Saya Harap, Amien Tinggalkan PAN dan Re-ijtihadi di Muhammadiyah


amien rais (vivanews.com)

Beberapa pentolan PP Pemuda Muhammadiyah seperti Izzul Muslimin dan Ma’mun Murod, seperti dilansir di beberapa media, menyitir Amien Rais telah melakukan politik uang di Muhammadiyah dengan membagi-bagi uang kepada warga Muhammadiyah dan tidak menginginkan Amien memimpin Muhammadiyah. Mereka gerah, karena itu dilakukan sebelum Muktamar Muhammadiyah yang akan memilih Ketua dan pengurus PP Muhammadiyah. Mereka ingin agar ada “regerenasi” dalam kepemimpinan di Muhammadiyah.

Kemudian, pengamat politik dari LSI, Burhanuddin Muhtadi, menyambut statemen itu. Dia bilang, Amien memang lebih baik kembali ke Muhammadiyah dan melakukan investasi akhirat. Saya? Saya harus geleng-geleng kepala membaca komentar orang-orang ini. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Pertama, istilah “kembali” ke Muhammadiyah yang digunakan orang-orang ini sungguh menggelikan dan bagi saya ini adalah “insulting intelligent”, menyelepekan daya intelektual manusia (terutama pengurus, anggota, kader, simpatisan dan keluarga besar Muhammadiyah). Sebelum dilahirkan ke muka bumi, Amien sudah Muhammadiyah. Ayah dan ibunya adalah guru di Muhammadiyah. Lantas, Amien adalah juga sebagai simbol di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Beberapa tahun kemudian, Amien menjadi tonggak peralihan kepemimpinan Muhammadiyah, dari yang berakar ulama tradisional ke intelektual kampus. Paragraf ini harus diakhiri dengan kalimat yang begitu penting: tidak ada gunanya berpanjang kalimat menderetkan kemuhammadiyahan Amien Rais.

Saya katakan, Amien tidak sedang kembali ke Muhammadiyah. Landasan berfikir yang kayak di atas itu semestinya tidak keluar dari mulut seorang yang menjadi pucuk pimpinan sebuah ortom Muhammadiyah. Kemuhammadiyahan bukan ditentukan apakah menjadi pengurus atau tidak, melainkan apakah Muhammadiyah itu selalu dibawa dalam setiap gerak dan aktivitas pengikutnya di manapun dia berada. Itu artinya, kalaupun dia pengurus Muhammadiyah, tapi gerak-geriknya tak mencerminkan kemuhammadiyahan, maka ke-muhammadiyah-annya perlu digugat.

Kalau ada pengurus Muhammadiyah yang kaya raya dengan cara yang tidak halal, maka itu sudah menggugurkan doktrin “al ma’un” seperti yang selalu diulang-ulang oleh KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah bukan tak boleh kaya, bahkan mesti kaya raya. Tapi dua hal yang menjadi tolok ukurnya adalah cara mendapatkannya dan pembagian harta kekayaan itu kepada muslim yang lainnya.

Yang sekarang tampak justru kebalikannya. Pengurus dan terutama menjadi pejabat di amal usaha diperebutkan karena harta Muhammadiyah sekarang begitu berlipat-lipat. Namun, jumlah harta kekayaan itu justru inheren dengan banyaknya kisah tragis yang menyebutkan kalau justru sekarang warga Muhammadiyah kesulitan untuk sekolah, terbelit hutang dan rentenir serta sulit untuk berobat.

Persoalan kedua adalah jangan menjadikan Muhammadiyah sekedar organisasi keagamaan dan menganggapnya sebagai tempat menabung di akhirat. Seluruh aktivitas manusia, termasuklah meneliti dan menjadi pengamat sosial politik pun, dilakukan dalam rangka ibadah, bagaimana meningkatkan amal, tabungan serta investasi untuk akhirat. Itu bagi orang yang beragama. Tak tepat meletakkan alam berpikir sekuleristik ketika melihat Muhammadiyah. Jangan lihat Muhammadiyah itu seperti sebuah “mushalla pribadi” yang Anda bangun hanya khusus untuk shalat, mengaji dan berzikir.

Muhammadiyah, sejak berdirinya, sudah aktif melayani kebutuhan masyarakat terhadap sebuah “negara”. Apa itu? Kita ambil sajalah contoh mengapa Indonesia berdiri, seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945: “Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. Muhammadiyah sudah melakukan itu bahkan puluhan tahun sebelum Indonesia ini ada. Jadi, adalah tidak tepat juga kalau dikatakan Muhammadiyah “membantu” pemerintah RI dalam aktivitas sosial dan pendidikan. Muammalah yang dilakukan Muhammadiyah dilakukan dan akan terus dilakukan, ada ataupun tidak adanya sebuah negara.

