Quo Vadis Islam Politik


Salah satu aliran politik yang mengemuka dalam polarisasi politik ala Orde Baru adalah aliran politik agama (Islam). Soeharto, sebagai penguasa, telah sangat lihai membeda-bedakan antara aliran nasionalis, kekaryaan dan Islam.

Posisi Islam sebagai kekuatan politik memang lebih signifikan bila dibandingkan dengan agama lain seperti Kristen, Hindu dan Budha. Faktor kuantitas dan dinamika historis tentulah menjadi acuan utama. Untuk itu, alur utama dalam melihat kiprah politik Islam di Indonesia adalah apakah perannya akan ditingkatkan secara lebih signifikan dan struktural ataukah malah direduksi laiknya bonsai: keindahan dan kemahalan harganya ditentukan oleh seberapa mantap pohon itu bisa tampak indah dalam kekerdilan bentuknya. Soeharto memutuskan pilihan yang kedua, potensi politik Islam tidak boleh dibunuh namun dibonsai.

Partai Persatuan Pembangunan sebagai wadah fusi kekuatan politik Islam, pada awal-awal berdirinya pun kelihatan cukup canggung menerapkan kebijakan kuku besi Soeharto itu. Aliran Islam yang disatukan itu ternyata tidak seragam, baik visi misi, tujuan hingga cara mencapai tujuannya. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) serta kelompok Islam lainnya, telah dikawinpaksakan oleh Soeharto.

Dengan mereduksi potensi Islam ini, Soeharto menuai kemenangan politik dalam pemilu yang dilaksanakan pada masa Orde Baru. Apa akibatnya bagi politik Islam di Indonesia?

Politik Islam melebur dalam jaringan struktural, kultural dan intelektual. Jaring Islam dalam organisasi kemasyarakatan, kepemudaan hingga mahasiswa, tidak lagi menganggap posisi partai politik sebagai satu alur linear dalam perjuangan politiknya. Transformasi besar-besaran aktivis Islam di tubuh birokrasi, teknokrat, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat, membuat jaringan aktivis menyebar di hampir seluruh komponen dan kelompok masyarakat. Tampaknya, jargon “Islam Yes Partai Islam No” yang dibawa Nurcholis Madjid yang menjadi bagian utama dari gerbong intelektual Islam pada era 1970-an, punya pengaruh yang tidak sedikit.

Sekilas memang terjadi kohesi antara jargon Nurcholis dengan fusi politik Islam yang dilakukan Soeharto. Tentu saja, jargon ini –disengaja atau tidak- sangat menguntungkan bagi kekuasaan Soeharto. Namun secara garis besar, inilah kompromi politik antara kekuasaan dengan kekuatan Islam di Indonesia, di mana era penggunaan jalur refresif (dalam arti penggunaan kekuatan senjata seperti yang dilakukan aktivis DI/TII dan elemen garis keras lainnya) telah tak mampu untuk memenangkan pertarungan dengan Soekarno dan Soeharto.

Soeharto boleh jadi telah mampu meredam kekuatan politik Islam itu paling tidak selama 32 tahun kekuasaannya; baik secara politik dan militer. Namun sebaliknya, di ujung kekuasaannya, sejarah juga telah mewartakan kalau pada reformasi Mei 1998, para aktivis Islam justru menjadi garda terdepan dalam menumbangkan kekuasaan refresif Soeharto. Kompromi itu telah menghasilkan paradigma baru perjuangan politik Islam yaitu civil society, yang juga bisa berarti masyarakat madani. Dan masyarakat itulah yang menumbangkan tirani kekuasaan dahsyat Soeharto.

 

Partai Politik atau Madani

Sejarah negeri ini juga menceritakan, ketika keran reformasi 1998 terbuka lebar, banyak aktivis Islam ternyata masih menganggap kalau jalur partai politik adalah acuan utama. Partai-partai yang semula dipaksakan berasas Pancasila, kemudian memunculkan jati dirinya sebenarnya. PPP langsung merubah asasnya menjadi Islam dan lambang partai kembali di era 1970-an yaitu gambar Ka’bah. Ruh Masyumi (Majelis Syuro Indonesia), sebagai salah satu kekuatan utama politik Islam di Indonesia, kemudian menjadi penyemangat berdirinya partai-partai seperti Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Ummat Islam (PUI), Partai Politik Islam Indonesia (PPII) Masyumi, maupun Partai Masyumi Baru.

Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) juga kembali bersemangat untuk berpolitik. Aktivis Muhammadiyah mendirikan Partai Amanah Nasional (PAN) dan NU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Hal-hal seperti di atas, seakan menggugurkan sebagian tesis Nurcholish Madjid soal partai politik Islam. Nyatanya, partai politik masih dianggap sebagai salah satu jalan untuk memperjuangkan tujuan politik Islam masing-masing kelompok, baik yang garis keras maupun garis “lembut”.

Aktivis organisasi mahasiswa Islam, tampaknya, juga tidak sepenuhnya “setuju” dengan klaim Nurcholis itu. Kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang seakan identik betul dengan Nurcholis, toh berserak hampir di seluruh institusi di negeri ini, termasuk partai politik . Kini, bahkan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, adalah seorang mantan Ketua Umum PB HMI. Bachtiar Chamsyah, yang juga merupakan salah satu pentolan HMI, juga dikenal sebagai elit di PPP dan Parmusi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan aktivis KAMMI yang menjadikan Partai Keadilan (Sejahtera) sebagai jalur politiknya.

Organisasi mahasiswa yang menjadi underbouw organisasi keagamaan, juga menjadikan partai politik sebagai wadah memperjuangkan tujuan politiknya. Hal ini tampak pada aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang berseliweran di dalam PAN, maupun aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di tubuh PKB.

Dus, gerakan politik Islam di masa reformasi ini, kini sangat cair namun juga semakin rigid (kaku). Partai politik tetap menjadi pilihan dalam memperjuangkan tujuan-tujuan politik masing-masing kelompok. Kekuasaan memang begitu memikat. Akibatnya, civil society yang berbasis kekuatan masyarakat madani untuk perubahan sosial politik budaya ekonomi Indonesia sesuai dengan langgam Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, terkena getahnya.

Teorinya adalah semakin kuatnya satu bandul akan memperlemah bandul yang lain. Semakin kuatnya bandul partai politik dalam perjuangan aspirasi politik Islam, membuat bandul civil society semakin tak dominan.

Politik Sekuler

Hal itu jelas keanehan. Di masa Orde Baru, kita melihat justru bandul partai politik yang melemah sementara transformasi Islam dalam seluruh komponen masyarakat minus partai politik begitu kentara. Namun kini di masa reformasi, bandul partai politik semakin menguat yang menjadikan bandul civil society hanya sebagai bayang-bayang semata.

Namun, benarkah dua hal ini perlu dibedakan secara tegas? Bukankah perubahan politik Islam mesti diperjuangkan melewati jalur-jalur konstitutif yaitu partai politik? Bagaimana mungkin melakukan perubahan politik bila berada di luar arena?

Dengan menjadikan partai politik sebagai wadah utama perjuangan politik Islam, maka potensi civil society pun akan tersedot ke sana. Kini, mereka-mereka yang mengklaim diri sebagai aktivis politik Islam di tingkat pemuda, mahasiswa maupun pelajar, telah menjadikan organisasi kepemudaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan itu, menjadi batu loncatan untuk mendapatkan posisi di tubuh partai politik. Ujungnya jelas, kekuasaan adalah tujuan utamanya, seperti memang trahnya partai politik. Kaderisasi organisasi, kemudian lebih bersifat kaderisasi politik dibandingkan dengan pembentukan komponen-komponen masyarakat madani yang lebih progresif untuk memulai perubahan di tengah-tengah masyarakat. Substansi kaderisasi lebih bersifat formalistik elitis.

Hal ini ibarat pisau bermata dua; menguntungkan sekaligus merugikan. Namun, yang patut dicatat adalah korelasi antara ideologi politik Islam dengan partai politik yang menjadi tujuan, justru cukup lemah. Setelah 13 tahun Reformasi, justru partai-partai yang semula berasaskan Islam yang lolos electoral treshold hanya tinggal satu saja yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan PKS. PKS kini pun telah mengumumkan dirinya sebagai partai terbuka. Sementara partai-partai lain yang tetap konsisten berasaskan Islam kini sedang kembang kempis, mati segan hidup tak mau. Kalau begitu, Islam seperti mana yang sedang diperjuangkan dalam partai-partai yang jelas-jelas “sekuler”?

Tentu saja, Islam sekuler jawabannya. (*)

One thought on “Quo Vadis Islam Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s