Haji, Qurban dan Transformasi Sosial


Ibrahim (‘alaihi as-salam) boleh jadi sudah wafat sejak dulu. Demikian juga dengan Ismai’l (‘alaihi as-salam) dan Muhammad (shalla allahu wa ‘alaihi as-salam) sebagai keturunan langsung dari Ibrahim. Namun, penyembelihan hewan qurban sebagai ritual Islam yang telah dimulai di masa Ibrahim itu, pun kini sampai kepada umat Muhammad pasca seribuan tahun kemudian. Berulangnya ritual ini hingga kini, tentulah dibarengi dengan pesan-pesan Islam ke seluruh penjuru bumi. Bisa kita bayangkan, tak terhingga sudah darah, daging qurban serta pesan-pesan para ulama yang membanjiri alam kita sejak dulu kala hingga kini.

Namun, ada kebimbangan ketika ritual yang dijalankan ribuan tahun ini dikaitkan dengan signifikansinya dengan kondisi objektif umat Islam sekarang. Pesan yang begitu mulia, yang disampaikan oleh jutaan orang, dengan nada dan matan (kandungan substansial) yang kurang lebih sama itu, ternyata masih juga berbanding terbalik dengan kondisi umat Islam sekarang yang begitu marginal. Impotensi kekuatan sosial, politik, ekonomi, dan budaya itu semestinya tidak terjadi. Semangat persaudaraan, solidaritas sosial dan distribusi kekayaan maupun kearifan yang diharapkan sebagai hikmah dari ritual qurban, justru tidak berada dalam derajat kepastian, ternyata justru jatuh pada level yang meragukan. 

Pertanyaan pertama, perulangan ritual seperti apa yang seharusnya dipungut umat Islam masa kini untuk membingkai masa depan Islam? Pertanyaan ini wajib diajukan dalam perspektif yang lebih tajam dan tidak sekedar menjadikan ritual ini sebagai peristiwa biasa; sebuah rutunitas ritual yang tidak akan berdampak-apa-apa.

 

Potensi Kekuatan

Konteks ritual qurban bertepatan waktunya dengan pelaksanaan haji di Makkah al-Mukarramah. Kedua ritual ini berlainan kadar hukumnya; wajib dan sunnah. Namun kategori hukum yang menyertai keduanya ada dalam benang yang sama; kemampuan individu. Haji, seperti kata Ali Shari’ati, ada dalam ruang yang mempertemukan solidaritas Islam di dunia. Bila haji dimasukkan dalam perspektif universal, maka qurban dibingkai dalam perspektif kelompok sosial. Semakin besar jumlah qurban, maka akan semakin besar pula kuantitas dan kualitas kelompoknya.

Adanya pertemuan Internasional Islam sekali dalam setahun itu, yang kemudian diperkukuh dengan efek solidaritas dan persaudaraan sosial dalam qurban, menjadikannya sebagai kekuatan yang potensial untuk kerjasama Islam, baik dalam skup universal maupun kelompok sosial. Bila dihubungkan dengan kategori hukum yang menyertai kedua ritual ini, yaitu kemampuan individu,  maka jelaslah sudah kalau pertemuan dan solidaritas itu dilaksanakan oleh mereka yang mampu, oleh mereka yang secara substansial maupun simbolik disebut sebagai potensi-potensi kekuatan Islam.

Dengan begini, terpampanglah kalau Idul Adha dan Qurban lebih berada dalam lingkup sosial dan tidak sekedar ibadah individual. Adalah realistis pula pertanyaan-pertanyaan besar soal kondisi objektif Islam dihubungkan dengan ritual ini. Mengapa ketika potensi kekuatan Islam bertemu namun kondisi objektif Islam justru berbanding terbalik?

 

Tauhid dan Transformasi

Titik krusial pertama adalah adakah pertemuan itu? Di titik ini, kita dihadapkan pada persoalan yang cukup pelik. Di satu sisi, jelaslah bila dikatakan secara simbolik pertemuan itu punya kadar eksistensi yang cukup kuat. Apalagi kadar common understanding (kesepahaman yang sama) terhadap peristiwa haji itu, juga tak bisa lagi dibantah; bahwa sesungguhnya para calon haji dari seluruh penjuru dunia itu sedang melakukan ibadah terhadap Tuhan yang sama dan dengan cara yang sama pula. Umat Islam di sana telah tunduk pada kesaling-mengertian antara satu dengan yang lain. Itulah sebabnya walaupun seseorang melihat seseorang yang lainnya shalat dengan cara yang berbeda, tidak terjadi benturan, sanggahan apalagi larangan. Di sini, yang terjadi adalah peleburan identitas kelompok menjadi identitas universal.

