H Bachtiar Ibrahim dan Baiti Jannati


Suatu waktu, seorang pejabat tinggi di pemerintahan propinsi Sumatera Utara pernah datang ke daerah Mandala By Pass. Ia mencari rumah anggota MPR RI bernama H Bachtiar Ibrahim. Sesampai di jalan Tanggukbongkar, ia belok kiri melewati puskesmas. Namun, ia tidak menjumpai satu pun rumah mewah, khas milik pejabat atau wakil rakyat di Indonesia, di sana. Ia jadi meragukan alamat yang diberikan kepadanya. Ketika supirnya menanyakan kepada penduduk setempat, warga mengiyakan alamat tersebut dan menunjuk sebuah rumah mungil. “Ah, masa’ sih, rumah anggota MPR begini?” ucapnya dalam hati, penuh keraguan.

Tapi dari balik pintu muncul sesosok pria yang tidak begitu besar dan rambutnya sudah mulai memutih. Betul, dialah H Bachtiar Ibrahim. Pejabat itu langsung masuk ke halaman rumah Bachtiar dan menyalaminya. Tak lupa ia mengatakan keheranannya mengenai kesederhanaan rumah H Bachtiar Ibrahim, yang waktu itu masih aktif sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah Sumatera Utara periode 1999 – 2004. Apalagi, waktu itu, Bachtiar juga bukan sembarang orang. Ia juga mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, periode 1995 – 2000.

“Itulah saya,” katanya sambil tersenyum, di suatu sore. Bachtiar mengatakan memang banyak orang yang terkejut ketika melihat rumahnya. Begitu juga dengan saya. Dalam bayangan semula, mestilah mantan seorang anggota MPR RI bergelimang kemewahan, pagar tinggi, halaman luas, dan ditengkrengi beberapa buah mobil mewah. Tapi yang satu ini lain.

* * *

Ketika kita memasuki rumahnya, maka pagar rumah yang berwarna hijau itu dan terbuat dari besi itu tidaklah tinggi. “Saya tidak ingin membuat jarak dengan masyarakat”, kata Buya, panggilan akrab Bachtiar Ibrahim. Walau ada gembok tergantung di pagar, tapi Anda tidak perlu takut untuk membuka pintu pagar itu. Pagar itu tidak pernah dikunci kala siang.

Buya mengatakan, semakin banyak harta maka akan semakin banyak kegelisahan, dan biasanya kita akan semakin jauh dengan orang. Biasanya lagi, orang-orang seperti itu akan datang keangkuhan dan kesombongannya. “Itulah makanya biasanya orang-orang kaya itu membangun rumahnya dengan kemegahan dan pagar-pagarnya tinggi-tinggi. Orang pun jadi sungkan untuk bertamu untuk ke rumahnya,” kata Buya.

Sekali Anda memasuki pintu pagar, maka Anda akan disambut puluhan, mungkin ratusan bunga-bunga di dalam pot yang ditata apik di halaman rumahnya. Ada bunga seperi euforvia – yang beberapa waktu lalu menjadi bunga favorit sebagian besar warga Medan – anggrek, cemara, beberapa bonsai, dan bunga-bunga lainnya. Halaman itu tidak terlalu besar, kira-kira berukuran 4 x 3 meter. Bunga-bunga itu secara telaten, menurut Buya, dirawat oleh istrinya. Sesekali, Buya sendiri turun tangan untuk merawat bunga-bunga itu.

Terus ada yang menarik di depan beranda. Ada sebuah pohon jambu yang letaknya menyendiri di tengah-tengah halaman. Halaman yang tidak terlalu luas itu kelihatan seperti menjadi pot besar dari pohon jambu itu.

Bila duduk di beranda, maka pohon jambu itu akan menjadi pusat perhatian, karena letaknya yang persis di tengah-tengah halaman. Menurut Buya, setiap hari bila dia duduk di beranda depan, maka dia seolah-olah berkata-kata dengan bunga. “Bunga itu juga berkata dia senang dengan kebahagiaan yang saya miliki,” terang Buya. Dia tersenyum.

Tampaknya ada filosofi lain mengenai hal ini. Buya kemudian menerangkan bahwa manusia disuruh untuk melakukan kebajikan-kebajikan tanpa melakukan kerusakan. “Mendapatkan harta itu melalui jalan yang halal, tidak merusak lingkungan, dan tidak merugikan orang lain,” tutur Buya lagi. Buya kemudian mengutip surat Al Qashash ayat 77: Hendaklah kamu mencari sesuatu yang dikaruniakan Allah kepadamu itu, untuk kepentingan akhirat, tapi jangan kamu lupakan keuntunganmu di dunia ini. “Jadi, ada keseimbangan,” jelas dia.

Masuk ke dalam rumah, suasana sejuk yang ditimbulkan dari luar makin menusuk. Satu set kursi tamu berwarna coklat tampak apik dipadu dengan gorden jendela yang berwarna campuran, antara merah jambu dan oranye. Saya tersenyum kecil ketika melihat warna gorden itu. Biasanya orang yang sudah berumur agak “alergi” dengan warna merah jambu.

Saya duduk menghadap ke dalam rumah. Langsung terlintas, rumah itu mengesankan lapang. Mengapa? Ukuran lebar rumah itu, minus kamar tidur, sebenarnya tidak lebar, mungkin hanya 3 meter. Ruangan itu memanjang ke belakang. Kesan lapang itu jelas dipengaruhi tata letak ruangan dalamnya.

