Kekuasaan


Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah berujar, sesungguhnya nafsu terbesar manusia bukanlah mendapatkan kekayaan, seksualitas dan semacamnya, melainkan nafsu untuk menjadi Tuhan. Ketuhanan erat kaitannya dengan kekuasaan. Kekuasaan untuk melakukan sesuatu ataupun tidak melakukan sesuatu. Kekuatan untuk mencipta, meng-ada dan meniadakan, melindungi, menyiksa hingga menyayangi. Dalam kata “Tuhan” melekat erat kompleksitas kekuatan yang tak terhingga, tak bisa dihitung, diprediksi, dan terutama tak bisa digugat. Sifat mutlak menjadi hal yang wajib padanya. Dia mustahil dari sifat kelemahan, kekurangan, kealpaan dan hal-hal yang membuat dia menjadi tidak “bernilai” lagi. Karena itu, kematian dan kebergantungan adalah hal yang mustahil baginya.

Ali Shariati memandang, bahwa adalah hal ironis ketika perbincangan filsafat kemanusiaan, justru menegasikan Tuhan dalam hidup manusia. Dia menyatakan, justru adalah hal yang merugikan sekaligus mengerikan bahwa perbincangan mengenai manusia hanya pada manusia itu sendiri. Karena kemuliaan manusia justru terletak pada ditiupkannya ruh ketuhanan yang suci itu pada sosok manusia. Dan adalah hal bodoh ketika hal suci itu hendak digantikan dengan egosentrisme manusia yang nyatanya lebih banyak mengundang keburukan, kerusakan dan keterbatasan. Humanisme, menurut Ali Shariati, adalah jalan buruk bagi terciptanya kemuliaan di muka bumi ini. Menurutnya, manusia mesti menelisik lebih dalam pada fitrahnya yang suci, fitrah ketuhanan yang secara sengaja dihembuskan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s