Kota Medan: Sebuah Kota yang Harus Diselamatkan


Kota Medan berubah? Tunggu dulu. Dirangkai dengan beberapa analisis sejarahwan, pengamat arsitektur dan tata kota, sosial politik budaya, hingga masyarakat awam, perjalanan mengelilingi hampir seluruh titik Kota Medan -mulai dari titik terpinggir hingga kawasan Lapangan Merdeka yang disebut sebagai titik nol Kota Medan (dan Sumut)- konsep Kota Modern yang asri dan memperhatikan faktor sejarah dan budaya lokal, belum bisa dikatakan memuaskan dan seimbang, kalau tidak bisa dikatakan makin kehilangan bentuk.

Wajah Kesawan berubah total. Sebagian toko-toko lama sudah tak nampak lagi wujudnya. Ada yang berubah wujud, berubah fungsi hingga berubah kepemilikan. “Sekarang di situ malah ada sarang burung walet. Seharusnya itu tidak boleh, karena dapat menyebarkan penyakit. Apalagi itu adalah kawasan inti Kota Medan. Makin kacau dan semrawut Kesawan itu kutengok,” kata Luckman Sinar (kini almarhum) dengan nada kesal.

Dr Phil Ichwan Azhari selaku Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan (Unimed), mengungkap, di akhir abad ke-19, replika peradaban di Eropa telah di-fotocopy menjadi satu wajah inti di Kota Medan. “Jadi wajah inti Kota Medan ini adalah sebuah replika peradaban yang dipindahkan oleh pemerintahan Belanda,” Jelasnya.

Lapangan Merdeka Medan -dulu dipanggil Esplanade– dan sekitarnya ini telah dirancang menjadi pusat kota dan nol kolimeternya Kota Medan. Ini adalah sebuah warisan yang sangat penting bagi Kota Medan. Dulunya lapangan ini adalah saksi sejarah di mana untuk pertama kalinya kemerdekaan RI diproklamirkan di Sumatra pada Bulan Oktober. Di kawasan ini pulalah pertempuran Medan Area berlangsung dengan dahsyatnya. Namun, kini sebuah tugu perjuangan di sana, lenyap tak terpandang lagi.

Di sekeliling Lapangan Merdeka Medan ini dulunya dijumpai 60 pohon trembesi –yang didatangkan langsung dari Amerika Latin- yang diniatkan menjadi paru-paru kota. Kini, pohon trembesi itu hanya tinggal 40 pokok saja. “Tak ada lagi memori tentang kemerdekaan di lapangan ini. Masyarakat dan wisatawan hanya mengenal Merdeka Walk yang tak sebanding dengan nilai sejarah di Lapangan Merdeka Medan,” gugat Ichwan.

Sejarahwan lain, Muhammad TWH, menggugat keras. Menurut dia, satu kelemahan Lapangan Merdeka ini yaitu pembangunan dan perawatan oleh Pemerintah Kota saat ini sering mengabaikan masalah kontinuitas desain. Banyak tambahan ornamen baru yang tidak nyambung dengan suasana yang sudah ada. Semisal pagar Lapangan Merdeka dan bentuk trotoar dan lampu jalanan tidak menyatu dengan suasana sekitarnya. Bahkan terakhir muncul Merdeka Walk yang merupakan pusat jajanan makanan dan hiburan. Kini Lapangan Merdeka kian sempit. “Lapangan tapi tak lapang. Tampak jelas ada perpaduan yang buruk antara masa lalu dan masa kini,” tegas dia.

Jangankan dibandingkan di masa Belanda, bila dikomparasi dengan masa 1950-an saja, wajah itu sudah jauh berbeda. “Dulu kita bisa leluasa melihat Lapangan Merdeka Medan, tapi sekarang tidak lagi. Terutama sejak di bangunnya kios-kios pedagang buku bekas dan tempat jajanan di situ. Kelihatannya semakin semrawut,” ujar Muhammad TWH.

Di sisi lain, Ichwan juga menyorot soal Gedung Balai Kota yang juga tergadai. Empat tahun belakangan dan sampai saat ini tak seorang pun masyarakat diizinkan masuk. Padahal di bawah gedung tua ini merupakan Kantor Walikota Pertama. Di dalamnya terdapat ruang bawah tanah, di mana pada masa perang kemerdekaan para pejuang kita bersembunyi di situ. “Kalau imbalan mereka merenovasi Balai Kota, ya, tak masalah. Tapi Balai Kota jangan dicaplok jadi miliknya. Inikan situs sejarah Kota Medan. Ini adalah ikonnya Kota Medan yang seharusnya dipertahankan,” sesal dia lagi.

