Cinta Ibrahim dan Seekor Hewan Qurban


Maka, mereka menyembelih hewan qurbannya dengan penuh penghormatan. Tidaklah mereka menyembelihnya dengan nafsu. Sesungguhnya, mereka tidak sedang membunuh hewan tersebut. Mereka melantunkan doa dan menyebut nama Tuhan, sebagai pemilik dan pencipta seluruh makhluk. Doa-doa itu memanjat langit, mengharap ridha, izin dan persetujuan dari yang mencipta mereka berdua; pengurban dan hewan qurban.

Sungguh, si pengurban juga sedang mengurbankan dirinya. Mengurbankan nafsunya akan dunia. Bahwa dunia bukanlah miliknya namun kepunyaan Sang Maha Raja Diraja. Bahwa harta yang didapatkan dengan jerih payahnya, dengan keringat bahkan mungkin air mata dan darahnya itu, tidaklah mutlak untuk dimakan nafsu rendahnya. Meski dengan hartanya itulah dia mampu untuk memiliki hewan-hewan yang akan diqurbankannya. Tidakkah untuk melepas kepergian suatu benda yang dimilikinya secara sah lagi halal, memerlukan rela yang mendalam?

Maka terbukalah tabir di depan seluruh makhluk, betapa Ibrahim dan Isma’il telah memperlihatkan peristiwa cinta mahadahsyat kepada yang menciptakan mereka.

Marilah kita memandang pada Ibrahim, seorang manusia yang disebut dalam literatur Barat maupun Timur sebagai Bapak Monotheisme, bukanlah manusia yang pasrah begitu saja dengan imannya.

Dia menggali dalam imannya itu, seperti apakah wajah Tuhannya? Dia bertanya kepada bulan, kepada matahari, kepada seluruh alam semesta, dan tak dinyana dia tak menemukan jawab di sana. Maka, adalah Tuhan yang kemudian memunculkan dirinya kepada Ibrahim dan menyatakan kepada makhluk manusia itu bahwa Dialah wujud yang satu, Zat yang dicari-cari oleh Ibrahim.

Laksana seorang manusia yang berkelana demi kerinduannya, maka adakah Zat yang dirindu-rindukan itu akan memalingkan wajahnya? Tidak. Dengan wajahnya yang suci, dia memberi balas kepada Ibrahim, si Pencari Tuhan itu, kasih dalam bingkai “maha”, sebuah kata yang merupakan batas manusia untuk membahasakan limpahan kasih tanpa batas. Sungguh, bahwa “Maha Kasih” itu pun masih terlalu kecil untuk menjabarkan limpahan kasih Tuhan kepada dirinya.

Pencarian Ibrahim kepada Tuhannya, adalah perjalanan seorang pengelana cinta untuk mencari kekasihnya dalam derita yang tak terperi. Dalam derita tak terperi. Ibrahim melakukan itu di atas jalan yang penuh onak sebagai penghalang jalannya. Maka adalah sungguh pantas, ketika mereka bertemu, Sang Maha Cinta menyambutnya dengan kata “Khalilullah” (Kekasih Allah). Tidakkah itu paralel dengan bahasa kita ketika menyapa kekasih yang kita tunggu-tunggu dalam peraduan: “Wahai Kekasihku”?

Tuhan menuliskan pencarian Ibrahim terhadap dirinya itu, dengan tinta suci dalam penggalan suratnya kepada seluruh manusia yang bertajuk al-An’am. Simaklah bunyi surat dalam lembaran ayat ke-76 hingga ke-79.

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata,”Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ”Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, ”Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi matahari terbenam, dia berkata, ”Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

Tahun-tahun lantas berganti. Perjumpaan Ibrahim dengan Tuhan, kini memasuki tahap yang berbeda. Dia kini telah memiliki Isma’il, anak yang dinanti-nanti, buah cintanya dengan Siti Hajar. Sang Kekasih pun memerintahkan Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan Isma’il ke suatu tempat yang kini disebut Mekkah. Adakah dalam benakmu, penderitaan tak terperi yang harus dirasakan Ibrahim ketika harus meninggalkan Siti Hajar dan Isma’il di sebuah tempat terpencil dan bersendirian? Demikianlah, penderitaan itu terus dirasakan oleh Ibrahim.

Namun, cinta Ibrahim kepada Tuhannya adalah bukan cinta para pedagang ataupun cinta para punggawa hukum. Cinta Ibrahim adalah tanpa pamrih, tanpa pertimbangan untung-rugi, cinta tanpa perlu pembuktian karena cinta memang tak perlu dibuktikan. “Perintah” dari Tuhannya, bukanlah laksana perintah dari atasan pada bawahan, dari seorang jenderal kepada seorang kopral, namun dari kekasih kepada kekasih. “Karena Allah menyuruhku,” jawab Ibrahim kepada Siti Hajar.

