Terlaknatlah Jamaah Koruptor


Abdillah, mantan Walikota Medan yang terpilih pada 2005, divonis korupsi dan bakal bebas sebentar lagi. Syamsul Arifin, yang diangkat sebagai Pejabat Walikota Medan pada Februari 2010 lalu, disangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pekan ini. Gambaran buruk sebuah kota yang diniatkan menjadi “religius”.

* * *

Malin Kundang punya dosa yang sangat-sangat besar. Derajat dosanya hanya satu tingkat di bawah dosa syirik yang tak terampunkan; durhaka pada ibu yang melahirkan. Tuhan tak mungkin tak punya tujuan ketika mengabulkan kutukan ibu Malin Kundang. Dan lantas, Malin Kundang terkutuk menjadi batu.

Kematian seorang manusia, dalam perspektif agama, adalah bukan kematian dalam makna denotatif. Dia lebih bermaksud sebagai satu langkah menuju suatu alam lain; alam kubur dan kemudian hari akhir. Barulah setelah akhir nanti, diputuskan, apakah dia akan masuk neraka atau surga. Yang diputuskan masuk neraka, boleh jadi hanya sementara sebagai penebusan dosanya dan setelah bersih lantas dimasukkan ke dalam surga. Tapi yang masuk surga, akan melangkah ke alam keabadian. Hingga kini, manusia sendiri belum mencapai kata sepakat, seperti apa makna keabadian itu. Kesepakatan itu masih berkisar di seputar pembicaraan bahwa keabadian adalah kondisi konstan yang terus-menerus, tak berubah baik zat maupun maknanya. Setelah itu, topik keabadian masih tutup buku. Masih menemui jalan buntu; apakah keabadian surgawi punya makna sebuah perjalanan yang bakal lebih panjang, lebih kreatif, atau malah menjadi titik berhenti dari seluruh perputaran “hidup”.

Tapi, di situ pula letak perbedaan antara “keabadian” makhluk hidup dan benda mati. Dia tetap hidup, dia tetap diperbincangkan, dia tetap bergerak mencari bentuk dan berputar. Yang menjadi titik utama perbedaannya adalah kata “mungkin”. “Mungkin” adalah pintu kebebasan. “Mungkin saja, di dalam surga nanti kita tidak hanya menikmati hasil apa yang diperbuat di bumi,” “Mungkin saja ada kenikmatan lain”, atau “Mungkin saja, Tuhan nantinya punya maksud lain yang manusia sama sekali tak tahu”, dan seribu macam kemungkinan lain bisa tumbuh bak dedaunan dan bunga-bunga di musim semi.

Lain dengan Malin Kundang yang dikutuk dan kemudian menjadi batu, sebuah benda mati. Mati yang ini berarti betul-betul mati, tak menjadi apa-apa, tak punya esensi. Esensinya tergantung pada makna yang diberikan kepadanya. Tapi secara zat-nya, batu adalah benda yang tak berubah, tak bisa merubah dirinya, tak punya daya apa-apa dan akan begitu terus.

Bisakah Anda bayangkan kalau Anda dalam kondisi seperti itu? Tak punya daya apa-apa, lumpuh dan hanya diam? “Diam berarti mati,” kata seorang filsuf.

Manusia memang punya bakat untuk mati, apalagi causalitas alamiah pun berkata demikian. Ada kematian karena ada kehidupan, begitulah kira-kira. Namun orang hidup pun layak juga dikatakan zombie alias “mayat hidup”. Bagaimana Anda menyerna hidup tapi mati itu? Bagaimana kalau begini saja: Anda hidup tapi kehidupan Anda tak punya greget sama sekali. Atau kalau mengikut kata Sartre: esensi yang dihasilkan manusia bisa-bisa “nol” alias tak berarti apa-apa. Bisa jadi, rutinitas telah membuat potensi kreatif Anda mati.

Tapi itu semua, tak lebih buruk dari apa yang menimpa Malin Kundang. Dia jadi batu. Habis cerita.

* * *

Malin Kundang, juga, adalah sebagai perlambang dari kedurhakaan manusia dan anak bangsa terhadap ibu pertiwinya. YB Mangunwijaya semasa hidupnya pernah mengungkapkan kondisi ibu pertiwi ini dalam bahasa yang lebih baik: saat ini, ibu pertiwi tak lagi merah wajahnya, tapi pucat pasi, karena terus diperkosa, tak hanya oleh orang dan bangsa asing, melainkan karena eksploitasi yang dilakukan oleh anak bangsanya sendiri.

Ibu pertiwi pucat pasi, karena di hadapannya terpampang manusia-manusia Indonesia yang menyedot kekayaan dirinya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Cara penyedotan itu pun di luar akal sehat bahkan tak mampu dilakukan oleh binatang yang paling buas sekalipun. Mulai dari kast mata seperti illegal logging, penghancuran alam karena menambang emas, batu baru, hingga minyak di kawasan Lapindo.

