Kajian Osman Bakar “Cultural Symbiosis and the Role of Religion in the Contemporary World; An Islamic Perspective”


Abstrak

Tulisan Osman Bakar berjudul “Cultural Symbiosis and the Role of Religion in the Contemporary World; an Islamic Perspective” mengemukakan tentang argumentasi-argumentasi pentingnya kesepahaman dan kerjasama antar pemeluk agama di atas muka bumi. Relasi antar umat beragama dalam Islam merupakan konsekuensi logis dari doktrin Islam yang terdapat dalam Alquran. Tindakan praktis dan konsep teoritis diperlukan untuk membentuk warisan budaya di masa depan untuk mencapai kehidupan yang harmonis dan damai antar sesama manusia di muka bumi.

A. Pendahuluan

Kajian Osman Bakar berjudul “Cultural Symbiosis and the Role of Religion in the Contemporary World; An Islamic Perspective (Simbiosis Kultural dan Peran Agama dalam Dunia Kekinian; Sebuah Perspektif Islam)”, sungguh menarik untuk ditelaah. Osman menulis secara terperinci dan argumentatif yang dimulai dari alasan, landasan teologis dan historis mengenai simbiosis kultural yang dikatakannya sebagai sebuah “keharusan” bagi setiap muslim.

Tulisan ini menjadi penting ketika konflik di atas dunia saat ini, sungguh mengkhawatirkan. Timbulnya perpecahan dan konflik yang nyata-nyata hanya merugikan kemanusiaan dan persaudaraan antara sesama manusia dan makhluk hidup, telah membawa dampak yang merisaukan. Dunia dipenuhi syak wasangka yang cukup tajam antara individu, kelompok, institusi dan negara.

Osman menawarkan sejumlah argumentasi teologis dan historis mengenai pentingnya mutual acquantance (ta’aruf) atau saling mengenal sesama manusia, antar etnis, antar kebudayaan, untuk mencapai kesepahaman yang baru mengenai masa depan yang ingin diciptakan.

B. Simbiosis Kultural

Untuk pemahaman dalam bahasa Indonesia, tulisan ini selanjutnya menerjemahkan Cultural Symbiosis dalam kata Simbiosis Kultural. Osman menyatakan kalau perspektif Islam soal simbiosis kultural masih langka diketahui oleh kalangan non muslim. Padahal, sebagai agama terbesar ke-2 di dunia setelah Kristen dan agama yang paling cepat pertumbuhannya, Islam sebenarnya diharapkan dapat memberi pengaruh positif pada arus global dan mampu memberi arah pembentukan “sejarah masa depan”.

Namun kini, yang terjadi justru sebaliknya. Islam cenderung diasosiasikan dengan kekerasan dan konflik. Osman menggarisbawahi, adalah sangat penting memperkenalkan khasanah Islam yang positif. Harta Islam seperti tradisi spritual,intelektual dan budaya, diyakini dapat menjadi pencerah bagi kemanusiaan di seluruh dunia yang kini justru semakin tajam polarisasinya.

Symbiosis berasal dari bahasa Yunani yaitu sym yang berarti bersama dan bios yang berarti hidup. Secara bahasa sederhana, symbiosis berarti hidup bersama. Dari pengertian kamus, simbiosis dibatasi sebagai “kemesraan hidup bersama antara dua organisasi, terutama bila hubungan itu mempunyai saling keuntungan.” Osman menggarisbawahi unsur utama dari simbiosis yaitu “relationship of mutual interdependence (hubungan saling kebergantungan)”.

Mulanya, simbiosis lebih dimaknakan dalam pengertian “simbiosis biologis” yaitu kemesraan/kedekatan (intimated) hidup bersama antara tumbuhan dan hewan. Bila makna ini dimasukkan dalam kata simbiosis kultural, makna dia bermakna “kemesraan/kedekatan hidup bersama dari dua atau lebih entitas budaya di atas landasan saling kebergantungan”.

Menurut Osman, Islam memberlakukan simbiosis kultural ini dalam bacara cara. Tujuan utamanya adalah kesatuan (tauhid), kebijaksanaan, keadilan dan kekuasaan. Sesungguhnya konotasi dari konsep kosmis tauhid adalah kesatuan yang terdiri keberanekaan dan keberagaman. Osman kemudian menyitir Alquran surat al-Fathir ayat 27-28. Ayat ini dapat dimaknakan sebagai pesan bahwa kesatuan alam semesta ditunjukkan dengan keberanekaan yang ada di dalamnya.

