Utang Indonesia dan Tujuan Kita Bernegara


Data Kependudukan Kementerian Dalam Negeri menyebutkan, prediksi jumlah penduduk Indonesia di akhir 2011 mencapai 250 juta jiwa.  Sementara itu, total utang pemerintah Indonesia hingga 30 Mei 2011 mencapai US$ 201,07 miliar atau setara Rp 1.716,56 triliun. Sederhananya, tiap orang Indonesia punya utang Rp 6,9 juta.

Data yang dirilis Direktorat Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI menyebutkan, per Juni 2011, jika dikonversi pada Product Domestic Bruto (PDB) Indonesia yang sebesar Rp 6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia per Juni 2011 tercatat tetap sebesar 26%.

Utang tersebut terbagi atas dua sumber, yaitu pinjaman sebesar US$ 69,03 miliar (pinjaman luar negeri US$ 68,97 miliar) dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar US$ 132,05 miliar. Berdasarkan jenis mata uang, utang sebesar US$ 201,1 miliar tersebut terbagi atas Rp 956 triliun, US$ 42,4 miliar, 2.679,5 miliar Yen dan 5,3 miliar Euro.

Utang pemerintah terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2009, jumlah utang yang dibukukan pemerintah sebesar US$ 169,22 miliar (Rp 1.590,66 triliun). Tahun 2010, jumlahnya kembali naik hingga mencapai US$ 186,50 miliar (Rp 1.676,85 triliun)

Satu yang riskan, hutang luar negeri pemerintah telah memakan porsi anggaran negara (APBN) yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok dan bunga utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Pembayaran cicilan utang sudah mengambil porsi 52% dari total penerimaan pajak.

Beban Rakyat?

Terkadang, data-data kuantitatif ekonomi yang murung dan disajikan dengan begitu “bombastis” membawa kita pada keluhan. Analoginya seperti ini: saat menerima gaji dan Anda memikirkan utang Anda, maka waktu seakan-akan berjalan begitu cepatnya. Utang membuat kita seolah-olah terus dikejar waktu. Seakan-akan pula, utang Anda itu tidak ada habis-habisnya. Kita jadi mudah stress dan mengeluh.

Apa yang terjadi di Indonesia adalah semacam keluhan itu juga. Negara sudah begitu stress dengan kondisi tak sehat yang seakan tak ada habis-habisnya. Utang-utang negara itu memang tak otomatis menjadi utang setiap orang Indonesia. Namun, cara negara untuk membayar utang itu menjadi beban bagi setiap orang Indonesia.

Salah satu cara untuk membayar utang adalah menggenjot penerimaan negara, misalnya melalui pajak, pendapatan dari sektor migas dan non migas. Terlalu jauh? Tidak juga. Progresivitas negara dalam menggenjot penerimaan pajak otomatis menjadi beban tersendiri bagi kalangan usaha. Padahal di sisi lainnya, tidak ada pula kalangan usaha yang dengan rela pendapatannya harus dipotong pajak. Namun, kalangan usaha mau tidak mau tetap membayar pajak.

Konsekuensinya adalah dua. Pertama, penggenjotan pendapatan dan penaikan harga produk. Penggenjotan pendapatan akan berdampak pada eksploitasi produksi dan tenaga kerja. Itu pun masih ada konsekuensi lain karena beban kerja yang bertambah juga akan menambah beban produksi dari segi upah. Bila ini tidak ditangani dengan baik oleh manajemen, maka akan tak sulit tersulut konflik antara kalangan usaha dengan tenaga kerja. Kenaikan harga juga menjadi akibat tersendiri yang membawa efek domino di sisi lainnya. Inflasi, kondisi ekonomi makro, tingkat daya beli masyarakat berpilin-pilin dan makin memusingkan.

Tapi hal  yang pertama itu konsekuesi yang “lurus”. Konsekuensi lain dari kondisi itu ya, seperti yang dicontohkan Gayus Tambunan; dia menjadi klik dari kalangan usaha untuk merekayasa jumlah pajak.

Dari ilustrasi sederhana di atas, beban rakyat niscaya akan terus semakin berat. Asumsinya sederhana saja; beban utang negara yang semakin banyak juga ikut menambah beban rakyat. Para pakar ekonomi kita akan tak begitu sulit untuk menemukan kaitan antara keduanya. Pada intinya, pemerintah harus bekerja keras untuk membayar utang dan hal itu akan berdampak berdampak ikutan pada kinerja seluruh sektor masyarakat. Secara teoritis begitu.

