Setelah Seabad Muhammadiyah


Suatu saat, di tahun 1922, hutang organisasi Muhammadiyah mencapai 400 gulden. KH Ahmad Dahlan merenung-renung dan terdiam cukup lama. Sudah hampir setahun kondisi itu berlangsung. Belanja mantri guru di madrasah Muhammadiyah memang tidak begitu besar hanya sekitar 75 gulden. Namun, permintaan subsidi untuk para guru-guru itu belum berhasil. Muhammadiyah terpaksa berhutang kepada guru-guru itu. KH Ahmad Dahlan kemudian berdiri dan mengumpulkan santri-santrinya.

“Buatlah pelelangan.”

“Apa yang akan kita jual, Kyai?”

“Umumkan kalau aku akan melelang seluruh hartaku.”

Santrinya terdiam dan tak bisa membantah. Diadakanlah kemudian pelelangan barang-barang kepunyaan KH Ahmad Dahlan. Dia menyuruh kawan-kawan pengurus Muhammadiyah untuk mendaftar alat rumah tangganya, dari barang yang kecil-kecil rumah tangga, meja kursi, bangku, kaca tembok, jam tembok, kapstok dan lain-lain.

Pakaian Ahmad Dahlan pun tak luput didaftarkan, mulai dari terompah Karsanah, kain sarung palekat, baju-baju dalam dan jas-jas pakaian haris Ghamish, jubah dan surban-surban. Terkecuali satu surban, satu jas, dua baju dalam dan dua sarung lama. Sahlah sudah, Ahmad Dahlan “menelanjangkan” diri dan hartanya di daftar-daftar itu. “Hasilnya nanti sisakan sebesar 60 gulden, itu untukku dan membayar hutang-hutangku,” kata dia.

Setelah kesemua itu didaftar, ditaksir-taksir harga keseluruhan barang itu hanya 400 gulden saja. Cukuplah itu dirasa untuk membayar hutang-hutang Muhammadiyah. Masyarakat pun diundang. Ternyata, hasil lelang di luar dugaan. Sistem lelang membuat keseluruhan harga terjual di luar harga dasar. Akhirnya terkumpullah dana hingga 4.000 gulden. Ahmad Dahlan lantas menepati janjinya. Dia hanya mengambil sebesar 60 gulden saja, sementara sisanya diberikan seluruhnya kepada Muhammadiyah.

Kisah itu disadur dari catatan rinci Haji Muhammad Syoedja’ (1882-1962), Ketua Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) Muhammadiyah yang pertama dalam buku “Cerita Tentang Kiyai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Syoedja’”.

Buku itu tak tebal dan ditulis dengan bahasa yang sederhana. Namun, kesederhanaan tulisan dan kesederhanaan yang diceritakan di dalamnya sungguh tak sederhana lagi. Di dalamnya, tergambarlah kecintaan yang tulus dari Muhammad Syoedja’ kepada gurunya itu. Di dalamnya, Sjoedja’ mematrikan kecintaan yang tanpa pamrih dari Ahmad Dahlan kepada organisasi yang dibikinnya itu. Dalam uraian-uraian itu pula terpampang jelas, kalau pendirian Muhammadiyah keluar dari kegelisahan Ahmad Dahlan melihat kondisi umat Islam waktu itu. Betapa Ahmad Dahlan mencurahkan tak sekedar akal, tenaga dan hartanya saja, tapi juga seluruh hidupnya kepada Muhammadiyah, kepada Islam yang diyakininya dapat membawa seluruh manusia kepada arah yang lebih baik, lebih maju, lebih modern, lebih dinamis.

Buku itu ditutup dengan wasiat Ahmad Dahlan yang begitu sederhana kepada KH Ibrahim, Ketua Muhammadiyah yang kedua. Saya akan mengutip langsung dari buku yang disalin ulang oleh dr. H. Mu’tasimbilah al-Ghozi, cucunya Haji Muhammad Syoedja’.

“Him,” kata KH A. Dahlan sewaktu masih dapat bicara dengan tenang dan tenteram, “Agama Islam itu kami misalkan laksana gayung yang sudah rusak pegangannya dan rusak pula kalengnya sudah sama bocor dimakan karat, sehingga tidak dapat digunakan pula sebagai gayung. Oleh karena kita umat Islam perlu akan menggunakan gayung tersebut, tetapi tidak dapat karena gayung itu sudah sangat rusaknya. Sedang kami tidak mempunyai alat untuk memperbaikinya, tetapi tetangga dan kawan di sekitarku itu hanya yang memegang dan mempunyai alat itu, tetapi mereka juga tidak mengetahui dan tidak digunakan untuk memperbaiki gayung yang kami butuhkan itu. Maka perlulah kami mesti berani meminjam untuk memperbaikinya. Siapakah tetangga dan kawan-kawan yang ada di sekitar kami itu? Ialah mereka kaum cerdik pandai dan mereka orang-orang terpelajar yang mereka itu tidak memahami Agama Islam. Padahal mereka itu pada dasarnya merasa dan mengakui bahwa pribadinya itu muslim juga. Karena banyak mereka itu memang daripada keturunan kaum muslimin, malah ada yang keturunan Pengulu dan Kiyai yang terkemuka. Tetapi karena mereka melihat keadaan umat Islam pada umumnya dalam keadaan krisis dalam segala-galanya, mereka tidak ingin menjadi umat yang bobrok.

