, seperti datuk moyangnya, Ibrahim dan Ismail. Berilah salam untuk keturunan yang suci yang mendapat penjagaan dari yang Maha Suci. Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad, kama shallaita’ala Ibrahim wa ali Ibrahim.

Sungguh, dia Muhammad adalah manusia biasa. Dia punya rambut dan janggut yang selalu tumbuh. Dia juga menggosok gigi dan menjahit terompah. Dia pergi ke pasar, menjual dan membeli. Dia berdagang. Dia adalah manusia biasa yang suci namun juga penuh derita.

Dialah penghulu para anak yatim. Tak pernah disambanginya wajah Abdullah, ayahnya. Ibunya, Aminah, pun hanya dilihatnya hingga umur 4 tahun. Kakeknya, Abdul Muthallib, yang menyematkan namanya, hanya bisa dilihatnya sampai umur 8 tahun. Ia adalah orang yang sendiri di dunia ini. Adakah derita yang lebih dalam dari kesunyian, wahai Sahabat?

Hiduplah ia bersama pamannya, Abi Thalib, yang sepeninggalnya kelak, mendapat fitnah keji sebagai “orang tak mukmin”. Abi Thalib tak kaya walau berasal dari golongan terhormat, Bani Hashim. Abi Thalib punya anak, Ali, yang kemudian menjadi pembenarnya kedua setelah istrinya, Khadijah. Dari Khadijah, istri tercinta yang bersamanya hingga wanita suci ini wafat, dia dikaruniai putri, Fatimah, yang nantinya dinikahkannya dengan Ali dan dari mereka mendapat dua orang cucu, Hasan dan Husein.

Lantas, dikenallah dia sebagai orang yang berselimut. Ia adalah orang yang terkejut ketika disambangi Jibril di Gua Hira. Dia bukanlah manusia yang bersemedi menanti-nanti wangsit dan kemudian berbangga mentahbiskan dirinya sebagai “penguasa” dan “pilihan Tuhan” ketika menerima wahyu. Ia menyembunyikannya, keringat memenuhi keningnya dan ia minta diselimuti. Dia adalah orang yang berada di balik selimut.

Dalam hal intelektual dan perjalanan spiritual, ia adalah tawadhu’ (kerendahhatian) itu sendiri. Lima belas tahun perenungan di Gua Hira, hingga kini tak satupun yang tahu metode apakah yang dilakukannya, termasuklah Khadijah. Hingga sampailah umurnya 40 tahun, Ar-Rahman memberi salam kepadanya. Dan, Al-Haq justru menyuruhnya “membaca”, bukannya langsung memberi hak untuk “memberi perintah”.

Laksana kupu-kupu, dia bermetamorfosa. Perubahan Ahmad menjadi Muhammad dilakukan secara berangsur-angsur, seperti juga Alquran yang diamanahkan kepadanya, Selimutnya adalah kepompongnya. Setelah itu Ar-Rahim membuka selimutnya dan menyuruhnya “Bangunlah dan berikan peringatan!“

Aku tak bisa membayangkan, seperti apa pengetahuan yang dimiliki oleh imamku ini. Seperti apakah isi ubun-ubunnya, kelembutan dan kebesaran hatinya, dan apakah yang ada di matanya ketika dia melihat segenap makhluk dan alam semesta ini. Aku tak bisa memahaminya. Dia hanya tersenyum lembut. Dia mengusap kepala anak yatim dan mendatangi fakir miskin. Melindungi dan memberi mereka kebahagiaan.“Santunilah anak yatim dan fakir miskin, maka hatimu akan menjadi lembut,” ucap dia.

Dia melintas alam semesta dan merancang. Dia bukan Tuhan karena itu “Kun fa yakun” bukanlah haknya. Seperti dirinya dan Al-quran, alam semesta juga adalah suatu hal yang berangsur-angsur. Maka, pekerjaan “li al-maqorimal al-akhlaq” (perubahan akhlak) adalah rentetan perjuangan, suatu kata kerja, sebuah konsep yang terus-menerus, berangsur-angsur. Tak ada titik di sana.