Pekerjaan yang dilakukan Muhammadiyah jauh lebih luas dari dimensi dan sekat-sekat sosial politik kenegaraan. Penolong Kesejahteraan Umum (PKU) yang bergerak di bidang kesehatan, panti asuhan serta yang lainnya, amal usaha pendidikan hingga baitul maal, tidak dilakukan dalam kerangka “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Yang menjadi batasnya adalah alam semesta, bukan politik.

Nah, bila kedua orang ini –dan juga kalangan lain yang ditujukan mereka – mewacanakan ini ke depan publik, kira-kira apakah maksudnya?

* * *

Mereka melihat sosok Amien Rais dalam bungkus sebagai seorang politisi, salah seorang pendiri Partai Amanah Nasional (PAN).

Politik terkadang membuat olah pikir Anda menjadi terpola. Kadang-kadang kalau Anda tak mampu mengendalikannya, pikiran Anda pun menjadi sempit. Partai politik telah terlanjur dinilai sebagai ladang yang sangat kotor sehingga setiap orang yang berada di sana, terlanjur pula dicap sebagai orang yang kotor. Dia dijadikan sebagai tempat yang tidak steril dan tidak pantaslah atribut keagamaan diletakkan di sana.

Alam berpikir begini akan membawa pada argumentasi kalau ketika Amien sebagai Ketua MPP DPP PAN berniat untuk aktif kembali di pengurusan Muhammadiyah, maka dia sedang sedang mengurus kembali ladang pemilih tradisional PAN, yaitu Muhammadiyah.

Tuduhan demi tuduhan akan terus berlanjut. Bahwa dengan buruknya imej PAN yang dibawa oleh Hatta Radjasa dengan pemilihan Opsi C di paripurna kemarin, membuat Amien Rais harus balik lagi ke Muhammadiyah untuk menjaga agar warga Muhammadiyah tidak memalingkan diri dari PAN. Ini tuduhan dan kecurigaan yang tidak masuk akal sehat.

Betullah bila dikatakan konstituen utama PAN adalah warga Muhammadiyah. Betul pulalah banyak warga Muhammadiyah yang kecewa terhadap kinerja PAN selama ini yang mencapai puncaknya pada pemilihan Opsi C kemarin. Dan wajar pula kalau Hatta Radjasa –seandainya –  kemudian meminta Amien untuk menggarap kembali Muhammadiyah. Namun, pikiran ini tidak menyehatkan dan cenderung menyesatkan.

Yang harus disadari terutama adalah Muhammadiyah dan Amien Rais bukanlah satu-satunya pendiri PAN. PAN didirikan oleh berbagai lintas organisasi, kelompok dan tokoh-tokoh. Misalnya, Anda harus mencatat Goenawan Muhammad adalah salah seorang pendiri PAN dan GM bukanlah anggota Muhammadiyah.

Yang kedua, pola berpikir kayak gini menjatuhkan Muhammadiyah sebagai sekelas ormas yang menjadi underbouw-nya PAN atau partai lain. Ini membuat lontaran orang-orang di PP Pemuda Muhammadiyah itu jatuh pada tingkat kebodohan.

Ketiga, kesalahan kebijakan partai seharusnya diselesaikan di inti permasalahannya yaitu partai itu sendiri. Keputusan Hatta Radjasa untuk menjadi kompatriot-nya Yudhoyono dan Partai Demokrat adalah sebuah pilihan. Kalau pilihan itu dinilai salah bagi konstituen, maka Hatta Radjasa seharusnya merubah keputusannya dan bukannya berusaha menenangkan konstituen sembari mengatakan keputusannya adalah benar. Dalam demokrasi Indonesia yang masih bersifat “electoral” ini, maka kebenaran masih diukur oleh suara terbanyak. Hatta seharusnya paham soal itu. Apalagi, kebenaran yang diusung Hatta Radjasa sudah terbantahkan oleh keputusan DPR, sebagai institusi resmi perwakilan rakyat di Indonesia. Bila kesalahan dipaksakan kepada rakyat, maka yang terjadi adalah otoritarianisme dan diktatorisme.

Keempat, tak perlu sebenarnya diulang-ulangi kalau PAN dan Muhammadiyah adalah dua organisasi yang berbeda, baik secara substansi maupun historis. Amien dan Muhammadiyah tak bisa dilepaskan karena darahnya sudah di situ. Sementara salah satu alasan Amien mendirikan PAN berada dalam kerangka keilmuwan sosial politik dan hukum positif, bahwa partai harus didirikan untuk memasukkan ideologi ke kekuasaan negara.