Karena itu pula, adalah keanehan ketika Anies Baswedan menyatakan dalam tulisannya, kalau dia menilai rakyat sedang bekerja keras sementara pemerintahnya justru tenang-tenang saja. Apakah yang sedang terjadi?

Secara komunikasi politik, telah terjadi miscommunication yang begitu parah antara pemerintah dan rakyatnya sendiri. Keduanya tidak dalam satu frame yang sama. Padahal, kesepahaman pengertian (common meaning) adalah syarat terjadinya proses komunikasi. Ketika itu tidak terjadi, maka antara keduanya terjadi kesenjangan komunikasi yang bisa berakibat pada putusnya komunikasi (communication breakdown) sama sekali. Sentilan Anies menunjukkan itu; bahwa telah terjadi proses “jalan sendiri-sendiri” antara pemerintah dengan rakyatnya. Bagaimana kita melihat hubungan yang telah terjadi begitu tragis ini?

Indonesia saat ini telah mengalami apa yang disebut banyak pengamat dengan formalisasi prosedural politik. Itu terjadi ketika proses penyelenggaraan negara hanya berjalan untuk memenuhi standar adanya suatu negara. Negara tidak lagi berjalan untuk mencapai tujuan berdirinya negara tersebut. Negara yang seharusnya mengikat seluruh warganya untuk mencapai tujuan tersebut, telah tak lagi dianggap oleh warganya meski para warga negara ini masih menganggap kalau mereka tetap perlu negara. Ya itu tadi, perlunya warga terhadap negara adalah sekedar menjadi jaminan status semata. Negara dengan demikian telah jatuh pada level organisasi sosial. Tak ubahnya dia seperti organisasi Serikat Tolong Menolong (STM), yang perannya baru kelihatan ketika ada peristiwa situasional seperti kemalangan, maupun aktivitas periodik seperti wirid. Hanya itu thok.

Ketika terjadi Pemilihan Umum, maka karena tarafnya yang hanya sekedar electoral democracy atau sekedar pemenuhan prosedural demokrasi tadi, maka mulai dari proses sampai pada ouput pemilu, tidak lagi dipedulikan oleh warganya. Tingkat golongan putih, apapun motifnya, terus makin tinggi. Tak hanya itu saja sebenarnya indikatornya. Kalaupun ada perampok sampai koruptor yang ikut pemilu, pilpres, pilkada sampai pilkades, warga tetap tak peduli; mereka tetap juga ikut pemilu karena sudah beranggapan ikut atau tidak ikut akan sama hasilnya. Mereka tidak lagi peduli soal track record elit politik karena etika moralitas politik telah jatuh pada titik nadir.

Utang Cita-cita

Kisruhnya lembaga-lembaga tinggi negara, kaitan politik-ekonomi yang sangat koruptif, konflik elit politik dan pejabat negara, dan seterusnya, justru menjadi cemoohan rakyat. Argumentasi untuk tidak lagi menaruh kepedulian terhadap jalannya pemerintahan telah begitu menggelembung. Situasi ini membuat kondisi deprivasi politik (ketidakpuasan) semakin menggunung, walau ekses ketidakpuasan itu saat ini masih lagi pada taraf pada ketidakpedulian. Tapi itu pun sudah dalam taraf bahaya.

Kalau ini dibandingkan dengan cita-cita mulia para founding fathers yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, maka jurang kesenjangan itu semakin jauh saja. Jangan lupa, negara ini tidak didirikan semata untuk memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa semata. Indonesia adalah tempat di mana hati, jiwa dan nyawa para pahlawan telah diberikan seutuhnya dan tanpa syarat. Karena dialah yang menjadi wadah bagi seluruh orang untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik, lebih adil, lebih maju dan untuk mencapai segala cita-cita. Indonesia adalah kendaraan untuk menentukan, mencapai dan merubah masa depan.

Apa lacur, utang Indonesia secara ekonomis terus makin tinggi. Walau jumlah utang itu belumlah seberapa dibandingkan dengan utang kita kepada pendiri negara ini, jangan lupa, kita dilahirkan bukan pula untuk membayar utang-utang ekonomi negara ini. (*)

2 thoughts on “Utang Indonesia dan Tujuan Kita Bernegara

  1. secara pribadi saya pengen seperti Iran, walau bejibun kena embargo, kok lebih tanggu dibanding indonesia, pendidikan, ekonomi, hukum, kesejahteraan sosial dan kekuatan yg disegani negara lainn

    mereka ga ngutang2 kayak negeri ini, padahal indonesia lebih kaya dan sdm, jumlah penduduk dan lain2nya lebih dari Iran

    mencontoh negara lain tak perlu gengsi juga.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s