Menurut Ichwan, polesan wajah sejarah di Kota Medan akan membuat dampak ekonomis yang tinggi. Wisatawan akan berbondong-bondong datang ke kota ini, karena kota ini bisa menjadi pusat wisata sejarah yang sangat luar biasa. “Sekarang ada 25 juta turis di Malaysia yang tidak datang ke Medan karena tidak ada yang bisa mereka lihat, mereka kunjungi, dan mereka nikmati di sini. Karena memang sudah hancur. 10% saja yang datang, sudah hidup kawasan ini,” terangnya.

Tak lain tak bukan, seruan “selamatkan Kota Medan”, layak dikumandangkan. (*)

—————————————————————————————————–

Pj Walikota Medan, Drs H Rahudman Harahap MM

“Itu Tak Bisa Saya Jawab. Yang Saya Jawab Kondisi sekarang …”

Kota Medan yang diniatkan sebagai kota metropolitan, sungguh mendapat ujian sangat kencang. Kondisi infrastruktur yang parah, banjir, ketidakseimbangan pasar modern dan tradisional, berhimpit-himpit dengan pelayanan publik yang terus mengundang hujatan. Gelembung persoalan itu ternyata masih diperkeruh dengan penataan tata kota dan tata bangunan yang menurut para ahli dan sejarahwan yang dihubungi, tidak bisa dikatakan baik dan malah buruk. Masuknya Walikota H Abdillah Ak dan Wakil Walikota Medan Drs H Ramli MM, yang terpilih dalam Pilkada Kota Medan 2005 lalu, ke dalam bui akibat tersangkut perkara korupsi, semakin memperkeruh wajah kota yang disebut-sebut sebagai ketiga terbesar di Indonesia ini.

Kota Medan yang pernah disebut-sebut “Paris of Sumatra” oleh sejarahwan Belanda, Dirk A Buiskol, justru terkesan seperti “mitos” yang dibesar-besarkan saja. Wajah sejarah di Kota Medan kelihatan kalah bersaing dengan “buldozer” modernisasi di hampir seluruh titik-titik situs sejarah yang masih berjejak di kota yang dulu didirikan oleh Guru Pattimpus ini. Lapangan Merdeka dan Balai Kota misalnya sudah mengalami perubahan wajah yang signifikan.

Tak heran, jabatan orang nomor satu di Kota Medan, selain menjadi buruan banyak politisi maupun pejabat, di sisi yang lainnya justru menanggung beban yang sangat berat. Penggabungan tiga konsep sekaligus, yaitu kota jasa, industri dan religius, dan di dimensi yang lainnya terduduk tuntutan perpaduan dengan faktor sejarah dan budaya, tak ayal bukan hal yang mudah. Tak tercapainya equilibrum antara 8 suku bangsa dominan yang ada di Kota Medan, niscaya menjadi soal yang begitu mudah mementik bara.

Dan kini, adalah Penjabat (Pj) Walikota Medan, Drs H Rahudman Harahap, yang ketiban tanggungan beban nan berat itu. Warisan-warisan persoalan masa lalu dan tuntutan masa depan kota, mau tak mau, suka tak suka, mengarah langsung di pundak pria berkumis yang dulu bertugas nun di kabupaten Tapanuli Selatan sana.

Di sela-sela kegiatannya yang cukup padat, akhirnya pasca sebuah event Gema Parisiwata (Gempar) Sumatera Utara 2009 di Lapangan Merdeka, pada Kamis (12 Nopermber 2009), , mendapatkan janji Rahudman untuk mengadakan wawancara khusus. “Nanti sore, di kantor,” katanya kepada Sri Mahyuni.

Di ruangannya, di Balaikota Medan, ditemani beberapa rekan dan stafnya, termasuk Sekda Kota Medan, Drs H Dzulmi Eldin S Msi (kini Wakil Walikota Medan), dia menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tenang dan sorot mata yang cukup tajam. Berikut rangkumannya.

Menurut Anda, bagaimana wajah kota Medan saat ini. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan wajah Kota Medan saat ini?

(Persoalan) Kota Medan ini ‘kan sedang kita selesaikan di Ditjen Cipta Karya di pusat, untuk segera kita perda-kan, sehingga ada pedoman yang jelas peruntukannya di Medan ini. Lapangan Merdeka sebagai ikon Kota Medan sudah banyak disoroti oleh masyarakat, termasuk adanya bangunan-bangunan di sekelilingnya. Karena semua itu menempuh berbagai prosedur, tentu kita harus lakukan apa yang bisa dulu kita lakukan. Antara lain, kita rencanakan tahun ini Lapangan Merdeka akan kita pagar. Tidak boleh lagi masuk kendaraan ke dalam sehingga nanti lapangan bisa kita tata sebagai lapangan kebanggaan kita di Medan. Kita memahami apa yang disampaikan oleh para pejuang kita bahwa lapangan ini adalah lapangan perjuangan. Kita sepakat itu. Dan saya sebagai anak veteran juga menganggap seperti itu.

