Dendam SBY dan Partai Demokrat


Hampir-hampir saja dipastikan, Partai Demokrat secara institusi, kader hingga simpatisan bakal terus mendendam dan menyimpan dendam. Dan dendam itu bakal dibalaskan kepada partai, elit partai serta, elit politik serta tokoh masyarakat yang lebih memilih untuk memilih keputusan “Bailout Bank Century adalah salah dan harus diusut oleh penegak hukum”.

Aftermath of a Dictator by Harriet Muller (sumber: http://fineartamerica.com)


Partai Demokrat dan Ketua Dewan Pembinanya, Susilo Bambang Yudhoyono, akan mencacat dengan rinci siapa-siapa saja mereka dan apa yang telah mereka lakukan. Waktu untuk melaksanakan dendam itu tidak terlalu sempit, juga tidak terlalu lapang. Ukuran waktu yang “tidak terlalu lapang” menyangkut pada masa deadline pemakzulan yang akan dilakukan kepada Boediono dan kemudian SBY, yang tata cara dan masanya sudah dicatat dengan manis oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD.

Sementara bila pemakzulan tidak terjadi, maka SBY dan Partai Demokrat akan semakin trengginas menggilas lawan-lawan politiknya minimal selama 4,5 tahun pemerintahan ke depan. Pola “Sweet Dictator” dan “Senyuman sang otoriter” akan menjadi tontonan rakyat Indonesia, ketika mereka akan melakukan itu.

Seorang atau suatu pemerintahan yang diktator akan selalu melandaskan perbuatannya pada dasar-dasar hukum yang shahih. Itulah the sweet dictator.

Sementara, senyuman sang otoriter merupakan senyum dingin seekor srigala yang menikmati mangsanya yang tak sadar saat sedang dicium sang maut. Otoriter akan melakukan kesewenang-wenangan dan kezaliman dengan cara meletakkan racun di dalam remah-remah makanan mangsanya. Mari ulangi lagi kalimat itu: dia akan memberi makan rakyatnya setelah sebelumnya menabur racun dalam makanan itu.

Diktator dan otoriter hidup dalam rangkaian kisah simbiosis mutualistis.

* * *

Baru-baru ini, SBY menekan PP No. 19 Tahun 2010 yang memberikan kekuasaan kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk memberhentikan Bupati dan Walikota. PP yang diteken pada 28 Januari 2010 itu senyap-senyap dikeluarkan di tengah hiruk-pikuk pengusutan skandal Bank Century.

Pusat kini semakin berkuasa, memperlebar kekuasaannya dan terus berkuasa, setelah sebelumnya pusat begitu gelisah karena melalui Perubahan UUD 1945 desentralisasi telah ditahbiskan dalam suatu otonomi kepada “daerah”. Desentralisasi itu menjadi salah satu di antara sedikit pasung yang dikenakan bagi gurita-gurita pusat atau Jakarta dan “Jawa” agar tidak lagi terlalu mengatur-atur propinsi, kabupaten dan kota, setelah sebelumnya kekayaaan dan potensi kawasan dieksploitasi dan disedot oleh Jakarta dan Jawa.

Senjata ini sudah dipersiapkan dan dirancang sejak lama. SBY dan Mendagri sudah mengumpulkan seluruh perangkat kabupaten kota. Tentu tidak ada penolakan kepada PP itu oleh bupati, walikota dan propinsi karena semuanya dilakukan atas “landasan hukum”. Bahkan, menurut Gamawan Fauzi, PP No 19/2010, itu diturunkan dari UU No 12 tahun 2008 tentang pemerintahan daerah. Jadi, tidak ada yang salah, kata mereka. Kalau ada yang keberatan, silahkan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Begitulah kira-kira.

