Reformasi Jilid Dua: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Bagian Pertama: Memori Buruk dari Soeharto


Momentum yang diambil oleh lembaga survey IndoBarometer, telah menohok reformasi. Kejatuhan Soeharto yang nyatanya menjadi simbol tegaknya reformasi justru setelah 13 tahun kemudian dianggap sebagai pemimpin yang paling populer. Metode yang digunakan IndoBarometer boleh jadi akan mengundang perdebatan yang melelahkan. Namun paling tidak, survey itu telah menjadi potret betapa reformasi belum juga secara utuh mereformasi negara ini.

Kembalinya wajah Soeharto sebagai pemimpin yang “seharusnya ada” di Indonesia saat ini, tentulah tamparan keras yang sangat ironis dan tragis. Hal itu menandakan, selama reformasi, Indonesia belum berhasil menghasilkan Presiden yang mampu menerjemahkan reformasi secara substansial. Memori akan “manisnya” pembangunan di masa Soeharto, juga menjadi pertanda bahwa pembangunan yang selama ini dilakukan oleh Presiden-presiden Indonesia pasca Reformasi 1998 belum dianggap mampu menyaingi apa yang sudah dilakukan Soeharto selama 32 tahun masa Orde Baru.

Bagaimanapun, di masa reformasi, Soeharto seharusnya dianggap sebagai cermin yang menampakkan wajah buruk bangsa Indonesia. Bukanlah sebaliknya dengan menilai dia sebagai pemimpin yang seharusnya duduk di Istana Negara.

Memori Soeharto

Soeharto adalah seseorang yang punya riwayat sangat-sangat buruk dalam karir militernya. Pernah hendak dipecat Jenderal Ahmad Yani karena terlibat manipulasi pengadaan barang jauh sebelum ia diangkat menjadi Pangkostrad. Berkawan erat dengan Letkol Untung yang kemudian membunuh Jenderal Yani dalam peristiwa korlap G-30S-PKI. “Mencuci tangan” dugaan keterlibatannya dengan PKI dengan membungkam habis seluruh PKI, kader dan simpatisan dan seluruh orang yang bersentuhan langsung dan tidak langsung dengan organisasi ini.

Dengan Orde Baru, ia memberangus habis organisasi politik dan organisasi keagamaan, yang dulu menjadi mitranya dalam pemberangusan PKI. Partai-partai dikerucutkan. NU dan Muhammadiyah, ikhlas atau tidak, dipaksa menyalurkan ide politiknya di Partai Persatuan Pembangunan. Mohammad Natsir, seorang cerdas dan wara’, dipenjarakan. Orde Baru dibukukan dan kalangan teknokrat didikan kapitalis (mafia berkeley) menjadi soko guru perekonomian. Muhammad Hatta dan Sjahrir dilumpuhkan.

Kampus berteriak lagi karena mengindikasikan praktek-praktek manipulasi dan korupsi sudah berbenih di tubuh pemerintahan. Di atas tahun 1972, Soeharto menganggap mereka yang tak setuju dengannya adalah pemberontak dan pembangkang. Golongan Putih (Golput) menjadi barang haram.

Sama seperti Aidit, bos besarnya PKI, ia menganggap untuk menguasai Indonesia adalah menguasai Pulau Jawa. Maka ia mengajak raja Jawa, Sri Sultan HB IX sebagai Wakil Presiden-nya yang pertama pada 1973-1978. Lima tahun setelahnya, ia melirik tanah Sumatera, tanah tempat lahirnya Muhammad Hatta, Daud Beurueh, Muchtar Lubis, dan seterusnya. Ia menjadikan H Adam Malik, kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, sebagai Wakilnya yang kedua (1978-1983). Dan Soeharto menjadikan posisinya semakin kuat saja ketika menjadikan militer menjadi wakilnya, Jenderal Umar Wirahadikusumah, mantan Pangdam Jaya ketika peristiwa G-30-S/PKI (1983-1988).

Soeharto terus dengan tangan besinya. Ia mendirikan Komando Pengamanan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Sosial politik mesti diawasi agar dana-dana kapitalis dapat lenggang kangkung masuk ke Indonesia. Jepang, konon akan berinvestasi. Namun, kalangan terdidik kampus tahu, Jepang bukanlah sedang berinvestasi namun sedang memberi hutang kepada Indonesia.

Kalangan kampus terus resah. Namun Kopkamtib lebih digdaya. Tahun 1974, terjadi peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari). Soeharto making berang, punggawanya seperti Ali Moertopo dan Benny Moerdani pun bertambah kekuasaannya untuk mendukung itu. Opsus (Operasi Khusus), Litsus, penculikan, pembunuhan, petrus (penembakan misterius) menjadi operasi yang dilegalkan pemerintah untuk membungkam aspirasi seluruh orang.

Namun, bukan hanya bertindak yang dilarang, tapi juga berpikir. Pemikiran merupakan bibit pemberontakan. Kampus pun dipenjara oleh Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) pada 1978. Dewan Mahasiswa dibubarkan dan diganti dengan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Intinya adalah mahasiswa tidak boleh turun ke jalan dan tugasnya hanya mendengar celotehan dosennya di ruang belajar, setelah itu pulang ke dekapan ibunya di rumah.

