Pengemis Profesional dan Orang-orang yang Kalah


Sebagai seorang pebisnis, sudahkah Anda hitung berapa penghasilan seorang pengemis? Saya mencoba menghitung dengan matematika kasar

Kita ambil contoh titik Simpang Glugur Medan, perempatan yang mempertemukan ruas Jalan Yos Sudarso -H Adam Malik-Putri Hijau. Perempatan itu merupakan ruas jalan yang cukup padat setiap harinya, terutama kala pagi (pukul 08.00 – 10.00 WIB), siang (12.00 – 13.00 WIB) dan sore (17.00 – 18.30 WIB). Ada empat titik traffic light, dan saya akan ambil sampel traffic light di Jalan Yos Sudarso (dari arah Brayan) menuju jalan Jalan Putri Hijau. Dengan asumsi, waktu jam kerja dimulai pada pukul 08.00 – 18.00 WIB, maka setiap hari ada 10 jam kerja yang akan hitung. Bila satu jam sama dengan 3.600 detik, maka 10 jam sama dengan 36.000 detik. Di situ, hitungan timer lampu berwarna merah per saatnya, sejumlah 150 (detik). Bila ada empat traffic light untuk empat arah yang berbeda, maka frekuensi lampu berwarna merah (tanda berhenti) di satu titik saja sejumlah 60 kali dalam 10 jam. Hasil itu didapatkan dengan membagi empat jumlah detik dalam sepuluh jam (36.000 detik), dan hasilnya kemudian dibagi lagi dengan jumlah detik per satu kali lampu merah (150).

Bila kita berasumsi, dalam satu kali lampu merah, si pengemis mampu mendapatkan Rp 2.000 saja, maka dalam dalam waktu 10 jam itu (60 kali lampu merah) si pengemis telah meraup pendapatan sebanyak Rp 120.000 per hari. Bila si pengemis tadi punya waktu kerja seperti pekerja “normal”, yaitu 26 hari (Minggu libur), maka dalam sebulan, si pengemis tadi telah mendapatkan Rp 3.120.000. Bandingkan dengan rencana nilai Upah Minimum Propinsi (UMP) 2012 di Sumatera Utara yang hanya Rp 1.107.000, maka itu berarti tiga kali lipatnya. Walaupun, katakanlah, hitung-hitungan kita error sebanyak 50%, maka jumlah pendapatannya masih sekitar Rp 1,5 juta. Dan itu tetap lebih besar dari UMP. Wow …

Anda boleh mencontohkan di perempatan lain di Kota Medan. Dengan asumsi jumlah detik yang lebih kecil, detik yang tidak sama antara satu titik dengan yang lain, jumlah “jam kerja” yang lebih dari 10 jam per hari, dan jumlah pendapatan per lampu merah lebih besar dari Rp 2.000, maka penghasilan si pengemis tadi akan jauh lebih tinggi. Bila Anda tambahkan indikator kalau yang iba kepada si pengemis tadi tidak hanya memberi pada waktu lampu merah saja, maka semakin tinggi jugalah hasil si pengemis tadi.

 

Profesi Mengemis

Yang kita persoalkan bukanlah diktum agama soal berpahala atau tidaknya sedekah. Atau pula adagium moralitas humanisme universal soal rasa kemanusiaan setiap orang. Ini adalah soal bagaimana seseorang menyikapi hidup. Mungkin, seorang pengemis pada awal-awalnya benar-benar dalam kondisi marginal dan lemah. Dia tidak punya pendidikan, pengharapan atas masa depan, dan pekerjaan sudah begitu sulitnya. Apakah yang bisa diharapkan oleh seseorang yang tidak punya latar pendidikan, di suatu masa di mana ijazah sekolah dan perguruan tinggi justru terbuang percuma karena lapangan pekerjaan begitu sulitnya?

Mengemis adalah jalan keluar, solusi bagi mereka yang kalah dan tak mendapatkan tempat dari sebuah sistem sosial politik ekonomi (dan kebudayaan). Dia lahir dari kondisi-kondisi di mana manusia yang terjerat sistem yang tak menguntungkan baginya. Karena dia tak mampu mengikuti langgam tadi, apapun bentuknya –baik sistem yang seolah-olah adil, apalagi sistem yang tak berprikemanusiaan- maka dia terlempar, dia menjadi orang buangan.

Karena orang-orang kalah selalu dilahirkan oleh sejarah, maka mengemis adalah sebuah “profesi” purba. Adanya diktum agama-agama soal ini, yang notobene lahir ribuan tahun lampau, membuktikan kalau mengemis telah diatur begitu lamanya. Agama, dalam salah satu dimensinya, telah bersikap menjadi tameng, menjadi perisai yang melindunginya dari kekejaman dunia. Bahkan, banyak sekali pendapat berujar kalau agama justru dilahirkan untuk melindungi yang lemah, dan sebaliknya menjadi peringatan bagi yang kuat, bagi penguasa suatu sistem, bagi yang hidup mapan dari suatu kebudayaan dan peradaban. Tak jarang, agama digambarkan sebagai anti terhadap kemapanan. Tak heran pula, banyak pengikut-pengikut awal agama adalah orang-orang yang lemah, yang tak tahu hendak mengadu kemana.

