Pasca Musywil Sumut; Ada Banyak Orang, Tapi Sedikit Pemikiran


Saya tak banyak-banyak kali menatap pergelaran Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara 2011 yang kemarin. Ada banyak hikmah di sana. Ada banyak term pokok-pokok pikiran yang asyik didiskusikan. Ada banyak skala prioritas. Tentu saja, ada banyak orang di sana.🙂Paling tidak, dua arus besar sedang bertarung; kubu status quo dan re-ijtihadi Muhammadiyah. Kubu status quo adalah kelompok yang terus-menerus, dengan segala cara, mempertahankan kekuasaan, kepentingan dan keberlangsungan hidupnya di Muhammadiyah. Mereka butuh Muhammadiyah sebagai cantolan untuk terus mengeruk keuntungan pribadi dan kelompok melalui gerak amal usaha Muhammadiyah.

Bagaimanapun, amal usaha Muhammadiyah tidak bisa dianggap enteng. Dia menghasilkan perputaran finansial puluhan miliyar setiap tahun dengan nilai investasi dan aset puluhan kali lipat dari capital flow-nya. Tidak hanya finansial, amal usaha juga menjadi batu loncatan yang cukup canggih untuk menapak eksistensi di lapangan sosial politik di luar Muhammadiyah. Ini bukan hanya terjadi di Muhammadiyah Sumut, tapi jamak terjadi di daerah lain, bahkan di pusat. Ini pola yang sangat meresahkan dan mengkhawatirkan memang.

Pola pikiran yang seperti itu, memang cukup sederhana dan sudah berusia sangat tua. Ini jalan pikiran bukan khas Muhammadiyah, tapi paradigma yang memang sudah hidup di dalam darah setiap manusia. Muhammadiyah didirikan, dengan dasar Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad, salah satunya justru dalam kerangka mengendalikan nafsu yang ada dalam diri. Nafsu-nafsu itu kini telah bermetamorfosis dalam pragmatisme sempit, picik dan yang pasti licik.

Kubu kedua adalah kelompok yang menginginkan adanya Re-Ijtihadi yang terus-menerus, simultan dan komprehensif. Lambang gerakan ini bila dianalogikan akan seperti roda ataupun garis melingkar. Simbol Muhammadiyah juga begitu. Sebuah circle symbol yang dari dalamnya memancar sinar matahari. Sinar matahari itu sumber kehidupan. Dedaunan bisa berfotosintesis bila terkena sinar matahari. Dedaunan menjadi makanan utama kelompok hewan herbivora. Kelompok herbivora adalah sumber utama makhluk karnivora dan omnivora. Makhluk-makhluk akan mati, melebur dalam tanah dan kemudian dikonsumsi kembali oleh akar-akar pepohonan. Demikian seterusnya. Inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiun, semua datang dari Allah dan semua akan kembali kepadanya.

Ijtihad kini menjadi barang paling langka dari sebuah organisasi yang mendasarkan ijtihad dalam gerakannya, seperti Muhammadiyah ini. Satu di antara fundamen gerakan ijtihad yang terutama adalah amal usaha di bidang pendidikan. Dari bidang pendidikan inilah sumber dan bibit pemikiran baru yang selaras dengan perkembangan zaman berasal. Karena itu, semua pihak yang masih punya kepedulian terhadap gerakan ijtihad, haruslah menengok bahan baku dasar dari amal usaha bidang pendidikan Muhammadiyah.

Namun gerakan itu sudah usang dalam tubuh amal usaha. Justru kebalikannya, amal usaha kian digerogoti oleh kelompok status quo yang terus ingin mempertahankan kekuasaannya. Tapi ya sudahlah, tak juga kondisi itu untuk diratapi.

Kelompok re-ijtihadi adalah sebuah kelompok substansial dan bukannya simbolik. Semua orang, semua kelompok sebenarnya menjadi bahan baku dasar dari kelompok ini. Hanya saja garis perbedaannya cukup tegas bila dibandingkan dengan kelompok status quo: re-ijtihadi adalah sebuah garis gerakan yang mengusung perubahan Muhammadiyah ke arah yang lebih dinamis, lebih maju, lebih modern, lebih baik dari yang dulu, dengan cara-cara yang sudah digariskan oleh penghulu Muhammadiyah  yaitu Muhammad ibn Abdullah. Dan untuk itu sebenarnya, kepada peserta didik dan mahasiswa Muhammadiyah selalu diperdengarkan surah al-Imran ayat 104.

Untuk soal ini, dalam suatu khutbah Jum’at, saya pernah mendengar, bahwa untuk mengimplementasikan Al-Imran 104 tidaklah sulit, terutama pada bagian “menganjurkan pada kebaikan”. Yang tersulit adalah bagian selanjutnya yaitu “mencegah dan memberantas kemungkaran”. Khatib itu benar adanya.

Well, gerakan re-ijtihadi tak pernah berhenti hanya karena suatu musyawarah wilayah sudah selesai. Bilapun seandainya dalam musyawarah tadi pokok-pokok pikiran re-ijtihadi sudah tertampung, demikian juga dengan mereka yang masih concern terhadap itu, maka dia pun tak lantas berhenti. Justru teman terbaik dari gerakan re-ijtihadi adalah “masalah”. Substansi dan kelompok yang menjadi “masalah” justru adalah mereka-mereka yang harus terus menerus diajak berdialog untuk mengusung perubahan. Sampai 13 tahun nabi di Mekkah dan 10 tahun di Madinah, adalah dalam kerangka menyebarkan rahmat kepada siapapun; pembunuh, pencuri, maling, pengkhianat, pemerkosa dan seterusnya. Siapapun.

Yang harus disepakati adalah gerakan ijtihad tidak boleh berhenti. Kedua, menyemarakkan majelis-majelis pemikiran dalam tubuh Muhammadiyah. Ketiga, menyusun, menyepakati dan menjalankan substansi skema dakwah. Amal usaha Muhammadiyah seperti Perguruan Tinggi Muhammadiyah sepatutnya awas kalau “majikan” terutama dari PTM bukanlah Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), melainkan Muhammadiyah dan Islam yang rahmat bagi seluruh alam secara totalitas. Namun itu tak membuat amal usaha bidang pendidikan lepas dari hukum positif yang berlaku. Bahkan, pendiri Muhammadiyah juga punya kerangka pemikiran yang sama bahwa Muhammadiyah juga punya kewajiban untuk memajukan pendidikan nasional Indonesia.

Dengan paradigma universalitas itu, maka wilayah cakupan Muhammadiyah tidaklah lagi hanya berada di sekitar “tempurung” kelapa. Dus, fakultas, jurusan dan organik akademis yang digerakkan, bukanlah menjadi kumpulan “pabrik-pabrik tenaga kerja”, melainkan kumpulan dari institusi yang secara terus-menerus mencari jawab dari persoalan dunia modern dan dinamika alam semesta.

Saya rasakan, postingan ini masih terlalu umum. Tapi itu karena persoalannya justru di situ.

One thought on “Pasca Musywil Sumut; Ada Banyak Orang, Tapi Sedikit Pemikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s