Dari sinilah kita berangkat. Tidak bisa dipungkiri kalau perbedaan identitas kelompok sosial politik membuat polarisasi yang cukup tajam dalam internal umat Islam. Dalam kajian Islam Politik maupun Politik Islam, kita akan menemukan variabel-varibel pemicu impotensi kekuatan politik Islam, baik dalam lingkup historis maupun kontemporer. Di antaranya adalah polarisasi kekuatan politik Islam dalam berbagai aliran pemikiran yang ternyata begitu dalam perbedaannya. Misalnya saja polarisasi antara sunni dan shiah, di mana antara konsep politik “khalifah” dan “imamah” adalah dua hal yang dari segi kajian tampak terlalu sulit untuk dipersatukan.

Bila ditelisik lebih dalam lagi, di dalam internal Sunni dan Shiah itu sendiri, pembedaan aliran politik justru makin tajam. Kalau kita melihat konteks ke-Indonesia-an, maka polarisasi pasca Pemilu 1955 –di mana disebutkan para sejarahwan sebagai suatu masa di mana pertarungan kekuatan ideologis antara partai-partai punya urgensi yang sangat tinggi dibanding pemilu-pemilu pada masa Orde Baru maupun reformasi kini–  tampaklah kekuatan politik Islam dalam bingkai “Sunni” yang ternyata tak berkumpul dalam satu kekuataan politik. Padahal, Partai Nahdhatul Ulama dan Majelis Syuro Indonesia (Masyumi) secara teologis justru masuk dalam kategori “sunni”. Dalam konteks internasional, maka variabel-variabel itu akan bertambah banyak, seiring dengan faktor historis politik masing-masing negara.

Apakah pertemuan Islam dalam segi substansial sekedar menjadi utopia semata? Sesungguhnya tidak. Baiklah, untuk hal ini saya ingin meminjam istilah yang diperkenalkan Prof. Amien Rais; Tauhid Sosial. Menurut Amien, tauhid sesungguhnya mengisyaratkan adanya lima makna; Unity of Godhead (satu tuhan), Unity of Creation (kesatuan penciptaan), Unity of Man-kind (kesatuan kemanusiaan), Unity of Guidance (kesatuan pedoman hidup), Unity of the Purpose of Life (kesatuan tujuan hidup). Dari segi sosial politik, pernyataan Amien cukup tegas, “Benang merah dari ajaran Islam adalah keadilan. Karena Islam itu merupakan religion of justice, maka secara potensial setiap orang Islam bisa menjadi trouble maker bagi kemapanan yang tidak adil.

Bagaimana menerapkannya? Almarhum Kuntowijoyo, seorang sejarahwan dan sosiolog Islam mengatakan, nilai-nilai Islam sebenarnya bersifat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Oleh karena itu, tugas terbesar Islam sebenarnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tersebut.

Dalam beberapa kajian, transformasi itu justru secara masif terjadi pada masa Orde Baru, di mana di antaranya dikarenakan kekuatan partai politik Islam telah dikebiri dalam satu partai saja yaitu Partai Persatuan Pembangunan. Masuknya aktivis Islam di seluruh sektor dan kelompok masyarakat seperti Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media massa, jaringan birokrasi, teknokrat, dunia usaha, dan seterusnya, telah menjadikan sendi-sendi dasar dalam masyarakat madani atau dalam bahasa populer disebut sebagai civil society, terbentuk dengan kuatnya. Kekuatan inilah, dan bukannya partai politik, yang justru menghancurkan kekuatan otoritarianisme Soeharto dan kroni-kroninya di masa Refromasi 1998.

Implementasi “Tauhid Sosial” inilah yang tidak ada di masa kini. Politik identitas secara praktis, sejatinya menjadi jalan masuk bagi polarisasi politik aliran yang akan sangat merugikan bagi umat Islam secara keseluruhan. Penguasa akan gampang mengotak-atik karena pada masa kini justru kekuatan potensial Islam justru masih berada di titik nadir sejarah.

Hal ini juga berlaku pada Islam secara internasional yang begitu mudah dimanipulir oleh kekuatan adikuasa Amerika dan Eropa. Tidak hanya melalui kekuatan militer dan ekonominya, namun juga dari segi informasi (media), teknologi dan kebudayaan.

Tidak ada jalan lain. Umat Islam harus melakukan transformasi sosial budaya besar-besaran di seluruh aspek kehidupan sosial dan tidak melulu menghabiskan energinya dalam partai politik yang nyatanya pada saat ini sedang kisruh dan kurang memberi manfaat besar.

Sesungguhnya kita kuat, sesungguhnya kita punya potensi untuk bertemu secara substansial dan tidak sekedar simbolik. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s