Kebangkrutan Politik Kaum Mustadha’afin di Kota Medan


Siapakah kini yang membela kaum mustadha’afin di Kota Medan? Tidak ada.

Begini. Ibukota provinsi Sumatera Utara (Sumut), yang diklaim sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, kini telah menjadi pusat pertarungan kaum elit-atas sedangkan kaum mustadha’afin telah menjelma menjadi kelas proletar dalam arti yang sebenarnya. Soliditas kaum elit-atas ini dapat dilihat dari rangkaian pertalian antara elit politik-birokrat dengan kaum pemilik modal kuat. Proses kesadaran kelas antara kelas kapitalis dan kaum mustadha’afin, telah berjalan tidak seimbang. Sekarang ini di Kota Medan, kelas kapitalis-elit politik-birokrat, telah makin sadar posisi kelas mereka, sementara sebaliknya kaum mustadha’afin semakin terlena dan terpuruk dengan kondisi hidup yang semakin memburuk.

Adanya pergeseran kekuatan itu tampak ketika arah pembangunan Kota Medan yang tidak akrab dengan kaum mustadha’afin perkotaan.  Sementara Islam, yang mempunyai doktrin sebagai pembela kaum mustadha’afin telah dipinggirkan dan diasingkan akibat etalase jalinan politik-ekonomi kaum elit.

Penggusuran Mesjid Al-Ikhlas jalan Timor yang terletak di pusat Kota Medan, merupakan contoh simbolik yang memperlihatkan kuatnya simpul elit politik-birokrat dengan kalangan saudagar kelas atas. Sementara di sisi yang lainnya, penguasaan aset, pembangunan properti serta penanaman modal yang deras namun misterius (tidak diketahui jumlah pastinya), justru semakin menjulang di Kota Medan. Serbuan orang-orang kaya pemilik modal kuat dan grup-grup besar lokal, nasional, hingga asing, telah begitu kuat menancapkan kuku-kukunya di pusat dan pinggiran Kota Medan.

Ketika itu, maka penggusuran mesjid di tengah-tengah komposisi penduduk yang mayoritas muslim atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi, memperlihatkan jurang kemampuan dan akses masyarakat kelas mustadha’afin dalam pengambilan kebijakan ekonomi-politik yang jauh dan menganga. Hal itu menggambarkan, sensitivitas –sakralitas mesjid- ternyata tidak lagi menjadi ukuran utama dalam kebijakan pembangunan. Bila mesjid yang merupakan simbol sensitivitas umat, maka penggusuran sentra-sentra mata pencaharian kaum mustadha’afin di Kota Medan, tentu menjadi tidak sulit.

Adanya kericuhan publik Kota Medan pada beberapa waktu lalu antara menjulang dan menyebarnya pasar modern mulai dari inti hingga pinggir kota dan tergusurnya pasar tradisional, paling tidak menggambarkan hal tersebut. Marginalisasi sumber daya ekonomi kaum mustadha’afin yang sesungguhnya telah lemah, telah menghilangkan daya potensialitas keberlangsungan hidup masyarakat kelas bawah.

Ketidakikutsertaan dan kelemahan masyarakat kelas bawah dalam pembangunan ekonomi diperburuk atas posisi ganda yang dilakoninya; sebagai alat produksi dan konsumen. Kebijakan ekonomi-politik ini sepatutnya harus dikritisi.

Identifikasi Musthada’afin

Adalah almarhum Kuntowijoyo dalam bukunya “Paradigma Islam; Interpretasi untuk Aksi” (1991) menyatakan, sejarah sosial politik sejak Orde Baru telah menyaksikan terbentuknya stratifikasi sosial baru berdasarkan kelas, di mana kelas pemilik modal birokratik telah tumbuh subur karena kebijakan pembangunan. Persekutuan dengan kapitalisme dunia (asing) telah menjadikan Indonesia hanya sebagai matarantai dari serangkaian pembagian kerja dan eksploitasi ekonomi internasional.

Di sini, Kuntowijoyo telah melakukan interpretasi ekonomi untuk memahami perkembangan politik. Kuntowijoyo memprediksi, dalam latar industrialisasi yang pelaksanaannya ditunjang bersama oleh pemerintah dengan dukungan modal dalam negeri dan modal asing, aliansi antara elit birokrasi-militer dengan big-caital bukan tidak mungkin akan menimbulkan polarisasi kepentingan. Modal-modal besar jelas membutuhkan perlindungan terhadap kemungkinan protes dari masyarakat; politik-asuransi dari big-capital untuk melindungi dari big-labour di bawah big-government ini menjadi niscaya.

