Pemain yang Bersembunyi Di Balik Billboard Kota Medan


Penulis: Nirwansyah Putra
Bahan dan data: Sri Mahyuni, Nirwan

Sejumlah pebisnis yang mengeruk keuntungan di balik maraknya bisnis papan reklame di Medan dan Sumut, tak hendak bicara soal iklan reklame yang sungguh ramai di Medan. Kue iklan di Sumut, konon, mencapai Rp 1,2 Triliun.

* * *

Dua institusi negara, Pemerintah Kota (Pemko) Medan dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Medan, sudah bercerita soal papan reklame yang  marak di Kota Medan. Pemko berkisah soal susahnya menertibkan iklan reklame karena ada kategori yang diterapkan. Untuk iklan komersial, Pemko akan sangat mudah menertibkan seandainya iklan itu dipampangkan tanpa izin dari pemerintah. Hal itu terkait dengan retribusi dan pajak daerah yang dipungut dari iklan komersil itu.

Namun bila dia termasuk iklan layanan umum dan iklan politik, Pemko menyatakan hal itu tidak masuk kategori yang akan dipungut retribusi dan pajaknya. Karena itu, tak perlu izin. Itu tandanya, kalau masyarakat menemukan spanduk dari salah satu partai politik yang akan melakukan musyawarah, tak ada retribusi yang akan dikenakan untuk itu.

Pemko tak menyebut jumlah persis papan reklame yang nampang di Kota Medan. Tapi paling tidak, Pemko menyebutkan di kisaran angka 400 biji. Seperti diketahui, jenis-jenis reklame outdoor misalnya adalah billboard, baliho, mini billboard, neonbox, dan seterusnya. Ukurannya tentu macam-macam. Data Pemko itu tentu bisa dijadikan pegangan sementara.

DPRD Medan bicara soal peraturan dan potensi kerugian negara. Mereka bilang, dengan jumlah yang kasat mata, maka seharusnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diterima oleh Pemko Medan, seharusnya bisa lebih banyak lagi. Anggota DPRD Medan, Parlindungan Batubara, menyebutkan potensi kerugian negara berkisar di rentangan Rp 10 Miliar – Rp 15 Miliar setahunnya.

Apa kata pebisnis yang bermain di iklan reklame?

Bersembunyi
Sejauh mata memandang yang terlihat hanya wajah sedih Kota Medan yang penuh dengan kerut-kerut material iklan di wajahnya. Apa pula pendapat para pelaku bisnis advertising tentang hal ini?

Sayang, seperti takut rahasia terbongkar, tak seorang pun dari mereka yang dianggap “kakap” dalam bisnis iklan reklame di Medan dan Sumut yang mau angkat bicara. Agaknya, tidak seorang pun yang mau ambil resiko dan disalahkan.

ajie karim

Ajie Karim misalnya. Dia adalah bos dari Bensatra Advertising. Sejumlah billboardnya terpampang di Kota Medan. Ciri khas billboard miliknya adalah tiangnya berwarna hijau. Dari informasi yang dikumpulkan, pria muda yang menjadi Ketua DPD Partai Gerindra Kota Medan ini, mempunyai jaringan billboard mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Lampung alias sepanjang pulau Sumatra. Beberapa waktu lalu, perusahaan iklannya makin kuat ketika dia berhasil mendapatkan kontrak dengan salah satu provider telekomunikasi yang mempunyai ikon warna merah. Kontraknya, wah. Dia berhasil membujuk perusahaan itu memasang iklannya di papan reklame miliknya di sepanjang Sumatra, khususnya Sumatra bagian Utara. Dia juga diketahui bermitra dengan Edy Koesriadi, pemilik Ody Lestari Advertising, untuk mendapatkan iklan produk consumer good yang juga dipasang sepanjang Sumtra. Kemitraan ini sudah berjalan tahunan. Ajie dan Edy makin kaya, karena dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari pengiklan dua produk tadi hingga order iklan ke media lain pun, lewat mereka.