Maka tinggallah Siti Hajar dan Isma’il bersendirian di lembah Mekkah itu. Kesedihan yang dirasakan mereka tentulah juga penderitaan bagi Ibrahim. Maka, adalah benar ketika kekuasaan Tuhan adalah kekuasaan yang misterius, yang semakin dibayangkan semakin tak terbayang. Siti Hajar, seorang perempuan yang semula adalah pembantu Ibrahim, kini telah menjadi Istri Ibrahim, istri seorang kekasih Tuhan. Maka derajatnya kemudian ditinggikan sang kekasih Ibrahim itu, hingga level yang tak terkatakan. Geraknya mencari air dalam putaran Shafa-Marwah dan lontaran batunya kemudian menjadi basis ritual wajib bagi seluruh umat Islam di dunia kala melaksanakan haji. Ka’bah kemudian didirikan oleh Ibrahim di Baitul Haram Mekkah, di tempat Siti Hajar dan Isma’il diasingkan. Air zam-zam yang diminum pertama kali oleh Siti Hajar dan Isma’il, menjadi air yang begitu dinantikan oleh seluruh yang mengaku beriman kepada Tuhan. Maka, nikmat seperti apa lagi yang kamu dustakan?

Sungguh, Ibrahim belum lepas dari penderitaannya. Kini, Ibrahim harus berhadapan secara langsung dengan kenikmatan luar biasa yang diterimanya dari Tuhannya; derajat dan cinta yang begitu tinggi yang diberikan Tuhan kepada Isma’il dan Siti Hajar. “Qurbankanlah Ismail,” begitulah perintah sang Kekasih. Benar, Tuhan telah meminta cinta Ibrahim secara mutlak.

Oh, manusia, adakah sesungguhnya penderitaan yang lebih dalam dari permintaan itu? Adakah yang lebih menyayat ketika cinta sucimu kepada makhluk dan kepada dirimu yang juga dicintai oleh Tuhanmu, kini hendak dikurbankan, dilepas? Pantaskah mempertanyakan mengapa?

Ibrahim tak pernah mempertanyakan cintanya. Cintanya adalah cinta mutlak. Maka datanglah dia kepada Isma’il dan menyampaikan maksudnya secara terang-benderang. Isma’il, anaknya yang menjadi moyang langsung dari Muhammad, pun menyerahkan cintanya kepada kekasih ayahnya itu. “Lakukanlah bila itu kehendak Allah,” jawab pemuda ini.

Adakah akal manusia mampu memberi penawaran atas hal ini? Sesungguhnya tidak sebiji zarah pun. Akal bukanlah penawar cinta. Maka, leburlah penciptaan manusia itu, leburlah kasih sayang antar sesama makhluk, leburlah alam semesta dalam totalitas cinta mutlak kepada Sang Maha Cinta. Ibrahim mengasah pedang dan Isma’il mengulum senyum. Dan ketika kita berpikir bahwa itulah kekejaman cinta, maka Tuhan, sang Maha Adil Bijaksana, mengungkapkan kekuasaannya atas segala sesuatu. Isma’il telah berganti dengan seekor hewan qurban.

Sungguh, beruntunglah hewan qurban itu. Hewan itulah yang menjadi saksi dari sebuah perjalanan cinta mutlak antar makhluk dengan khalik-nya. Hewan itulah yang terpilih secara terhormat untuk sebagai saksi peristiwa maha dahsyat itu. Maka, bukankah mengurbankan hewan tidaklah pernah sama dengan “membunuh” hewan?

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa áli Muhammad
Kama shalla ita’ala Ibrahim, wa áli Ibrahim.
Allahu Akbar wa lillah il-hamd. (*)

2 thoughts on “Cinta Ibrahim dan Seekor Hewan Qurban

  1. Ibrahim adalah ksatria untuk ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Keteguhannya yg heroik membuat namanya didoakan dalam setiap shalat kita, dan kisahnya dirayakan dalam ritual haji dan qurban.

    Tapi ada sisi kelam yg menyertai penekanan ini: penundukan nalar dan nurani dibawah teks suci, yg secara tak langsung menyumbang kepada kebrutalan kelompok-2 fundamentalis.

    Silakan ikuti tulisan saya di:
    Islam Anti Nalar. Benarkah?

    Tidak ada pertentangan atas hal itu. Kebrutalan adalah hal lain.😉 … saya telah komen di tulisan Anda.🙂 Thanks atas komen dan infonya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s