Dengan mengemukakan ini, Kuntowijoyo ingin memperlihatkan terjadinya aliansi-aliansi kelas dan munculnya politik kelas dalam percaturan politik. Kuatnya aliansi kelas atas telah menyebabkan kepentingan borjuasi besar terartikulasikan tanpa penghalang sama sekali. Umat Islam, -mau tak mau- yang sebagian besar masuk dalam golongan mustadha’afin yang selama ini mati-matian bertahan di sektor ekonomi tradisional menjadi terlampau lemah dan terisolasi. “Kebanyakan peluang ekonomi jatuh pada kelas atas birokratik,” tulis Kuntowijoyo.

Proses industrialisasi selama Orde Baru itu telah menyebabkan kelas pedagang muslim, yang pada masa lalu menjadi tulang punggung gerakan Islam, mengalami kemerosotan, sehingga pergerakan Islam berada pada posisi yang sulit secara ekonomi maupun politik. Perkembangan ke arah masyarakat berkelas lantas senantiasa disertai dengan alienasi (pengasingan) politik Islam.

Bagaimanapun, kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi politik Islam secara keseluruhan. Namun, perlawanan terhadap dominasi ruling class itu juga menjadi niscaya, walau itu juga punya tahapan-tahapan.

Pertama, pekerjaan besar utama umat Islam, menurut Kuntowijoyo, adalah mengidentifikasi kaum mustadha’afin. Berbeda dengan prinsip kelas kaum Marxian yang berpandangan penghapusan kelas borjuis merupakan konsekuensi dari pertarungan antar kelas, Islam, menurut Kuntowijoyo, mengenali stratifikasi kelas sosial masyarakat justru untuk menawarkan sekaligus memperjuangkan keadilan bagi semua, prinsip-prinsip kompetisi yang adil dan transparan.

Sebagai wadah perlawanan bagi sistem yang tak adil, maka semakin kuat aliansi kelas atas, maka daya perlawanan kaum mustadha’afin ditentukan oleh seberapa besar kaum ini mampu mengidentifikasi kekuatan potensialnya, baik secara ekonomi maupun politis.

Sesuai cita-cita normatif soal keadilan itu, umat Islam merupakan suatu kelompok yang akan secara terus-menerus dimotivasi oleh kesadaran subjektifnya untuk membela dan memperjuangkan keadilan sosial ekonomi. Tetapi, sikap normatif ini hanya akan aktual jika umat dapat melakukan pemihakan kepada mereka yang karena proses-proses struktural dirampas hak-hak dan peluangnya. Identifikasi siapa-siapa mereka yang dirugikan, di dalam struktur apa mereka menjadi demikian dan dengan proses-proses yang bagaimana mekanisme ketimpangan sosial ekonomi dapat terjadi, dalam kerangka formasi sosial dan struktur kelas, menjadi sebuah kemestian. Ditegaskan Kuntowijoyo, “Atas dasar itulah, umat bukan saja dapat mendefinisikan posisinya sendiri dalam hubungan-hubungan kelas, tapi juga dapat melakukan pemihakan kepada kelas mustadha’afin serta mendefinisikan kelas zhalim menurut ukuran-ukuran agama.”

Kebangkrutan Politik

Di Kota Medan, jangankan pemihakan, identifikasi itu belum terjadi. Yang hanya tampak kasat mata adalah aliansi kelas atas (birokrat/aparat-elit politik-pemilik modal) semakin menunjukkan eksistensinya dan di sisi lain, kaum mustadha’afin tidak terkonsolidasi dengan kukuh.

Islam yang diyakini di Kota Medan dan Sumatera Utara secara keseluruhan, belum dapat menurunkan sisi ideologis, namun hanya pada dataran normatif semata. Intelektual Islam di sini pun belum berhasil membuat turunan dogma langitan menjadi dataran teoritis-praksis yang lokalistik. Transformasi struktural besar-besaran aktivis Islam dalam birokrasi dan elit politik, sejak Orde Baru dan masa reformasi, ternyata menjadi bias. Geliat aktivisme Islam mengalami kekosongan makna yang kemudian direkonstruksi oleh aliansi elit dengan menjadikan elit kelas atas sebagai kelas tujuan (purposed class).

Dus, kalau penguasa di Kota Medan dan Provinsi Sumatera Utara, tampak tak mempunyai pembelaan yang kukuh kepada apa yang terjadi pada umat Islam, dalam perspektif yang ditunjukkan oleh Kuntowijoyo, maka hal itu adalah konsekuensi logis saja. Kita, ya, sedang bangkrut. (*)

 

* * *

foto: rini defretes (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s