Ada Kalanya Mistis


Kalau tuhan mau, dunia bisa jadi surga sekejap mata. Zaman Muhammad turun, peradaban Romawi juga sedang asik-asiknya, sementara di tanah Arab juga sedang jahil-jahilnya. Di tengah konteks yang demikian itu, sosok Muhammad itu memang bisa dimasukkan dalam kategori khayali semata. Jalan pikiran orang Yahudi, Nasrani dan dunia secara umum waktu itu bisa dipahami.

Namun juga sebagian kecil merasa sudah harus ada sosok yang memimpin gerakan menuju dunia yang lebih baik, lebih beradab, lebih manusiawi. Sebelum Muhammad turun, sudah ada gerakan yang bersifat reformatif di jazirah Arabia, namun itu gagal.

Gerakan yang Anda sebut itu, mulai dari diri, keluarga dan kemudian menggelinding menjadi universal, bisa saja dikategorikan gerakan psikologis. Paling banter dia bisa ditingkatkan menjadi “psikologi sosial”. Tingkat kebenarannya diakui dalam tradisi keilmuwan, namun daya pengaruhnya dalam spektrum yang lebih luas, bisa sangat diperdebatkan.

Ada kesulitan dari peradaban modern untuk menjelaskan mekanisme proses turunnya Muhammad dan sosoknya yang suci itu, dari langit ke bumi. Namun, peradaban modern tidak akan sesulit itu menjelaskan mekanisme lahirnya sosok manusia Muhammad. Muhammad adalah seorang manusia yang kemudian dalam sejarah diceritakan berinteraksi dengan gerakan reformatif di jazirah Arabia, menjumpai beragam orang dalam jalur perdagangannya, membandingkan cerita Bani Hasyim dan keturunan sebelumnya (Muhammad sangat tahu, dia dilahirkan dari jalur kenabian yang tidak sembarangan) dan kemudian berangsur-angsur berubah menjadi gerakan sosial politik. Dia dicatatkan dalam sejarah sebagai pemimpin politik dan memimpin sebuah negara dengan segala kompleksitas di dalamnya.

Saya ingin membandingkan Muhammad dan Imam Mahdi ini dalam metode komparasi yang tidak berbeda jauh namun dalam konteks peradaban yang berbeda.

Tentu saja, seperti yang telah saya tulis, mekanisme “turunnya” Muhammad dan Imam Mahdi akan sulit dijelaskan oleh metode keilmuwan saat ini yang lebih mengedepankan sisi empirik. Tetap ada metode mistis yang bisa menjelaskan itu, yang bisa menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah tidur mengurus makhluknya. Alquran menjadi petunjuk utama.

Bagi saya, Imam Mahdi, tidak diceritakan Tuhan dalam kerangka “mitologi”. He is real, he is human. Tapi siapa dia?

Namun, seperti juga yang terjadi pada pembicaraan “langit”, selalu lingkaran mistis akan melingkupi. Di situlah menariknya mencari jawab dari sebuah rahasia bukan?

***
Karena Tuhan tak pernah tidur, maka tak ada justifikasi yang bisa dipakai untuk pembiaran kemungkaran. Kalau Anda mau merubah nasib, tirulah Muhammad itu. Kalau tidak mampu, sedikitnya pun tak apalah. Kalau tak bisa, berdoa pun sudah untung.

Kalau Anda bisa dan mampu merubah dunia, apakah Imam Mahdi masih diperlukan lagi?

Bagaimana kalau begini: Kalaulah Ibrahim, Ismail, Isa dan serangkaian nabi-nabi lainnya telah membuat dunia menjadi lebih baik, perlukah sosok Muhammad?

Saya geli membaca pertanyaan itu. Hahaha …😀

4 thoughts on “Ada Kalanya Mistis

  1. yang mana yang duluan nih? Tulisan inikah yang cocok untuk perdebatan di FB kemaren atau perdebatan itu yang memicu munculnya tulisan sebaik ini?
    Ini bukan cerita mistis: “kalau Tuhan mau”.

    diskusi yang di FB yang duluan … terus diposting kemari.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s