Pundi-pundi Ajie Karim jelas tak sedikit. Kini, dia bahkan disebut-sebut sebagai ikonnya Partai Gerindra di wilayah Sumut dan pada Pilkada Binjai 12 Mei mendatang, dia juga menjadi salah satu calon Wakil Walikota Binjai 2010-2015. Tentu, siapapun tahu, untuk menjadi ketua partai dan maju menjadi kandidat dalam pentas Pemilihan Kepala Daerah alias Pilkada, perlu uang yang cukup besar.

Di tengah kesibukannya, pria ganteng ini dihubungi via handphone. Kepadanya akan ditanyakan soal iklan reklame yang membikin “rusuh” wajah Kota Medan. Apa katanya? Dia menjawab singkat, dia sudah tak terlibat lagi di dunia periklanan. Dia tidak memberitahu alasannya. Percakapan terhenti.

edy koesriadi

Pemain lain adalah Edy Koesraedi, pemilik Ody Lestari Advertising. Ciri khas tiang billboardnya berwarna biru muda. Salah satu billboardnya pernah memasang wajahnya, misalnya sebuah billboard di kawasan Sei Batanghari. Saat-saat ini, dia dikatakan sedang aktif di organisasi kemasyarakatan, Pendawa Lima. Posisinya saat ini adalah Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Sumut.

Pundi-pundinya semakin kencang ketika dia bersama Ajie Karim berhasil mendapatkan kontrak iklan dengan perusahaan provider telekomunikasi dan consumer good terkemuka. Berdua bersama Ajie, iklan produk ini terpasang di billboard milik berdua di sepanjang pulau Sumatra.

Kepada media beberapa waktu lalu, dia sempat bicara soal iklan politik, layanan umum dan komersial. “Memang, untuk iklan politik tidak ada retribusinya,” kata dia. Saat dihubungi waktu itu, dia mengaku sedang berada di mobilnya.

Namun, Eddy mengaku kalau pemasukan perusahaannya tidak bertambah dari pemasangan iklan politik dan layanan umum itu. Ketika dihubungi lagi untuk mengkonfirmasi soal semrawutnya iklan di Kota Medan, Edy pun langsung “menghindar”. “Saya sibuk, tak punya waktu,” kata dia ketika dihubungi lewat telepon.

Beberapa waktu lalu, pada Februari 2010, di sebuah media, Edy mengaku kalau P3I Sumut pihaknya perlu dilibatkan dalam pemasangan reklame khususnya di Kota Medan untuk menekan kesemrawutan. Bahkan permintaan itu sudah diajukan sejak 2003 lalu. Kini, entah bagaimana status permintaan itu. Kenyataannya, reklame di Kota Medan makin semrawut.

Sama seperti Ajie Karim, Edy juga masuk ke jalur politik. Ketika Pemilu 2009 kemarin, dia maju sebagai salah satu calon anggota legislatif di Deliserdang melalui Partai Indonesia Sejahtera (PIS) yang diketuai mantan Gubernur Jakarta, Sutiyoso.

iskandar ST, pemilik PT Star Indonesia Medan

Pemain besar lainnya adalah Iskandar ST. Billboard milik Iskandar punya ciri khas berwarna hitam. Dia merupakan pemain utama reklame di Kota Medan. Lobinya dengan Pemerintah Kota Medan sungguh kuat. Perusahaannya, PT Star Indonesia, mendapatkan kontrak-kontrak iklan dengan Pemko Medan dengan jangka waktu panjang. Bahkan, even dari Pemko Medan dan Pempropsu tampak selalu melibatkan dirinya. Misalnya saja seperti Ramadhan Fair dan Pekan Raya Sumatra utara (PRSU).

Iskandar tak hanya bermain di bisnis event organizer dan reklame, melainkan juga media massa. Dia memiliki beberapa media mulai dari media elektronik seperti radio hingga media online.

Iskandar merupakan pebisnis tulen yang kurang tertarik dengan masalah sosial politik. Namanya hingga kini tidak tercatat dalam satupun partai politik maupun organisasi kemasyarakatan. Tapi di organisasi periklanan, dia merupakan mantan Ketua P3I Sumut.