Oleh karena itu, dekatilah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya sehingga mereka mengenal kita dan kita mengenal mereka. Sehingga perkenalan kita bertimbal balik, sama-sama memberi dan sama-sama menerima.

* * *

Hari Jum’at, malam Sabtu, tanggal 7 Rajab Tahun 1344 Hijriyah, hampir tengah malam, KH Ahmad Dahlan, wafat. Beliau diantar oleh iring-iringan yang dikawal Hizbul Wathan (pramuka-nya Muhammadiyah) ke  makamnya di Karangkajen, Jalan Grejen (sekarang jl KH Ahmad Dahlan), Ngabean, Yogyakarta.

Kini, umur Muhammadiyah, telah seratus tahun. Sesuai recht person pemerintah Hindia Belanda tanggal 18 November 1912 Miladiyah, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah tahun 1330 Hijriyah, Muhammadiyah telah melewati masa-masa kritis, mulai dari penjajahan Belanda, kerajaan keraton Yogyakarta, perjuangan fisik sebelum 1945 dan pasca 1945, pemerintahan Soekarno, pemerintahan Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Soesilo Bambang Yudhoyono.

Mengapa kritis? Karena dengan perbedaan model-model kekuasaan tempat Muhammadiyah bermukim, paling tidak, perkembangan organisasi Muhammadiyah turut terimbas pengaruh dan dampaknya. Model-model kepemimpinan selalu berbeda-beda, mulai dari kyai kharismatis hingga dipegang oleh kaum intelektual kampus.

Muhammadiyah di zaman Soeharto menerapkan sekaligus dua model sifat organisasi. Pertama yaitu model “taqiyah” ala KH AR Fakhrudin, dan langsung berubah drastis menjadi sangat progresif di zaman Prof Amien Rais.

Model taqiyah mengimplisitkan gerakan yang tak menginginkan perbenturan langsung dengan kekuasaan namun lebih pada perkuatan jaringan internal dan aqidah ikatan. Bila Soeharto dijuluki “The Smiling General”, maka Muhammadiyah pun boleh jadi menjelma bak “the Smiling Organization”. Muhammadiyah tidak melarutkan diri dalam kekuasaan namun tidak pernah pula diwartakan sebagai organisasi penjilat dan menjadi penyokong kekuasaan, dan tidak pernah pula dicatatkan sebagai musuh rezim Soeharto. Muhammadiyah bak “negara dalam negara”.

Pekerjaan AR Fakhrudin waktu itu jelas masuk dalam kategori “maha sulit”, yaitu bagaimana ia menyeimbangkan konsistensi gerakan Islam Muhammadiyah dengan kerasnya kuku pemerintahan Soeharto terhadap organisasi dan kelompok-kelompok Islam waktu itu. AR Fakhrudin, ketua Muhammadiyah nan rendah hati itu, yang kemana-mana hanya mengendarai sepeda motor keluaran tahun 1960-an dan berjualan BBM eceran di depan rumahnya, ternyata tak membuat Soeharto harus mengarahkan moncong senjatanya ke depan organisasi dan anak-anaknya ini. Soeharto dapat dengan gampang mengubah senyum manisnya menjadi senyum sinis kepada organisasi gerakan Islam lain, tapi Soeharto tak pernah bisa memetamorfosa senyumannya itu kepada Muhammadiyah. Bila KH Ahmad Dahlan dulu berhasil melakukannya pada dua sistem sekaligus: kolonial Belanda dan keraton, dan Ahmad Dahlan-Azhar Basyir berhasil melakukannya pada kuku-kuku besi pemerintahan Soeharto.

Namun, dari rahim kepemimpinan model itu pula, lahirlah intelektual-intelektual muslim Muhammadiyah yang kemudian membawa Muhammadiyah dalam perbenturan secara langsung kepada kekuasaan “fir’aun”-nya Soeharto. Muhammadiyah di zaman AR Fakhrudin dan Azhar Basyir ibarat bayi Nabi Musa yang dihanyutkan ke langsung-langsung jantung pemerintahan Seperti juga Soeharto, Fir’aun sendiri juga sadar sebenar-benarnya, bahwa bayi itulah yang nanti akan menghancurkannya, namun dia tidak bisa berkata dan berbuat apa-apa.

