Muhammadiyah (Sumut) dan Wajah Islam Indonesia


Posisi strategis Indonesia di Pasifik sudah dikabarkan bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Bila dipersempit dalam kawasan Asia Tenggara saja, maka sahlah sudah posisi Indonesia sebagai negara yang (seharusnya) patut diperhitungkan dalam dinamika sosial politik ekonomi kawasan. Ada yang menyebutkan bahwa Asia Pasifik (dan Asia Tenggara) adalah Indonesia. Indonesia merupakan sumbu kawasan dan karena itu stabilisasi di kawasan ini tergantung pada Indonesia. Bila sumbu ini panas, maka kawasan itu juga akan meradang.

Indonesia dan Islam adalah dua sisi mata uang. Sebagai negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia, maka hal itu makin menambah signifikansi politik Indonesia, selain posisi geografis yang demikian strategisnya. Melihat Islam di kawasan Asia Pasifik adalah sama dengan melihat wajah Indonesia. Islam Asia Pasifik bukanlah Malaysia, ataupun radikalis Islam di Filipina dan Thailand. Tidak. Walau Malaysia dan Brunei Darussalam adalah dua negara di Asia Tenggara yang berbentuk Negara Islam, namun, posisi mereka tidaklah sekuat Indonesia dalam wajah Islam dunia. Ini tidak menjadikan mereka sebagai alas generalisasi terhadap wajah Islam Asia Pasifik (Tenggara). Apalagi, melihat Malaysia, Brunei dan Singapura, termasuk Australia, di luar lingkup negara-negara commonwealth akan terasa aneh. Commonwealth tentu bukan perkumpulan arisan.

Hal ini berlainan dengan wajah Islam di kawasan Timur Tengah, Afrika, Teluk Parsi, dan Asia Barat. Di kawasan itu, wajah-wajah Islam begitu beragam alias heterogen. Walau Makkah al-Mukarramah ada di Arab Saudi, tidak membuat wajah negara ini sebagai wajah Islam “dunia”. Mesir, Iran dan Pakistan adalah pembanding yang mempunyai bingkai nan berbeda.

Dalam bingkai itu, adanya gerakan terorisme internasional seperti yang terlihat dalam kasus bom Bali I dan II, JW Marriot, Kuningan, kasus Poso dan seterusnya di Indonesia, salah satunya dapat dipahami sebagai langkah untuk “mempersamakan“ wajah Islam Indonesia dengan wajah Islam Timur Tengah, Afrika, Parsi dan Asia Barat. Bila proyek ini berhasil, maka generalisasi bahwa wajah Islam begitu keras, radikal dan menakutkan, akan mendapatkan justifikasinya dan yang tersisa kemudian adalah “serpihan-serpihan” Islam di Amerika dan Eropa yang sedang diolah dengan begitu serius. Kawasan ini sejak dulu begitu intens ditampilkan sebagai “the true face of Islam”. Syekh Muhammad Abduh pernah berkata, “Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam; Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana.”

Apalagi, secara kasat mata poros Amerika dan Eropa (terutama Perancis dan Jerman) telah lama hendak dijadikan sebagai salah satu “mazhab”. Begitu banyak pembaharu Islam yang mengalami kontak pemikiran langsung dengan Eropa dan Amerika. Nama-nama seperti Muhammad Iqbal, Ali Shariati, Fazlur Rahman, Muhammad Arqoun dan lain sebagainya adalah di antara banyak nama intelektual muslim di masa modern yang mengalami pendidikan Eropa. Tak heran, persentuhan ala pendidikan ala Eropa dan Amerika telah begitu dinamis. Mulai dari aliran filsafat hingga pada metode ilmiah modern (dan post modern) telah menjadikan “mazhab Eropa dan Amerika” menyeruak tajam dalam kajian-kajian Islam kekinian. Nyatanya, dengan posisi kekuatan sosial politik ekonomi yang kini sedang dipegang oleh Amerika dan Eropa, hal itu juga merambat ke dunia keilmuwan Islam. Seakan-akan metode dan paradigma mazhab yang baru ini lebih gres, lebih mumpuni untuk menjawab modernisasi dan persoalan dunia ke depan. Posisi ini membuat mazhab baru tersebut berhadap-hadapan secara langsung dan membuat situasi dikotomis; modern dan tradisional. Islam Timur Tengah masuk dalam “kubu tradisional” yang lebih dimaknakan sebagai kolot, fundamentalis radikal, sementara Islam bermazhab Eropa dan Amerika adalah “kubu modern”, dimaknai secara konotatif sebagai maju, dinamis, demokratis.

Indonesia adalah negara yang mengkonsumsi kedua mazhab tersebut. Intelektual dan cendekiawan Islam Indonesia merupakan gabungan dari keluaran Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Buku Islam dan Negara; Transformasi Pemikiran dan Politik Islam di Indonesia (1998) karangan Bahtiar Effendy, mengungkap deretan nama-nama dan kontribusinya dalam gerakan politik Islam di Indonesia. Nama-nama seperti Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, Abdul Kahar Muzakkir, Ki Bagus Hadikusumo, KH A. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, Sukiman Wiryosanjoyo, hingga Muhammad Natsir yang kemudian dilanjutkan oleh generasi Nurcholis Madjid, Amien Rais, Jalaluddin Rakhmat, Syafii Maarif adalah di antara dari banyaknya tokoh-tokoh Islam dengan ramuan pendidikan berbeda; ala Timur Tengah dan Eropa-Amerika.

