Bila Miskin, Jujur Saja


Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menggelar Fourth United Nations Conference on the Least Developed Countries (LCD IV), di  Istanbul, Turki. Konferensi yang membahas negara-negara miskin tersebut berlangsung pada 9-13 Mei. Indonesia tidak ikut dalam konferensi ini. Belum ada penjelasan dari pemerintah mengapa tidak ikut atau minimal berpartisipasi dalam pergelaran yang bermaksud menyusun rancangan rencana aksi 10 LCDs dan strategi pembangunan berkelanjutan di negara-negara miskin.

* * *

Orang Islam, di manapun dia, akan tetap merindukan sosok Muhammad, pedagang cerdas dan jujur yang kemudian menjadi pemimpin Islam dan dunia. Michael H Hart, lantas mencatat, dialah orang paling berpengaruh di dunia ini, mengalahkan Isaac Newton, si  jenius asal Inggris itu dan trio filosof Socrates-Plato-Aristoteles made in Yunani itu. Apa relevansinya dengan Indonesia kini?

Dalam suatu riwayat, Muhammad muda diceritakan mengalami untung besar ketika melakoni perdagangannya dengan negara Yaman. Beliau waktu itu membawa dagangan milik Khadijah, bussineswomen from Mecca, saudagar asal Mekkah. Khadijah takjub dan bertanya kepada rombongan yang menyertai Muhamad. Mereka menjawab, “Dia berdagang dengan jujur dan adil sehingga pedagang di Yaman percaya kepadanya.”

Setelah menjadi rasul, Muhammad meletakkan sendi-sendi ekonomi Islam dalam landasan kejujuran dan keadilan. Dua hal ini adalah barang langka dalam dunia bisnis kapan pun itu. Mengurangi timbangan itu hal yang lazim ditemukan di mana-mana pedagang. Mengatakan produk itu bagus padahal cacat, itu sudah biasa. Muhammad melawan itu, dan dia untung.

Yang paling penting, ekonomi negara haruslah memperhatikan kesejahteraan orang-orang yang tak beruntung. Baitul Maal didirikan sebagai institusi yang menyimpan kekayaan negara dan menjadi lembaga yang mendistribusikan kekayaan tersebut kepada kaum fakir, miskin, orang berhutang, janda-janda tua, anak yatim dan piatu dan seterusnya. Zakat dikumpulkan bukan karena Ramadhan tiba, melainkan perannya sebagai struktur dan pranata sosial yang menjamin kepedulian dari si mampu kepada si lemah. Pun bukan hanya sekedar 2,5%, melainkan seperlima (khums) atau 20%, dengan perincian sisi hukum yang diterangkan dengan meyakinkan oleh Muhammad. Ada yang keberatan? Tentu. Sedangkan Tuhan saja tetap ada yang keberatan.

* * *

Muhammad dulu tak pernah sama sekali mempelajari sosialisme, tapi dia perintahkan untuk melindungi fakir miskin, anak yatim, kaum mustadha’afin dan lainnya. Kedua, kekayaan negara di baitul mal harus dibagi-bagikan dan setiap orang kaya-mampu  wajib dipungut zakat dan tak boleh menumpuk-numpuk kapitalnya. Ketiga, pasar dan perdagangan diatur dengan sistem yang adil dan kejujuran. Keempat, semua orang berhak menjadi pedagang dan mencari harta sebanyak-banyaknya. Dan untuk itu, tak pernah pula Muhammad belajar soal kapitalisme.

Sosialisme memang sering dikatakan antitesis terhadap kapitalisme. Masih relevankah ini dibincangkan? Mengapa pula tidak? Sebelum Pemilihan Presiden 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berbicara dan berkampanye soal ini dalam acara “Capres Bicara” di salah satu tv swasta. Dalam acara itu, SBY terang menyebut “ideologi ekonomi politik”-nya dengan “jalan tengah”. Dia membenturkan dua kubu bertolak belakang sekaligus: sosialisme di satu sisi dan kapitalisme di sisi yang lainnya. Dia mengatakan ekonomi komando yang –konon- dipegang teguh oleh sosialisme maupun sistem pasar bebas ala kapitalisme, sama-sama tak bisa diterapkan di Indonesia.

SBY menang dan perekonomian Indonesia kini (dan lima tahun sebelumnya) masuk dalam kategori “ekonomi jalan tengah”-nya SBY. Back-up untuk ekonominya cukup kuat. Wakil Presiden RI, Profesor Boediono adalah salah satu guru besar ekonomi  yang punya reputasi dan sudah teruji. Di pemerintahan, track record-nya cukup mumpuni. Dia mantan Menteri Keuangan, mantan Gubernur Bank Indonesia dan mantan Menko Perekonomian. Jadi, no question bagi keduanya.

Setahun terpilih dalam periodenya yang kedua, pada Februari 2011 kemarin, Presiden menyatakan kembali programnya mengurangi kemiskinan. Pembangunan untuk perluasan ekonomi dari sisi investasi bisa tercipta dengan manajemen yang baik dan mengurangi kemiskinan. Hal ini disampaikan Presiden dalam pidatonya mengakhiri rakor dua hari di Istana Bogor.

