2012


Film “2012” menggambarkan segalanya tentang imaji soal masa depan. Sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, Roland Emmerich, memplot perjuangan bangsa Amerika dalam menghadapi situasi paling mengerikan yang sering disebut dalam doktrin agama; kiamat.

Kiamat itu sebenarnya rasional betul, menurut film ini. Siklus alam-lah yang dituding menjadi penyebab semua itu. Roland tidak sendirian berpendapat begini. Film “Armageddon” yang dibintangi oleh Bruce Willis, juga berpikiran serupa. Bila Armageddon berasumsi bahwa kehancuran bumi disebabkan tubrukan antara meteor dan bumi, maka film 2012 berpandangan adanya siklus dalam jangka waktu tertentu yang membuat bumi bergolak akibat hubungannya dengan matahari. Tingkat panas di perut bumi meningkat seiring daya gravitasi matahari yang kian bergolak. Alhasil, es meleleh dan air bah memenuhi bumi.

Bumi pernah mengalami kejadian serupa. Itu terjadi di masa Nabi Nuh, atau Noah dalam literatur Eropa, yang menyiapkan perahu untuk menghadapi banjir besar. Perahu Nuh itu juga yang menginsipirasi film ini dan menjadikan superboat yang dibikin di sekitar pegunungan Himalaya, kawasan tertinggi di dunia, sebagai solusi umat manusia untuk mempertahankan hidup. At last, superboat itu menyelamatkan ras manusia dan makhluk hidup lainnya, dan kemudian mendarat di Cape of Good Hope alias Tanjung Pengharapan, Afrika. Peta bumi berubah.

Kejadian “kiamat” dalam film ini, sudah diramalkan oleh kebudayaan Suku Maya di Amerika Selatan. Mulanya mereka tak percaya pada tanggal ramalan itu, 12-12-2012. Namun, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berharga miliaran dollar, akhirnya harus mengakui ketepatan dari ramalan itu.  Di sini, terjadi tubrukan antara mitos dan ilmu pengetahuan manusia; manakah yang diyakini sebagai sumber kebenaran.

Pertarungan antara mitos dan ilmu pengetahuan ini sebenarnya bukan hal baru. Walau ada yang menyatakan, terbitnya ilmu pengetahuan merupakan antitesis dari mitos itu sendiri. Namun, toh, mitos tak pernah mati. Itu karena, cara pencapaian manusia atas kebenaran –baik atas mitos maupun ilmu pengetahuan – menjadi batu pijakan atas keyakinan terhadap “sesuatu yang benar” ini. Sesuatu yang benar adalah landasan bagi pola pikir, perbincangan, tindakan dan prediksi masa depan dari umat manusia. Menurut beberapa filosof, pencarian kebenaran adalah alasan mengapa manusia itu eksis di dunia ini.

* * *

Baiklah. Kalau begitu, atas dasar apa Anda melihat tahun 2012 mendatang, yang Anda sendiri tak tahu pasti kebenaran dari eksistensinya itu? “Aku berpikir maka aku ada,” ujar Descartes. Terlepas Anda setuju pada dia atau tidak, paling tidak menurut dia, eksistensi sesuatu sudah ada ketika Anda memikirkannya.

Indonesia di 2012 hanya ada di pikiran-pikiran orang-orang Indonesia sendiri. Mungkin itu tertuang dalam konsep-konsep para staf ahli para pejabat Indonesia, dalam tebalnya buku-buku kaum cendekia, atau malah dari omelan-omelan para paranormal. SBY, mungkin akan berpidato di akhir atau di awal tahun. Para ekonom memprediksi berapa tingkat pertumbuhan ekonomi, jumlah pengangguran di masa mendatang. Para elit politik sibuk memprediksi berapa digit persentase yang mereka akan dapatkan dalam pemilu mendatang. Mereka pun tentu juga akan dengan senang hati, menjodoh-jodohkan siapa-siapa paket yang akan dipilih dalam rangkaian pemilihan presiden, gubernur, walikota/bupati dan seterusnya. Ramalan atau prediksi, mempunyai bentuk konkrit, yaitu rencana.

Misalnya soal rencana para elit politik di pusat untuk mengembalikan pemilihan Gubernur kepada para anggota DPRD. Alasannya masuk akal; plot pemilihan langsung menguras dana yang sungguh besar dan akan sebaliknya bila hanya dipilih oleh anggota dewan. Argumentasi lain menyusul; bahwa Gubernur bukan lagi pemilih “daerah”, melainkan hanya bersifat “koordinator” kawasan tingkat kabupten/kota dan merupakan perpanjangan tangan langsung dari pemerintah pusat. Semakin didebat, alasan dari pengusung ide ini pun akan semakin banyak juga.

Karena itu, rakyat tidak pernah akan bisa memastikan apa substansi sebenarnya dari rencana besar ini. Dugaan-dugaan pun mengemuka. Ada yang bilang, ini hanyalah akal-akalan para elit politik untuk merengguk keuntungan finansial dari suatu pemilihan politik karena bila pemilihan langsung oleh rakyat maka money politic akan tersebar bagi seluruh rakyat. Nah, kalau pemilihan dewan, tentu hanya anggota dewan saja yang menikmati bukan? Tapi tentu itu dugaan miris. Tapi bukankah sebuah dugaan paling miris sekalipun ada landasan historisnya, ada penyebabnya? Tunjukkanlah di Indonesia ini di mana ada pemilihan politik yang benar-benar murni dari money politic. Bila Anda mengangguk tanda setuju, Anda pasti ditertawakan; Anda sudah gila.

