Mengapa Anda Masih Memperjuangkan Demokrasi?


Ketika Amerika Serikat mempertontonkan perilaku demokratis mereka dengan menggempur Libya, mengapa Anda masih memperjuangkan demokrasi?

Itu adalah hal aneh, lucu dan sama sekali di luar akal sehat. Anda akan ditertawakan kalau Anda mengaku mengklaim punya demokrasi dengan cara Anda sendiri. Katakanlah bila Anda orang Indonesia, maka Anda mengaku punya konsep “demokrasi Indonesia”. Bila Anda punya itu, maka wajiblah Anda meletakkannya dengan konvensi Amerika di dunia internasional bahwa mereka yang memiliki demokrasi, menerapkan demokrasi yang sempurna dan mempunyai wewenang untuk menafsirkan demokrasi.  Kalau Anda menganggap saya aneh, maka sayalah yang seharusnya menganggap Anda aneh karena meng-aneh-kan saya.

Bila Anda tidak melakukan itu, maka suatu ketika Anda menerapkan demokrasi gaya Anda dan Amerika tidak setuju, maka mereka dengan sangat mudah memplot  PBB ataupun media massa, untuk mengatakan, “Atas nama demokrasi, perlindungan hak-hak asasi manusia, maka kami akan menyerang Anda.”

Di atas bumi ini, Anda sama sekali tidak berhak menerapkan demokrasi seandainya tidak memiliki persetujuan dari Amerika Serikat.

Gugatan kedua. Bila Anda mengaku kalau American Democracy adalah tidak benar, dan Anda mengaku kalau demokrasi Anda lebih bernilai, lebih substantif dan lebih adil, maka Anda pun akan ditertawakan. Anda tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkan ideologi Anda itu di depan dunia, maupun bagi diri Anda sendiri. Karena terapan demokrasi bagi diri Anda sendiri itu tidak ada gunanya bila dipasarkan di depan kekuasaan demokrasi gaya Amerika. Apakah Anda mau menerapkan demokrasi hanya ketika Anda sendirian di dalam WC? Jadi pertanyaannya, demokrasi gaya apa yang Anda perjuangkan sehingga Anda menganggap konsep Anda lebih bernilai daripada yang punya Obama?

Gugatan ketiga. Bila Anda mengakui gaya demokrasi Amerika itu, maka Anda tak boleh menggugat, menggerutu ataupun melawan, ketika Amerika menginvasi Libya, Afganishtan, Irak, Somalia dan negara-negara lainnya. Anda tidak punya kewenangan itu karena Amerika melakukan tindakan itu atas nama “demokrasi dan perlindungan hak-hak asasi manusia.” Yang boleh dan wajib Anda lakukan adalah Anda harus mendukung dan jangan pernah terbersit selintas pun bahwa tindakan Amerika itu benar.

Amerika punya tafsir sendiri, punya terapan sendiri. Anda juga tidak bisa mengatakan kalau orang Amerika sendiri mungkin terbelah pandangannya soal perang atas nama demokrasi itu. Anda tidak bisa mengatakan kalau gara-gara gugatan orang Amerika-lah, Obama kemudian menarik pasukannya dari Irak dan Afganishtan. Itu karena orang Amerika tidak pernah menggugat ideologi demokrasi yang dianut oleh negara dan pemerintahannya. Yang mereka gugat adalah kebijakan itu telah merugikan Amerika Serikat sendiri dari segi kerugian finansial dan ekonomi negara, kemarahan atas banyaknya tentara Amerika yang terbunuh di kawasan pertempuran dan adalah negara-negara lain punya hak untuk mengatur dirinya sendiri. Sementara kebijakan soal invasi itu “atas nama demokrasi”, seperti yang dikumandangkan oleh Presiden-presiden Amerika sebelum dan sesudah George W Bush, tidak pernah digugat. Atau, kalaupun ada survey di Amerika yang mengatakan kalau ada perbedaan pendapat dari warga Amerika antara yang setuju dan tidak setuju dengan invasi Amerika ke Libya itu, bukankah itu menandakan, bahwa sebagian warga Amerika menganggap kebijakan itu dibenarkan oleh sistem demokrasi mereka?

Warga  Amerika sendiri tidak pernah menggugat kalau ada yang salah dengan demokrasi mereka.  Tidak adanya pertanyaan khusus yang menyoroti hubungan kebijakan itu dengan falsafah demokrasi yang mereka anut, menandakan bahwa demokrasi Amerika tidak sedang dalam gugatan dari warganya sendiri.

* * *

Saya lebih memilih kata “ethic” daripada “etika” karena seringnya terjadi manipulasi soal kata “etika”. Kita tak ingin, pengertian etika ini direduksi maknanya menjadi “etika politik” seperti yang sering disebut-sebut Presiden SBY dan elit politik tanah air. Apalagi kemudian “etika politik” yang mereka sebutkan itu dimanipulir lagi menjadi “sopan santun dan tata krama a ala astana”.

Ethic demokrasi adalah pintu masuk bagi menyelami demokrasi yang rentetan sirah-nya berpangkal dari masa Res Publica-nya yang kemudian diperkukuh oleh filosof kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John Locke dan Jean-Jacques Rousseau. Begitu canggihnya formula ini sehingga  Freedom House –lembaga yang diprakarsai Presiden Amerika, Franklin D Roosevelt pada 1941- dalam laporannya yang bertajuk “The Global Trend” chart on Freedom in the World 2007: Freedom Stagnation Amid Pushback Against Democracy , disebutkan kalau demokrasi merupakan bentuk final dari pemerintahan.

Di antara bahan dasar dari ethic demokrasi ini, sesuai dengan perjuangan Revolusi Perancis (1789-1799) adalah Liberté (kebebasan), égalité (persamaan), dan fraternité (persaudaraan). Meski demikian, wajib diingat kalau semboyan yang konon berasal dari pemikiran filosof Perancis, Pierre Henri Leroux (1797-1871), ini baru dilegalkan dalam kenegaraan Perancis pada akhir abad 19, hampir seabad setelah semboyan ini menggelora rakyat Perancis. Namun kemudian, setelah Perang Dunia ke-2, Amerika Serikat sebagai pemenang, merupakan negara pengekspor ide demokrasi ke seluruh dunia. Ide mereka, sebagai negara yang baku dasarnya adalah kawasan koloni Eropa, adalah “freedom and equality (kemerdekaan dan persamaan)”.

Locus of context demokrasi adalah Eropa dan Amerika. Bila Anda keluar atau mengesampingkan jalur ini, maka sangat bisa dipastikan demokrasi  yang sedang Anda cari-cari itu, sedang tersesat. (*)

2 thoughts on “Mengapa Anda Masih Memperjuangkan Demokrasi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s