Koran Indonesia Raya dibredel dan majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik diberangus habis. Departemen Penerangan adalah sumber satu-satunya kebenaran di negeri ini. Setiap wartawan menulis dengan acungan senjata di kepalanya.

Soeharto mulai leluasa. Ia terus berhutang. Jepang masuk lewat Official Development Assistance (ODA) dan menerima pinjaman sebesar 10,80 milyar yen (1966), 34,38 milar Yen (1967), 29,47 Milyar Yen (1968), 29 Miliar Yen (1969), 36 Miliar Yen (1970), 73 Miliar Yen (1971), 66 Miliar Yen (1972) dan 94 Miliar Yen (1973).

Ia menunda pemilu pasca 1965 selama tujuh tahun (dari jadwal semula tahun 1967), karena masih takutnya akan kekuatan politik Islam dan nasionalis. Golongan garis keras mulai memberontak. Orang Islam ditangkapi walau pasalnya mereka marah karena mesjidnya dikencingi oleh aparat keamanan (peristiwa Tanjung Priok). Orang Islam berdemonstrasi karena hak-haknya dalam pernikahan dikebiri dalam UU Perkawinan 1974. Pemberontakan terjadi hingga ke luar negeri (pembajakan Garuda oleh kelompok Imron dan Aceh Merdeka Hasan Tiro). Soeharto adalah penyemai benih-benih kemarahan umat Islam terhadap kekuasaan. Namun, Soeharto tak mau tahu. Toh, dia “mencucinya” dengan memberi modal bagi pembangunan rumah-rumah ibadah di seluruh Indonesia.

Soeharto, atas nama Indonesia, berhutang lagi melalui Consultative Group on Indonesia (CGI). Pada tahun 1967-1980, Indonesia memanfaatkan fasilitas pinjaman tanpa bunga bagi negara termiskin dari International Development Association (IDA). Lalu tahun 1980-1998 meminjam dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD).

Alhasil, hutang pemerintah RI menurut data Departemen Keuangan hingga Maret 2005 mencapai Rp 1.282 triliun! Bandingkan dengan nilai APBN 2009 yang direncanakan baru akan tembus Rp 1.000 triliun, atau total APBN 2010 mencapai Rp 1.126,1 triliun dan APBN 2011 menjadi  Rp 1.229,5 triliun! Jadi, banyak pengamat yang bilang kalau rakyat miskin Indonesia dan calon bayi di Indonesia sudah berhutang sebelum dilahirkan.  Hitunglah secara sederhana bila jumlah penduduk Indonesia kita patok saja sejumlah 240 juta orang. Maka, kalau hutang Indonesia Rp.1.282 triliun, setiap orang Indonesia telah berutang Rp.5.341.666. Nah, gaji Anda sebulan itu berapa?

Celakanya, hutangan itu bukan disalurkan kepada orang miskin tapi diberikan kepada sistem konglomerasi melalui teori mafia Berkeley, Trickle Down Effect. Konglomerat membuat pabrik dan orang banyak tak mendapat kesejahteraan yang layak. Itu karena, upah buruh pabrik Indonesia merupakan yang termurah di dunia! Pertumbuhan ekonomi meningkat, namun indikatornya adalah perdagangan para konglomerat tersebut dan bukannya penjualan singkong para petani di kampung-kampung.

Soeharto, Presiden sekaligus raja itu, menikmati kejayaannya selama kurun 1980-1990an. Oleh majalah TIME, Soeharto dinobatkan menjadi diktator terkaya di dunia, melampaui Raja Thailand dan Raja Arab Saudi, apalah lagi Diktator Kamboja dan Diktator Chile. Hartanya diduga jauh lebih besar dari kebutuhan Indonesia waktu krisis ekonomi tahun 1997. Tahun 1998, majalah Newsweek menyebutkan angka US$  40 Miliar dan Forbes menilai lebih dari US$ 60 miliar. Bandingkan sewaktu penandatanganan Loan of Credit antara Soeharto dengan IMF, organisasi rente  Internasional yang hanya memberi kredit sebesar US$ 5 Miliar.

Tak ada seorangpun berani mengeluarkan isu suksesi karena isu itu sama derajatnya dengan “makar”. Lagipula apa gunanya? Toh, jabatan politik tertinggi di negara ini pada masa Soeharto adalah Wakil Presiden.

Soeharto mati mewariskan hutang dan kerusakan di seluruh negeri. Tak hanya mewariskan korupsi, kolusi dan nepotisme , Indonesia telah dibikin Soeharto sebagai negara paling tak bermartabat di dunia. Presiden setelahnya, menjuali aset dan harta Indonesia, mulai dari Aceh dan Papua. Bibit-bibit kemarahan umat Islam yang disemaikan waktu dulu pun, kini sudah berkecambah luas, buahnya terlontar ke tanah dan menumbuhkan pokok-pokok yang baru.

Bangsa kita ditertawakan di dunia international dan dinilai sebagai slaven folk (mental budak) karena sumber daya alamnya kaya, orang-orangnya pekerja keras, tapi hutangnya bertumpuk-tumpuk. Bangsa kita diolok-olok sebagai bangsa yang dungu, karena tanah penghasil minyak dan dikelilingi air ini, ternyata rakyatnya harus membeli minyak dengan harga mahal dan air bersih pun mesti dikelola oleh perusahaan asing. Ini tanah air siapa? (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s