Kelaparan Berbungkus Istilah Manis


Mencari persamaan penyakit “gizi buruk” dan “busung lapar” ternyata tak sesulit menemukan perbedaanya. Intinya: dua-duanya tak makan.

* * *

Penyakit “busung lapar” atau honger oedema – adalah sebuah fenomena penyakit yang diakibatkan karena kekurangan protein kronis pada anak-anak. Penyebabnya sering disebabkan beberapa hal, antara lain anak tidak cukup mendapat makanan bergizi, anak tidak mendapat asuhan gizi yang memadai dan anak mungkin menderita infeksi penyakit.

Cara mendeteksi penderita busung lapar pada anak yaitu dengan cara menimbang berat badan secara teratur bila perbandingan berat badan dengan umurnya di bawah 60% (standar WHO-NCHS) maka anak tersebut dapat dikatakan terindikasi busung lapar. Cara lain mendeteksi sesuai standari WHO adalah mengukur tinggi badan dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Bila tidak sesuai dengan standar anak yang normal kurang dari 14 cm, maka si anak wajib diwaspadai busung lapar.

Dampak busung lapar tidak main-main. Selain berakibatkan pada penurunan tingkat kecerdasan anak, rabun senja serta rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi, penyebab yang paling fatal adalah kematian.

Sementara itu, ada istilah lain lagi yaitu “Kwasiorkor”. Kwasiorkor berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti “kekurangan kasih sayang ibu”. Tanda yang khas adalah adanya edema atau bengkak pada seluruh tubuh sehingga tampak gemuk, wajah anak membulat dan sembab terutama pada bagian wajah, bengkak terutama pada punggung kaki dan bila ditekan akan meninggalkan bekas seperti lubang, otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus.

Tanda yang lain adalah timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas, tidak bernafsu makan atau kurang, rambutnya menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit, sering disertai infeksi, anemia dan diare, anak menjadi rewel dan apatis perut yang membesar juga sering ditemukan akibat dari timbunan cairan pada rongga perut salah salah gejala kemungkinan menderita “busung lapar”.

Sementara marasmus adalah salah satu bentuk kekurangan gizi yang buruk paling sering ditemui pada balita. Penyebabnya antara lain karena masukan makanan yang sangat kurang, infeksi, pembawaan lahir, prematuritas, penyakit pada masa neonatus serta kesehatan lingkungan.

Marasmus sering dijumpai pada anak berusia 0 – 2 tahun dengan ciri-ciri seperti berat badan (BB) kurang dari 60% berat badan sesuai dengan usianya, suhu tubuh bisa rendah, dinding perut hipotonus dan kulitnya melonggar hingga hanya tampak bagai tulang terbungkus kulit, tulang rusuk tampak lebih jelas atau tulang rusuk terlihat menonjol, anak menjadi berwajah lonjong dan tampak lebih tua, otot-otot melemah, atropi, bentuk kulit berkeriput bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan, perut cekung sering disertai diare kronik atau terus menerus dan susah buang air kecil.

Dinas Kesehatan Kota Medan banyak menemukan kasus gizi buruk di daerah pinggiran seperti Medan Belawan dan Medan Tembung yang ekonomi keluarganya lemah.

Anggaran Rendah

Bagaimana angkanya? Hasil survei yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Sumut pada 2007, tercatat angka gizi buruk mencapai 4,4% dan gizi kurang 18,8% dari jumlah balita 1,6 juta jiwa atau 300 ribu orang lebih!

Dari catatan yang diketemukan, hampir seluruh penyebab busung lapar dan gizi buruk adalah kemiskinan yang melanda. Misalnya di Februari tahun 2009 lalu dikabarkan Delima Sitorus menderita busung lapar. Delima merupakan warga Dusun-V Sikundur Nauli, Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Tempat asal Syamsul Arifin menjabat sebagai Bupati dan kini menjadi Gubernur Sumut.

Delima merupakan anak ke-5 dari pasangan Horas Sitorus dan Masnah  Pasaribu. Kondisi Delima waktu itu benar-benar memprihatinkan. Kondisi tubuhnya mirip dengan tengkorak hidup, tinggal kulit pembalut tulang. “Kami sekeluarga miskin dan tinggal di pelosok dusun dan tidak ada posyandu di sana,” kata Horas kepada media waktu itu. Menurut dia, anaknya pernah pernah dibawa ke Klinik Serasi di Halban tapi biayanya mahal dan mereka tidak ada duit untuk membayarnya.

Dua bulan berikutnya, masih di tahun lalu, anak berumur 4 bulan menderita busung lapar ditemukan di Kabupaten Sergai. Paner Simare-mare dan Mahyana Silalahi adalah orang tua dari anak yang bermukim di Dusun IV Pasar Miring, Desa Sei Bamban, Kecamatan Sei Bamban, Serdang Bedagei. Lagi-lagi kemelaratan dan kemiskinan menjadi punca musabab busung lapar yang diterima Rikardo Valentino Simare-mare. Karena tidak ada duit, Paner tak berani membawa anaknya ke puskesmas ataupun rumah sakit. Kelaparan sudah menjadi menu mereka sehari-hari. Rikardo yang lahir 28 Nopember 2009 itu semula adalah bayi normal dengan berat badan 3,5 kg. Namun, sejak dilahirkan, bukannya makin tumbuh, Rikardo justru makin kurus. Ironisnya, Paner mengaku tidak pernah mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan beras miskin (raskin).

Berkat dorongan tetangga yang kasihan, Simare-mare dan isterinya membawa bayinya ke Klinik Pirma. Namun kemudian pihak klinik segera memboyongnya ke RSUD Sultan Sulaiman di Sei Rampah.  Tak hanya di sana. Sejak kelaparan melanda dua desa di Kecamatan Lolomatua, Kabupaten Nias Selatan, yakni Desa Hilinaa dan Desa Sombulu pada 2005 lalu, balita yang mengidap busung lapar seperti tak pernah ke permukaan selama 2009 dan 2010 ini.

Ironisnya, dana pemerintah untuk menanggulangi hal gizi buruk dan busung lapar ini hanya secuil. Misalnya di Kota Medan. Nilai penanggulangan gizi buruk di Kota Medan pada di APBD 2008 hanya Rp 400 juta, sementara di tahun 2009 lalu hanya Rp 450 Juta.

Di tingkat propinsi, anggaran kesehatan Sumut dalam APBD justru terus mengalami penurunan. Pada tahun anggaran 2008 tercatat dianggarkan Rp 108,8 miliar, sementara di 2009 menjadi Rp 74,9 miliar dan di tahun 2010 hanya Rp 48,9 miliar.

Apa yang telah kau perbuat, wahai Dato’ Syamsul Arifin….? (*)

8 thoughts on “Kelaparan Berbungkus Istilah Manis

  1. kasihan jg ya paara korban busung lapar. sebenarnya dgn adax korban busung lapar yg bertanggung jawab sp sih? dimana hati nurani pejabat pemerintah saat ini? tegakah pejabat melihat hal2 yg seperti itu pd rakyatnya? busung lapar korbannya bukan hanya 1 atau 2 orng dinegara ini,ada banyak apalagi diluar pulau jawa, tapi kenapa pemerintah tidak mencegah dan langsung turun tangan memberikan bantuan? ironis, aneh, payah.:mrgreen:

    pemerintah dudul !

    Like

  2. Maasyaallah….. negara Indonesia sudah banyak korupsi dan banyak yang terkena BUSUNG LAPAR.Apakah sikap pemerintah terus begini atau turun tangan

    pemerintah tak peduli dan cenderung manipulir.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s