Apakah Merdeka Walk juga akan digusur dan bagaimana dengan Balaikota (lama)?

Kalau kita melihat ‘kan perjanjiannya beberapa puluh tahun. Tentunya karena itu sudah prosedur, sudah sesuai, kita tungggu dululah. Tentu langkah-langkah ke situ kita pikirkan. Dan mengenai Balaikota, itu ‘kan masih ada. Balaikota yang depan itu kan ikon yang bisa kita lihat saat ini. Itu masih milik pemerintah kota, tidak di kelolai oleh pengelola atau PT (Grand) Aston. Itu tetap kita yang mengelola.

Bagaimana konsep Kota Medan dalam menyeimbangkan sejarah yang dimiliki bangunan-bangunan bersejarah dengan modrenisasi ke depan?

Kita ingin ada SK Walikota tentang bangunan-bangunan tua yang harus dilestarikan. Ini seharusnya segera kita perda-kan agar ada dasar hukum andaikata ada langkah-langkah, baik itu pengrusakan atau penghilangan bangunan-bangunan tua, ini akan bisa secara konsisten kita pertahankan. Ada beberapa aset bangunan-bangunan tua tapi tak dipelihara dan tidak diurus. Coba kita lihat itu, banyak. Harapan kita kedepan, harus kita lokasikan-lah misalnya pemeliharaan bangunan-bangunan tua, sehingga dia tetap mencerminkan sebagai salah satu ciri khas Kota Medan dan merupakan objek wisata kita yang harus kita pertahankan.

Bagaimana pendapat Anda soal pandangan masyarakat yang menyebutkan kalau Kota Medan dengan pembangunan dan modernisasinya ini tidak mempertimbangkan faktor sejarah?

Kita berniat dan berkeinginan agar faktor sejarah ini tetap menjadi bagian dari perkembangan Kota Medan. Karena kita ingin kemajuan kota Medan ini harus tetap mencirikan budaya bangsa kita. Medan ini ada 8 etnis yang harus kita pelihara dan kita lestarikan. Inilah kebanggaan kita dan kekayaan kita yang harus kita pelihara.

Apakah kita memiliki payung hukum untuk melindungi bangunan-bangunan tua tersebut?

Justru karena itu tadi. Dengan keputusan walikota ‘kan belum begitu kuat. Dengan adanya seminar maupun lokakarya tentang bangunan tua yang kita buat nanti, maka dengan dasar itu nanti kita perdakan sehingga ada peraturan yang mengikat tentang bangunan tua ini.

Apa yang dilakukan pemko untuk melestarikan sejarah dan budaya di Kota Medan?

Yang kita lakukan contohnya sekarang ini ‘kan kita sedang mengadakan Gema Pariwisata. Kemudian akan kita lakukan perlombaan pawai budaya 8 etnis yang nanti akan digelar diberbagai kecamatan, dan dalam waktu tidak lama lagi kita akan mengadakan pesta budaya. Nantinya kita juga bisa buat pesta lagu-lagu batak, bukan hanya Melayu tentunya. Dari 8 etnis yang ada di Medan ini harus kita tumbuh kembangkan. Tidak ada prioritas.

Apakah ada rencana untuk mengembalikan Kota Medan seperti dulu dengan wajah yang masih asli dan asri?

Saya kira iya. Yang ada sekarang inilah yang perlu kita pelihara. Tidak lagi terjadi gonta-ganti, bongkar sana bongkar sini. Kita harus atur dan tertibkan sehingga nantinya benar-benar bisa mencerminkan budaya. Soalnya Kota Medan ini termasuk salah satu kota budaya yang mempunyai bangunan-bangunan kuno. Baru-baru ini Pak Sekda ikut rapat yang membahas tentang kota-kota bersejarah di Solo. (Rahudman menoleh kepada Sekda Kota Medan, Drs H Dzulmi Eldin S Msi, dan bertanya soal rapat tersebut, red) Itu berarti kita masih dinilai mempunyai bangunan-bangunan kuno yang memiliki nilai sejarah. Tapi berbicara soal budaya, 8 etnis budaya yang ada di Medan ini harus kita tumbuh kembangkan karena merupakan kekayaan masyarakat kita.

Pemko Medan sendiri memiliki konsep dalam memajukan wisata budaya dan wisata kota Tua?

