Hegemoni Media


Robert Macwand, penulis buku The Era of Imam Khomeini (RTA) and the Religious and Spiritual Approach of the Contemporary Human Being, menyebut,  abad 21 sebagai abad petualangan spiritual manusia. Dengan sekumpulan data dan statistik sebagai basis argumentasi, ia memprediksi abad 21 merupakan era baru antusiasme keagamaan dan dalam kondisi tertentu tidak ada kekuatan sosial yang lebih kuat dari agama.

Namun, pendekatan baru terhadap agama di tengah masyarakat industri maju, punya beragam analisa, beraneka paradigma. Yang menjadi benang merah adalah keyakinan bahwa kecenderungan kepada etika dan spiritualitas merupakan buah dari level kesadaran umat manusia yang terus berkembang. Perspektif tulisan ini adalah soal media dan hegemoninya terhadap kehidupan spiritual.

Hegemoni Media  

Kita ingin mengambil kasus sebuah kondisi yang dialami salah satu agama dengan pemeluk paling banyak di dunia yaitu Islam. Pembantaian Israel terhadap umat Islam di Libanon dan selama ini di Palestina, memang tidak bisa hanya dipahami dalam diskursus “perang agama”. Namun, lebih dari itu, penguasaan dunia Timur Tengah dari dominasi suku bangsa Arab, plus faktor ekonomi di baliknya, menjadi modus yang bisa kelihatan dengan kasat mata. Namun sangat disayangkan, asumsi ini hanya berlaku bagi kalangan internal Islam saja. Di luar itu, di tengah-tengah kerasnya pertarungan politik internasional, asumsi ini menjadi perspektif yang kesekian ratus dari daftar faktor penyebab konflik Timur Tengah. Itu dengan catatan, kalangan internasional masih “objektif”.

Untuk saat ini, jaringan televisi Al Jazeera dikatakan sebagai salah satu media yang paling kuat yang dapat melawan dominasi opini yang berkembang di dunia Internasional. CNN, BBC, Reuter, ataupun AFP sudah cukup tahu bagaimana menggiring opini dan lebih dari itu, pengarahan back mind masyarakat Internasional, tidak peduli ia negara dan umat muslim atau tidak, ke arah pro terhadap demokrasi ala Eropa-Amerika, plus dan Israel. Tidak bisa dilupakan ideologi dunia lainnya yang bertempur di sini, di mana kapitalisme sudah terlebih dahulu dinobatkan menjadi pemenang.

Dalam perspektif demokrasi di mana media menjadi fourth estate dalam kekuasaan negara, negara-negara liberal demokrat cukup tahu memanfaatkan situasi ini. Mereka tidak akan pernah mengkooptasi ataupun menyetir pemberitaan dan informasi secara langsung. Never! Pola yang selama ini menjadi favorit ternyata adalah pemanfaatan secara “politis” dogma pers yaitu bad news is a good news. Rating pemberitaan mengenai konflik atau bad news (dalam arti sebenarnya) lebih tinggi dan bernilai dari good news yang malah dimaknakan sebagai berita seremonial belaka. “Kasus” adalah keyword untuk mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari penjualan media (tiras, kuantitas dan tarif langganan tv cable, dan seterusnya), dan yang paling penting, iklan.

“Politis” yang dimaksud di atas adalah rekayasa “penciptaan kasus-kasus” di seluruh dunia untuk menjadi konsumsi dunia internasional. Media punya kekuatan untuk membuat suatu peristiwa yang “normal” kemudian masuk dalam kategori “kasus”. Senjata media adalah pemaknaan, tafsir dan interpretasi terhadap suatu peristiwa. Dalam penyelidikan komunikasi, dikenal istilah “framming”, yaitu bagaimana media mengkonstruksi suatu peristiwa dalam bingkai yang baru sesuai dengan perspektif dari si media tersebut. Karena itu, rekayasa –dalam makna yang positif maupun negatif- bukan hal baru dalam dunia media.

Masyarakat kemudian dihadapkan pada sinergi antara kebijakan politik, ideologi negara, dan pengemasan isu yang luar biasa. Inilah yang dimamah setiap hari oleh setiap orang di seluruh dunia. Dan jangan lupakan, bahwa faktor pencapaian ataupun jangkauan terhadap massa dan individu sehingga menelusup ruang pribadi (tidak sekedar ruang publik semata) menjadi orientasi utama dari perkembangan teknologi komunikasi. Ini memang tidak sekedar mempermudah orang yang sudah masuk dalam jaringan komunikasi, tapi lebih untuk memperluas jangkauan dan jaringan. Dengan demikian, daftar subjek komunikasi ataupun komunikator menjadi sangat panjang, mulai dari ideolog dan ideologi, politisi dan kebijakan politik, sampai pada media tersebut, sementara daftar komunikan atau konsumen komunikasi tetap tak berubah; masyarakat Islam dan dunia.