Pada Rabu (7/4), ponsel milik Iskandar dapat dihubungi. Namun karena kesibukannya, dia pun menyarankan agar membuat janji lagi pada Kamis (8/4). Tapi begitu hari H tiba, telpon genggamnya sama sekali tidak aktif.

Dari catatan yang dimiliki, pria ini memang “pelit bicara”. Komentarnya kebanyakan didapat ketika dia menghadiri even yang diselenggarakan perusahaannya bersama pemerintah. Namun, feeling bisnisnya cukup tajam. Dia tahu hubungan bisnis antara kegiatan sosial politik dengan ekonomi. Dalam satu satu waktu, kepada suatu media –yang terdapat dalam catatan -, dia pernah mengungkap kalau pada Pilgubsu 2008 lalu, kue iklan di Sumut  mencapai angka

Rp 25 miliar – Rp30 milia. Di media itu juga tercatat, kalau dia berujar, pada 2008, kue iklan di Sumut telah mencapai angka Rp 1,2 triliun. Iklan politik menjadi salah satu penyumbangnya.

Pemain reklame kelas kakap yang lain adalah Albert Khang. Dia merupakan pemilik Multi Grafindo Advertising. Ciri  tiang billboard Multi Grafindo adalah berwarna oranye. Sama seperti Aji Karim dan Edy Kusraedi, Albert Kang juga mendapatkan kontrak iklan dengan salah satu operator seluler besar di Indonesia yang punya ikon khas berwarna kuning. Dia sudah menjalin kerjasama dengan operator itu selama beberapa tahun belakangan ini dan menjadi penyumbang terbesar dari pemasukan perusahaannya.

multigrafindo mandiri advertising

Ketika dikonfirmasi, di tengah-tengah kesibukannya, Albert Khang masih mau menyempatkan mengangkat telepon. Awalnya Albert tampak keberatan ditanya-tanya, tapi dia masih merespon. Sayangnya Albert tak ingin dijumpai dan hanya mau diwawancara lewat telpon. Tapi karena keterbatasan waktu, janji wawancara pun tak terelaisasi. Albert mengaku sibuk. Ketika dihubungi lagi, reaksi Albert sudah gampang ditebak, dia mengaku sibuk. Selanjutnya sudah bisa diduga, ponselnya tidak aktif.

Pemain “lama” yang lain adalah seorang yang sudah dikenal lama dalam dunia entertain Medan. Namanya, Johan Sipahutar, pemilik Hans Advertising. Ketika dihubungi, Johan Sipahutar  mengaku tangah jatuh sakit hingga dia tak bisa dijumpai.

Cirri billboard milik Johan adalah tiangnya berwarna emas. Hans Advertising diketahui memenangkan kontrak iklan dengan salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Namun, selain bermain di bisnis reklame, Hans Advertising juga aktif bermain di pasar media massa dan event organizer.

Dia kini menjadi salah satu Dewan Pembina P3I Sumut dan dianggap sebagai salah satu senior. Johan kini juga aktif memprakarsai pembentukan Persatuan Event Organizer di Sumut.

Namun, pemain senior di dunia iklan reklame adalah Gaharu Advertising kepunyaan M Hasan Meliala SE. Hasan kini memiliki kontrak jangka panjang dengan produk rokok terbesar di Indonesia. Di kalangan periklanan, dia dikenal sebagai “sesepuh” dunia reklame di Medan. Salah satu dasarnya adalah Gaharu Advertising merupakan yang pertama berdiri di Kota Medan.

Kue Iklan
Dalam Website PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) dinyatakan kalimat yang sungguh bagus: visi mereka adalah terciptanya suatu lingkungan yang sehat, dinamis dan beretik tinggi bagi bisnis perusahaan periklanan.

Dalam website resmi itu juga didapat informasi kalau P3I Sumut memperkirakan bisnis periklanan di tahun 2010 kembali pulih setelah tahun 2009 lalu anjlok hingga 50% akibat krisis.

