Bingkai Indonesia itu Pancasila?


Tetep dari komen di nbasis … selamat menikmati :

Hahaha … Saya pikir Anda ingin menyudahi diskusi ini. Tapi kemudian Anda tampaknya mesti bersusah susah mencari tahu soal saya, mulai dari panjaitan, tuan dibangarna, siagian silitonga, dan seterusnya. Informasi soal itu memang mudah didapatkan sama mbah google, termasuk yang dalihan na tolu itu. Mungkin Anda merasa sudah mengetahui soal mendalam dengan membaca itu. Tak apa-apa, itu cukup bagus untuk memperluas wawasan Anda. Lebih banyak lagi membaca, pahami dan dalami substansi dalhan na tolu itu. Tak cukup dengan diskusi semata. Bila di lingkungan Anda ada orang Batak, datangi saja, rasakan sendiri soal Dalihan na Tolu itu. Karena dengan begitu, Anda tidak sulit untuk memahami bagaimana rakyat Sumatera Utara menyelesaikan pembunuhan Azis Angkat itu secara adat tanpa pertumparan darah sama sekali. Karena itu, Anda pun mulai bisa menyadari bahwa kekeluargaan masih cukup kental walau agama berbeda-beda di suku Batak. Orang Batak sudah memahami dan menjalani itu, sebelum Soekarno bisa mengeja huruf-huruf Pancasila. Karena itu, pertanyaan Anda soal maukah kabupaten Toba Samosir, Taput dan seterusnya bergabung dengan Indonesia yang berdasar Islam? Ah, itulah sebabnya saya menyarankan Anda memperdalam soal suku bangsa Batak lagi.

Soal Yogyakarta, bukan saya pertama kali menyulut itu, melainkan saya menjawab argumen Anda soal Yogyakarta. Saya tak pernah menghindar dalam mengajukan argumen. Soal yang lain-lain itu, seperti foto, sorban, gelar, tidak ada lagi yang perlu saya jelaskan, karena yang terjadi nantinya hanya perulangan saja. Tentu saja, argumen yang saya ajukan untuk mendukung pendapat saya. Kalau itu saya ajukan untuk mendukung Anda, malah jadi aneh. Kalau Anda memang malas membaca buku, tanya sama mbah google juga tak apa-apa. Misalnya soal Serikat Islam. Nama Islam Sisingamaraja? Bah, saya Islam dan nama saya nirwan. Baru Anda yang bertanya soal nama Islam kepada pemeluk Islam. Saya membayangkan kalau pertanyaan itu Anda ajukan kepada Soesilo Bambang Yudhoyono; “Nama Islam Bapak siapa ya?” Kayaknya Anda terpengaruh dengan dogma nama baptis dalam Kristen.

Tentu cerita Anda soal Aceh tidak cukup meyakinkan karena saya sendiri sudah pernah di sana, shalat di mesjid di Aceh sana. Siapakah sekarang yang berpendapat hanya berdasar pada asumsi pada sumber kedua (atau malah ketiga)? Atau mungkin Anda terlalu jauh posisinya dari Aceh sehingga Anda kelihatan enggan untuk mendatangi Aceh dan berteriak soal jumlah orang di dalam mesjid Aceh ketika hari Jumat dengan hanya berdasar pada teman-teman Anda? Aneh itu.

Kemunafikan itu tanpaknya lebih pantas Anda sematkan pada mereka-mereka yang dididik dan menjadi guru dalam Penataran P4 sekarang, mulai dari tingkat Presiden sampai kepala lingkungan, di legislatifnya dan Yudikatifnya. Jangan lupa juga di kalangan tentara dan polisi yang doktrin utamanya adalah Pancasila. Harusnya Anda mengatakan Pancasila dan pengikutnya itu yang telah menjadi munafik sejak Indonesia merdeka hingga tahun 2011 sekarang, atau selama Pancasila ini menjadi dasar negara.

