Kamuflase Proyek Multikulturalisme


Adanya Memorandum of Understanding (MoU) antara suku, bangsa dan agama, justru bisa menumbuhkan ketiadaan saling pengertian ataupun ketidaksepahaman antara dan intra suku, bangsa dan agama itu sendiri. Tidak pernah ada suku, bangsa dan agama yang mengajarkan permusuhan.

* * *

 Barrack Husein Obama, Presiden Amerika Serikat, memuji Bhinneka Tunggal Ika. Dalam kunjungannya ke Jakarta Nopember 2010, dia bilang, “Bhinneka Tunggal Ika,  unity in diversity.  This is the foundation of Indonesia’s example to the world, and this is why Indonesia will play such an important part in the 21st century“. Kemudian, aplaus pun membahana di kampus Universitas Indonesia. Semua bergembira, Amerika Serikat, negara paling berkuasa saat ini, memuji Indonesia. Di tengah keterpurukan yang terus-menerus mulai dari kasus korupsi, perkelahian elit politik, kisruh di seputar bencana alam, sampai prestasi sepakbola Indonesia yang tak juara-juara, ah, Obama rupanya pandai betul ber-takziah; menghibur. Indonesia pun terbius, Obama kian melambung tinggi.

Obama pantas menyebutkan soal Bhinneka Tunggal Ika. Sebabnya, salah satu proyek yang dibawa Obama ke Indonesia adalah multikulturalisme. Niat multikulturalisme gaya Amerika memang pantas disebarkan di Asia Pasifik dan terutama Indonesia. Indonesia sebagai negara berpopulasi muslim terbesar di dunia, bersama India, secara geopolitik mempunyai pengaruh besar dalam menjaga stabilitas kawasan di Asia Pasifik. Bagaimanapun, pujian Obama terhadap Bhinneka Tunggal Ika, menjadi variabel antara untuk terus bersekutu dengan Amerika.

Tak aneh pula kalau pasca kunjungan Obama itu, tiba-tiba kata “multikulturalisme” di Indonesia bergema kembali, walau Bhinneka Tunggal Ika sudah sering dikatakan dalam buku-buku sejarah Sekolah Dasar kita adalah merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia.

Multikulturalisme Vs Bhinneka Tunggal Ika

Namun, jelas sekali bila multikulturalisme gaya Eropa dan Amerika, sangatlah berlainan dengan filosofi dasar Bhinneka Tunggal Ika. Sejarah republik sudah menyebutkan kalau kesepakatan untuk bernegara dalam bingkai negara kesatuan, dilandasi atas perjuangan dan pengorbanan dari seluruh orang dan berbagai latar belakangnya di Indonesia. Latar penderitaan dan persamaan nasib sepenanggungan itu begitu kuat terasa.

Dan kesepakatan itu pun, maaf saja, tidak dengan mudah dicapai. Sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang cukup panas, sampai-sampai membutuhkan dibentuknya Panitia kecil Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk menjembatani perbedaan yang terjadi waktu itu. Sejarah akhirnya mewartakan kalau bayi “Indonesia” nantinya disepakati untuk memakai Pancasila sebagai ideologi negara dan Bhinneka Tunggl Ika sebagai semboyan negara.