Selanjutnya melalui mekanisme ekonomi. Ah, sebelum menilai niat SBY setelah kurang lebih 6 tahun memimpin negara ini, baik juga menyimak apa yang “akan” dilakukannya. Dikatakannya, pemerintah telah mendesain 3 kluster; Kluster 1, BOS, jamkesnas, KLH, Raskin, dan seterusnya. Kluster 2, PNPM Mandiri dan Kluster 3, kredit mikro bagian dari finance. Keenam programnya adalah program rumah sangat murah, program kendaraan angkutan umum murah, program air bersih, program listrik murah dan hemat, peningkatan kehidupan nelayan, program pengingkatan masyarakat pinggiran perkotaan.

Bagaimana profil kemiskinan kita? Angka kemiskinan makro 2010 yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), sebesar 31,02 juta orang atau 13,33% dari total populasi. Menggembirakan? Tidak juga. Peneliti ekonomi dari LIPI Latif Adam, menyatakan, standar garis kemiskinan yang selama ini digunakan BPS dalam menghitung angka kemiskinan di Indonesia terlalu rendah. Tingkat pendapatan minimal rata-rata yang dipakai BPS untuk perhitungan garis kemiskinan 2010 di Indonesia sebesar Rp 211.726 per bulan atau sekitar Rp 7.000 per hari. Sementara negara regional lain, salah satunya Vietnam, sudah menggunakan garis kemiskinan Bank Dunia sebesar US$2 atau sekitar Rp18.000 per hari.

Garis kemiskinan Indonesia ini ada dua versi, desa dan kota. Untuk kota, batas atas tingkat pendapatan kategori miskin Rp 232.989 per bulan, sementara desa Rp 192.354 per bulan. Menurut Adam, standar perhitungan yang rendah ini menyebabkan angka kemiskinan 13,33% itu kurang mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Persentase kemiskinan terlihat rendah karena data BPS menggunakan konsep perhitungan yang standarnya jauh di bawah standar internasional yang diadopsi Bank Dunia. Kalau Indonesia mengadopsi garis kemiskinan US$2 per hari, seperti Vietnam dan negara Asia Tenggara lain, tingkat kemiskinan Indonesia bisa meledak jadi 42% dari total populasi.

Selain itu, Latif juga mengingatkan pemerintah untuk menjadikan data jumlah penduduk hampir miskin (near poor) sebesar 29,38 juta orang sebagai peringatan. Sebab, mereka yang masuk kategori ini sangat rentan terdegradasi masuk kategori miskin (poor) akibat kenaikan harga pangan.

SBY dan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN 2011 kemarin, memang mengungkapkan soal kerawanan pangan itu. Itu normal saja. Kalau itu tidak dilontarkannya, itu malah berbahaya bagi dia. Itu akan membuatnya dalam posisi pemimpin yang tak peka akan kondisi rakyatnya.

Begitupun, kemiskinan dan ketersediaan pangan memang sudah seharusnya menjadi prioritas pemerintahan SBY di periode keduanya. Kritik terhadap kriteria dan indikator kemiskinan yang dikeluarkan BPS itu, bisa dimaknai kalau kejujuran adalah fundamen utama untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan kejujuran, maka kita akan jernih melihat realitas kemiskinan di Indonesia.

Negara kaya raya ini, pada dasarnya menyimpan borok kemiskinan yang begitu parahnya. Pengakuan terhadap kemiskinan merupakan modal bagi seluruh anak bangsa untuk saling merasakan penderitaan di sekelilingnya. Dengan empati ini, maka seseorang akan mengetahui walaupun seorang yang berpenghasilan Rp 300 ribu perbulan tidak dikategorikan negara sebagai “miskin”, hakikatnya, penghasilan itu justru tidak akan membuatnya hidup yang “tidak miskin” alias kaya ataupun “sederhana”. Yang jelas, dia tetap akan kekurangan pangan, sandang dan papan.

Namun, ketidakjujuran dalam menatap kemiskinan, akan membawa negara ini makin terpuruk. Kita terlenakan dengan suatu kondisi bahwa negara ini “baik-baik saja”; bahwa di negara ini orang miskin makin berkurang, dan untuk itu kita boleh bernafas lega. Teladan kejujuran bukan hanya harus ditunjukkan oleh mereka yang memimpin negara, melainkan juga dimaktubkan dalam kebijakan-kebijakan negara.

Muhammad dan Islam yang dibawanya mengedepankan dua hal ini dalam segala aspek kehidupan. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul dan pemimpin manusia, Muhammad sudah bergelar “Al-Amin”, orang yang terpercaya, orang yang tak pernah berbohong seumur hidupnya. Untuk jujur, memanglah dibutuhkan keberanian. Dan justru di keberanian itu pula, yang menjadi gugatan masyarakat pada pemimpinnya saat ini. (*)

4 thoughts on “Bila Miskin, Jujur Saja

  1. -karena NILA setitik…rusaklah susu sebelanga –

    =====================================
    BAGONG nyeletuk: “itu dulu, sudah kuno kang”
    Samin: “lho…kalau sekarang?!?”
    BAGONG: “karena MUNAFIK setitik…rusaklah kehidupan seluruh bangsa.”

    hipokrasi ada di mana-mana …😦

    Like

  2. ia tak ikut karena apa gerangan? karena merasa tak masuk dlm kategori LDCs itu? org atau negeri yg suka dipuji memang tak akan ingin tahu dan membahas kelemahannya.

    miskin soal harga diri katanya.

    Like

  3. @nBASIS says,
    …”karena merasa tak masuk dlm kategori LCDs itu?”…
    _______________________________________

    malah dugaan BAGONG (dugaan lho ini).., malah ‘merasa masuk ikut dlm mengarrange & mendesain’ kategori LCDs itu..?!?

    hahahahaha iya betol betol itu hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s