Perlindungan itu telah melahirkan instrumen-instrumen agamawi yang berlaku umum, tak punya batas wilayah, tak punya batas waktu. Kalimat senada dengan “bila engkau menghardik fakir miskin, maka adzab akan menimpamu”, bisa ditemui di hampir seluruh agama hingga di kalangan atheis. Bahwa adalah setiap kewajiban setiap orang untuk melindungi dan cinta terhadap orang lain.

Diktum ini telah menjadi sikap hidup dan secara berangsur-angsur menjadi sikap suatu kebudayaan secara universal. Posisinya pun kian kukuh dan sakral. Posisinya yang sakral inilah yang memermanenkan pandangan manusia terhadap pengemis. Dan, sakralitas itu ditangkap oleh mereka-mereka yang menjadikan mengemis sebagai ajang.

Tapi bagaimana menjual ini? Karena orang-orang yang kalah itu ada di seluruh dunia, dalam sistem apa pun, maka modul-modul mengemis itu akan hampir sama di seluruh penjuru dunia. Dia berlaku universal. Pengemis akan selalu menengadahkan tangannya, mengangkat mangkuk kosongnya, menatap dengan tatapan kosong orang-orang yang ditemuinya yang mampu hidup dari suatu sistem. Instrumennya tetap sama; baju lusuh dan rombeng, wajah memelas, tubuh lemah dan difable (cacat), kulit dekil dan seterusnya. Semakin tragis dia, justru semakin kuat dayanya untuk menguras belas kasihan orang.

Benar, seorang pengemis telah menjual kelemahan dirinya, baik fisik, moral maupun termarginalkan dari suatu sistem, kepada khalayak. Anda jangan mengharapkan atau menghardik “harga diri” bagi pengemis, karena pengemis telah siap dan lebih dulu “mati” daripada Anda. Hinaan itu resiko pekerjaan. Sama seperti resiko menghirup asap knalpot, debu, terjemur matahari, diguyur hujan, sampai digusur Satpol PP. Semakin dia dipinggirkan, diejek, dihardik, atau kasarnya semakin dia “dibunuh”, maka potensi kekuatan mengemisnya justru semakin tinggi. Belas kasihan adalah komoditi utamanya.

Kini, wajah pengemis yang semula menggambarkan ketidakberdayaan, telah berubah total, menjadi sebuah komoditi yang menjadi harapan bagi orang yang terpinggirkan dalam sejarah. Bila sewaktu pertama kali mengemis dia hanya berusaha untuk tetap hidup, maka dia kemudian akan terkejut melihat penghasilannya dari mengemis. Dia lantas sadar, bahwa dalam sebuah sisi yang paling kejam sekalipun ada sisi kontradiktif yaitu rasa kasihan dari orang-orang yang hidup mapan dalam suatu sistem. Bahwa terkadang, pengemis tadi justru dibutuhkan untuk menyangga kehidupan yang kaya-raya. Bukankah bila semua kaya tanpa ada yang miskin maka kekayaan tak akan ada maknanya?

Maka, pengemis dibutuhkan untuk hidup yang bermakna. Sebagai pembuktian bahwa dia tetap sebagai manusia biasa yang manusiawi, yang punya rasa kasihan dan cinta kepada sesamanya.

Instrumen agama yang semula diletakkan atas dasar perlindungan kepada mereka yang lemah, akhirnya mengalami distorsi pemahaman. Sudah benar kalau agama telah menjadi instrumen perlindungan bagi mereka yang kalah. Namun, bagi kalangan bisnis yang secara kodrati diberi kemampuan untuk mengolah dan merekayasa, maka semakin sakral suatu diktum agama, semakin tinggi pula nilai jualnya.

Di kalangan humoris berlaku juga adagium serupa, semakin sakral sesuatu, semakin mudah pula untuk ditertawakan. Buku-buku humor seperti “Mati Tertawa ala Hitler” itu salah satu contohnya. Karena itu kalau ada kalimat seperti ini: “Daerah mengemis dana dari Pusat,” maka Anda anggap saja itu humor. Kalau Anda ingin berkata itu humor yang ironis tragis, toh Anda tak berdosa.

Demikianlah. Tulisan ini jangan Anda harapkan akan memberikan solusi menghapus pengemis. Apalagi solusi konyol seperti yang hendak diterapkan di DKI Jakarta kemarin dulu; bahwa mereka yang memberi sedekah kepada pengemis akan didenda. Masak mengharapkan solusi dari warga awam seperti saya? Kalau begitu, apa gunanya pemerintah menyerap anggaran setiap tahun? Kalau tak bisa mengatasi masalah, ya, Anda berhenti saja jadi Gubernur, Bupati, Walikota atau Presiden.

Selama sistem yang ada hanya memberi tempat kepada yang menang saja, maka orang-orang yang kalah hanya ada dua pilihan; melawan atau mengiba. Nah, karena di Indonesia ini, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara”, maka wajar saja bila pengemis itu makin banyak, berkembang dan bermetamorfosa menjadi bisnis mengasyikkan. Wong, “dipelihara”, kok. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s