Kasus Penghancuran Mesjid, Muhammadiyah Pinta Hakim Kabulkan Permohonan BKM Al-Ikhlas Medan


Kasus penggusuran dan pembongkaran Mesjid Al-Ikhlas Jalan Timor Medan mulai mendekati titik akhir. Kamis (8/12) besok, hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan akan memutuskan perkara penghancuran mesjid yang melanggar hukum wakaf dan undang-undang, serta penyelewengan penerbitan sertifikat tanah areal mesjid yang berada di lokasi strategis Kota Medan itu. Kepada majelis hakim, Muhammadiyah menegaskan agar hakim memerhatikan fakta-fakta persidangan dan jangan mau diintervensi dalam pengambilan putusan.

“Muhammadiyah meminta agar majelis mengabulkan permohonan dari BKM Al-Ikhlas dan jangan mau diintervensi dalam memutuskan kasus ini. Kami yakin, hakim akan memihak kepada kebenaran,” tegas Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Medan, Rafdinal MAP didampingi Ketua Majelis Hikmah dan Kebijakan Publik PDM Medan, Drs. Anwar Bakti, di Medan, Selasa (7/12).  Seperti diketahui, kasus yang melukai perasaan umat Islam ini, telah cukup lama terombang-ambing sejak Maret 2011 kemarin.

Menurut Rafdinal, fakta-fakta persidangan telah menyatakan mesjid itu berstatus wakaf sehingga tidak boleh diperjualbelikan. Kedua, warkat atau risalah sertifikat hak pakai nomor 847 tahun 2006 yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) atas tanah yang di atasnya berdiri Masjid Al-Ikhlas sebelum dirobohkan, telah menyalahi aturan prosedur penerbitan sertifikat. Ketiga, ketika dilakukan pengukuran langsung di lapangan, ditemukan ketidaksamaan antara ukuran tanah yang tidak sama antara yang ditulis di sertifikat dengan fakta di lapangan. Keempat, bangunan mesjid tidak disebutkan sebagai objek dalam sertifikat tersebut.

Lebih jauh, Rafdinal yang merupakan pakar administrasi publik di Kota Medan menyebutkan, undang-undang telah menyebutkan objek barang, baik tanah dan bangunan yang berstatus wakaf tidak boleh dijual. “Namun, substansi sebenarnya adalah kasus pembongkaran mesjid bertentangan secara langsung dengan konstitusi UUD 1945 soal kebebasan dalam menjalan kehidupan beragama. Bayangkan saja, pada malam hari saat penggusuran itu, umat Islam yang sedang i’tikaf di dalam  mesjid diusir dari mesjid,” tegas Rafdinal yang juga merupakan aktivis Reformasi 1998 ini.

Sementara itu, Anwar Bakti, menekankan kasus ini hanya bisa terjadi karena tidak adanya perlindungan terhadap rumah ibadah, terutama mesjid, di mana umat Islam merupakan umat yang mayoritas. “Kota Medan harusnya dari dulu sudah punya Perda soal perlindungan rumah ibadah, terutama mesjid,” seru Anwar.

Menurut Anwar, itu karena kasus pembongkaran mesjid di Kota Medan tidak hanya dialami Mesjid Al-Ikhlas saja. “Jadi Walikota Medan tidak bisa sembarangan untuk menerbitkan surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di atas areal rumah ibadah,” tukas Anwar yang juga mantan Pemuda Pelopor tingkat Nasional ini.

“Di sinilah perlunya kepekaan sosial dari pemimpin melihat karakteristik daerahnya. Pemimpin, baik itu Walikota sampai Gubernur kalau tidak bisa membela Islam, lebih baik mundur saja. Islam di sini mayoritas tapi kok diperlakukan sewenang-wenang,” tandas Anwar sembari menyebutkan diskriminasi yang dialami umat Islam dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi di Bogor. “Kasus mereka begitu diperhatikan oleh pemerintah dan telah sampai ke PBB. Kalau paku jatuh di rumah ibadah lain semua sibuk, tapi kalau mesjid dihancurkan semua diam! Ini tidak adil!” tegas Anwar Bakti.

Terakhir, Rafdinal dan Anwar menyerukan agar seluruh ormas dan aktivis Islam untuk merapatkan barisan untuk mengawal persidangan ini. “Melalui semangat tahun baru Islam 1433 H, mari luruskan shaf dan rapatkan barisan,” tegas Rafdinal. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s