Kegilaan inilah yang menjadi konteks Indonesia saat ini. Bahwa, ketika Anda mengharapkan suatu yang jujur, adil, benar, transparan, dan murni, maka Anda akan mengalami alienasi alias keterasingan.

Anda akan diasingkan kalau Anda beranggapan bahwa ada sesuatu yang salah besar ketika di tengah-tengah komposisi penduduk yang mayoritas Islam, Mesjid Al-Ikhlas Jalan Timor Medan, begitu mudah dihancurkan oleh buldozer-buldozer kekuasaan ekonomi dan politik. Anda akan disingkirkan bila mengungkapkan pendapat kalau di dalam masyarakat yang mayoritas berpenghasilan rendah, bahkan banyak yang menganggur dan miskin, ternyata kredit usaha lebih mudah diberikan kepada konglomerat. Anda pasti akan diejek bila mengatakan kesalahan pengelolaan beras, padahal Indonesia adalah negara agraris bertanah subur. Anda pasti dihardik ketika marah kala yang menguasai emas di Indonesia, ternyata perusahaan Amerika dan Eropa. Dan lucunya Anda disuruh diam ketika sumber-sumber mata air murni sudah dimiliki oleh perusahaan Italia dan Anda mesti membayar pajak yang tinggi kepada perusahaan air minum milik negara maupun swasta.

Kita masuk di 2012 dari sebuah turbulensi (perbenturan) ke turbulensi, dari sesuatu yang kusut menuju suatu yang lebih kusut.

Rakyat di Mesuji, Lampung, harus tewas karena mempertahankan aset tanahnya. Padahal bukankah itulah esensi kemerdekaan, ketika setiap rakyat dulu sebelum 1945 rela mati demi mempertahankan dan merebut kemerdekaan atas hak-hak miliknya? Rakyat dihalang-halangi ingin memilih pemimpinnya yang sama suku-nya dengan dia, padahal bukankah setiap suku bangsa punya hukum untuk mengembangkan kebudayaannya sendiri-sendiri? Bagaimana mungkin dia menggantungkan harapan untuk perkembangan sukunya kepada orang dari suku lain?

Benar. Anda mungkin berpandangan kalau tulisan ini kolot, konservatif, sekaligus “naif”. Anda tidak salah tapi tentu juga tidak benar seluruhnya. Yang Anda idam-idamkan itu sungguh benar. Setiap orang, dari suku bangsa manapun, “mestinya” punya keikhlasan untuk mengembangkan tidak hanya sukunya sendiri, tapi juga suku bangsa lain. Setiap orang, terutama yang kaya, “mestinya” memberikan beberapa persentase dari kekayaannya kepada yang lain. Setiap negara, “mestinya” membela setiap jengkal tanahnya, setiap warganya yang berjuang demi hak-hak agrarianya. Setiap elit politik, “mestinya” tidak mementingkan kepentingan pribadi, kelompok maupun golongannya, tapi memperjuangkan setiap orang di bumi Indonesia. Dus, bila Anda masih beranggapan “mestinya”, maka siapakah yang “naif” sekarang?

* * *

Di 2012, mitos-mitos akan semakin tinggi “nilai jualnya”. Misalnya, mitos bahwa Indonesia tak mungkin dipimpin oleh seorang yang bersuku bangsa “non-Jawa”. Karena itu, kalaupun Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Surya Paloh dan yang lain-lain ingin maju sebagai calon Presiden, tentu “mitos” ini merupakan peluang tambang uang yang sungguh luar biasa. Bagaimana meyakinkan orang Indonesia untuk memupus “mitos” ini? Bukan tidak mungkin, tapi biaya operasionalnya tidak sedikit, Tuan. Begitu mungkin yang ada dalam benak para panglima talam, eh, tim sukses. Nah, kalau oke kata si kandidat, dan kemudian misalnya nanti ada sebuah survei atas dasar metode penelitian tertentu yang mengatakan si kandidat tadi paling tinggi popularitasnya, Anda sudah bisa menduga, kalau antara “mitos” dan “ilmu pengetahuan” sudah “nikah siri”.

Demikian juga di daerah-daerah, misalnya di Sumatera Utara. Kalau Gatot Pudjo Nugroho terus diumbang-umbang memiliki tingkat popularitas dan elektibilitas tinggi dalam sebuah survei, maka ingatkanlah Gatot kalau sudah ada perkawinan tak resmi antara mitos dan ilmu pengetahuan soal “bisakah orang bersuku bangsa Jawa menjadi tampuk pimpinan di Sumut yang sangat kental aroma primordialis-nya ini?”

Mitos itu asyik betul diolah-olah. Apalagi ilmu pengetahuan, yang malah mengakui secara resmi konsep “rekayasa”. Apakah itu “rekayasa genetik” atau “rekayasa teknologi”, itu lain persoalan.

Mari kita tersenyum melongok 2012 mendatang. Kalau menurut film “2012”, bahkan “kiamat betulan” pun bisa kita atasi, maka kekhawatiran soal masa depan sebenarnya tidak perlu ada. Ini Indonesia, Bung.

So, 2012, selamat datang tahun rekayasa …. (*)

One thought on “2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s