Itulah sebabnya, Al Jazeera bisa dilihat sebagai jaringan televisi yang dimiliki dunia Arab (dan memang terlalu terburu-buru kalau mengatakan media ini menyuarakan kepentingan suatu agama tertentu seperti Islam misalnya), untuk menghadapi serbuan itu. Namun, yang juga patut dicatat, bagi media-media seperti Al-Jazeera itu, kondisi ini adalah blessing in disguises; keuntungan di balik situasi yang buruk. Justru perlawanan terhadap hegemoni media Eropa dan Amerika-lah yang menjadi titik jual dari Al-Jazeera. Seolah-olah, Al-Jazeera adalah sebuah representasi ataupun simbol dari perlawanan itu.

Permainan Politik

Komunikasi adalah permainan politik. Eufemisme (penghalusan bahasa), salah satunya punya dimensi itu dalam konsepnya. Begitu banyak wartawan yang memperjuangkan ideologinya di media-media, dengan memakai bahasa-bahasa simbol yang jauh dari sangkaan delik. Persoalan yang hendak ditonjolkan mengalami persesuaian dengan bahasa pemilik dan situasi kekuasaan. Berita-berita dari kelompok yang menjadi patron ideologi si wartawan harus pandai-pandai diolah sehingga bisa naik menjadi berita.

Persoalan klasik, kalau tidak bisa dikatakan usang, seperti pragmatisme media, hidup dalam kondisi itu. Bagaimana mungkin Anda bisa melontarkan kepentingan yang ada pada diri Anda bila tidak ada media yang menerbitkan? Untuk melontarkan kepentingan Anda, maka tidak ada jalan lain kecuali menjalin hubungan baik dengan media. Itu bila Anda memutuskan hendak memakai media tertentu yang sudah mapan, menguasai pasar, dan mempunyai pengaruh.

Bila tidak terjadi hubungan itu, maka “perlawanan” terhadap hegemoni media, untuk memperebutkan pengaruh -walau sebagian ada yang hanya untuk membuat sensasi dan berorientasi pragmatis- adalah dengan cara membuat media baru. Walau ada titik kritis di sini. Karena seringkali permasalahan permodalan dijadikan sebagai urusan kedua, hal ini menjadikan banyak media tidak didukung olah basis ekonomi yang jelas sehingga media banyak yang tumbuh dan kemudian mati dengan cepat. Di Medan, pasca reformasi 1998, muncul lebih dari 94 media baru, di samping media lama dalam berbagai bentuk, seperti koran (mingguan dan harian), tabloid, dan majalah. Namun, yang eksis kemudian ada dalam hitungan jari.

 

Modal dan Ideologi

Ada yang berpandangan, sebuah media tidak perlu berlabel “ideologi”, tapi cukuplah menjadikan sisi redaksionalnya dilaksanakan dengan nilai-nilai dari ideologi itu, dan informasi yang disajikan juga sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Pertanyaannya, apakah ini sebuah pernyataan yang “cocok”? Saya ingin memberikan beberapa pandangan.

Pertama, ideologi bukanlah tidak bisa “dijual” dengan profesionalisme dan modernitas sama sekali. Kasus Al Jazeera yang meletakkan fondasi jurnalistik modern justru bisa dijadikan model bahwa media yang ideologis tak selalu punya gambaran konotatif tradisional, kuno, kolot, dan nilai-nilai yang “jelek”, miskin, dan terbelakang. Dasar-dasar jurnalistik modern justru sangat diperlukan media dengan ideology-oriented.

Faktor kemasan (packaging) media menjadi pembungkus yang harus ditawarkan kepada masyarakat modern. Di tengah situasi dunia yang berlandaskan ekonomi industri, kompetisi, dan kehidupan pragmatis, hedonis, dan materialistis, media ideologis justru harus hadir dengan kemasan modern dengan ideologi sebagai substansi.

Persoalan kedua, penguasaan basis ekonomi. Media tanpa modal adalah kosong sama sekali. Sekali Anda tidak punya modal, maka apapun yang Anda lakukan adalah kering. Masyarakat tidak bisa lagi ditipu dengan konsep “ikhlas” yang justru menjadikan praktek-praktek manipulatif dan koruptif.

Setakat ini, itu dulu, dari saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s