Perempuan dan Kekuasaan


Diam-diam Mark Antony memuja Cleopatra VII, ratu muda Mesir.  Ratu Mesir itu sungguh memesona. Dia menelusuk ke dalam gairah, menggelitik syahwat Mark Antony sehingga sejenak dia melupakan dahsyatnya imperium Romawi. Ini bukan candu negeri China. Ini eksotisme Afrika yang tak dia temui di Eropa. Marc pun, dengan zirah besi kebanggaan setiap pria Romawi, melangkahkan kaki ke hadapannya. Dia tidak hendak tunduk. Dia ingin masuk dalam permainan gairah itu, dengan harkat dirinya sebagai komandan perwira ksatria Romawi.

Cleopatra adalah lambang dari senyum paling menyejukkan. Dia tak ingin membakar sorot tajam dan langkah tegap Mark Antony. Dia mafhum, membalas pria ini dengan hasrat yang menggebu-gebu adalah perangkap yang sedang dititi dengan hati-hati oleh Mark. Cleopatra tak mau itu. Sekali lagi, dia cuma tersenyum.

Namun senyum Cleopatra dapat meruntuhkan kharisma piramida. Dialah perempuan yang duduk di titik teratas dari angkuhnya singgasana dewa-dewa. Semua pria bukan sedang mendatangi dia, tapi harus meraih, memanjat agar bisa mencium telapak kakinya yang harum.

Kekuasaan bagi Cleopatra bukanlah seperti kerasnya derap kaki para tentara. Kekuasaan dia menghujam perasaan terdalam nan gelap dari setiap pria; nafsu untuk memiliki. Kekuasaan dia begitu gemulai. Dia tak ingin memiliki kekuasaan para pria dan ini membuat pria-pria bodoh terjerat. Dia acuh, dia tak peduli, bahkan dia sama sekali tak memerhitungkan kekuasaan yang sedang digelar pria-pria itu. Dia tak beranjak menujunya seperti para hipokrit yang memenuhi balairung istana.

Kekuasaan pria adalah yang sebaliknya. Pria-pria bicara bagaimana dia merengkuh dan bertarung keras untuk menduduki tahta. Dia mengukur seberapa kental darah para lawannya, seberapa musuh telah dihajarnya, seberapa luas tanah telah bertulis namanya. Dan setelah menyilangkan kaki sejajar dengan tahta, pria mengangkat telunjuknya. Saksikanlah, pria suka sekali untuk memamerkan kekuasaannya. Bahkan, sesungguhnya itulah kekuasaan baginya; kekuasaan yang didirikan atas dasar keterpanaan yang sejatinya hidup dari rasa takut para hambanya. Niccolo Machiavelli dalam Il Principe/The Prince, bertutur, Akan lebih baik untuk menjadi dicintai dan ditakuti. Tapi karena dua jarang datang bersama-sama, orang dipaksa untuk memilih akan menemukan keamanan yang lebih besar dalam ditakuti daripada dicintai.”

Cleopatra dan Mark Antony terlibat dalam pertarungan itu. Mereka berpilin-pilin, berpagutan. Lantas lelah menghampiri, dan mereka harus terpana pada sosok satu lagi yang misterius. Mereka alpa, sosok tadi wujud hanya ketika mereka sedang bercinta., menjadi selimut persentuhan mereka. Sayang, mereka baru mafhum ketika percintaan itu telah usai. Dia tak bisa lagi ditanyai. Dia telah pergi.

* * *

Menurut pengakuan para cermin, Elizabeth Taylor merupakan sosok Cleopatra itu sendiri. Seolah-olah dia dilahirkan hanya untuk memerankan karakter Cleopatra dalam film epik hollywood Cleopatra (1963). Eksotisme Liz Taylor begitu kentara, bahkan alam imaji kita dibawa pada satu titik khayal tertentu; jangan-jangan wajah Cleopatra itu memang identik dengan wajah Liz, sang maestro yang di masanya dinilai mempunyai kecantikan paling kharismatis di seluruh dunia. Imaji itu tidak bisa dibuktikan, karena patung dan lukisan Cleopatra yang diteliti para arkeolog itu, pasti bukanlah wajah aslinya, melainkan tafsir terhadap wajah asalnya. Dia rekaan kedua, seperti juga dalam keilmuwan mengenal istilah secondary resources. Foto dan lukisan potret yang diklaim bisa memindahkan wajah aslinya dalam bentuk yang lain pun, juga meragukan. Dibutuhkan tafsir dari para fotografer dan pelukis untuk menggambarkan jiwa, hasrat dan gairah dari subjek sehingga tampilan wajah yang difoto dan dilukis itu adalah sebuah versi. Serupa tapi tak sama.