Dalam Alquran surat al-An’am ayat 6, disebutkan soal konsepsi Islam tentang ummah atau komunitas. Dikatakan dalam tulisan Osman, setiap komunitas terkait pada hukum, yaitu hukum alam dan hukum komunitas. Setiap hukum dan organisasi sosial punya keterkaitan antara satu dengan lainnya, sehingga saling bergantung sama lain. Ini merupakan salah satu contoh dari adanya harmonisasi alam semesta. Hubungan yang saling mengikat ini terjadi pada seluruh ciptaan Tuhan di muka bumi.

Namun, konsep Islam terhadap inter-relasi dan mutual-interdependence yang ada di dunia ini berlawanan dengan konsep Darwinisme tentang “the survival of the fittest” yang menyebutkan evolusi sebagai cara makhluk hidup mempertahankan hidup yang di antaranya dibuktikan dengan adanya perubahan bentuk biologis karena penyesuaian dengan alam. Menurut Islam, simbiosis biologis terjadi pada makhluk hidup dalam derajat-derajat dan intensitas yang berbeda-beda. Osman tidak melanjutkan perbedaan Islam dan evolusi ala Darwin secara panjang dan mendalam tulisannya ini.

Osman melanjutkan, perbedaan dalam alam juga terlihat dalam kehidupan manusia seperti keanekaan suku bangsa (etnis), budaya dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Karena itu, simbiosis kultural merupakan bentuk lain dari simbiosis biologis yang sama-sama terjadi di alam semesta.

Namun, berpegang pada surat at-Tin ayat 4-6 yang menerangkan soal kodrati penciptaan manusia, secara kritis Osman menyatakan kalau sifat dasar manusia juga terbagi pada dua hal utama yaitu konstruktif (positif) dan destruktif (negatif).

Selanjutnya, berpegang dari beberapa surat Alquran di antaranya surat ar-Rum ayat 22 dan al-Hujarat ayat 13, Osman memulai analisis soal kepastian adanya perbedaan dan keberanekaan yang terjadi di atas muka bumi. Ayat-ayat itu memastikan adanya dua hal perbedaan yaitu bahasa dan warna kulit. Konsekuensinya adalah eksistensi dari aneka suku (etnis) dan bangsa-bangsa di atas dunia.

Dengan mengambil pendapat dari Ibnu Sina, perbedaan ini dapat dilihat dari dua dimensi yaitu perbedaan fisik, yang diakibatkan oleh perbedaan locus geografis dan iklim, dan dimensi perbedaan budaya yang salah satunya diakibatkan oleh bahasa.

Perbedaan bahasa ini ditekankan secara menarik oleh Osman. Menyitir ayat 3-4 dari surat ar-Rahman, “Menciptakan manusia, mengajarinya berbicara (bayan)”, Osman dengan tegas mengatakan tiga hal penting. Pertama, kemampuan berbahasa manusia adalah kemampuan yang unik karena dia diajarkan langsung oleh Tuhan.

Kedua, adanya kemampuan manusia (Sulaiman) untuk memahami bahasa makhluk hidup yang lain seperti hewan. Dan ketiga, dengan mengambil pendapat al-Farabi, adanya dua pembagian penting dari bahasa manusia yaitu internal speech dan external speech.

Bahasa yang diajarkan itu merupakan salah satu komponen penting untuk berhubungan dengan Tuhan yang juga sekaligus sebagai sign (tanda) dari kebijaksanaan, ilmu dan kekuasaan Tuhan. Osman kemudian menggarisbawahi bahwa Tuhan kemudian sangat menghargai bahasa dan kemampuan bahasa manusia. Dia menyebut surat ayat yang berbunyi, “Allah tidak mengirimkan utusannya kepada suatu kaum kecuali dalam bahasa yang dimengerti oleh kaum tersebut.”

Dari uraian teologis di atas, Osman kemudian menyatakan bahwa tujuan utama dari keberagaman tersebut adalah untuk tahu (to know) dan saling mengenal (ta’aruf). Tahu-kenal-hubungan-kerjasama merupakan deretan konsekuensi dari tujuan-tujuan keberagaman tersebut.

