Ulil Cuma Usil Saja


Gagasan Ulil Abshar Abdalla perlu dibaca, walau belum ada ijtihad yang benar-benar baru dan orisinal dari gagasannya. Paling tepat adalah repetisi dengan kemasan “modern”. Hal ini juga berlaku untuk Nurcholis Madjid (alm) dan Abdurrahman Wahid. Gagasan Ulil tentang “Keadilan” sudah jadi term umum dalam pemikiran Islam yang sehat. Bandingkan dengan term keadilan yang sudah diterapkan Amien Rais dalam konsep federalisme-nya. Dari tulisan-tulisannya,  terlihat kalau Ulil belum mampu menjabarkan kontekstualisasi Islam Universal dalam bingkai ke-Indonesiaan.  Tapi, langkah dia mengambil konsep “adil” dalam pemikirannya, itu sangat perlu dihargai.

Langkah Ulil yang masuk ke Partai Demokrat justru menandakan kebingungannya akan gagasannya sendiri. Tentu, bila dia sudah punya gagasan itu, dia akan mudah mengatakan kalau Partai Demokrat bahkan tak menyentuh sama sekali universalitas Islam. Terlalu sulit menemukan perbedaan yang signifikan antara gagasan Partai Demokrat yang notobene keluar dari rahim Susilo Bambang Yudhoyono, dengan keterpesonaanya (atau mereka) akan demokratisasi ala Amerika.

Kelahiran demokrasi yang mengambil tempat di Eropa, juga menjadi penting untuk diperbincangkan. Locus ini sangat berbeda dengan demokrasi Amerika yang masyarakatnya dibentuk oleh para pendatang dan kebanyakan merupakan  orang buangan dari Eropa. Dengan latar Amerika yang demikian, adalah hal wajar bila demokrasi Amerika mulanya disusun atas dasar persamaan hak, derajat dan martabat sesama bangsa. Kalimat Khairil Anwar, “Dari kumpulannya terbuang,” (walau dari segi substansial tak ditujukan pada demokrasi) merupakan kalimat bisa digunakan untuk menggambarkan hal tersebut.

Namun, demokrasi Amerika juga terlalu sering dikabarkan “tidak jujur” dan “tidak adil”, ketika bangsa Indian justru menjadi masyarakat marginal di sana. Aktor film “Godfather”, Marlon Brando, sendiri pernah menolak penganugerahan Oscar atas dirinya karena menolak perilaku diskriminatif terhadap suku bangsa Indian. Demokrasi Amerika juga dipenuhi oleh darah-darah “civil war”, perbudakan dan konflik rasialis bangsa Afrika, Cina, Hispanik dan bangsa Asia lainnya.

Tak bisa juga dipungkiri kalau demokrasi ala Amerika memanglah menempatkan rakyat dalam posisi yang kuat. Itu mesti diakui. Namun, saking kuatnya, sisi substansialnya jadi terabaikan. Itu ada penjelasannya. Kayak sekarang, Obama masih bingung soal kaum homoseksual. Lha, kalau 50% + 1 orang sudah setuju homoseksualitas, ya, demokrasi mesti mengiyakan. Apapun kata orang konservatif soal homoseksual yang melawan hukum alam dan hukum tuhan, ya, tak perdulilah. Moralitas itu ditentukan massa. Bahwa setiap individu menentukan sendiri esensinya, itu nanti bisa didiskusikan lagi di ranah sosial dan budaya.  Itu kan khas gaya berpikirnya relativisme yang aneh. Ah, relativisme itu begitu menggoda untuk diterapkan. Bahkan untuk di Indonesia.

Postingan ini sangat sederhana dan memang tidak diniatkan untuk membahas Ulil Abshar Abdalla, yang konon, dikirimi bom buku karena pemikiran-pemikirannya. Aneh, karena Ulil bukanlah “sebesar” yang dia atau mereka kira. Saya tak yakin juga kalau yang mengirimi dia itu dari kalangan Islam fundamentalis atau “tradisionalis”. Siapa pula yang berhak melabeli “fundamentalis” atau “tradisionalis” itu? Satu lagi, kalaupun memang ada dan label itu bisa dibenarkan, saya pun tak yakin, kelompok yang disebut belakangan itu, masih kerdil pemikirannya sehingga begitu “besarnya” memandang sosok Ulil ini.

Atau jangan-jangan, yang mengirimi bom itu bukan berasal dari ranah pemikiran dan kelompok Islam. Siapa tahu?

Ulil? Ah, dia cuma usil saja …🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s