Demokrasi Feodal


Oleh Mukhlizardy Mukhtar

* * *

KISRUH penetapan calon walikota Medan dari Partai Demokrat memprihatinkan kita. Itu setelah Ketua DPD Partai Demokrat Medan, Deni Ilham Panggabean, yang juga Ketua DPRD Medan, dinonaktifkan sebagai Ketua DPD. Sebagai gantinya diangkat Soetan Batugana Siregar, seorang pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Kenapa Deni dinonaktifkan? Kesalahan Deni, karena mencalonkan diri sebagai walikota. Padahal, DPP Partai Demokrat bersama Partai Golkar telah memiliki calon, yaitu pasangan Rahudman Harahap dan Dzulmi Eldin, masing-masing Pejabat Walikota Medan dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan.

Rahudman dan Eldin jelas bukan kader Partai Demokrat, karena keduanya adalah pegawai negeri. Tapi kenapa Partai Demokrat sampai hati memberhentikan Ketua DPD Partai Demokrat hanya karena mencalonkan diri sebagai walikota demi Rahudman dan Eldin? Mestinya Partai Demokrat lebih mendukung kadernya ketimbang calon yang bukan kadernya.

Kasus Partai Demokrat tidak mendukung kadernya sendiri tidak hanya terjadi di Medan. Rustiadi Adi Trisno, bendahara DPD Partai Demokrat Binjai, juga gagal sebagai calon walikota Binjai periode 2010 – 2015. Partai Demokrat memilih mencalonkan pasangan Dhani Setiawan Isma dan Meutia Hafyd sebagai calon walikota dan wakil walikota Binjai, yang keduanya bukan kader Partai Demokrat. Dhani adalah seorang pegawai negeri, sedang Meutia adalah kader Partai Golkar.

Ada apa? Sikap licin keluar dan runcing ke dalam Partai Demokrat ini memang patut dipertanyakan. Lalu jangan heran bila ada yang menganggap penetapan calon dalam Pilkada berhubungan erat dengan jumlah “uang setoran” kepada pengurus DPP. Lantaran itu pulalah sehingga pengurus DPP tega berlaku kejam pada kadernya sendiri.

Dalam logika umum, semestinya Partai Demokrat bangga ada kadernya mencalonkan diri sebagai walikota. Tapi yang berlaku di sini bukan logika biasa, tapi adalah logika pengurus DPP, yang secara hirarkis merasa lebih berkuasa dan boleh memaksakan kehendaknya kepada pengurus bawahan.

Semestinya di alam demokrasi ini partai-partai membuka diri terhadap perbedaan pendapat, seperti mengakomodasi pendapat arus bawah dalam partainya. Tapi itu agaknya hanya impian. Sebagian besar partai-partai di Indonesia menganut demokrasi feodal, yang menganggap kebenaran dan kekuasaan terletak pada pengurus tertinggi.

Praktik demokrasi semacam itulah yang menyebabkan kenapa setiap kali pemilihan, baik itu Pilkada maupun pemilihan pimpinan internal partai, sering diiringi dengan pemecatan.

Di Sumatera Utara, kasus semacam itu pernah terjadi pada Pilkada Gubernur dua tahun lalu. Ketika itu Ketua DPW PAN dan Ketua DPW PBR Sumatera Utara dinonaktifkan lantaran tidak sependapat dengan DPP mereka tentang calon gubernur.

Agaknya korban “demokrasi tangan besi” yang diterapkan partai-partai bakal semakin sering kita dengar. Mungkin lantaran terlalu lama dijajah oleh Belanda yang feodal, walau sudah merdeka, kita sulit melepaskan diri dari sifat penjajah. Buktinya, sebagian besar kita suka menindas dan memaksakan kehendak kepada orang yang kita anggap sebagai bawahan, hina, miskin dan bodoh. (*)

Mukhlizardy Mukhtar adalah mantan wartawan Majalah Tempo. Setelah Tempo dibubarkan dia menjadi Kepala Biro Majalah Gatra di Medan. Bersama beberapa rekannya, dia mendirikan media baru bernama “KoranPolitik”. Di situ dia menjadi Wakil Pemimpin Redaksi. 🙂

3 thoughts on “Demokrasi Feodal

  1. parah.. politik memang hitam.. ada uang habis perkara.. mengecewakan.. ternyata banyak partai diindonesia yg bertindak bukan atas nama rakyat, tp hanya untuk kepentingan individu dan kelompoknya semata.. apalagi ada salah satu artis dari partai besar yg memperoleh suara terbanyak bilang.. “suara rakyat adalah suara tuhan, oleh karena itu harus bekerja untuk rakya di negara ini”.. tu hanya artis yg suka akting, di pansus aja gak tau akar permasalahannya..jd anggota hanya untuk mengacaukan dan menutup-nutupi kejahatan korupsi yg merugikan negara. apalagi klo gomong suka mencaci dan memaki.. payah, parah, ironis, aneh.. mengecewakan..:mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s