Dus, dasar dari Bhinneka Tunggal Ika adalah kearifan untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan yang telah ada di Indonesia. Ini berbeda dengan proyek multikultularisme yang diimpor dari Eropa dan Amerika. Proyek Eropa dan Amerika didasarkan atas trauma berkepanjangan atas rasisme dan ketakutan yang bersangatan terhadap masuknya imigran-imigran ke Eropa dan Amerika. Stabilitas Amerika Serikat pernah sangat terguncang akibat rasisme kulit putih terhadap ras kulit putih. Apalagi, Amerika Serikat punya sejarah yang sangat buruk mengenai perbudakan orang kulit hitam. Hingga kini, itu masih terasa. Ucapan “neger” dimaknai sebagai penghinaan terhadap orang-orang kulit hitam (negro). Imigran dari Amerika Selatan (kelompok hispanik) juga masih merasakan diskriminasi terutama dalam hal lapangan pekerjaan, jaminan kesehatan dan pemukiman. Antusiasme warga kulit hitam memilih Obama dan keterkejutan Amerika terhadap terpilihnya Obama yang berkulit hitam itu sebagai Presiden, adalah contoh paling nyata bahwa benak rasialis dan diskriminasi masih nyata di Amerika Serikat. Namun kini, multikulturalisme di Amerika sendiri mendapat tentangan. John Kenneth Press, penulis buku Culturism: A Word, A Value, Our Future (2007) menegaskan “ ‘Culturism’ is the opposite of ‘multiculturalism.’ The West does have a core traditional culture to guide, protect, and promote.” (Kulturalisme adalah oposisi dari multikulturalisme. Bahwa “Barat” memang memiliki kebudayaan tradisional untuk dikembangkan, dilindungi dan dipromosikan)

Inggris dan Perancis pun sudah memutuskan menghentikan proyek multikulturalismenya. Mereka kini sadar, bahwa proyek multikulturalismenya justru malah dapat mengaburkan dan pelan-pelan akan menghilangkan “kebudayaan dan peradaban asli” mereka. Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy menyatakan, “Kami telah terlalu peduli tentang identitas orang yang datang dan tidak cukup tentang identitas dari negara yang menerima dia.”

Kamuflase Politik

Antitesis paling mengemuka dari proyek multikulturalisme adalah setiap suku, bangsa dan agama memiliki hak untuk mempertahankan, melindungi dan mempromosikan ke-suku-an, ke-bangsa-an dan ke-agama-annya masing-masing. Jadi, logis sekali bila perjanjian antar agama dalam satu proyek multikulturalisme adalah naif dan kamuflase semata. Karena perjanjian itu tidak akan pernah cocok dengan karakteristik multikulturalisme itu. Lagipula untuk apa?

Kesepahaman antar sesama umat beragama, kelompok suku dan kebudayaan untuk saling menghormati sudah ada dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. MoU justru akan semakin menjauhkan Indonesia dari ke-bhinneka-annya sendiri. Lagipula, bukankah Indonesia tidak hanya memiliki Bhinneka Tunggal Ika semata untuk menghargai perbedaan itu? Konstitusi sudah menjamin hak-hak paling dasar itu untuk dilaksanakan di Indonesia. Adanya MoU akan mengerdilkan peran dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945 itu sendiri. Seolah-oleh ketiga perangkat dasar Indonesia itu sudah tak berkuku lagi untuk mempererat dan membingkai perbedaan. Apalagi, negara sendiri sudah memagari perangkat dasar itu dengan peraturan perundang-undangan sebagai pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum untuk menjamin itu terjadi di Indonesia.

Di Sumatera Utara misalnya. Bila Anda bersuku Batak, maka perbedaan agama tidak pernah dipermasalahkan. Yang paling kentara adalah ketika Anda mengikuti pesta-pesta adat, di mana sudah ada kesepahaman tidak tertulis untuk saling menghormati dan menghargai mereka yang muslim ataupun non-muslim. Seandainya mereka yang non muslim berpesta, maka sudah ada panitia dari saudara semarga yang muslim untuk menangani makanan yang bisa dikonsumsi oleh mereka yang muslim. Demikian juga misalnya ketika yang muslim mengalami kemalangan, maka bisa dipastikan saudara semarga dan dongan sahuta akan menghadiri acara takziah. Anda tak akan menemukan rasa saling curiga di antara mereka.

