Cerita Porno dari Sudut Kampus


Di kantin kampus, suatu hari saya berdiskusi panjang lebar dengan salah seorang aktivis teater kampus. Saya bercerita soal sulitnya membuat sebuah cerita porno.

Iya, cerita porno. Saya bilang, saya sudah berusaha menuliskan cerita yang sering disebut sebagai “stensilan”. Kata “stensilan” itu memang kadar merendahkan, menganggap bahwa cerita dalam kategori porno yang demikian bukanlah karya sastra, bukan suatu tulisan yang layak dibaca, yang layak untuk dipelajari, apalagi untuk diproduksi. Pokoknya, rendahlah.

“Saya belum mampu hingga sekarang,” kata saya kepada dia.

“Kok begitu? Mengapa kepengin?” tanya dia.

Penjelasan saya singkat saja. Membuat cerita porno itu bagi saya adalah hal susah. Membuat bagaimana orang menghayal, berimajinasi entah kemana-mana dan kemudian terangsang secara pikiran dan biologis, bagi saya itu merupakan komponen utama dari cerita porno yang paling sulit, paling bandel untuk ditaklukkan.

Bacaan-bacaan buku keilmuan umumnya lebih bersifat kognitif, memenuhi hasrat rasionale. Satu sisi, dia memang menyehatkan jiwa dan secara tidak langsung juga membuat badan sehat. Nah, soal itu biar saja orang-orang yang belajar di Fakultas Kedokteran yang memikirkan. Dan bacaan yang bersifat kognitif ini bukan jawaban bagi yang saya resahkan.

Kata orang, seni adalah jawaban bagi Anda. Iya, benar itu, kata saya. Seni mampu menghaluskan, melembutkan, menggelorakan jiwa dan seterusnya. Dia bisa membakar, dia juga bisa mendinginkan. Dia membuat jiwa terbang ke alam semesta dan bahkan ke luar alam semesta, ke alam yang terbayangkan, ke alam yang tak terbayangkan. “Bahkan mungkin saja ke luar dari lingkup ruang dan waktu,” sambut saya.

Namun aneh juga, kata saya lagi, kalau cerita porno, justru hendak dieliminir dari ranah kesenian yang perlu dibaca. Dari segi etika moral, mungkinlah. Tapi bukankah dari Iblis pun bisa ditemukan hikmah?

Nah, saya perlu itu dari cerita porno.

“Jadi, beruntunglah Anda,” kata saya kepada seniman teater kampus itu, “Yang mampu membikin puisi yang menggelorakan semangat saya.”

Saya bilang lagi, kalau banyak karya seni yang memang mampu menggetarkan hati, tapi lebih banyak lagi yang kering makna, yang tandus dari hasrat. Dan kalau mau dikuliti, akan lebih menggunung lagi karya-karya yang tak punya kemampuan untuk membikin pembacanya “terangsang” secara biologis, yang membuat dirinya tak sekedar bergetar tapi juga melakukan aksi yang inheren dengan yang baru dibacanya.

Saya langsung teringat retorika khas Soekarno yang sering dikatakan mampu membikin orang untuk rela mati bagi dia. Atau juga Bung Tomo. Tapi itu lebih oral verbal. Orang-orang dapat melihat stimulatornya langsung. Itu kayak film-film bokep juga. Yang saya maksudkan adalah rangkaian panjang dari huruf-huruf. Itu sama sekali tak mudah.

***

Tak sampai 48 jam kemudian, si seniman tadi mengirimkan saya sebuah tulisan. Saya terkejut membacanya. Saya mengira dia sedang curhat dan meminta saya memberi respon terhadap tulisannya. Tapi saya salah. Rupanya dia membuat sebuah cerita porno.

Dan sekali lagi, saya terangsang. (*)

One thought on “Cerita Porno dari Sudut Kampus

  1. gambar sampulnyah jadul .. …. koleksi pribadi ya bang😆

    seni yang penuh hasrat🙂

    sampulnya mah udah jelas dikasih mbah google … pengen ngoleksi tapi dulu ada laksus hahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s