Rakyat yang Lapar di Medan, Sumut dan Indonesia


Ibukota propinsi Sumatera Utara, akhir-akhir ini sangat panas. Selain terik matahari, suhu perpolitikan di Kota Medan begitu menyengat, baik warga yang terlibat langsung maupun yang tidak. Lagi-lagi, rakyat dengan serentetan nasib dan kondisinya menjadi komoditi politik yang utama bagi semua kandidat yang bermunculan dalam proses Pemilukada di Kota Medan maupun di kabupaten/kota se-Sumut yang lainnya.

Namun rakyat agaknya memang harus menerima nasib sebagai produk jualan saja dan tumbal kekuasaan. Kebutuhan primer masyarakat bawah yaitu pangan, sandang dan papan, kian hari kian memprihatinkan. Dan itu, ironisnya terjadi di ibukota propinsi yang terletak di sebuah kota yang sering disebut-sebut Kota Metropolitan. Kesejahteraan di tingkat elit berbanding terbalik dengan buruknya kondisi ekonomi, kesehatan dan pendidikan di masyarakat kelas menengah ke bawah. Kesenjangan terjadi begitu tragisnya.

Baru-baru ini, di Rumah Sakit Pirngadi Medan, dirawat tiga sekaligus pasien yang dikatakan menderita gizi buruk. Fakta-fakta mengenai kelaparan dan kondisi ekonomi yang membelit menjadi asal muasal kekurangan gizi yang parah. Dua orang lagi terpaksa tak bisa dijumpai. Pasalnya sungguh menyedihkan: kedua pasien itu dikabarkan meninggal dunia akibat penyakit gizi buruk itu.

Data penderita gizi buruk yang didapatkan dari Dinas Kesehatan (Dinkeas) Kota Medan menyebutkan, di Kota Medan saja, penderita “penyakit” ini jauh lebih tinggi dari tahun 2005 lalu. Pada tahun 2005 tercatat 121 orang sementara di tahun 2009 (per Desember) tercatat 163 orang.

Yang patut digarisbawahi adalah angka itu merupakan angka tercatat karena sesungguhnya fenomena penyakit kekurangan gizi ibarat puncak piramid gunung es; lebih banyak yang tak tercatat daripada yang ditemukan. Penelurusan di lapangan mencatat, justru banyak temuan-temuan gizi buruk dan busung lapar sengaja didiamkan, dipeti-eskan dan diluputkan dari media massa. Itu maknanya, penyakit yang berakar dari kemiskinan dan kebodohan ini, sengaja ditutup-tutupi.

Sesungguhnya kita wajib menangis soal ini. Apalagi, visi misi Gubernur Sumatra Utara, H Syamsul Arifin yang sungguh populis “Rakyat Tidak Lapar, Tidak Bodoh, Tidak Sakit”, pernah menyuratkan harapan kalau kesejahteraan rakyat minimal “sudah dipikirkan” oleh para pemimpin. Namun, bangkai tikus mungkin saja bisa ditutupi, tapi akan tak mudah menutup-nutupi bangkai gajah.

Postingan ini adalah dalam kerangka itu: ketidakpatutan kelaparan dan kemiskinan, ditutup-tutupi penguasa. Pasalnya, selain the founding father Indonesia sendiri sudah menyebutkan tujuan Indonesia merdeka adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah juga sebuah kejahatan kemanusiaan melakukan pembiaran terhadap kelaparan, kemiskinan dan kebodohan di manapun itu. Apalagi, kalau yang menutupi itu adalah orang-orang yang kenyang. (*)

6 thoughts on “Rakyat yang Lapar di Medan, Sumut dan Indonesia

  1. Tenang bang .. bentar lagi sinterklas kan dateng, Pak Menlu Marty bilang pihak Indonesia dan Amerika Serikat sudah menyiapkan dokumen perjanjian kerjasama komprehensif di berbagai bidang seperti ekonomi dan pendidikan , yang diharapkan dapat ditandatangani pada kunjungan Obama ke Indonesia jadi kita tunggu ajah “sinterklas-nyah”😉

    sinterklas ato greenwich? hehehehe😀

    Like

  2. para pejabat tinggi
    pejabat pusat dan daerah
    siapkan diri untuk menyikapi keluhan dari rakyat
    dan jngan pernah membisu akan sesuatu
    pemimpin yang bagus adalah pemimpin yg mempedulikan keluhan dari rakyat dan bersedia memberikan solusi
    KIBARKAN SEMANGATMU N MAJU TERUS

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s