Iya, dong. Konsep kita adalah bagaimana kita meningkatkan dan menumbuh kembangkan berbagai objek-objek wisata. Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi kita akan buat buat pesta budaya, seperti misalnya kalau kita bicara etnis. Kita pelihara Ramadhan Fair kemudian nanti akan ada Christmas Season. Jangan ‘kan dulu wisatawan manca negara, minimal wisatawan domestik-lah yang ingin melihat apa kemajuan-kemajuan (di kota ini). Kita melihat memang masih sangat banyak yang harus kita lakukan di Medan ini. Kita memulailah. Mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik.

Bagaimana dengan gugatan soal Kota Medan adalah kota yang tidak menghargai sejarahnya sendiri ?

Kita sangat menghargai Kota Medan sebagai kota sejarah. Kota Medan sangat menghargai sejarahnya sendiri. Buktinya kalau kita memberikan souvenir kepada tamu-tamu kita, baik dari daerah lain maupun luar negeri, selalu kita berikan bingkisan seperti lukisan Istana Maimun, Mesjid Raya, dan lain-lainnya, termasuk lukisan bangunan-bangunan tua nantinya. Tapi itu masih terbatas lah.

Kalau memang menghargai, mengapa Balaikota dan Lapangan Merdeka dirubah wajahnya?

Itu tak bisa saya jawab. Yang saya jawab yang kondisi sekarang. Kau ‘kan memahami itu. (*)

——————————-

Reportase: Sri Mahyuni, Penulis: Nirwansyah Putra

Postingan ini merupakan bagian dari laporan utama di Harian MedanBisnis, sekitar bulan Nopember 2009. Sekiranya ini dapat menjadi review, bahwa Kota Medan sebagai ibukota propinsi Sumatera Utara, belumlah dapat dikatakan mengalami perubahan berarti sejak Rahudman Harahap ditunjuk sebagai Penjabat Walikota Medan hingga menjadi Walikota definitif 2010 kemarin.

foto rahudman diambil dari tribunnews.com

3 thoughts on “Kota Medan: Sebuah Kota yang Harus Diselamatkan

  1. Numpang promo ya gan..:D

    LOWONGAN KERJA SAMPINGAN GAJI 3 JUTA /MINGGU

    Kerja Management dari program kerja online (Online Based Data Assignment Program / O.D.A.P) MEMBUTUHKAN 200 KARYAWAN diseluruh indonesia yang mau kerja sampingan online dengan potensi penghasilan 3 JUTA/MINGGU+GAJI POKOK 2 JUTA/BULAN, Tugasnya hanya ENTRY DATA, per entry @10rb, Misal hari ini ada kiriman 200 data dari O.D.A.P yang harus di ENTRY berarti kita dapat hari ini @10Rb x 200 = 2 JUTA. Lebih Jelasnya kirimkan Nama LENGKAP & EMAIL ANDA.

    Buka http://www.penasaran.net/?ref=cdizbb

    Like

  2. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

    Like

  3. Aduh, uang sebanyak itu diberikan ke perompak Somalia? Senang dong. Itu kan uang rakyat? Kenapa tidak dikirim saja Kopasus? Inilah kalau negara dipimpin pemimpin tidak berani. Alasannya macam-macam, takut awak kapal meti kek, tokek kek. Habis dong uang rakyat.

    Kalau bom itu, biasa, mengalihan isu juga. Itu agar perhatian masyarakat tidak pada isu pembangunan Gedung Mewah DPR dan tidak ke isu pembahasan dan peradilan skandal Bank Century. Enggak ada hubungannya dengan teoris. Umar Patek dll juga enggak ada. Dibilang TV ONE bahwa Umar Patek ditangkap di Pakistan, itu bohong. Kita memantau TV-TV internasional, enggak ada berita penangkapan itu apalagi berita orang nama Umar Patek, ada-ada saja negeri kita ini. Itu semua tokoh-tokoh rekayasa, yang diciptakan polisi, untuk membodohi publik Indonesia yang bodoh. TV-TV Indonesia membebek polisi. Coba pikirkan. Kita semua tahu itu semua dari versi dan pihak polisi. Tokoh-tokoh perwayangan ala polisi. Itu rekayasa isu juga. Pakai dong otak kita dan logika sehat kita. Allah Maha Mengetahui, rekayasa-rekayasa polisi itu dan pemerintahan SBY.

    Kita orang-orang PKS, kita orang-orang PAN, bahkan saudara-saudara kita orang-orang PDIP, orang-orang Gerindra dan orang-orang Hanura, semuanya tahu permainan PD dan Golkar ini.

    kalau begitu …😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s