Ical-Puan “Kawin”, Demokrat Resah?


Rencana koalisi antara Partai Golkar dan PDIP dalam Pilpres mendatang, mengundang keresahan di tubuh elit Partai Demokrat. Kuncinya ada pada Megawati.

* * *

Awan tampaknya tak lagi biru di tubuh Partai Demokrat (PD). Kasus demi kasus menjadi bibit serangan demi serangan ke partai bikinan Susilo Bambang Yudhoyono ini. Misalnya beredar empat nama calon presiden (Capres) PD di masyarakat  yang santer dibicarakan di internal partai. Marzuki Alie, Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum dan Pramono Edhie Wibowo.

Namun, nama-nama yang beredar itu sontak dipertanyakan kualitasnya. “Itu orang di bawah standar semua,” kata pengamat politik Universitas Indonesia, Iberamsjah.

Menurut Iberamsjah, kelemahan mereka terletak pada rekam jejak selama ini yang telah tertanam pada masyarakat, meskipun pengecualian diberikan kepada Pramono Edhie lantaran belum terlalu dikenal. “Track record mereka hitam keabu-abuan,” lanjut Iberamsjah.

Iberamsjah tak menyebut soal “hitam keabu-abuan itu”. Tapi yang jelas ini berbeda dengan warna menjadi simbol PD: biru. Menurut Iberamsjah, tidak ada prestasi yang dapat dibanggakan dari nama-nama yang telah disebutkan itu.

Marzuki Alie yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPR RI, dinilainya gagal total dan suka aneh, seperti rencana pembangunan gedung baru DPR dan terlebih lagi saat menyalahkan masyarakat yang tinggal di pantai saat tsunami di Mentawai tahun lalu. “Mereka (masyarakat Mentawai) ‘kan nelayan. Itu logikanya tidak jalan itu,” ujar Iberamsjah.

Sementara, untuk Anas Urbaningrum, Iberamsjah seolah tampak malas berkomentar lebih. “Ketahuan bermewah-mewahanlah dengan rumah mewah dan mobil mewah,” katanya.

Gestur yang sering muncul dari seorang Andi Malaranggeng malah menjadi penampiknya dalam memperebutkan kursi pimpinan. Gestur dari Andi saat bicara itu dinilai Iberamsjah tidak memperlihatkan kepemimpinan, tetapi keanggunan. “Tidak layak jadi pemimpin,” tandasnya.

Menyoal Pramono Edhie, tentu tidak terlepas dari hubungan keluarga yang terjalin dengan Presiden SBY. Terkait ipar Presiden tersebut, Iberamsjah mengaku belum terlalu mengenal. “Tapi setengah bisu juga,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, keempat nama capres dari PD tersebut dilontarkan oleh Ketua Departemen Kominfo DPP PD, Ruhut Sitompul, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/12). Pada kesempatan yang sama, sebagaimana yang telah sering disampaikan SBY, Ruhut kembali menegaskan bahwa Ani Yudhoyono tidak akan maju menjadi Capres di pilpres 2014 nanti.

Ruhut sendiri menyebut Ketum PD Anas Urbaningrum sebagai capres potensial. Sayangnya Anas kerap disebut-sebut mantan bendahara PD yang jadi tersangka kasus Kemenpora, M Nazaruddin. “Anas itu kan baik, tapi kalau Nazaruddin terus bicara seperti itu ‘kan mempengaruhi Anas-nya, merugikan dia,” tutur Ruhut.

Menurut Ruhut kasus Nazaruddin dipantau sebagian besar rakyat Indonesia. Anas harus benar-benar membuktikan dirinya tak terlibat. Meski demikian capres PD pada akhirnya ditentukan majelis tinggi. Yang ketuanya tak lain adalah Presiden SBY. “Capres PD ditentukan majelis tinggi yang ditentukan Pak SBY. Aku pernah ngomong langsung sama Pak SBY bahwa siapapun yang disebut beliau akan didukung PD,” tandasnya.