Saya harus ingatkan Anda kembali kalau Soekarno itu Bapak Pancasila. Dan Anda kemudian memberikan justifikasi kepada kediktatorannya, tak perduli apa pun alasannya. Dan Anda menyebut kalau Bung Hatta mundur bukan karena Pancasila, tapi karena kepribadian Soekarno yang tidak sejalan. Saya malah ingin bertanya: kalau begitu apakah kepribadian Soekarno itu? Bukan Pancasila? Kalau memang Hatta menganggap segala tindak-tanduk Soekarno adalah Pancasilais sejati, mengapa pula dia harus mundur? Bukankah menurut Anda, Pancasila itu mahabaik? Ataukah malah Hatta yang dianggap tidak lagi Pancasilais?

Anda bilang pemberontakan PRRI/Permesta bukan karena Pancasila tapi karena komunis dan masalah pembagian porsi ekonomi daerah dan pusat. Mengapa itu bisa terjadi di kala Indonesia dipimpin oleh seorang Presiden yang dari tangannya sendirilah lahir Pancasila itu? Kemana sila Persatuan Indonesia, kemana pula sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia itu? Ke mana Pancasila itu? Apakah bisa dibedakan antara Soekarno dan Pancasila?

Oh, mungkin Anda berpandangan kalau itu hanya kelakuan Soekarno? Aneh bukan? Anda menyebut kalau saya nantinya berpandangan kalau Islam tidak diterapkan dengan sempurna, maka itu salah oknumnya bukan sistemnya. Ini kalimat Anda; “Tebakan saya, anda sebagai orang yang mengagung-agungkan Islam sebagai sistim yang sempurna, anda hanya akan mengkritisi dan menyalahkan OKNUMNYA bukan SISTIMNYA (dalam hal ini ISLAM). Bila demikian mengapa anda tidak bersikap demikian juga dengan pelaksanaan Pancasila??? bertindak adillah … ”

Tampaknya sayalah yang mesti membalikkan kalimat yang bernada ejekan ini untuk Anda jawab sendiri. Begitu besar perbedaan antara Pancasila dan Islam. Soekarno adalah pencipta Pancasila, dengan demikian, posisi itu membuat dia adalah identik dengan Pancasila, sehingga tak ada sebiji zarahpun kelakuan dan tindakan dia yang bertentangan dengan Pancasila. Tak mungkin dia menyuruh orang lain bersikap Pancasilais, sementara dia sendiri sebagai penciptanya tak melakukannya. Bisakah kita berpendapat kalau Soekarno sendiri sebagai pencipta Pancasila, telah bersikap munafik paling nyata dari mereka yang menganut Pancasila?

Mengapa Anda menutup diri dari kemungkinan ini? Bila Pancasila sebagai dasar negara dijalankan dengan amanah oleh si pembuat Pancasila itu, maka seharusnya tidak pernah ada pemberontakan PRRI/Permesta dan seterusnya. Anda terlalu memandang persoalan hanya dikulitnya saja, tapi tidak melongok ke dalam, ke substansi masalah Indonesia ini.

Islam bukanlah buatan manusia atau Muhammad SAW. Dia bikinan Tuhan, Allah SWT, sehingga kesempurnaan ada pada dirinya. Tuhan, menurut yang saya pahami, mustahil berbuat tidak adil terhadap ciptaan apalagi terhadap dirinya. Karena itu, gugatan terhadap tidak terlaksananya Islam sebagai rahmatan lil alamin, tidaklah tepat ditujukan kepada Tuhan, melainkan kepada manusia sebagai khalifah atau penggantinya di dunia ini, yang memberikan pendapatnya kepada Islam. Apakah Anda berpikir, bila Islam dijadikan dasar negara, maka ulama menjadi kebal hukum? Jauhkan pikiran itu dari benak kita. Bila ulama itu korup, maka dialah yang lebih dahulu dibasmi.