* * *

Dendam kekuasaan adalah penyakit paling kronis dalam tubuh manusia. Pengaruh dan dampaknya jauh lebih jahat dari penyakit kanker, jantung ataupun AIDS atau apalagi nama penyakit paling mematikan yang Anda simpan dalam benak Anda. Dendam kekuasaan bersemai dalam hasrat, nafsu dan kegelisahan sebagai manusia.

Dia tumbuh dengan diam-diam, namun geraknya dalam jiwa manusia seperti derasnya darah mengalir dalam pembuluh darah. Dia semakin jahat dan liar ketika dendam kekuasaan punya karakter dan keharusan untuk mewariskan kejahatannya itu ke dalam ruang dan waktu di masa depan; di suatu ruang, di suatu masa yang ghaib, yang tidak diketahui oleh bahkan si penyimpan dendam itu sendiri.

Catatlah hubungan Ibrahim dengan Namrudz, Musa kepada Firaun atau Isa dan Herodus. Bukalah kembali lemari sejarah raja-raja dari arabia, para sultan di tanah Andalusia, kaisar dari negeri Cina atau Mongolia, hingga untaian panjang dari Caesar kerajaan Roma, tidakkah kau temukan dendam kekuasaan itu begitu meraja?

Tuliskan pula, ketika mereka yang tak punya darah kekuasaan, saat mereka menonton dendam itu dari bawah panggung, manusia begitu menikmatinya. Gladiator yang diperankan Russel Crowe meraih Oscar sebagai film terbaik dan meraup pendapatan yang tak masuk dalam akal kaum musthada’afin. Bahkan kisah cinta Romeo dan Juliet memiliki daya magis yang sungguh dahsyat ketika dilingkupi dendam antara Capulet dan Montague.

Sesungguhnya manusia suka berdendam-dendam.  (*)

12 thoughts on “Dendam SBY dan Partai Demokrat

  1. ‘sesungguhnya manusia suka berdendam-dendam’
    semoga ini juga bukan dendam bagi mereka yang kalah pemilu lalu. terlalu lelah rakyat melihat parodi begini. capek euy!!!!!

    dendam akan berketerusan. salam.🙂

    Like

  2. wan, tlg blog ku (www.ikhti.blogspot.com) dimasukkan di komunitas “ngumpul” mu ya.. TQ. (Ikhwan Fsp Umsu 97)

    ok. udah. apa kabar?🙂

    Like

  3. @ Nirwan

    Salam, sudah lama tidak mampir …. kangen juga dengan tulisan2mu yang selalu menarik dan tidak memihak manapun kecuali pada kebenaran…….

    Dendam SBY dan Partai Demokrat :
    Seperti ada penjajahan baru dengan rasa terbelenggu dan tidak ada kemerdekaan, bila proses pemakzulan ini tidak terjadi.

    Satu lagi ….. jadi tampak karakter dari partai masing muncul pada peristiwa ini :
    – Partai Demokrat => Karena menjadi pemenang maka dianggap semua partai dapat dikendalikan dan diarahkan ……
    – Partai Golkar => Merobah paradigma dengan konsep yang baru
    – P D I P => Memperbaiki dari kesalahan yang lalu.
    – P K S => Dari koalisi 2004-2009 hanya sebagai tameng kekuasaan, kini koalisinya bersemangat untuk mengedepankan kepentingan rakyat.
    – P A N => Hilang kesan sebagai Partai Reformis dan harapan ….
    – P K B => Tidak jelas dan tidak mempunyai arah ……
    – P P P => Ingin eksis sebagai Partai lama dan dapat pengakuan…
    – GERINDRA => Partai baru belum mempunyai beban
    – HANURA => Partai yang tidak sama dengan Demokrat.