Namun, entah mengapa gerak menyendiri menyapa. Abi Thalib meninggal dan istri tercintanya pun menyusul. Duka menyelimuti. Yang dicintai dan yang dihormati, Khadijah dan Abi Thalib, menyusul saudara mereka Aminah dan Abdullah. Dia menangis. Sahabat, mengapa mesti disendirikan?

Sang Maha Suci menjemputnya. Menjalankannya dari Mekkah ke al-Aqsha, Palestina, dan menyambutnya di balairung sidhrah al-muntaha, suatu tempat di mana Jibril harus menundukkan kepalanya kepada Muhammad. Yang Suci bersua dengan Maha Suci.

Maka cemburulah Adam karena  itu taklah sama ketika dia berjumpa kembali dengan Hawa. Cemburulah Musa sembari terus meratap mengapa dia harus pingsan ketika hendak melihat Tuhan. Dan cemburulah sang kekasih Tuhan, Ibrahim khalilullah, kepada cucunya itu, karena di masa mudanya, dia harus mencari-cari kekasihnya di alam semesta.

Pertemuan Muhammad, tak lagi perjumpaan seorang kekasih kepada kekasihnya, bukan ruang takut, bukan pula ruang cinta. Lalu, mengapa pula Al-Hallaj harus menyombongkan dirinya? Mengapa pula Rabiah al-Adawiyah memamerkan percintaannya? Lantas, lontarkanlah senyum kepada ilmuwan yang mereka-reka. Camkanlah apa yang diungkap oleh Ali: “Jikalau hijab terbuka di depanku, maka imanku tak akan bertambah sedikitpun.”

Sua nan misterius. Apa pendapatmu, wahai Sahabat? Ah, tanyakanlah langsung pada Muhammad, niscaya dia menjawabmu. Berilah salam untuk dia, niscaya dia mendengarmu. Bila engkau hendak menyelami suatu yang suci, bukankah engkau mesti suci lebih dahulu? Bila engkau hendak bertanya sebuah rahasia, maka tentulah terlebih dahulu engkau harus bisa menyimpan rahasia bukan? Pujilah dia, karena dia memang orang yang terpuji.

Selesailah pertemuan itu. Muhammad pun kembali ke tengah-tengah manusia. Maka berjalanlah dia di muka bumi dalam sempitnya waktu. Sungguh, di kesendiriannya itu, dia diikuti oleh orang-orang. Ada yang setia, tapi banyak yang khianat. Itulah manusia sempurna, kata sebagian kecil orang. Itulah manusia yang berjumpa dengan Tuhan, ejek banyak orang. “Manusiakah dia?” ujar para semut.

Ah, Sahabat. Yakinlah, dia akan menolongmu tanpa diminta. Dialah yang selalu berdoa untukmu ketika engkau lupa. Dia itu imammu, wahai Sahabat.

Sahabat, sampailah dia pada titik hukum makhluk hidup: kematian. Di kamarnya yang tak besar, di rumahnya yang sederhana, di tengah-tengah keluarganya, dia hendak berangkat menuju fase berikutnya.

Muhammad berkeringat kembali, seperti dulu kala ia menerima al-Mudatstsir. Fatimah memangkunya. Ali di sampingnya. Ibnu Abbas di tengah rumahnya. Izrail menunggu di atap rumahnya. Jibril menunggu di depan pintu kamarnya. Langit membukakan pintunya. Alam semesta berbaris untuk menerimanya. Namun Tuhan belum memutuskan waktunya.

Salam untukmu, ya, Ahmad. Salam untukmu, ya, Muhammad. Salam untukmu, ya, Musthafa. (*)

(Senin, 8 Shafar 1433 H – 2 Januari 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s