Islam adalah subjektivitas saya, dan Islam yang saya pahami memerintahkan saya untuk bersikap objektif. Apakah Anda berpikir, Islam akan berlaku tidak adil kepada umatnya sendiri dan mereka yang beragama lain. Berapa kali mesti saya tegaskan, kalau Islamlah yang memerintahkan umatnya untuk bertindak adil. “Janganlah karena kebencianmu kepada suatu kaum, membuatmu bersikap tidak adil.” Itu doktrin Islam yang saya terima dan itu juga yang saya teguhkan dan jalankan. Muhammad pernah memenangkan seorang Yahudi yang berperkara dengan sepupunya sendiri, yang nantinya menjadi salah satu khalifah, Ali ibn Abi Thalib. Yahudi itu dimenangkan dalam kerangka hukum Islam yang berlandaskan keadilan kepada siapapun. Islam adalah keadilan dan karena itu sampai kapanpun dia akan menuntut keadilan dan memperjuangkan keadilan kepada siapapun. Bila ada orang Islam yang bersikap tidak adil, maka sudah pastilah dia melanggar hukum Islam. Tidak ada jawaban lain; hukuman dan dosa untuk dia.

Hal ini yang membedakannya dengan Soekarno dan Pancasila. Fakta sejarah dan konteks kekinian, memperlihatkan kemunafikan yang paling nyata antara seorang manusia bernama Soekarno dan Pancasilanya. Bila seorang pembuatnya saja telah mampu untuk bertindak adil terhadap Pancasila, konon pula mereka yang tidak membuatnya? Itulah yang terjadi di Indonesia pasca kemerdekaan. Kemunafikan telah menjadi sendi paling dasar dari negeri ini. Itu karena sendi itu sendiri mempunyai kelemahan substansi dan formalistik. Pancasila sakti? Saya malas membicarakan barang bikinan Soeharto itu.

Anda menggugat tafsir Islam akan membuat yang lain menjadi sesat karena agama sering dijadikan legitimasi absolut untuk bertindak sewenang-wenang kepada yang lain. Mengapa pertanyaan itu tidak juga Anda ajukan kepada Pancasila yang membuat sosialisme, marxisme menjadi terlarang di negara ini? Sedangkan di Inggris dan Australia saja yang berlandaskan pada kapitalisme, mereka masih menganggap kalau Partai Sosial Demokratik dan Partai Buruh yang berlandaskan pada sosialisme masih dibolehkan ikut pemilu. Apakah yang terjadi pada Pancasila ini? Kasus Ahmadiyah yang seperti ini hanya terjadi di Indonesia bukan? Di negara yang berlandaskan pada Pancasila bukan?

Juga, mengapa Anda tidak mengkritik perilaku Amerika yang atas nama demokrasi membunuhi orang Afghanistan, Irak, Somalia, Vietnam dan seterusnya. Mengapa Anda menyembunyikan fakta kalau jutaan orang yang dituduh PKI dibunuh oleh Soeharto atas nama Pancasila? Kemudian litsus dan petrus, penjara tanpa peradilan atas nama Pancasila? Sedang Amerika yang berlawanan langsung dengan komunisme soviet saja tak melakukan pembunuhan massal terhadap pengikut sosialisme dan komunisme. Dan kemudian, Anda pun memaklumi jalan diktator yang dipilih oleh Soekarno. Apa yang sedang terjadi pada jalan pikiran Anda?

Saya sendiri tidak akan menyanggah pendapat Anda yang bisa dibenarkan. Tidak ada keraguan sama sekali dari dalam diri saya untuk mengakui pendapat orang lain yang lebih benar, lebih kukuh argumennya. Perdebatan bagi saya bukanlah untuk menentukan menang kalah, melainkan untuk mencari kebenaran yang objektif, jujur, ikhlas dan adil.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Terimakasih atas tanggapannya. Semoga Islam menjadi pencerahan bagi Anda dan rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s