Sosok SBY memang penentu di Demokrat. Namun, pria yang kini menjabat sebagai presiden RI di periode yang keduanya ini, jelas sedang berada di akhir masa jabatannya. Karena itu, kepentingan SBY di masa depan pun menjadi tolok ukur, siapa yang akan ditunjuknya sebagai Capres dari PD di masa depan. Sementara di sisi lainnya, Partai Golkar dan PDIP terus “main”.

Pesaing terbesar PD saat ini, ya, Golkar dan PDIP, urutan ke-2 dan ke-3 pemilu legislatif 2009 kemarin. Nah, apalagi kalau kedua partai ini bersatu, PD jelas kebakaran jenggot.

Tapi, Ruhut meyakini PDIP dan Golkar tak mungkin menyatu. Kedua parpol ini dinilai tidak memiliki sejarah berkoalisi. “Saya pernah di Golkar, saya tahu bagaimana karakter Golkar. Tidak mungkin Golkar dan PDIP menyatu,” tutur Ruhut menanggapi pendekatan Golkar dan PDIP.

Menurut Ruhut, PDIP lebih mungkin berkoalisi dengan PD. Apalagi komunikasi Taufiq Kiemas dengan SBY sangat dekat. “Selain itu Pak Taufiq dan Pak Marzuki ‘kan sama-sama wong kito,” tutur Ruhut. Seperti diketahui, Taufik Kemas dan Marzuki Alie memang sama-sama dari Palembang, Sumatera Selatan.

Sulit bagi Ruhut mencari simpul kedekatan Golkar PDIP. Apalagi sampai mengusung Ical-Puan dalam pilpres 2014. “Nggak ada sejarahnya. Sudah ada dendam sejak lama dua partai ini,” tandasnya.

Nah, tapi Golkar tentu bukan anak kemarin sore. Partai yang dipenuhi elit politik yang “kental santan”-nya ini langsung bersuara. Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso langsung membuka lebar pintu koalisi Golkar-PDIP. Menurutnya, komunikasi yang terjalin baik antara Taufiq Kiemas dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie atau yang akrab disapa Ical akan berbuah manis. “Bahwa nanti mungkin ada koalisi Golkar-PDIP akan terbuka lebar. Platformnya PDIP dan Golkar ‘kan sebagian besar sama,” tutur Priyo kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta belum lama ini.

Priyo menyambut gembira Taufiq Kiemas telah mengungkap kemajuan komunikasi dengan Ical. Sama dengan PDIP, koalisi juga akan dibangun Golkar setelah pemilu legislatif. “Palu koalisi akan dibangun setelah pileg, memang itu yang akan kita perjuangkan,” tutur Priyo.

Tak hanya Priyo. Ketua DPP Golkar, Hadjrianto Tohari, juga akan mengajak PDIP berkoalisi guna menghadapi Pilpres 2014. Langkah ini untuk memuluskan pencapresan Aburizal Bakri alias Ical dalam Pilpres 2014. “Kedua partai merupakan partai tua dan berpengalaman panjang dalam politik. Keduanya juga memiliki platform politik yang nyaris sama. Jadi pertanyaannya, kenapa tidak?” tutur Hadjrianto.

Namun Golkar belum akan membicarakan siapa yang akan dipasangkan dengan Aburizal Bakrie. Mengingat nantinya akan ada kesepakatan lanjutan dalam kemajuan hubungan kedua parpol. “Sekarang ini bukan saat yang tepat untuk menyebut-nyebut pasangan tertentu, karena justru akan kontraproduktif,” terang Wakil Ketua MPR ini.

PDIP sendiri, sebagai partai yang kalah dua kali dari SBY dalam dua kali Pilpres (2004 dan 2009) tampaknya memang lebih mendalami koalisi dengan Golkar. Taufik Kemas, Ketua MPR RI sekaligus suami Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, paling tidak menyiratkan hal tersebut. “Lebih baik koalisi, biar pilpresnya lebih aman. Kita komunikasi dengan Ical agar koalisinya sebelum pilpres,” tutur Taufiq Kiemas.