Kecintaan Buya terhadap Muhammadiyah terpampang jelas di ruangan itu. Beberapa foto seperti Buya dengan Amien Rais dan foto KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, diletakkan di ruang utama. Sementara itu, ada juga foto-foto sesama rekan anggota MPR RI utusan daerah Sumatera Utara. Satu yang menarik adalah foto Buya ketika berjumpa langsung dengan pemimpin Libya, Moammar Khadafi. “Inilah saya, inilah hidup saya, dan saya tidak pernah merasa malu dengan kesederhanaan ini”, ujar Buya dengan tenang.

* * *

Rumahku adalah surgaku. “Rumah itu adalah alat hidup, seperti juga harta,” kata Buya. Nada ketenangan mengalir datar dari kata-kata Buya. Bukan saja karena Buya sedang menikmati masa-masa pensiunnya, tapi menurut Buya, hal tersebut memang sudah menjadi konsep hidup yang diterapkannya sehari-hari sejak ia masih muda dulu. “Sebagai orang yang beragama Islam, pola hidup kita mesti disesuaikan dengan Allah dan petunjuk rasul-Nya,” kata Buya. Menurut Buya, dalam diri manusia itu ada dua hal yang menjadi penentu hidup, yaitu akal dan nafsu. Kedua-duanya letaknya dalam hati. “Diri manusia itu kan ibarat rumah juga,” kata Buya.

Buya kemudian mengutip hadits rasulullah Muhammad SAW yang berbunyi barang siapa yang membuat suatu kebiasaan yang baik menurut ajaran Islam, maka dia akan mendapatkan pahala dan ditambah dengan pahala orang-orang yang mencotohnya. “Ini suatu yang kebahagiaan yang luar biasa. Kekayaan batin itu terletak di sana,” ujar Buya. Demikian juga sebaliknya, menurut Buya, barang siapa yang membiasakan kebiasaan yang buruk, dia akan mendapatkan dosa, dan dosa orang yang kemudian mencontohnya.

Menurut Buya, bila seorang manusia berpedoman kepada petunjuk rasul, ada gejolak yang timbul dalam hati untuk menuntun dalam hidup orang tersebut. “Itulah muraqabah,” kata Buya. Menurut Buya, muraqabah ini ada dua bentuk yaitu merasakan kehadiran Allah pada dirinya setiap waktu dan kedua yaitu merasa harap kepada keridhaan Allah dan takut pada kemurkaannya. “Jangan sampai ketika kita masuk ke dalam rumah kita sendiri, justru suasana rumah itu membuat kita lupa akan kedua hal tersebut,” terang Buya.

Seandainya  kedua hal itu sudah ada dalam diri, tambah Buya, maka menjadi kunci kehidupan yang menentukan kehidupan si orang tersebut selanjutnya. “Taqwa, iman, dan ibadah itu semua tersimpul di sana. Itulah yang dinamakan muqarabah, selalu ingin dekat dengan Allah,” imbuh Buya lagi.

Namun, menurut Buya, bukan berarti harta dan kemewahan dalam rumah dan diri seseorang itu tidak dibolehkan. “Namun bagaimana bisa mengendalikan diri terhadap hal-hal demikian,” kata Buya.

Menurut Buya, manusia itu semua punya nafsu. Nafsu ini datang dalam berbagai bentuk, seperti kekayaan, kekuasaan, pangkat dan kedudukan, dan seterusnya. “Itu manusiawi,” tambah Buya. Justru, menurut Buya, bila hal itu tidak ada di dalam diri manusia, maka ia akan jatuh pada posisi dayyus, yaitu manusia yang tidak punya harga diri. “Dayyus itu manusia yang selalu lemah menghadapi sesuatu,” kata Buya.

Konsep itulah menjadi pegangan hidup Buya termasuk dalam menge-set rumahnya. “Saya implementasikan dalam bentuk rumah yang sederhana,” katanya. Konsep keserderhanaan itu berbeda-beda pada setiap orang. Hal itu menurut Buya, tergantung pada landasan-landasan di atas, yaitu akal dan nafsu. “Dapatkah rahmat Allah itu memberi kepuasan dan kebahagiaan kepadanya,” tutur Buya lagi.

Buya berujar, semakin banyak harta maka biasanya akan semakin banyak kegelisahan, dan kita akan semakin jauh dengan orang. Sifat angkuh dan sombong pun datang. “Hidup sederhana adalah sesuatu yang dapat memberikan ketenangan pada jiwa saya,” ujar Buya. (*)

2 thoughts on “H Bachtiar Ibrahim dan Baiti Jannati

  1. Ketika berkumpul dengan banyak tokoh pemberi tausiah kepada Maulana Pohan tahun 2005 di salah satu ruangan kecil di Hotel Garuda Plaza, antara lain ia berkata:
    Mengagamakan pemerintahan jauh lebih penting daripada mencari dukungan agamawan untuk politik.

    Like

  2. Begini bunyi sms itu [39-06-2010; 08:11:57]: “Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un. Pa, mantan Ketua PWM Sumatera Utara Bapak H Bachtiar Ibrahim meninggal pagi ini (Dari Zulkifli TS Mandala 081361742728).
    Lalu seseorang yang saya kenal aktivis Aisyiyah menelefon, memberitahu khabar serupa.

    Allahummaghfirlah, warhamh, wa’afih, wa’fuanh.

    innalillahi wa inna ilaihi rojiun

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s