Anda wajib setuju dengan saya kalau tidak  hanya alam yang hancur. Penghisapan kesejahteraan rakyat oleh para elit, pejabat dan penguasa di negeri ini, dilakukan dengan cara yang hampir dilaknat oleh orang di seluruh negeri: korupsi.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Daerah, yang dimaksudkan tidak hanya menjadi operasionalisasi pemerintahan, tapi juga stimulus bagi kesejahteraan rakyat, ternyata hanya menjadi lahan basah dan subur yang terus-menerus dicuri oleh mereka-mereka yang punya akses untuk menembusnya. Siapa yang punya akses? Tentulah mereka yang diberi kewenangan eksekusi, legislasi dan budgetting.

Ow, bukan itu saja, Tuan. Yang disebut pertama itu lokomotif. Gerbong yang di belakangnya, ternyata jauh lebih banyak dan beragam. Dan kereta api ini pun khusus, tak hanya bergerbong di belakang, melainkan juga di samping, di atas, di bawah, atau bahkan di depan. Ya, mulai dari anak, istri, menantu, keponakan, teman SD-SMP-SMA hingga kampus atau malah di tingkat Taman Kanak-kanak, teman bermain di sungai, kenalan yang dikenalkan anak dari adik ibu dan seterusnya. Lagi? Ok. Ada gerbong teman seangkatan waktu zaman perang, rekan bermain golf atau futsal, orang yang membayari karaoke, dan seterusnya, dan seterusnya.

Korupsi itu enaknya dinikmati berjamaah. Jangan pula dibilang kayak bancaan. Walau prinsipnya sama yaitu semua menikmati, tapi bancaan itu bagian yang satu sama dengan yang lain. Namun kalau korupsi, bagian yang paling besar dinikmati sang komandan, sementara untuk level prajurit cukup dapat remah-remah. Itu pun kalau si komandan berkenan.

Tapi sudahlah. Masalahnya sekarang adalah mengapa Medan menjadi seperti kota terkutuk? Kota ini sebelumnya sudah hancur lebur ketika menjadi satu-satunya kota di dunia di mana Walikota dan Wakil Walikotanya masuk-masuk penjara gara-gara korupsi. Sekali lagi ya; inilah kota pertama di dunia yang dua pemimpinnya sekaligus masuk penjara. Kekuasaan menjadi kosong dan pembangunan jadi terhambat gara-gara ini.

Kemudian dua orang aparatur ditugaskan untuk memimpin. Pertama seorang yang dianggap berpengalaman tapi kemudian mengaku menyerah. Yang kedua, seorang yang dicomot dari kawasan yang selama ini dianggap “pinggiran” propinsi. Yang ini malah lebih gawat. Ditugaskan membawa kota ini untuk menyiapkan pemilihan kepala daerah, eh malah, ikut pula di pemilihan. Jangan lupa pula, teman kita yang satu ini pun dibisik-bisikkan pernah terseret-seret perkara dugaan korupsi pula. Dia pun mundur.

Nah, masuklah orang ketiga. Lah, yang ini malah sudah tersangkut perkara korupsi pula selama kepemimpinannya di Langkat. Dan kini, jadilah Kota Medan sebagai kota yang dipimpin oleh tersangka korupsi.

Surya Paloh, dalam deklarasi organisasi miliknya yang berjuluk “Nasional Demokrat”, pernah tercatat bilang begini: “Kita wajib heran, mengapa negeri ini seperti tidak ada kemajuan, jalan di tempat …”

Mungkin, inilah yang disebut Indonesia itu sedang “mati suri” atau malah zombie, mayat hidup. Lumpuh masih mending. Negara kita tetap hidup tapi bukan kemajuan yang didapatkan melainkan rentetan kasus-kasus yang memilukan. Dua puluhan juta orang tetap miskin dan menganggur. Martabat bangsa pun sedang dikatakan di titik nadir. Kasus Century sudah melukai rasa keadilan, mafia hukum tiba-tiba mendapat teman baru; mafia pajak, sesama jenderal berkelahi dan lain-lain, dan lain-lain.

Ah, mungkin ibu pertiwi sudah mengutuk negeri dan kota “religius” ini menjadi batu. (*)

7 thoughts on “Terlaknatlah Jamaah Koruptor

  1. jika tiba saatnya, foto-foto mereka tak cuma dipampang di baliho, tetapi diterakan pada kertas suara. Tukang Ngarang akan bagaimana? ha ha

    tukang ngarang ya tetep ngarang aja😀

    Like

  2. Sesgguhnya di antara yg aku khawatirkn atas kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarny kemewahn n keindahn dunia ini padamu “…..(Hr bukhari n muslim).
    dan itu nyata suda…memasuki relung-relung hidup manusia….kita….anda..dan saya

    untuk setiap artikel anda. saya mengaguminya.bila satu saat ada menemukan potongan -potongan kalimat anda disatu masa, disatu media. mohon tidak memerah wajah. tetaplah letakkan rambut anda pada posisinya. dan tak usa mencari tahu pencuri kalimat itu. cukup katakan ” stop saya muak padamu” dan sayapun akan berhenti menguntit anda.

    thank my inspiration.

    duh.🙂

    Like

  3. ass. ndak boleh gitu bang nirwan. syamsul itu orangbaik. makanya sebahagian besar warga sumut mengidolakannya saat mencalonkan diri menjadi Gubsu. salam

    Dia tersangka koruptor saat ini.😀 salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s