Osama Dead? Big Lie from US and Media


Apa buktinya kalau Osama sudah tewas? Statemen Obama? Berita CNN? Toh, mayatnya tak bisa diakses. Keluarganya tak bisa mengidentifikasi. Ah, ada pula kabar tak sedap kalau popularitas Obama sedang jatuh dibikin Donald Trump. Di Indonesia, pola ini kelihatan tegas. Bila popularitas SBY sedang jatuh, maka akan ada pula tersangka teroris yang dibunuh. SBY pelakunya? Ah, belum tentu juga. Jangan-jangan Anda sedang ditipu mentah-mentah.

Itu perkiraan yang paling kasar dan sederhana saja. Skeptisisme yang didasarkan pada teori paling dasar dari demokrasi pers: fourth estate of democracy. Sebagai penyangga keempat setelah Trias Politica, maka media menjadi penguasa baru di era post modern sekarang. Penipuan yang dilakukan kekuasaan melalui media bukan dilakukan sekali ini, bahkan hampir setiap hari.

Kalau penguasa korupsi, maka tak mungkin dia bilang dia sedang korupsi ketika ditanya media. Bahkan ketika dia terbukti korupsi pun, dia akan membantah. Media adalah tabir penguasa untuk menutupi kebohongan-kebohongan dan penipuan.

Film All The President’s Men menjelaskan segala-galanya soal tugas media untuk membongkar penipuan yang sedang dan telah dilakukan penguasa di Amerika. Tersangka utamanya adalah Presiden Nixon. Pola penggunaan media oleh penguasa Amerika memanglah tidak serendah gaya kita di Indonesia; menutupi penipuan oleh penguasa dengan proyeksi iklan seperti yang pernah dinyatakan dengan bodoh oleh Menseskab kita, Dipo Alam.

Amerika sebagai pengekspor utama kajian jurnalisme ke seluruh dunia -di mana Indonesia masuk dalam konsumen utamanya- tentulah punya cara yang lebih canggih dari sekedar mematikan iklan di media. Apalagi, soal duit di Amerika pasca kejadian Nixon itu begitu sensitif untuk dilakukan.

Amerika sangat tahu, kajian media mestilah mengikutsertakan kondisi sistem politik universal dan lokalistik, yang diselaraskan dengan kajian sejarah dan politik kontemporer. Itu rumusnya.

Media tahu? Oh, tentulah dia sangat tahu. CNN, NBC, Reuters, Time, Washington Post, New York Time, Observer dan lain-lain itu, sangat paham-lah soal itu. Sembilan elemen jurnalisme-nya Bill Kovach, nabinya jurnalisme Amerika, sudah paham kalau teorinya itu justru lahir dari keprihatinannya terhadap jurnalisme Amerika. Dan dia tahu, konsepnya itu usang, kolot, kuno, dan pokoknya ketinggalan zaman. Bagaimana Anda bisa berkata soal “kebenaran sejati” di tengah-tengah sistem sosial politik Amerika yang aneh itu? Bagaimana mungkin media Amerika tak mengetahui kalau pengiriman pasukan ke negara-negara Timur Tengah, Afrika dan Asia itu tak melanggar hak-hak asasi manusia? Bagaimana mungkin media Amerika tak tahu soal ambiguitas dan standar ganda yang dimiliki oleh kekuasaan Amerika? Ah, aneh itu.

Headline cover majalah Time pasca Peristiwa 9/11 adalah “Its War”. Emosional? Jelas. Pidato George W Bush Jr, salah satu pemicunya. Amerika pun menyergap Afganishtan. Tapi seberapa lama Anda bisa terus-terusan emosional? Seminggu, sebulan, setahun? Kalau bertahun-tahun, maka itu bukan emosional lagi namanya, tapi stress atau depresi.

Amerika depresi, begitu juga rakyatnya. Mereka terpecah pada ambiguitas disebabkan politik karut-marut yang diterapkan oleh negaranya. Polling yang mempertanyakan persepsi rakyat Amerika soal pengiriman pasukan, itu buktinya. Setengah setuju, setengah tidak.

Media Amerika yang pada dasarnya Liberal (yang setengah mati ingin ditepis dalam studi Social Responsibility-nya milik The Commission on Freedom of the Press) tak sanggup melawan ambiguitas yang menjalar di rakyatnya.

Bodohkah orang Amerika? Atau bodohkah media Amerika? Ah, tidak juga. Penguasa politik mempunyai satu rumus yang kini sedang trend oleh kalangan post modernisme, bahwa masyarakat punya persepsi tertentu mengenai sesuatu fenomena. Penguasa bodoh adalah penguasa yang melawan apa yang dimiliki oleh rakyatnya. Namun penguasa yang cerdik adalah memberi makna baru kepada rakyatnya mengenai “sesuatu”.

Maka ketika negara melakukan tindakan kekuasaan militer mesti ada argumentasi yang logis yang menjadi kebutuhan bersama. Anda pasti mengerti kalau demokrasi kini sudah punya makna baru; bahwa demokrasi tidak akan bisa ditegakkan kalau tidak ada kekuatan militer. Bahwa kalau ingin demokrasi maka bisnis persenjataan menemukan landasannya. Bahwa good value of democracy mestilah punya tiang penyangga yang kukuh untuk menegakkannya.

Osama mati, itu kata Obama dan media Amerika. Kalau Anda percaya begitu saja, maka apakah yang membedakan Anda dengan rakyat Amerika yang begitu kegirangan ketika “mendengar” (bukannya menyaksikan) kabar itu?

Kalau Anda bersikap skeptis, mungkin Anda bisa menyajikan pertanyaan simpel saja: “jangan-jangan saya sedang ditipu oleh Osama maupun Obama…” (*)

4 thoughts on “Osama Dead? Big Lie from US and Media

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

    Like

  2. Setelah popularitas nge-drop gara-gara “akte lahir”, obama meraup untung jelang 2012.

    Menjual “demokrasi” ternyata butuh pengorbanan jiwa raga harta dan nyawa serta mengeruk segala apa yang ada di bumi …

    btw … tulisan yng membawa pada “isti’adzah fikriyah”๐Ÿ˜‰

    makasih kopral๐Ÿ™‚

    Like

  3. waduh.. osama dan obama memiliki ciri yg mirip… mulai dari nama hingga asal (tanah afrika)…๐Ÿ˜€
    tp kenapa saling bermusuhan y??? harusnya sesama sodara harus saling melindungi… hehehe..๐Ÿ˜€

    heheheh bukan saling membunuh ya hehehe๐Ÿ˜€

    Like

  4. itu. berapa juta populasi dunia yang kerap khilaf menyebut Obama padahal maksudnya Osama dan sebaliknya? ha ha

    ๐Ÿ˜€ mgk kembar identik tu pak๐Ÿ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s