Amien Rais dan serangkaian kawan-kawannya -mudah-mudahan ini tak berlebihan- diandaikan bak Musa. Merekalah kemudian menjadi pihak paling pertama dan utama dalam menelurkan konsep “suksesi”: pergantian kepemimpinan nasional. Itu adalah suatu hal yang “mustahil” dan menjadi ejekan segala pihak yang selama ini telah terjajah pikiran dan mentalnya. Di saat seluruh orang tunduk dan patuh serta terjajah mental dan pikiran akan “kekuatan Soeharto”, justru posisi Muhammadiyah ada di seberang. Posisi back organisasi itu punya dua mata pisau; menguntungkan sekaligus merugikan. Menguntungkan bila perlawanan punya hasil yang positif dan akan merugikan bila perlawanan terhadap Soeharto justru berbanding terbalik.

Namun pekerjaan besar reformasi 1998 itu belum selesai. Tiga belas tahun lebih sudah, orang pun telah di-set untuk melupakan peristiwa itu dan kemudian melalui gerakan sistematis, kata-kata “reformasi” itu sendiri telah menjadi barang haram kembali dan dianggap sebagai sebuah romantisme masa lalu. Orang-orang telah dijajah kembali pemikiran dan mentalnya, menjadi mental para budak dan kuli yang tak bisa berbuat apa-apa untuk perubahan negeri ini. Orang-orang menjadi lemah dan ironisnya, merasa pula tak sedang dijajah oleh buruknya mentalitas negeri ini. Kepala dan tengkuknya sudah dipegang dan dipenyet-penyet bak seekor kucing. Orang-orang mulai “realistis” kalau reformasi mustahil menang. Orang-orang masa kini lebih punya ukuran “yang kuat yang menang”, bukannya “yang benar yang menang.” Persis betul seperti di zaman Soeharto.

Muhammadiyah yang sebelumnya menjadi organisasi Islam terdepan dalam mengumandangkan reformasi, justru hanyut dalam kelalaian-kelalaian yang tragis. Konflik internal dan mental orde baru rupanya masih kuat berakar. Aneh sangat aneh, bila hal itu dihubungkan dengan track record kader Muhammadiyah sejak didirikan sebelum Indonesia merdeka lampau justru anti kemapanan dan perlawanan terhadap penjajahan dan kebodohan. KH Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo dan seterusnya hingga ke Amien Rais, memperlihatkan hal itu.

Ironis memang. Padahal, lima kali dalam setiap harinya orang-orang Muhammadiyah itu dipanggil-panggil untuk “mari menuju kemenangan”. Tentulah, panggilan itu bukan ditujukan untuk melanggengkan kekuasaan yang sudah ingkar terhadap kebenaran, yang sudah mengkhianati mata hati reformasi.

Seratus tahun Muhammadiyah, organisasi ini ada di persimpangan jalan. Sebenarnya tak perlu bingung, karena persimpangan itu hanya terbelah menjadi dua arah, bukan tiga, empat atau lima arah. Ikut arus dan kembali ke zaman rezim Orde Baru yang bau busuk kekuasaannya sangat menyengat, ataukah meneruskan cita-cita reformasi dan “tajdid” yang telah dirintis dengan sangat hati-hati dan penuh kesungguhan oleh KH Ahmad Dahlan .

Bila Ahmad Dahlan mampu mendirikan Muhammadiyah dalam lingkup kolonialisasi Belanda dan keraton, dan AR Fakhrudin-Azhar Basyir dalam bingkai otoritarianisme Soeharto, maka PR besar Muhammadiyah ada di tengah-tengah himpitan ruang besar bernama “korporatokrasi asing”, dengan tangan-tangannya yang bak gurita di selama kepemimpinan sepuluh tahun “reformasi”. Sesungguhnya kepemimpinan gaya “Fir’aun” di zaman Soeharto telah pula ter-reinkarnasi dalam model-model kepemimpinan “Mu’awiyah”, yang diberitakan sejarah penuh kelicikan, tak ragu memelintir kebenaran dan bahkan membunuhi keluarga-keluarga Muhammad. Tidak hanya itu, pentas peradaban abad millenium yang sama sekali tak menguntungkan Islam, adalah prioritas utama yang harus dipecahkan tidak dengan meributkan hal seperti “berapa raka’at seseorang shalat tarawih”. Pentas lokal dan domestik, seperti praktik korupsi yang menggurita adalah ekses negatif dari absennya kaum ulama yang benar-benar ulama dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Maka adalah hal yang betul-betul aneh dan mengerikan bila dalam kondisi seperti ini, wacana sekulerisme dalam kenegaraan justru mendapatkan tempat di Indonesia. Itu sangat-sangat mengerikan.

Dus, bila Ahmad Dahlan mau “menelanjangi” dirinya hingga surban dan ghamisnya pun dilelang untuk kepentingan Muhammadiyah, maka sudah sepantasnya warga Muhammadiyah merasa malu jika tidak mau dan mampu mengapresiasi tindakan almarhum AR Fakhruddin yang berani hanya berjualan bensin eceran di masa yang semakin konsumtif, hedon dan materialistis ini. Kesederhanaan, kerja keras, semangat berbagi dan persaudaraan justru semakin redup dan hilang.

Fastabiq al-Khairat, ya Muhammadiyah! (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s