Filosofi suku bangsa Batak sudah menjamin adanya persaudaraan yang diikat dalam tungku “Dalihan Na Tolu”. Itu perjanjian yang sudah mengikat, mempunyai makna mendalam dan dipatuhi. Bila Anda melakukan perjanjian lagi antara muslim-non muslim intra sukubangsa Batak, maka itu justru menandakan Anda sama sekali tidak mempunyai kepercayaan lagi dan menumbuhkan kecurigaan terhadap persaudaraan antara sesama sukubangsa Batak. Oleh karena itu, dalam sejarah di Sumatera Utara, tidak pernah (ditemukan) terjadi perjanjian untuk melakukan perdamaian atau bekerjasama, misalnya antara orang Batak yang ada di Muhammadiyah atau Al-Washliyah Sumut dengan orang Batak yang tergabung di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ataupun GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia).

Demikian juga dengan MoU antar suku bangsa dan agama. Di Sumut, itu tidak lazim. Sumut bukan Amerika Serikat yang diskriminasi ras masih terjadi atau seperti di Bosnia ketika terjadinya pembersihan etnis yang begitu tragis oleh Serbia. Ingatkah Anda ketika terjadinya demonstrasi Protap yang berujung pembunuhan terhadap Ketua DPRD Sumut Azis Angkat? Di tengah situasi sosial politik yang sangat rentan dengan masalah SARA itu, Sumut menyelesaikan itu secara “adat” dengan semangat persaudaraan dan penegakan hukum.  Usulan Protap kini malah sudah disetujui oleh DPRD Sumut dan tandatangan oleh Plt Gubernur Sumut, Gatot Pudjonugroho yang orang Jawa itu, tinggal soal waktu saja.

Tak pelak, proyek multikulturalisme yang sedang dijalankan oleh kelompok-kelompok beratas nama  keagamaan di Indonesia dan Sumatera Utara akhir-akhir ini, justru akan mengundang kecurigaan adanya motif-motif dan permainan politik dengan bungkus yang begitu manis: multikulturalisme. Modus mencari dukungan sebanyak-banyaknya dari kelompok agama, bukanlah hal yang baru. Namun, perbedaan yang signifikan dari  konvensi yang terjadi selama ini adalah adanya sikap ksatria dari kelompok pendukung dan mereka yang sedang menggalang dukungan. Toh, dukungan dalam politik adalah hak dasar yang tak perlu ditutup-tutupi.

Tapi,  proyek politik yang dibungkus dengan proyek multikulturalisme, adalah motif yang tidak gentleman dan cenderung berbahaya. Ini proyek yang sesungguhnya perlu dipertimbangkan matang-matang dan harus ditolak. Penolakan terhadap hal ini, justru karena setiap suku, agama dan bangsa yang di Indonesia sudah mempunyai instrumennya masing-masing untuk saling mengerti, memahami, menghormati dan menghargai.

Politik yang tidak sehat memang akan selalu memakai cara-cara machiavelis; menghalalkan segala cara yang diperlukan untuk memperoleh kemenangan dan kekuasaan. Prinsip melindungi dari mayoritas dan kebesaran jiwa dari minoritas sudah ada di daerah ini. Bila di daerah lain ada masalah, maka yang perlu disorot adalah peran dan ketegasan negara untuk menegakkan itu dan bukannya mengarahkan tudingan kepada suku-suku, bangsa dan agama-agama yang ada di Indonesia. Tidak pernah ada suku, bangsa dan agama yang mengajarkan permusuhan. (*)

One thought on “Kamuflase Proyek Multikulturalisme

  1. @pak Nirwan,
    Ini Samin/BAGONG menyampaikan Salam-Kenal…

    Artikel mantab,

    Dalihan Na Tolu…
    Tiga Bersinergi…
    Triwikrama…

    BHINNEKA TUNGGAL IKA,
    PANCASILA,
    UUD-1945.

    Salam…JAS MERAH,
    Bhinneka Tunggal Sikep

    Salam kenal Pak Samin, Mas Bagong hehehe😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s