Indonesia, Tempat Berlindung di Hari Tua?


INDONESIA TANAH PUSAKA

 

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap dipuja puja bangsa

 

Di sana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Tempat akhir menutup mata

 

(Ismail Marzuki)

 

Lagu itu begitu pelan, lembut dan bikin merinding. Diciptakan seorang seniman yang dulu di sekelilingnya terlibat panasnya pertempuran, dentuman senjata, hujan bom, teriakan kesakitan, peluh, darah dan air mata. Namun, masa itu sudah lewat berpuluh-puluh tahun silam. Para pahlawan kita sudah mati, jasadnya melebur dengan tanah dan nisannya pun berdebu, dia akan bersih kalau memori orang yang melewatinya ingat pada sosok yang ditanam di bawahnya. Mereka sudah mati.

Nasionalisme adalah sebuah omong kosong bagi kekuasaan. Cinta kepada tanah dan bangsa hanyalah cerita-cerita drama, yang di atas panggungnya terpampang tontonan yang membuat jantung berdetak kecang, nafas memburu. Namun, panggung tetaplah panggung. Sebuah pertunjukan akan ada endingnya, layar ditutup, penonton pun pulang. Yang paling realistis dari hampir seluruh konsep kekuasaan adalah L’etat c’est moi, negara adalah aku. Kekuasaan adalah aku, akulah pemiliknya semua-muanya dan kepada akulah semua yang ada di luar aku menurut-nurut, membungkuk-bungkuk, menjatuhkan dahinya di ujung jempok kakiku. Kekuasaan adalah aku.

Kekuasaan adalah satu, tidak pernah dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, hingga sembilan. Aku adalah negara, aku adalah peraturan, aku adalah hukum. Kubiarkan kalian mendirikan panggung legislatif, toh aku juga yang menyutradarainya. Kubiarkan kalian mempermak bilik yudikatif, toh aku juga yang menjadi pemutus akhir. Kubebaskan kalian untuk menulis apapun di koran-koran, toh aku juga yang membelinya. Aku adalah negara, dan negara adalah aku. Karena akulah kalian hidup, karena akulah kalian bisa mengais-ngais roti untuk perutmu itu.

Aku tak peduli kehidupan kalian, karena bagi aku, hidup kalian bak remah-remah nasi yang akan ditelan kucing. Ini soal siapa yang kuat, siapa yang lemah: akulah yang kuat dan kalianlah yang lemah. Sudah hukum alam, yang lemah menjadi makanan yang kuat. Aku adalah penguasa yang duduk di posisi paling atas dari rantai makanan. Saling memakanlah kalian, karena nantinya kalian-kalianlah yang berbaris kaku di usus-ususku.

Aku adalah kekuasaan.

* * *

 

Indonesia adalah sebuah ruang yang menangis keras laksana bayi pada 17 Agustus 1945 silam. Sebelumnya, Indonesia itu tidak ada. Dia entah di mana, entah dimasukkan dalam saku Tuhan yang di sebelah mana. Dia cuma gentayangan dalam harapan-harapan pejuang yang tak mau ditindas, tak mau hidup dalam perintah dan kungkungan orang lain. Dia adalah bara yang terus menyala-nyala dalam darah-darah orang yang dijajah. Karena, hanya orang yang dijajahlah yang paling tahu bagaimana rasanya merdeka itu. Kalau dia tidak pernah merasa terjajah, maka matilah sudah hasratnya untuk merdeka.

Indonesia lahir dari kondisi dan pahitnya rasa penjajahan itu. 66 tahun sudah. Itu usia yang bila disematkan di umur manusia, ada dalam keadaan renta dan sebentar lagi hendak bangka.

Maka yang membuat ibu pertiwi menangis itu adalah, selama 66 tahun itu ternyata anak-anaknya mesti mengantri minyak tanah dan mengharapkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang hanya seratus ribu itu. Harga beras  dan bahan bakar terus meninggi, air bersih mesti dibeli dan bahkan putra pribumi yang lahir di tanah ini harus menyewa rumah di tempat kelahirannya sendiri. Deretkan lagi peristiwa mulai pasca tahun 1945, kala Republik masih dikomandoi Soekarno dan jangan lupakan rentetan mimpi buruk di masa Orde Baru. Reformasi 1998 menyuratkan harapan, namun ia laksana petir di kala mendung; benderang sesaat, kemudian gelap kembali. Kita masihlah hidup di zaman kegelapan. Gelap sekali.