Kita tidak pernah tahu wajah sebenar dari sebenarnya. Dunia kita hanya dipenuhi selabut kabut tafsir terhadap sesuatu. Kabut itu adalah hijab (pembatas) bagi pandangan untuk menembus apa di balik sesuatu.

Beginilah. Seringkali sosok perempuan ditafsirkan dengan konteks marginal, lemah dan tak berdaya. Namun, dunia juga dihadapkan dengan fenomena rutin di mana seorang manusia bisa hidup di dalam rahim para wanita. Sembilan bulan lebih sepuluh hari, seorang manusia menjalani proses terciptanya jasadnya. Setiap perempuan akan merasakan bagaimana sperma berubah wujud berubah menjadi segumpal darah, seonggok daging dan kemudian menjadi manusia sempurna. Semua itu terjadi di dalam tubuhnya.

Cemburulah wahai para pria, karena hanya para perempuanlah yang bisa merasai dan menginterpretasi bagaimana Tuhan mencipta manusia. Maka cemburulah, makhluk terdekat kepada Tuhan, tak lain tak bukan adalah para perempuan. Bila Tuhan adalah sesuatu yang dilambangkan sebagai kekuasaan itu sendiri, maka cemburulah, karena perempuanlah yang paling tahu bagaimana cara berkuasa.

Tak ayal lagi, “jerat” perempuan bukanlah terletak pada ekspresi wajah dan halus suaranya yang bisa dengan mudah memperdaya. Dia memahami pria luar dan dalamnya, tak ubahnya ketika dia sangat mafhum bagaimana seorang pria tercipta dalam dirinya. Bukankah dia yang mencipta pria?

Sebaliknya, keangkuhan kekuasaan ada di sebalik dada pria. Pria suka sekali dengan sebutan Raja, Kaisar, Sultan hingga Presiden. Dengarlah pelan-pelan kata tersebut dan rasakan betapa maskulinnya kata-kata tersebut, betapa “perkasanya”. Curigalah kita kalau kata itu bukan dicipta perempuan, melainkan oleh pria dan kekuasaannya. Selalu saja, epik kekuasaan pria diceritakan dibalut dengan keperkasaan pertarungan. Bahkan istilah ksatria dan pengecut, adalah interaksi dua hal yang berbeda dalam sebuah pertarungan. Yang ksatria dinamakan sebagai keberanian untuk menempuh pertarungan apa pun resikonya, sementara pengecut dimaknakan sebaliknya, dia lari dari riuhnya pertarungan. Hasil dari pertarungan adalah kekuasaan dan karena pertarungan adalah wajah pria, maka kekuasaan juga adalah wajah para pria. Karena itu pula, akibat-akibat kekuasaan itu, juga adalah wajah-wajah para pria. Akibat-akibat kekuasaan adalah proses kehidupan dalam mayapada (karena hukum alam tak bisa berjalan tanpa kekuasaan) sehingga kehidupan selalu diidentikan dengan wajah para pria.

Kemudian, heranlah para pria mengapa kehidupan kemudian berwajah bengis, kasar dan begitu keras. Dan setelah itu, mereka lantas tertawa, karena ternyata yang mereka herankan adalah wajah mereka sendiri. Menangislah mereka sesudahnya, karena wajah mereka ternyata begitu menyeramkan, menakutkan dan membuat kehidupan penuh dengan peperangan, kebohongan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, eksploitasi yang kuat pada yang lemah hingga kemunafikan dan pengkhianatan.

Bila mereka tertawa miris dan menangis lirih, maka tebaklah reaksi para perempuan. Dibandingkan tawa, senyum adalah lebih baik bagi mereka. Karena mereka mafhum, kekuasaan sedang merengek kepadanya. Mudah-mudahan Ibu pertiwi mau tersenyum lagi pada kita. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s