    Yups semangat terus dengan ide dan kreasinya ……

    Pansus Century = INSULTING INTELLIGENCE

    Like

  4. dendam yg berujung pada kesengsaraan rakyat.. politisi selalu saja berebut kekuasaaan.. selalu saja menjadikan rakyat sebagai tumbal untuk mencapai apa yg diinginkan dlm politik hitamnya.. selalu saja membuat rakyat kecewa.. entah apa yg mereka mau dari bangsa ini. kekayaan alam dikuras habis oleh bangsa lain.. sistem kapitalisme makin menjamur dan menjarah bumi indonesia.. sistem yg merusak perekonomian rakyat bawah dimana yg kaya makin kaya yg miskin tambah melarat.. sistem siapa yg punya modal besar pintu dibuka lebar walau rakyat sedang menjerit.. mau dibawa kemana negri ini sama orang2 itu?? segala cara ditempuh tanpa memandang realita.. ekonomi naik tapi hanya diatas kertas.. begitupun juga dengan kemiskinan yg turun.. hy diatas kertas tanpa melihat realita.. bangsa besar tapi bahan pokok masih saja import.. semua ulah sistem kapitalismne + neoliberal yg makin mengakar ditambah dengan perpolitikan busuk. jurus politik preman makin best seller dinagara ini.. gak tau juga mau dibawa kemana negara ini. mau jadi apa negara ini.. bgmn nasib rakyat yg menjerit.. mengecewakan..😀

    negeri yg tak ripah lih jinawi😦

    Like

  5. Sebetulnya ketidak puasan anda itulah yang membuat anda dendam, suatu bukti P. Amin yang anda idolakan tak bisa mendidik PAN, sehingga PAN memilih bergabung dengan SBY ! gak konsisten gitu lo ? trus kenapa ? ya mungkin takut kehilangan tahta mentri ! cobalah hilangkan rasa dendam itu ? sehingga tulisan anda tak tampak terlalu menggebu-gebu membabibuta sehingga dapat menekan tidak kesukaan anda dan akan terkesan bahwa anda orang yang bijak apabila tulisan anda lebih halus, walaupun sesungguhnya anda sangat tidak menyukai SBY.Menurut sy tulisan anda terkesan dendam yg amat sangat, sehingga judulnya jadi keliru ? disini yang sy baca judulnya seperti DENDAM NIRWAN DAN KAWAN2, MAAF !

    tampaknya anda tak menyenangi tulisan ini.🙂

    Like

  6. anda salah..! saya sangat senang dengan berbagai pendapat, sebaik atau seburuk apapun tulisan anda tetap akan sy baca, namun yg anda tulis diatas menurut sy sepertinya bukan dengan hati tetapi anda tulis dengan emosi !ingat…! Amin Rais adalah tokoh yang sangat dikagumi ditingkat menengah keatas tapi tak begitu disukai ditingkat bawah, karena memang beliau pemikirannya hanya dapat diterima ditingkat atas, hanya saja orang ditingkat atas itu ingin dukungan dari berbagai pihak untuk mencapai tujuannya, nah inilah yang dilakukan PAN sekarang ini dengan cara menempel SBY terus hingga kelihatan tak sejalan dengan Amin Rais, kalau baca tulisan anda yang lain sy kira sangat bagus dan mengena…!kalau kita baca lagi sebagian tulisan anda menurut sy terkesan sangat berani namun justru keberanian itulah yg membuat kelihatan membabi buta ! sory aku jadi sok tau hahahahaha

    🙂 kalau saya salah, berarti anda justru senang dengan tulisan ini ya. Memang ada perbandingan tulisan, antara yg ditulis dengan hati atau dengan pikiran semata. Emosi akan membuat seorang penulis lebih bergairah. Jangan lupa pula, emosi itu tak selalu berarti kemarahan.🙂 Soal tingkatan mana yg mengagumi Amien Rais, kita bisa berbeda pendapat di situ, karena saya juga menemukan banyak masyarakat awam yg justru mengagumi Amien. Kalau soal apa yg dilakukan PAN, saya kira jawaban saya sudah ada pada tulisan ini. Saya merasa postingan saya tidak keluar dari keberanian atau tidak. Tapi kalau orang menilai itu dan lantas mengatakan membabi buta, that’s not problem to me …😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s