Kepala Desa di Tapanuli Utara Jual Bantuan Pemerintah


Gempa di kawasan Tapanuli Utara membuka borok-borok penyaluran bantuan pemerintah ke daerah-daerah. Misalnya di Desa Sibulan-bulan, Kecamatan Purba Tua, Tapanuli Utara. Masyarakat yang sedang tertimpa musibah gempa itu mengeluhkan tarif yang dikenakan oleh aparatur pemerintahan setempat terhadap bantuan-bantuan dari pemerintah. Misalnya bantuan kelambu yang sejatinya gratis, harus ditebus dengan harga Rp 10.000. Sedangkan bantuan tabung dan kompor gas Elpiji yang sejatinya gratis malah dikenakan harga Rp 60.000. Sementara bantuan pupuk dari pemerintah harus ditebus dengan harga Rp 125.000. Padahal, harga sebenar dari subsidi pupuk itu hanya Rp 85.000. Artinya, masyarakat harus mengeluarkan dana tambahan sebesar Rp 40.000.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Sibulan-bulan, Pangeran Siregar, mengeluhkan manipulasi yang dilakukan aparatur pemerintahan setempat ini. “Praktek itu sudah berlangsung dua tahun ini. Misalnya di kasus pupuk itu, mereka memakai tengkulak sehingga kami harus membayar kepada tengkulak-tengkulak itu kalau mengambil bantuan pupuk dari pemerintah itu,” kata Pangeran kepada wartawan pada Senin (20/6) di Sibulan-bulan, Purba Tua, Taput.

Pangeran pantas geram. Pasalnya, di desa mereka dan desa-desa lain di kecamatan Purba Tua, sudah berdiri banyak kelompok tani. “Mengapa mesti memakai tengkulak padahal sudah ada kelompok tani. Salurkan saja bantuan itu langsung kepada yang bersangkutan,” tegas Pangeran.

Menurut Pangeran, manipulasi itu sangat memberatkan masyarakat. Alhasil, banyak yang tidak mengambil bantuan itu karena mereka tahu kalau bantuan pemerintah itu digratiskan. Mereka pun sudah menanyakan itu kepada aparatur pemerintahan setempat. “Tapi jawaban Pak Kades, duit itu untuk ongkosnya. Mana kami percaya,” tegas dia lagi. Karena bantuan itu tidak diambil-ambil oleh masyarakat, mereka pun menduga kalau bantuan itu telah dijual oleh oknum aparatur pemerintahan setempat.

Pangeran mengharapkan bantuan pemerintah yang lain agar lebih mudah terarah langsung kepada masyarakat dan tidak memakai “agen mafia bantuan”, sehingga kesejahteraan rakyat dapat meningkat. “Saat ini masyarakat Sibulan-bulan membutuhkan bantuan permodalan untuk membuka lahan perkebunan karena melalui model Perkebunan Inti Rakyat (PIR),” kata dia.

Di Sibulan-bulan sendiri, saat ini kurang lebih ada 100 KK dan setiap satu KK akan mengolah lahan satu hektar. “Kami membutuhkan bantuan pemerintah untuk membuat perkebunan karet rakyat. Biasanya kalau pola PIR, maka seperempat hasil penjualan akan dipotong untuk membayar kredit dari pemerintah. Masalahnya, kredit dari pemerintah itu yang kami butuhkan saat ini. Tapi jangan pula nanti kalau ada bantuan, tidak sampai lagi kepada kami dan kami pun harus membayar untuk bantuan itu. Tolonglah itu diberitahukan kepada pemerintah yang berwenang,” harap Pangeran. Menurut Pangeran, mereka lebih memilih tanaman karet karena lebih ekonomis dan ramah lingkungan, karena karena tidak menghisap air tanah. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s