Let Them Know, Buya …


Di Soviet, Marx mampu melawan kapitalisme-nya Eropa Barat, pra Amerika Serikat, walau kemudian harus bertekuk lutut pasca perang dingin.

Di Iran, Khomeini mengirimkan surat kepada Soviet bahwa sosialisme-komunisme telah tergusur oleh sejarah. Dan, ah, dia juga mengirimkan surat kepada Paus Paulus mengabarkan kemenangan revolusi Islam di Persia.

Gelombang reformasi 1998 hampir membawa Muhammadiyah (dan Islam) dalam posisi yang “berwibawa” seperti -mungkin- yang diinginkan oleh Syafii Maarif dalam masyarakat “industrial Indonesia”. Sayang sekali, pola pikir “wong cilik” masih kental di internal Muhammadiyah. Muhammadiyah bingung dan sulit sekali menemukan kata sepakat antara “sekulerisme” organisasi dengan “sekulerisme” negara. Kekalahan Amien pada 2004 adalah bukti nyata soal “wong cilik” itu, PAN tidak pernah berhasil menjadi wadah kompromistis antara ideologi politik Muhammadiyah dan posisi organisasi Muhammadiyah terhadap politik kenegaraan. Sudah disebutkan kalau PAN itu lahir dari rahim Muhammadiyah, eh ternyata tidak juga. Kalau begitu siapa makhluk bernama PAN itu? Sebuah bayi yang lahir dari teologi sekuler-kah? Pertanyaannya bahkan tak sampai di situ saja: Muhammadiyah punya ideologi? Dan bahkan: Islam adalah ideologi?

Kuntowijoyo pernah berpendapat, periferalisasi dan alienasi Islam di Indonesia semakin nyata terjadi pasca kekalahan Demak dan kemudian berdirinya Mataram yang memisahkan secara langsung antara Islam dan negara. Muhammadiyah lahir dalam periode Mataram yang sekuler dan sinkretis. Ahmad Dahlan tidak seperti Abduh yang lahir ketika sekulerisme belum menjalar kuat di Mesir walau Inggris sudah bersusah payah mengekspor paham ini. Ini membuat Dahlan punya “maha” kesulitan yang dua kali lipat dari Abduh, guru ideologisnya itu.

Merujuk tulisan Syafii Maarif, jalan terbaik memang tidak seperti Serikat Islam yang secara tegas menyatakan soal Islam Politik. Namun, sejarah bercerita tidak adil, ketika Tjokroaminoto tidak pernah disebut sebagai “founding father” (tanpa “s”) negara ini walau dia sudah mencetak Soekarno, si proklamator yang dikemudian hari memenangkan perdebatan panjang dengan Kasman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusumo dan selanjutnya dengan Muhammad Natsir.

Ahmad Dahlan tidak politis dan lebih seorang kulturalis? Kalau memang sejarah tak mampu menceritakan rinci pertemuan antara Ahmad Dahlan dengan Tjokroaminoto, tapi dengan mudah bercerita antara pertemuan Ahmad Dahlan dengan Budi Utomo -organisasi priyayi Jawa itu-, maka di situ ada keanehan. Bagaimana memisahkan antara Abduh dengan Jamaluddin Al-Afghani yang begitu kuat berkampanye soal Pan-Islamisme?  Bagaimana memisahkan Dahlan dengan Abduh?

Tentulah kalimat Buya Syafii Maarif, “Fokus perhatian Dahlan tampaknya memang lebih tertuju kepada usaha pencerahan dan pencerdasan ummat, suatu strategi sosio-budaya yang berdampak sangat jauh dalam arti yang sangat positif”, tidak cukup menjelaskan soal ini.

Siapa bilang Belanda tak mencurigai dan tak ingin menghabisi Muhammadiyah? Siapa bilang Soekarno dan Soeharto tak curiga pada Muhammadiyah?

Kerangka besar dari perjuangan Dahlan seperti yang disebutkannya sewaktu pendirian Muhammadiyah sudah jelas yaitu mendirikan organisasi yang “amar ma’ruf nahi mungkar”, sementara al-ma’un adalah “amunisi”-nya. Belanda, Jepang, Mataram, dan kekuasaan di Indonesia, sangat tahu, sekaligus waspada soal itu. Kalau mereka tak tahu dan mengantisipasi soal ini, tentu di masa sekarang kita tak perlu berdebat soal strategi di sini.

Buya, let them know

 

* * *

nb: ini komen saya atas postingan nbasis , berjudul STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH (MASA LALU, KINI DAN MASA DEPAN DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s