Bagaimana Bila SBY Terlibat dan Kemudian Di-Impeachment


Itu ‘kan pertanyaan yang mungkin (mau dipastikan juga susah…) saja ada di pucuk tertinggi di benak masyarakat soal Skandal Century ini. Feeling saya, semua politisi dan aparat hukum (jangan pernah pakai istilah “penegak” hukum, soalnya kapan pula di negeri ini hukum itu ditegakkan ya…), terus menyimpan itu. Nah, tapi saya duga juga pasti pikiran itu berkelebat-kelebat di benak, kayak pendekar Wiro Sableng gelantungan di pohon.

Tampaknya (tampaknya ya…), penanganan skandal Century ini hati-hati betul, laiknya ingin menarik rambut dari tepung. Kayaknya (kayaknya ya…), bidikan yang langsung diarahkan ke RI-1 alias SBY ini, hendak dijadikan “rahasia umum” atau juga “tahu sama tahu”.  Dan juga, kalau bisa jangan disebutkan.

Nah, kalau semua sudah berpandangan begitu, mengapa pula harus disembunyi-sembunyikan?😀

* * *

Negeri ini benar-benar tak asing dengan impeachment. Yang paling gres bahkan baru terjadi 2001 lalu. Itu cuma delapan tahun yang lalu. Gus Dur, Presiden yang kocak itu, yang  bisa menimbulkan tawa siapa-siapa yang mendengarkan dia ketika beranekdot itu, saja bisa ter-impeachment. Lha, kalau orang yang penuh humor itu ‘kan, teorinya, disenangi banyak orang. Nah, bila orang yang bertipe seperti ini saja harus lengser keprabon, konon pula yang imejnya itu yang serius, kening berkerut, gaya bicaranya kaku dan pokoknya prosedural atau protokoler banget deh!

Kalau mengingat-ingat perbandingan yang kayak begini ini, setiap saya ngikutin berita di koran ataupun di tivi, senyum simpul selalu hadir. Itu ketika hampir seluruh kalangan, terutama politisi, mengatakan, “Pansus dan hak angket Century ditujukan untuk membuka fakta dan tidak bertujuan untuk memakzulkan Presiden.” Hihihi …

Saya tersenyum sangat kecut ketika mengingat hasil Pemilihan Presiden 2009 lalu memilih SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Satu yang pasti, saya tak memilih dia karena saya merasa saya bukanlah orang yang mudah dikelabui oleh imej dia.

I do really-really not hate this guy, lho! Tapi, untuk Indonesia ini, orang seperti SBY kok ndak begitu cocok untuk jadi Presiden. Kebutuhan Indonesia akan pemimpin yang bernas, tegas, visioner dan ideologi, bagi saya, adalah kebutuhan supra primer. Kalau ada tingkat kebutuhan yang lebih dari itu, ya itulah itu.

Saya merasa ada yang aneh dengan orang bertingkah laku seperti ini, yang selalu memperhatikan penampilan dan terlihat begitu camera face (ini juga bisa sangat diperdebatkan). Tertawa terbahak-bahak saya ketika dulu mendengar apa yang pasangan ini bilang sebagai “visi dan misi”. Visinya yang mana, misinya yang mana pula, begitu kata hati saya. Lha kalau visi dan misinya memang jelas, tentu jabaran dan sebaran Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, ‘kan tak dianggap orang sebagai bagi-bagi kekuasaan semata bukan? Lha wong, untuk mengaplikasikan visi dan misi, kabinet itu motornya kok!

Begini saja. Kebetulan saya pernah menimbu ilmu komunikasi sewaktu di kampus saya. Dan karena itu pula, saya acungkan dua jempol bagi dia -dan khususnya untuk tim suksesnya- dalam memoles diri. Pencitraan utama yang dilakukan SBY adalah dalam penumbuhan segi “kharismatik”. Dan itu sangat berhasil.

Bagi orang Indonesia yang kebetulan pula digolongkan oleh luar-luar negeri sono itu, indeks pendidikannya masih rendah, tipe yang begini ini laku dijual. Orang kita suka sekali dengan yang tipe begini, packaging type.

Analoginya, orang pinter yang tak berdasi atau tak memakai safari, atau yang terbiasa tak memasukkan bajunya sampai yang memakai kaos oblong saja, tak dianggap sebagai orang cerdas dan punya potensi untuk memimpin masyarakat apalagi berkharisma. Minimal pake jas atau pakai kopiahlah, mungkin. Penampilan atau performance style itu yang utama.

Lha saya kira pun, orang-orang elit yang mendukung SBY, bukan terpesona oleh penampilannya kok. Saya duga, yang mereka pikir adalah, bila SBY memimpin, orang seperti ini ‘gak akan macem-macem.

Ya, kayak selebriti-selebriti itu, lah. Yang dipermak ya, wajah, tubuh dan gaya bicara. Substansi itu “haram”. Karena kalau mereka bicara substansi, akan aneh jadi rasanya. Makanya banyak yang beranggapan kalau artis jadi politisi, lantas ditertawakan, pesimis dan skeptis. Wong artis kok mau ikut-ikutan ngurus negara. Kan gitu kata orang-orang.

Jadi, kharismatik yang dimaksud adalah dalam hal penampilan. Isinya belakangan saja. Wong masih banyak kok yang beranggapan, kalau nanti pun substansi kenegaraan dikasih tahu sama rakyat, rakyatnya pun bakal ‘gak ngerti dan ‘gak ambil pusing, kok. So, untuk apa susah-susah?

Sudahlah. Saya cuma ingin mengatakan, kalau memang dia terlibat Skandal Century mengapa ragu-ragu untuk mengatakan “impeachment”? Oh, mungkin masalah strategi ya … (*)

6 thoughts on “Bagaimana Bila SBY Terlibat dan Kemudian Di-Impeachment

  1. Kebutuhan Indonesia akan pemimpin yang bernas, tegas, visioner dan ideologi … juga KAYA RAYA ha ha ha ha😉

    btw .. lagie ngomongin apa ni bang ?😆

    😀 ini la kl lg malas…tah kemana-mana ngarangnya hehehe

    Like

  2. tulisan ini ibarat orang mual ingin muntah tapi sudah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan… (penyakitnya kok sama yaaa???)

    impeachment??? tanggung Wan…
    langsung REVOLUSI aja…
    biar jelas yang mana pihak sana dan yang mana pula pihak sini…
    sekarang ini terlalu banyak yang bermain di grey area…

    cocok bang…🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s