Jembatan panjang Suramadu Madura membentang namun nun di Aek Latong, Tapanuli Selatan, korban berjatuhan di jalanan beraspal tanah. Ya, di tahun 2011 ini, kala Amerika telah buang air di bulan, jalanan kita masih dari tanah. Seolah-olah Sumatera Utara tak tercantum dalam peta. Di sini, kita bukanlah mengkonsumsi beras setiap hari melainkan memamah ketidakadilan dan kebodohan setiap saat. Itu gelap. Sebuah partai politik beriklan anti korupsi dan bersih, dan keesokan harinya elit parpol tersebut telah disangkakan koruptor. Itu juga gelap. Kita umumkan pendidikan kita punya standar tinggi, namun esoknya para orang tua mengadu kalau anaknya telah disuruh curang dalam ujian. Itu makin gelap. Kita sangka ada pasukan pemberantas korupsi, eh, malah si pemberantas tadi telah duduk bersama dengan para koruptor. Bukankah itu gelap?

66 tahun itu, Indonesia tak ke mana-mana, tak ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, ke depan, atau malah ke belakang. Indonesia terjebak dalam kungkungan kaum-kaum kolonial baru, yang berwajah “Indo” dan punya senyum “Nesia”. Dunia berwatak liberal, kita ikut-ikutan neo-liberal. Undang-undang mewajibkan pejabat berpidato dalam bahasa Indonesia, eh, mereka latah bercas-cis-cus in english. Kita berjanji dagang bebas dengan China, seolah-olah kita alpa kalau Amerika Serikat pun harus memproteksi perdagangan negaranya dengan China. Kita ingin menjadi negara besar, tapi ketika nelayan dan aparatur kita ditodong senjata di Selat Malaka, kita bungkam. Kita miris ketika banyak duit kita baik yang dingin maupun yang panas, disimpan di Singapura, tapi kita juga suka berlibur, berbelanja dan pesiar di sana sehingga tercatatlah wisatawan Indonesia di antara yang paling besar masuk ke sebuah negeri yang bertambah luas karena pasir-pasir Indonesia itu. Kita sebut negara kita bersila Ketuhanan yang Maha Esa, negara yang beragama, namun perempuan kita dipenggal dan diperkosa di Arab Saudi sana. Tambahkanlah deretan itu kalau kau suka.

Kaum-kaum kolonial baru, yang berwajah “Indo” dan punya senyum “Nesia” itu, dalam alam pikirannya, berbaris-baris plot kolonialisasi pada bangsanya sendiri, seperti pikiran busuk dari seorang tuan tanah dan lintah darat. Dulu, Indonesia itu ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memajukan kesejahteraan umum. Sekarang, mereka yang mengemis rimah-rimah nasi telah terbujur kaku di atas permukaan tanah milik mereka, yang di bawahnya mengalir deras sungai-sungai minyak, gas, emas, batubara, intan dan berlian. Mereka mati di lumbung padi. Mereka mati di sebuah negeri yang tak ubahnya bak lukisan surga: “Mengalir sungai-sungai di bawahnya…”

Ibu Pertiwi telah diperkosa oleh anak-anaknya sendiri, yang dulu diajarkannya bait-bait Pancasila dan nasionalisme. Ibu yang cantik jelita, berparas rupawan, bertubuh molek nan bergairah, telah membuat anak-anaknya lupa daratan dan menganggapnya sebagai seorang gadis yang harus digarap dan digilir dalam buasnya hasrat seksual kekuasaan. Ibu pertiwi tak bisa berkata, karena mulutnya telah disumpal oleh mereka yang gila kuasa.

Dan ketika anak-anaknya itu mati, tontonan mengiris bukannya berhenti. Mereka-mereka itu ingin diselimutkan sang saka merah putih dan diturunkan dalam kawalan letusan-letusan salto. Innalillah …

Dan di sana, di alam yang tak pernah dilihat mata itu, mereka berkata: “Ampunilah kami. Kami telah khilaf, Tuhan. Bukankah Engkau Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun…”  (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s