Kelima, harus dibedakan antara sosok Amien dan Hatta Radjasa. Tak sulit, ukur saja level Amien dan Hatta di pentas nasional, internasional secara historis, kekinian, baik secara keilmuwan maupun sosial politik kebudayaan. Akan sulit memperhitungkan kalau Amien mau saja disuruh-suruh oleh Hatta Radjasa. Dengan citra Amien yang sengaja dijatuhkan saat ini sehingga citranya begitu merosot, maka Amien tak sedang dalam mengemban perintah Hatta yang justru akan semakin menenggelamkan dirinya. Citra Amien dan “reformasi” sudah begitu sulit untuk dilepaskan. Bila semakin jatuh citra “Amien” maka lawan-lawan reformasi akan semakin tersenyum. Betul, bila Amien bukan satu-satunya tokoh yang berperan penting membongkar Orde Baru dan menelurkan Reformasi. Tapi identifikasi antara Amien dan Reformasi sangat sulit untuk terbantahkan.

* * *

Saya beranggapan, kalau disebarnya wacana Amien ke Muhammadiyah adalah untuk menggarap kembali pemilih tradisional PAN, investasi akhirat serta semacam “larangan” untuk duduk di kursi kepengurusan Muhammadiyah, dibisik-bisikan orang-orang PAN sendiri dan di-remote oleh sebuah kelompok kekuasaan yang begitu besar, begitu jumawa.

Mereka –orang-orang PAN- selama ini memang selalu tidak percaya diri untuk berdiri sendiri mengusung sebuah kekuatan partai yang modern dan dinamis. Mereka membutuhkan dan menjual sosok Amien Rais hanya untuk kepentingan pragmatis, kekuasaan dan politik dalam arti sempit. Orang-orang seperti ini yang kini duduk di mayoritas kepengurusan PAN saat ini, akan terus mengemis-ngemis kepada Muhammadiyah. Mereka bukan sedang berijtihad, tapi mereka sedang mencoba kembali ke nikmatnya kekuasaan di masa Orde Baru.

Di sisi itu, Amien Rais memang telah gagal memermak PAN, telah gagal menjadikan PAN sebagai jembatan ideologi untuk membuat Indonesia yang lebih reformis. Namun, kegagalan adalah mutlak dirasakan semua orang. Apakah PAN akan berubah di masa depan? Itu tergantung orang-orang PAN sendiri. Ukurannya cuma satu; kembali ke khittah ideologi partai.

Saya yakin, bukan kekecewaan itu yang membuat Amien berniat keluar dari PAN. Namun karena justru persoalan yang maha dahsyat di Muhammadiyah telah menunggu sangat lama untuk diselesaikan. Seabad Muhammadiyah harus dibuktikan dengan ijtihad dan tajdid, bukan sekedar eksistensi dari sebuah seremonial dan arak-arakan. Lontaran si Ketua PP Pemuda Muhammadiyah itu, serta komentar dari Burhanuddin Muhtadi tadi, adalah bagian dari persoalan Muhammadiyah di umurnya yang hampir seabad ini.

Ijtihad tak ada kaitannya dengan “regerenasi” kepengurusan ataupun kepemimpinan. Muhammadiyah bukanlah sekumpulan orang-orang tua ataupun orang-orang muda. Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang di dalamnya berlaku hukum; yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Kalau ada anak muda yang paling bertakwa, paling tinggi ilmunya maka dia lebih mulia dari orang tua yang ilmu dan amalnya biasa-biasa saja. Demikian juga sebaliknya. Kalau ada anak muda yang masih berpikiran kolot soal “regenerasi” ini, maka selayaknya dia berpikir ulang. Substansi kepemimpinan dan kepengurusan Muhammadiyah adalah bukan seperti organisasi sosial politik, bukan pula organisasi jenjang karir.

Mereka yang peduli kepada Muhammadiyah adalah mereka yang di darahnya mengalir deras kemuhammadiyahan. Mereka yang datang dan mereformasi Muhammadiyah karena mereka memang sedang dipanggil oleh Muhammadiyah, laksana panggilan adzan.

Saya berharap sekuat-kuatnya, agar Amien Rais secepat-cepatnya keluar dari PAN dan berijtihadi di Muhammadiyah. Muhammadiyah memang bukan soal pengurus atau tidak. (*)

10 thoughts on “Saya Harap, Amien Tinggalkan PAN dan Re-ijtihadi di Muhammadiyah

  1. thx dah saya link balik di my friends pake nama nirwan s.

    menurut gw kok Pak Amien ini terlalu berpolitik dlm segala hal. tingkat ketulusannya diragukan, sekalipun terap tokoh reformis, namun ya gitu manufer2nya sering dianggap kurang tulus buat rakyat.

    Mungkin, pandangan rakyat yang terlalu politis bagi dia.🙂 thenks juga😀

    Like

  2. maju trussssss
    perjuangkan muhammadiyah jangan no satukan pan,muhammadiyah lah yang pentng.
    karna kt sebgai pengikut nabi muhammad,sebarkanlah muhammadiyah tegakan islam yang sebenar-benarnya.
    jika kta menegakan islam dengan sungguh-sungguh maka selamatlah kita.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s