Yang ditimang-timang, Puan Maharani, pun tak ketinggalan bermanuver. Puan yang disebut-sebut akan menjadi cawapres Ketum Golkar Aburizal Bakrie dalam pilpres 2014, tak menampik kedekatannya. “Saya dekat dan saya kenal dengan Pak Ical,” tutur Puan sambil tersenyum.

Namun, walau dekat dengan Ical, Puan sendiri tak menampik kedekatannya dengan sejumlah tokoh nasional lain. “Begitu juga dengan tokoh lain seperti Pak Hatta Rajasa, Pak Prabowo, Pak SBY pun saya dekat karena pernah jadi menterinya Ibu Mega,” tutur Puan yang tampak cantik ini kepada wartawan di Gedung DPR, baru-baru ini.

Soal ini, Demokrat memang langsung ketar-ketir. Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat (PD) DPR, Sutan Bhatoegana ikut mengomentari isu duet Aburizal Bakrie dan Puan Maharani di Pilpres 2014. Ia berpendapat Ical-Puan bisa menjadi saingan capres dari PD. “Puan nyapres? Ical-Puan, ngeri-ngeri sedap,” kata Sutan kepada wartawan.

Menurut Sutan, pasangan Ical dan Puan bukan hanya main-main politik belaka. “Siapa pun yang diajukan Golkar dan PDIP pastilah orang-orang terbaik,” ujar dia.

Dikatakan dia, apalagi benar PDIP dan Golkar berkoalisi memasangkan Ical-Puan maka akan menjadi kekuatan besar. Meskipun belum tentu Ical-Puan dapat memenangkan Pilpres 2014. “Tapi kuat parpolnya belum tentu menang capresnya,” kata Sutan.

Itu Sutan. Kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Wasekjen PD, Ramadhan Pohan, mengatakan Puan Maharani memang punya kans menjadi pemimpin nasional, tapi hanya untuk posisi calon wakil presiden. “Itu pun harus dengan restu ibunya. Tanpa izin dan persetujuan Megawati, Puan tak bakal bisa. Megawati pribadi adalah kunci segalanya bagi Puan dan PDIP,” tutur Ramadhan.

Namun langkah Puan tak akan mudah. Karena internal PDIP masih berharap Megawati menjadi calon presiden. “Bagi Megawati situasi beda. Die hard di PDIP masih yakin dengan ketum mereka ini,” tutur Ramadhan.

Alhasil, koalisi antara calon Presiden dari Golkar, Aburizal Bakrie dan cawapres dari PDIP, Puan Maharani, tampak tinggal menunggu waktu.

Namun, PD sendiri menepis keresahan yang sedang dialami Demokrat. Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum menyatakan rencana koalisi itu sama sekali tak membuat partainya resah. “Kalau ada parpol punya hubungan yang mesra itu yang kami sukai. Yang kami resah kalau antar partai itu tidak mesra,” kata Anas saat jumpa pers menjelang acara ulang tahun Partai Demokrat di Kemayoran, Jakarta, Kamis (15/12) kemarin.

Dus, kalau kuncinya ada pada Megawati, apa kata Mega?

Dalam Rekernas I PDI Perjuangan 12-14 Desember lalu, Megawati masih saja menutup rapat-rapat soal penggunaan hak prerogatifnya itu. Soal kapan ia akan menggunakan hak istimewanya itu, juga masih dirahasiakan. “Ya nanti saja, terserah saya kapan saya maunya (memutuskan). Saya punya hak prerogatif dan ini berjalan sampai pada kongres berikutnya pada 2015,” ujar Megawati di sela-sela Rakernas I PDI Perjuangan.

Nah ….(*)

====

sumber: diramu dari berbagai sumber media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s