Hal ini kemudian termaktub dalam beberapa konsepsi yang terkandung di dalamnya yaitu mutual acquaintance (ta’aruf), mutual understanding (tafahum), cooperation-mutual help (ta’awun), mutual tolerance (tasamuh) dan health competition (tasabuq).

Hal di atas merupakan fundamen dasar daripada simbiosis kultural yang dimaksud oleh Osman Bakar.  Itu menjadikan kemanusiaan dan persaudaraan sebagai landasan filosofis dari dimensi hubungan yang terjadi dalam simbiosis kultural yaitu inter-etnis, inter-kultural dan inter-civilization.

Selanjutnya, Osman mengambil pendapat Ibn Khaldun soal argumentasi mengenai kemestian atau keniscayaan dari adanya hubungan ini, yaitu adanya tiga kebutuhan manusia soal makanan (food), pemukiman (shelter) dan keamanan (defence). Tiga hal utama ini menjadi faktor utama mengapa setiap manusia saling bekerjasama. Menurut Ibn Khaldun; “…adalah hal pasti kalau manusia harus bekerjasama sesamanya. Jika tidak, dia tak dapat memenuhi kebutuhannya akan makanan dan keperluannya yang lain, dan hidup tidak akan berguna baginya…”

Namun, kebutuhan manusia juga bertingkat-tingkat, berkembang dan terus meningkat. Kebutuhan manusia tidak hanya sekedar fisik, melainkan juga kebutuhan non-fisik seperti spiritual, moral dan intelektual. Kebutuhan ini dapat dipenuhi hanya jika dibangunnya sebuah organisasi sosial yang lebih tinggi seperti peradaban yang dengan serta mensyaratkan adanya simbiosis kultural. Osman mengutip pendapat Ibn Khaldun dalam Mukaddimah, “Adalah kehendak Tuhan untuk mengatur dunia dengan manusia dan kemudian meninggalkan mereka pada wakilnya (khalifah) di bumi.”

 

C. Dari Mutual Ignorance (Saling Ketidakpedulian) menjadi Mutual Acquaintance (Saling Mengenal)

Osman menyatakan adanya kebutuhan asasi manusia akan dialog antar budaya dan kebudayaan. Menurut dia, sikap mutual ignorance (saling tidak peduli/acuh) membutuhkan jembatan dialog bagi terjadinya mutual acquaintance (saling mengenal).

Osman menyadari bahwa ada dua tantangan besar dalam hal ini yaitu tantangan politis dan teologis.

Pertama, Osman, menyebutkan dua komponen dari mutual ignorance yang penting untuk dicermati yaitu self ignorance (ketidakpedulian dengan diri sendiri) dan one’s ignorance of the other (ketidakpedulian antara satu kepada yang lainnya).

Osman menyebutkan konsentrasi tulisannya adalah dua hal di atas punya dua dimensi yaitu individu dan kelompok (group). Osman mengatakan, group’s ignorance of the other (ketidakpedulian kelompok kepada yang lainnya) membawa dampak yang luar biasa pada tumbuhnya mutual ignorance di antara kelompok-kelompok agama.

Ada dua hal utama yang menjadi sorotan yaitu mis-perceptian dan mis-conception yang kemudian membawa pada prasangka-prasangka dan pada akhirnya mengakibatkan konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Osman lantas menawarkan sebuah konsep bertajuk Cultural Literacy (kebudayaan literatur)

Cultural Literacy yang diterapkan dalam hubungan antar etnis, antar keyakinan (inter-faith) dan antar peradaban (inter-civilization), nantinya akan melahrikan dan menghasilkan sebuah rumusan mengenai dialogue culture (kebudayaan dialog).

Osman menyebutkan adanya kebutuhan akan pandangan baru atas etnis, pluralitas agama dan keberagaman. Dia menekankan pada enam konsep pokok atas pentingnya melahirkan pandangan baru ini yaitu

1) Keberagaman etnis dan agama adalah suatu fakta.

2) Pengatasnamaan tuhan dan agama sering terjadi.

3) Tidak adanya jaminan dunia akan menjadi lebih baik dalam konsep “satu agama (mono religion)”.