Namun di lain sisi, Harun Nasution yang menjadi Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta, lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir dan McGill University, Kanada, menjadi satu nama penting yang menawarkan pola pandang “baru” keislaman tanah air. Dia disebut-sebut beraliran mu’tazilah yang mengedepankan rasionalisme dalam mengkaji Islam dan persoalan masa depan. Dekade 1960 dan 1970-an, sebelum dan pada masa Harun sebagai Rektor IAIN (1973), politik aliran memang masih kental di Indonesia. Politik aliran ini cukup kuat berpengaruh dalam pemikiran dan gerakan Islam di tanah air, dan termasuklah dua organisasi Islam terbesar yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Tapi, bila memakai frame ala Harun Nasution, kedua organisasi besar (demikian juga tokoh-tokohnya) ini justru masih berkiblat pada tradisionalisme ala poros Timur Tengah.

Muhammadiyah yang mulanya sempat dikatakan lebih modern, tak lepas dari kritikan Harun. Dalam bukunya, Islam Rasional, “rasionalisme” Muhammadiyah dianggap masih setengah-setengah, masih hanya menggarap hal-hal ibadah dan belum mengarah pada hal-hal teologis (kalam). Padahal, stagnasi dan kemunduran Islam di Indonesia, punya kaitan erat dengan sifat aliran asy’ariah, mazhab teologi varian Jabbariyah. Aliran yang dikatakan cenderung bersifat fatalistik ini, dipakai hampir seluruh organisasi Islam dalam persoalan teologis, dan meminjam pernyataan Azyumardi Azra dalam bukunya Menuju Masyarakat Madani (1999), termasuk Muhammadiyah. Tak heran, jumud dan taqlid yang terjadi di Indonesia (dan yang justru ingin diberantas Muhammadiyah) adalah sebuah konsekuensi logis semata-mata. Nyatanya, Muhammadiyah juga terbentur soal hal yang sama.

Secara keseluruhan, ucapan dari Harun Nasution ini ada benarnya. Kalau tajdid Muhammadiyah hanya berkutat di bidang furu’, justru menjadikan organisasi ini sebagai organisasi yang serupa (walau tak sama) dengan organisasi lainnya. Perbedaannya tidak lagi tidak terletak pada paradigma pemikiran untuk menjawab persoalan masa depan Islam, melainkan persoalan “remeh-temeh” seperti jumlah rakaat shalat tarawih ataupun syir tidaknya lafadz basmalah dalam surat al-Fatihah. Perbedaan yang muncul justru bersifat ritual fiqh. Padahal, fiqh, bila dipandang dalam kacamata sosiologis, merupakan hal dapat yang menegaskan suatu identitas kelompok di antara kelompok lain maupun dalam ruang besar masyarakat. Bila perbedaan fiqh yang dikedepankan, maka yang terjadi justru perpecahan kelompok dan bukannya kerjasama. Perbedaan yang paling gres, jelas soal penentuan tanggal 1 Syawal 1432 H.

Apa yang terjadi di Indonesia memang sungguh kekolotan yang tak terperi apalagi perbincangan mengenai pembaharuan pemikiran Islam sudah jamak terjadi ribuan tahun lampau. Bahkan Muhammad itu sendiri adalah seorang pembaharu. Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad merupakan antitesis terhadap paradigma pemikiran yang jamak berlaku pada ruang jahiliyah Arab yang merupakan satu kontinum yang tak berbeda dengan peradaban dunia yang waktu itu dipegang oleh Romawi dan Persia.

Muhammadiyah di Indonesia, memang menjadi organisasi yang sering mendapat kritikan pedas. Pasal pertamanya adalah selain dia organisasi besar di Indonesia, organisasi ini cukup berani menempatkan tajdid dan ijtihad sebagai poros utama gerakan organisasi. Tingginya kuantifikasi amal usaha bidang pendidikan di Muhammadiyah, justru berbanding terbalik dengan kontribusi pemikirannya bagi kemajuan Islam secara komprehensif di Indonesia dan seluruh dunia. Ini merupakan hal aneh sekaligus sangat menggetirkan.

Untunglah, pasca Muktamar Seabad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu lalu, kesadaran terhadap kekosongan peran Muhammadiyah dalam percaturan dan peradaban global sudah kelihatan. Manhaj ijtihad Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, isinya pun sungguh melegakan, yaitu dengan mengambil posisi yang sekeras-kerasnya untuk kemajuan pemikiran Islam di masa mendatang. Meski demikian, untuk mengisi kekosongan itu, tampaknya Muhammadiyah harus menempuh perjalanan yang jauh lebih sulit bahkan bila dibandingkan sewaktu awal berdirinya dulu.

Dus, dalam konteks itu, bagaimana Anda melihat wajah Muhammadiyah di Sumatera Utara?  (*)

—-

foto: http://www.11692.09scb.thinkquest.nl/images/islam.jpg

2 thoughts on “Muhammadiyah (Sumut) dan Wajah Islam Indonesia

  1. Tulisannya bagus Mas…

    Tentunya wajah Muhammadiyah Sumut kita harapkan dapat bergerak dari sekedar institusi fikih menjadi sebuah madzhab perubahan yang lebih greget. Dan yang terpenting, kontribusi kita amat dituntut dalam mendorong pergerakan itu yang dimulai dari hal yang paling kecil.

    mari kita berkontribusi.😀 thanks atas kunjungannya mas qorib.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s