Bingkai Indonesia itu Saat Ini, ya, Pancasila


Masih tetap dari komen di nbasis, selamat mengikuti😀

– – –

Kalau begitu, tidak ada jalan lain, Anda memang wajib datang sendiri ke Aceh untuk menyaksikan sendiri sehingga tidak mendasarkan sesuatu atas komentar teman-teman Anda. Saya sarankan, datang di hari Jumat. Anda boleh mulai dari daerah mana saja, atau boleh juga langsung ke Mesjid Raya. Soal polisi Syariah, yang mabuk-mabukan, akan tak adil juga melihatnya dengan polisi Indonesia yang didoktrin langsung oleh Pancasila itu, yang kelakuannya aneh bin ajaib itu. Contohnya? Baca koran dan nonton tivi la sekali-sekali.

Fakta yang tak bisa dibantah juga mengatakan kalau pasca kemerdekaan ada pemberontakan PRRI/Permesta di hampir seluruh pelosok negeri, RMS, DI/TII dan seterusnya. Pancasilakah yang mempersatukan ataukah malah Pancasila yang membuat bibit perpecahan? Bung Hatta yang bijak itu pun kemudian menyadari kalau Pancasila-nya Soekarno telah tak bisa mencegah Soekarno menjadi seorang diktator. Dia pun mengundurkan diri dari DWI-TUNGGAL.

Perbedaan penafsiran tak pernah membuat derajat agama menjadi turun. Marthin Luther membuat tafsir baru atas kristen dan mendirikan Protestan. Turunkah derajat kemuliaan kristen katolik di mata dunia? Anda bisa ditertawakan orang kalau menyebut demikian.

Kalau memang Anda setuju bahwa agama itu menjadikan manusia lebih baik, maka seharusnya tak ada lagi yang menghalangi Anda untuk tak meletakkan agama sebagai landasan dalam kehidupan bernegara. Maka kalau Anda menemui kasus-kasus seperti kalau ingin mendaftar menjadi PNS harus beragama tertentu, Anda pun pasti sudah bisa mengerti kalau hal itu sama sekali tidak dikehendaki oleh agama yang berprinsip kejujuran dan keadilan. Tentu Anda harus melawan.

Anda pun tampaknya sudah setuju dengan prinsip Islam holistik, karena itu kalau Anda beragama Islam wajiblah Anda mengkampanyekannya kepada seluruh orang, terutama mereka yang sempit dalam memandang Islam, bukan malah memendamnya untuk Anda sendiri. Saya sendiri tak punya waktu untuk menilai apakah agama lain punya doktrin serupa, karena sebagai seorang muslim, saya tak cukup waktu untuk mempelajari Kristen, Budha, Hindu dan lain-lain itu.

Saya sudah bisa menebak, suatu saat Anda pasti akan mengeluarkan cerita-cerita soal Konstantinopel, Ottoman dan lain-lain sebagainya. Mengapa Anda tak sekalian juga menyebut juga soal perang Irak-Iran, Yaman, Suriah, Lebanon dan seterus-seterusnya ketika Islam dalam sejarah dituduh menjadi biang kekacauan dan pertumpahan darah. Saya malah menyarankan Anda untuk menambah deretan itu melalui buku-buku di perpustakaan Perancis, Jerman, Inggris, Israel dan jangan lupa ke Amerika Serikat. Referensi untuk menuduh Islam itu bejibun di sana.

Namun di negara-negara itu, mustahil Anda akan menemukan kolonialisme Gold Gospel and Glory ala Portugis, Inggris, Perancis sampai Amerika. Anda juga pasti tak akan menemukan riwayat penjajahan, pemerkosaan ala demokrasi Amerika di Afghanistan, Irak, VIetnam, Somalia atau malah riwayat naiknya kemakmuran Belanda atas darah orang Indonesia. Saya jamin Anda tak akan menemukan itu di perpustakaan mereka. Kalau Anda temukan, lapor sama saya!

Anda ingin menyebut yang saya sebut Islam holistik itu hanya indah dalam bentuk konsep, namun lain dalam pelaksanaan. Ah, bertindak adillah. Mengapa logika seperti itu tak juga Anda terapkan pada demokrasi atau malah Pancasila? Kalau Anda tak bersikap adil dan itu tak juga Anda terapkan, wajar saja Anda masih menganggap Pancasila sakti mandraguna dalam mempersatukan masyarakat yang majemuk ini. Bukan saya yang seharusnya Anda katakan untuk menghadapi kenyataan. Tapi sayalah yang justru harus mengatakan: hadapilah kenyataan itu dengan ksatria.

Soal Yogyakarta, what can i say for you? Saya pernah tinggal di sana, berjalan kaki hampir setiap hari dari perbatasan Yogya-Solo, hingga ke UGM dan keraton Ngayogyakarta. Sempat juga meneliti soal centilnya Sarkem pasca Maghrib. Tapi ini tak perlu diperpanjang, Anda sudah mengakui foto dan gelar yang saya implisitkan pada komen sebelumnya. Soal foto-foto yang sekarang, lebih baik itu menjadi tugas Anda saja. :D

Ah, soal protap, Anda saja masih menyebut dengan kata “konon”, sementara saya ada di Sumatera Utara sini. Haruskah saya menjelaskan soal dalihan na tolu orang Batak kepada Anda di sini? No. Anda seharusnya datang ke Sumut sini biar Anda tahu bagaimana kami menyelesaikan pembunuhan terhadap Ketua DPRD Sumut, Azis Angkat (almarhum), yang seorang muslim, tanpa harus membasmi orang Batak Kristen yang ada di sini.

Nah, soal Bali dan Flores itu, ceritanya nanti saja ya.

Konteks Islam Indonesia adalah mempersatukan seluruh orang Islam Indonesia dan memberi keadilan dan kehormatan kepada agama lainnya. Islam sudah membumi di Indonesia ini, sebelum kata Indonesia itu lahir, sebelum adanya “sumpah pemuda”. Serikat Islam sudah lahir pada 1905, 3 tahun sebelum Budi Utomo pada 1908 dan Sumpah Pemuda pada 1928. Telusuri juga seluruh jejak sejarah kerajaan nusantara ini sebelum itu, kamus “Indonesia” tak ada sama sekali. Yang mempersatukan perlawanan itu adalah Islam. Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasya, Sultan Hasanuddin, Sultan Ternate dan Tidore, Maluku di mana Pattimura berdomisili, Tuanku Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Sultan-sultan Kalimantan, Raja-raja Demak, Hizbullah di Jawa Barat dan Jawa Timur, hingga Bung Tomo di Surabaya 10 Nopember, kesemuanya berpekik “Allahu Akbar”.

Rakyat Indonesia dipersatukan oleh Islam taklah terbantahkan. Kalaulah itu dieliminir oleh kekuasaan, maka haruslah kita kritis dan sejeli-jelinya untuk melihat bahwa pentas pasca kemerdekaan adalah pentas politik kekuasaan yang meniscayakan sejarah ditulis oleh tinta mereka yang menang. Islam di Indonesia, harus diakui, hingga saat ini kalah dalam pertarungan politik itu. Namun, menutup sejarah Islam di nusantara ini, menutup pergerakan Islam dengan bungkus yang keji adalah hal rendah. Islam tidak punya keinginan untuk memecah negara ini. Islam sedari awal telah diceritakan oleh sejarah, justru adalah dalam rangka memerdekakan rakyat dan bangsa ini dari penjajahan, pemerkosaan, perbudakan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Terimakasih atas tanggapannya. Semoga Islam menjadi pencerahan bagi Anda dan rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s