4) Penghapusan agama pun tidak menjadi jaminan kalau dunia akan menjadi lebih baik dan damai.

5) Lebih banyaknya ditemui “intra-religion war” daripada “inter-religions war”.

6) Menerima perbedaan dengan pikiran terbuka dan hidup bersama secara damai.

D. Kebutuhan terhadap Cultural Literacy

Osman menyebutkan beberapa konsep penting yang menjadi ruang lingkup dari cultural literacy ini yaitu

1) Pengetahuan terhadap tradisi spiritual manusia.

2) Mengetahui persamaan yang dapat menyatukan ataupun membedakan agama.

3) Memerinci bantuan dan kontribusi dari setiap tradisi spiritual untuk tujuan yang sama dan kehidupan bersama.

4) Mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat membawa manusia secara simultan memaksimalkan persamaan dan meminimalisir perbedaan.

Hal ini membutuhkan adanya persepsi positif dan perasaan psikologis bahwa individu merupakan bagian dari yang lainnya.

Dalam tulisannya, Osman membeberkan peristiwa pemboman terhadap World Trade Center pada 11 September 2001 kemarin yang membuat luka dan persepsi dunia terhadap Islam (terutama di Amerika) menjadi demikian buruk. Peristiwa itu telah membuat polarisasi identitas antara muslim dan non-muslim (Yahudi-Kristen). Secara lebih dalam, Osman menyebutkan ada dua identitas yaitu imigran muslim  dan kaum kulit putih.

Pembedaan identitas yang mencolok ini juga tampak pada kasus lain di antara di Turki, di mana penerimaan negara Turki sebagai bagian dari negara Uni Eropa, sempat mendapat hambatan kultural. Bahwa ditemukan adanya sentiman kalau Turki dapat diterima sebagai “bagian dari Eropa” seandainya dia melepas identitas ke-Islamannya.

Hal unik lain juga terjadi pada Albania dan Bosnia Harzegovina yang dua-duanya terletak di benua Eropa, tepatnya Eropa Timur. Albania, di mana 70% penduduknya adalah muslim, sementara Bosnia (40%) juga mengalami hal yang sama dengan Turki  bahkan lebih gawat karena sempat mengalami pembersihan etnis muslim.

Namun, setelah waktu berlalu, secara menarik, Osman melontarkan kecenderungan yang terjadi kemudian yaitu adanya keinginan untuk bersama dengan mengkampanyekan tema “Abrahamic Family” di Eropa dan Amerika Serikat. Namun, Osman juga memilih tidak bersifat naif, karena hal itu tidak akan mudah dilakukan karena adanya trauma historis.

Tapi Osman mengisyaratkan bahwa semangat keinginan untuk saling berbagi, saling bersama merupakan modal yang utama untuk menghasilkan identitas bersama (common identity). Secara meyakinkan, Osman mengedepankan, lebih tepatnya, meminta pengorbanan (salvation) pribadi dan sosial dari setiap pribadi dan kelompok dalam hal ini. Adanya saling kerjasama misalnya kerjasaman intelektual, seni, budaya dan seterusnya seperti yang diceritakan sejarah, merupakan warisan berharga soal itu. Dia kemudian mengutip pendapat Max I. Dimont, “Spain of three religions and one bed room”.

Akhirnya, Osman menyimpulkan bahwa kemestian adanya cultural literacy ini memerlukan ukuran praktis yang bisa diterapkan oleh individu, kelompok dan institusi. Lima  tugas ke depan yang dimaksud Osman yaitu:

1) Membangun disiplin keilmuwan yang baru soal Dialog antara Keyakinan dan Peradaban, untuk menemukan kajian-kajian praktis dan teoritis mengenai dialog ini.

2) Institusionalisasi dialog.

3) Mengidentifikasi nilai-nilai moral dan spiritual yang sama.

4) Kesadaran akan adanya perbedaan yang mendasar antar agama.

5) Peran perguruan tinggi, di antara pada lima hal yaitu a) membentuk grup ahli, b) membentuk institusi riset dan publikasi, c) memperluas kajian-kajian, d) mengorganisasikan program dialog, dan e) terus mencari partner dialog.

===

sumber foto: Kees van de Veen (world press photo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s