Sama sepeti tahun-tahun sebelumnya, penerimaan pendapatan iklan terbesar diperkirakan masih dari produk selular, rokok dan perbankan. Iklan produk makanan atau minuman dan kebutuhan rumah tangga alias consumer good juga tak kecil. Untuk menjaga persaingan tetap sehat, P31 juga sudah meminta ke pemerintah daerah agar dilibatkan dalam pemberian rekomendasi untuk pendirian perusahaan periklanan baru maupun pemasangan berbagai jenis reklame.

Nilai bisnis industri periklanan nasional tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp 53 triliun. Sementara untuk pertumbuhan tahun 2010 yang ditaksir akan naik 15%, bisa mencapai Rp 60 trilliun.

Untuk posisi teratas pada tahun 2009 ditempati oleh komunikasi, yaitu Rp 3,8 triliun, iklan sektor pemerintahan dan politik dengan belanja iklan Rp 3,6 triliun atau naik secara signifikan 64% dari tahun 2008 sebesar Rp 2,2 triliun.

Piala Dunia sepakbola pada Juni mendatang dipastikan akan menjadi perangsang paling aktif tahun ini untuk mendongkrak angka penjualan iklan. Seperti diketahui, pada Piala Dunia 2006 angka penjualan iklan sempat naik hingga 32%.

Secara global, meskipun terjadi krisis finansial, berdasarkan informasi yang sempat dilansir AC Nielsen, belanja iklan di 12 market Asia Pasifik naik 9% dari tahun 2008. China tetap memimpin total belanja iklan dengan total belanja iklan mencapai US$ 18 miliar. Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami kenaikan belanja iklan yang tinggi: 13%.

Namun, kenaikan penjualan iklan itu juga tak minim problem. Berdasarkan data BPP P3I, periode 2005-2008, ditemukan 346 iklan bermasalah dan  277 iklan dinyatakan telah melanggar etika pariwara. Kebanyakan pelanggaran tersebut terkait dengan penggunaan istilah atau kata yang yang bersifat superlatif tanpa bukti pendukung yang obyektif. Hingga Oktober 2009, ditemukan 150 kasus iklan bermasalah dan 100 diantaranya dinyatakan melanggar kode etik atau Pelanggaran etika.

Di Medan, masalahnya tentu tak hanya itu. Wajah kota yang acak-acakan akibat reklame outdoor, menjadi makanan sehari-hari warga Kota. Terbetik kabar, kalau di kalangan internal P3I, berkembang informasi bahwa yang menjadi punca musabab adalah perusahaan periklanan yang tidak menjadi anggota P3I Sumut  yang saat ini diperkirakan mencapai 25 anggota. Tentu, lagi-lagi masalahnya bukan saling tuding antara perusahaan periklanan itu saja. Saling tuding siapa yang salah juga berlaku antara Pemko Medan, DPRD Medan dan  perusahaan periklanan.

Nah, kalau semuanya sudah saling tuding satu sama lain, bukankah itu indikasi kalau semuanya dalam posisi yang sama-sama harus bertanggung jawab terhadap wajah kota yang hancur? Bukan begitu … (*)

3 thoughts on “Pemain yang Bersembunyi Di Balik Billboard Kota Medan

  1. Dear,

    Perkenalkan saya Victor dari CV. Nusantara Perkasa (NUSAKA Adv) perusahaan yang beralamat di Bali, kami bergerak dibidang advertising dan event organizing.

    Kami melayani pembuatan:
    Videotron/LED
    Billboard
    Baligho
    Shop Sign
    Neon Box
    Branding Toko, Lapangan, Mobil
    Letter Timbul
    Neon Sign
    Umbul – umbul
    Spanduk
    Branding Event
    Stage
    Dll Produk Advertising.

    Berbekal pengalaman lebih dari 10 tahun Nusaka siap melayani perusahaan Anda, dengan tenaga – tenaga professional dibidangnya.

    Semoga dapat bekerja sama. Terima kasih

    Note: Terlampir Company Profile Perusahaan kami

    Salam,

    AG Victor Wahyu P.
    081 916 213 777
    081 139 86 777

    CV. Nusantara Perkasa Adv.
    Office: Jl. Raya Padonan 18A, Tibubeneng, Canggu, Badung – Bali
    http://WWW.NUSAKABALI.COM

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s